MLM (MULTI LEVEL MARKETING) : Bolehkah? Ditinjau dari Perspektif Syariah

 

 

 

 

Beberapa hari ini saya ditawari salah seorang teman untuk join dalam bisnis kosmetik yang saat ini sedang dirintis dan mulai booming. Tertarik juga sih dengan benefit yang didapatkan. Apalagi kalo bukan berupa uang dan mobil. Perempuan mana yang gak matanya ijo melihat itu. Bisa tampil cantik, tajir melintir dan sukses mendapatkan side income diluar gaji bulanan.. Setelah saya pelajari produknya, oke juga, walau dengan harga premium untuk kelas kosmetik merk baru. Kompensasi juga sudah banyak testimoni yang mendapatkannya. Kemudian saya pelajari sistemnya, ternyata sistem Multi Level Marketing atau Direct Selling. Sebelum say yes, tentu saja saya mencari referensi sana sini untuk mengetahui bagaimana MLM itu dari sudut pandang agama Islam tentu saja. Berikut yang saya dapatkan, yang saya sadur dari berbagai sumber..

PENGERTIAN MULTI LEVEL MARKETING
Multi Level Marketing yang lebih dikenal dengan MLM adalah : Sebuah sistem penjualan langsung, di mana barang dipasarkan oleh para konsumen langsung dari produsen. Harga barang yang ditawarkan di tingkat konsumen adalah harga produksi ditambah komisi yang menjadi hak konsumen karena secara tidak langsung telah membantu kelancaran distribusi. Para konsumen yang sekaligus memasarkan barang mendapat imbalan bonus. Bonus tersebut diambil dari keuntungan setiap pembeli yang dikenalkan oleh pembeli pertama berdasarkan ketentuan yang diatur.

 

 

 

 

Karena dipercaya dapat memberikan keuntungan yang cukup besar kepada perusahaan, dewasa ini, berbagai jenis barang marak dipasarkan dengan menggunakan marketing (pemasaran) pola MLM : perhiasan, program komputer, minuman suplemen, kosmetik, kaset-kaset islami, dan lain-lain. Semenjak pemasaran barang pola MLM masuk ke negeri-negeri Islam para ulama telah berbeda pendapat tentang hukumnya.

MLM HUKUMNYA HALAL

 

 

 

 

Syaikh ‘Abdullah As Sulmi memberikan tiga syarat MLM bisa dikatakan halal:
1. Orang yang ingin memasarkan produk tidak diharuskan untuk membeli produk tersebut.
2. Harga produk yang dipasarkan dengan sistem MLM tidak boleh lebih mahal dari pada harga wajar untuk produk sejenis. Hanya ada dua pilihan harga semisal dengan harga produk sejenis atau malah lebih murah.
3. Orang yang ingin memasarkan produk tersebut tidak disyaratkan harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi anggota.

Jika tiga syarat ini bisa dipenuhi maka sistem MLM yang diterapkan adalah sistem yang tidak melanggar syariat. Namun bisa dipastikan bahwa tiga syarat ini tidak mungkin bisa direalisasikan oleh perusahaan yang menggunakan MLM sebagai sistem marketingnya. Jika demikian maka sistem marketing ini terlarang karena merupakan upaya untuk memakan harta orang lain dengan cara cara yang tidak bisa dibenarkan.

Jenis MLM yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam adalah bisnis dengan skema  Ponzi, money game, piramida dan matahari. Bisnis yang tidak menggunakan skema di atas tidak dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

MLM yang akad jual belinya jelas ya boleh. MLM yang dia mendapatkan orientasi keuntungan berdasarkan barang yang dijual itu boleh, karena sama dengan fee. Tetapi kalau MLM yang konsep piramida dan downline, tidak berorientasi pada semata produknya tapi banyaknya pengikut, itu tidak boleh.

MLM HUKUMNYA HARAM

Dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabia) no. 22935 tertanggal 14/3/1425 H menerangkan mengenai MLM yang terlarang terhimpun berbagai permasalahan berikut:

 

 

 

 

1. Di dalamnya terdapat bentuk riba fadhl dan riba nasi-ah. Anggota diperintahkan membayar sejumlah uang yang jumlahnya sedikit lantas mengharapkan timbal balik lebih besar, ini berarti menukar sejumlah uang dengan uang yang berlebih. Ini jelas adalah bentuk riba yang diharamkan berdasarkan nash dan ijma’. Karena sebenarnya yang terjadi adalah tukar menukar uang. Dan bukan maksud sebenarnya adalah untuk menjadi anggota (seperti dalam syarikat) sehingga tidak berpengaruh dalam hukum.
2. Di dalamnya terdapat bentuk ghoror (spekulasi tinggi atau untung-untungan) yang diharamkan syari’at. Karena anggota tidak mengetahui apakah ia bisa menarik anggota yang lain ataukah tidak. Pemasaran berjenjang atau sistem piramida jika berlangsung, suatu saat akan mencapai titik akhir. Anggota baru tidaklah mengetahui apakah ketika menjadi bagian dari sistem, ia berada di level tertinggi sehingga bisa mendapat untung besar atau ia berada di level terendah sehingga bisa rugi besar. Kenyataan yang ada, anggota sistem MLM kebanyakan merugi kecuali sedikit saja yang berada di level atas sehingga beruntung besar. Jadi umumnya, sistem ini mendatangkan kerugian dan inilah hakekat ghoror. Ghoror adalah ada kemungkinan rugi besar atau untung besar. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari jual beli ghoror sebagaimana disebutkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya.
3. Di dalam MLM terdapat bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Karena yang sebenarnya untung adalah perusahaan (syarikat) dan anggota telah ditentukan untuk mengelabui yang lain.
4. Di dalam muamalah ini terdapat penipuan dan pengelabuan terhadap manusia. Karena orang-orang mengira bahwa dengan menjadi anggota nantinya mereka akan mendapatkan untung yang besar. Padahal sebenarnya hal itu tidak tercapai.
5. Perusahaan MLM yang melakukan manipulasi dalam memperdagangkan produknya, atau memaksa pembeli untuk mengkonsumsi produknya atau yang dijual adalah barang yang haram. Maka MLM tersebut jelas keharamannya. Namun ini tidak cuma ada pada sebagian MLM tapi bisa juga pada bisnis model lainnya.

MLM Hasil Bahtsul Masail NU

 

 

 

 

 

1.Pada dasarnya sistem MLM adalah muamalah atau buyu’ yang prinsip dasarnya boleh (mubah) selagi tidak ada unsur:
– Riba’
– Ghoror (penipuan)
– Dhoror (merugikan atau mendhalimi fihak lain)
– Jahalah (tidak transparan).

2.Ciri khas sistem MLM terdapat pada jaringannya, sehingga perlu diperhatikan segala sesuatu menyangkut jaringan tersebut:
– Transparansi penentuan biaya untuk menjadi anggota dan alokasinya dapat dipertanggungjawabkan. Penetapan biaya pendaftaran anggota yang tinggi tanpa memperoleh kompensasi yang diperoleh anggota baru sesuai atau yang mendekati biaya tersebut adalah celah dimana perusahaan MLM mengambil sesuatu tanpa hak dam hukumnya haram.
– Transparansi peningkatan anggota pada setiap jenjang (level) dan kesempatan untuk berhasil pada setiap orang. Peningkatan posisi bagi setiap orang dalam profesi memang terdapat disetiap usaha. Sehingga peningkatan level dalam sistem MLM adalah suatu hal yang dibolehkan selagi dilakukan secara transparan, tidak menzhalimi fihak yang ada di bawah, setingkat maupun di atas.
– Hak dan kesempatan yang diperoleh sesuai dengan prestasi kerja anggota. Seorang anggota atau distributor biasanya mendapatkan untung dari penjualan yang dilakukan dirinya dan dilakukan down line-nya. Perolehan untung dari penjualan langsung yang dilakukan dirinya adalah sesuatu yang biasa dalam jual beli, adapun perolehan prosentase keuntungan diperolehnya disebabkan usaha down line-nya adalah sesuatu yang dibolehkan sesuai perjanjian yang disepakati bersama dan tidak terjadi kedholiman.

3. MLM adalah sarana untuk menjual produk (barang atau jasa), bukan sarana untuk mendapatkan uang tanpa ada produk atau produk hanya kamuflase. Sehingga yang terjadi adalah money game atau arisan berantai yang sama dengan judi dan hukumnya haram.

4. Produk yang ditawarkan jelas kehalalannya, karena anggota bukan hanya konsumen barang tersebut tetapi juga memasarkan kepada yang lainnya. Sehingga dia harus tahu status barang tersebut dan bertanggung-jawab kepada konsumen lainnya.

Demikan batasan-batasan yang berkaitan dengan bisnis MLM. Barangkali dapat bermanfaat, khususnya dan bagi kaum muslimin Indonesia agar dapat menjadi salah satu jalan keluar dari krisis ekonomi. Semua kembali pada hati nurani masing-masing.
Wallahua’lam bishshawab.

Referensi :
https://almanhaj.or.id/3876-mlm-bolehkah.html
https://rumaysho.com/2490-meninjau-hukum-mlm.html
HM Cholil Nafis Lc MA : Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *