Melindungi Anak dari Kecanduan Gadget dengan Pengasuhan Holistik

 

 

 

 

Saat ini di era Millenial, gadget sudah bukan lagi sebagai gaya hidup, tapi sudah merupakan suatu kebutuhan. Baik untuk kalangan orang tua, remaja, bahkan anak-anak. Pola pembelajaran di sekolah atau kampus sudah berubah. Dari teacher oriented, menjadi student oriented. Artinya bahwa siswa dituntut untuk menjadi independent learner, alias banyak membaca dan mencari tahu lewat internet. Tugas sekolah juga banyak dituntut untuk mencari jawabannya di internet. Karena suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, keberadaan text book di perpustakaan sudah banyak bergeser ke e-book.

Karena pergeseran nilai inilah, maka ada beberapa dampak yang terjadi khususnya untuk anak-anak kecil. Jika orang tua tidak bisa mengontrol pemakaian gadget mereka, maka akan terjadi over using gadget, dan berdampak pada kecanduan gadget. Bahkan lebih parahnya, mereka akan terkena “paparan” penggunaan gadget yang berlebihan dengan adanya akses ataupun kiriman-kiriman gambar atau postingan yang belum sepatutnya mereka lihat (pornografi). Atau jika bukan itu ancamannya, hal lain yang juga perlu dicermati adalah intensitas anak-anak menggunakan gadget untuk melakukan permainan game online yang jelas akan menyita waktu, energi dan pikiran anak-anak sehingga mengganggu proses tumbuh kembang dan sosialisasi anak-anak.

Dengan adanya fenomena ini, maka saya mengikuti Parenting Seminar dengan tema Melindungi Anak dari Pemakaian Gadget yang disampaikan oleh dosen Psikologi yaitu Bapak Zakarija Achmat, S.Psi, M.Si, Psikolog yang diadakan pada hari Sabtu tanggal 13 Desember 2019.

PERBEDAAN GENERASI
Secara umum terdapat 6 pembagian generasi di dunia, yaitu :
1. Builders (usia di atas 70 thn)
2. Baby boomers (usia 52-70 thn)
3. Generation X (usia 37-51 thn)
4. Generation Y (usia 22-36 thn)
5. Generation Z (usia 7-21 thn)
6. Generatiion Alpha (usia di bawah 7 thn)

Masing-masing generasi memiliki ciri khas masing-masing.
Generasi X (1965-1980)
Kehidupan antara pekerjaan pribadi dan keluarga jauh lebih seimbang. Sudah mengenal komputer dan video game dengan versi sederhana. Lebih mandiri dan mulai mencari alternatif selain pekerjaan normal. Mulai berpikir untuk berwirausaha atau bekerja di rumah.

Generasi Z (1995-2010)
Tak bisa lepas dari gadget dan aktifitas sosial media. Lebih cepat memperoleh informasi, suka dengan hasil instant dan cepat, cenderung keras kepala dan selalu terburu-buru. Suka dengan tantangan baru namun haus akan pujian. Teknologi bagi mereka dapat melakukan apa saja termasuk belajar dan bekerja, bukan bersenang-senang. Tak sedikit yang menjadikan media sosial sebagai lahan untuk mencari penghasilan.

JENIS-JENIS POLA PENGASUHAN ANAK

 

 

 

 

Pengasuhan (parenting) adalah suatu proses untuk meningkatkan dan mendukung perkembangan fisik, emosional, sosial, finansial dan intelektual seorang anak sejak bayi hingga dewasa. Berdasarkan dari perbedaan karakteristik generasi di atas, maka perlu diterapkan pola pengasuhan yang tepat bagi anak. Terdapat 5 macam pola pengasuhan, yaitu:

1.Pengasuhan ala Macan (Tiger Parenting)
Orangtua mengharuskan anak untuk mencapai kesuksesan dalam segala bidang, khususnya akademik. Orang tua memberlakukan kedisiplinan ketat dan keras, mengontrol secara psikologis dan memiliki harapan tinggi pada anak.

2.Pengasuhan ala Gajah (Elephant Parenting)
Orang tua tanggap terhadap kebutuhan anak dan melindungi anak agar tidak mengalami kesulitan dan persoalan. Orang tua memberikan kasih sayang dan mendukung anak secara emosional. Pola pengasuhan seperti ini menjadikan anak-anak menjadi kurang memahami batasan dan aturan.

3.Pengasuhan ala Mercusuar (Lighthouse Parenting)
Orang tua membuatkan anak untuk merasakan dan mengalami kegagalan dan berbagai konsekuensi yang menyertainya. Orang tua memberikan nasehat, dukungan dan dorongan agar anak dapat belajar mengatasi masalah mereka sendiri. Anak dapat menjadi individu tangguh dan cakap.

4.Pengasuhan Holistik (Spiritual/holistic Parenting)
Orang tua memberikan contoh yang baik kepada anak melalui perilaku orangtua itu sendiri. Orangtua menghargai perbedaan kepribadian anak dan memberikan keleluasaan kepada anak untuk mengembangkan keyakinan mereka sesuai kepribadian dan potensi masing-masing. Anak-anak lebih memiliki kesadaran batin dan menghargai lingkungan sekitarnya.

5.Pengasuhan Tanpa Syarat (Unconditional Parenting)
Orang tua menerima dan mendukung anak secara positif. Orangtua memberikan pujian atas perilaku anak yang baik. Anak belajar memahami bahwa perilaku yang baik ini adalah perilaku yang diterima dan diperhatikan.

Dari semua jenis parenting di atas, yang terpenting adalah adanya peran lingkungan. Karena lingkungan merupakan faktor penting dalam pembentukan tingkah laku. Lingkungan tersebut berawal dari rumah yang merupakan lingkungan sosial pertama anak.

CIRI-CIRI ANAK KECANDUAN GADGET

 

 

 

 

1. Penggunaan gadget secara terus menerus diiringi berkurangnya minat untuk bersosialisasi.
2. Selalu meminta diberikan gadget. Jika tidak diberi maka anak akan mengamuk.
3. Tidak mau beraktivitas di luar rumah. Misalnya bersikeras meminta pulang agar bisa bermain game di rumah.
4. Menolak melakukan rutinitas sehari-hari dan lebih memilih bermain gadget. Seperti tidak mau disuruh tidur atau mandi.

PENGASUHAN HOLISTIK
Berdasarkan dari gejala-gejala di atas, maka diperlukanlah Pengasuhan Anak secara Holistik. Beberapa dimensi dalam pengasuhan ini antara lain:
1. Integrated role model (contoh terpadu atau qudwah hasanah)
2. Habituation (pembiasaan atau al addah)
3. Effective advice (nasehat efektif atau al mauidzah)
4. Fairness in care and control (keseimbangan dalam perhatian dan pemantauan atau al mulahadzah)
5. Proportional consequences (konsekuensi proporsional atau uqubah wal ujaroh)

TIPS MENGATASI KECANDUAN GADGET PADA ANAK

 

 

 

 

1. Membatasi penggunaan :
a. Untuk anak kurang dari 2 tahun : sebaiknya tidak diberikan bermain gadget sendirian, termasuk TV, smartphone dan tablet.
b. 2-4 thn : kurang dari 1 jam sehari
c.Lebih dari 5 thn : sebaiknya tidak lebih dari 2 jam sehari untuk penggunaan rekreasional (di luar kebutuhan belajar)
Disadur dari The American Academy of Pediatrics, 2013, Canadian Pediatric Society, 2010)
2. Ajarkan anak pentingnya menahan diri. Pastikan untuk memberikan pujian pada anak ketika ia berhasil menahan diri untuk tidak bermain game dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
3. Jangan beri akses penuh :
a. Letakkan TV atau komputer di ruang keluarga. Sehingga setiap anak menggunakannya, dia tidak sendirian dan masih dalam pengawasan anggota keluarga lainnya.
b. Selain itu perangkat mobile juga sebaiknya tidak diserahkan pada anak sepenuhnya. Biarkan anak meminta izin terlebih dahulu jika ingin menggunakannya, dan ambil kembali setelah selesai.
4. Tetapkan wilayah-wilayah bebas gadget.Buat peraturan tidak boleh menggunakan gadget di tempat-tempat tertentu. Misalnya di meja makan, di kamar tidur, di mobil.
5. Berikan contoh yang baik. Sudah jadi pengetahuan umum bahwa anak meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Untuk itu, orang tua juga harus menjadi contoh yang baik, letakkan HP dan bermainlah bersama si kecil.
6. Beri jadwal. Jadwalkan waktu yang tepat untuk bermain gadget. Di luar itu, orangtua juga harus menyiapkan kegiatan alternatif lainnya agar anak tidak bosan dan beralih ke gadget lagi.

Sangat bermanfaat sekali paparan dari Psikolog kali ini. Sebagai bahan masukan buat saya dan keluarga, bagaimana mengantisipasi kecanduan gadget yang mungkin secara tidak sadar kami sebagai orang tua bisa sebagai penyebab utamanya. Semoga juga bermanfaat bagi pembaca yang lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *