Rina Irawati’s Blog Just another Blog.stie-mce.ac.id weblog
  • MENGELOLA UANG SAKU ANAK SEJAK DINI

    21
    scissors
    April 7th, 2012rinaGeneral

    Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa di jaman sekarang ini kebutuhan hidup manusia sangatlah banyak dan beraneka ragam. Mulai dari kebutuhan hidup pokok (pemenuhan sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan), kebutuhan sekunder (transportasi, les/kursus sekolah, TV, dan lain-lain), sampai dengan kebutuhan tersier (barang mewah). Harga barang dan jasa tiap tahun bukannya bertambah murah, tetapi bertambah mahal, sedangkan pendapatan masyarakat relatif tidak berubah. Oleh karenanya sebagai orang tua, kita wajib mengelola keuangan rumah tangga dengan bijak dimana pengeluaran yang dikeluarkan harus disesuaikan dengan pendapatan yang diterima. Jangan sampai besar pasak daripada tiang.

    Salah satu cara mengelola pengeluaran rumah tangga adalah mengurangi budaya konsumtif. Sedini mungkin anak harus diberi pengetahuan dan diberi tanggung jawab mengenai pengelolaan uang saku atau uang jajan. Orang tua dan anak harus kompak dalam mengurangi budaya konsumtif. Jadi kita melakukan pembelian suatu barang/jasa bukan karena menuruti hawa nafsu, tetapi memang berdasarkan atas kebutuhan kita. Orang tua harus bisa memberikan contoh sehingga dapat diteladani oleh anak.

    KURANGI BUDAYA KONSUMTIF ANAK
    Di jaman modern ini banyak sekali pusat perbelanjaan (mall) yang berdiri hampir di semua kota. Banyak juga produk dan jasa baru yang terus diproduksi oleh perusahaan. Perkembangan teknologi juga semakin lama semakin canggih. Hal ini mau tak mau mendorong terbentuknya budaya konsumtif baik di kalangan dewasa maupun anak-anak. Budaya konsumtif anak dipengaruhi oleh dua hal yaitu:
    1.Iklan di TV, radio dan media lain
    Dengan semakin banyaknya stasiun TV dan radio yang berdiri, semakin gencar pula promosi barang dan jasa yang diluncurkan. Selain itu perkembangan koran, majalah, internet juga semakin menambah sarana promosi bagi perusahaan untuk menjual barang dan jasanya. Karena perang iklan semakin gencar, sehingga semua produsen berlomba-lomba membuat iklan dan promosi yang menarik guna meningkatkan penjualannya. Salah satu obyek yang potensial adalah anak-anak. Oleh karena itu sebagai orang tua kita harus waspada dan bijak memberikan rambu-rambu bagi anak kita untuk mengakses informasi dari media massa tersebut.
    2.Pengaruh keluarga
    Keluarga adalah pihak inti yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan pola hidup anak-anak. Jika orang tua sudah membuat peraturan tertentu berkaitan dengan gaya hidup keluarga atau pola pembelian keluarga, maka harus bersikap konsisten. Sehingga tidak membingungkan anak dalam meneladaninya. Adanya kesatuan kata dan perbuatan antara ayah dan ibu juga memiliki peran penting dalam menanamkan suatu nilai pada anak. Usahakan jangan ada perbedaan perkataan antara ayah dan ibu. Jika ayah sudah melarang anak-anak membeli makanan yang mengandung MSG (yang gurih-gurih), maka ibu juga harus kompak melarang hal yang sama. Berikan pengertian mengapa makanan itu dilarang walaupun rasanya enak.

    Dalam mengelola uang saku anak, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
    1.Perlu mengajarkan arti “needs” (kebutuhan) dan “wants” (keinginan).
    Needs adalah sesuatu yang harus kita beli karena kita membutuhkannya. Sedangkan wants adalah sesuatu yang bisa kita tunda pembeliannya karena itu hanya berdasarkan keinginan (hawa nafsu) saja dan bukan berdasarkan kebutuhan. Misalnya: anak kita membelanjakan uang jajan Rp 5000,- untuk membeli sebungkus bakmi goreng di kantin karena kita tidak membawakan bekal makan siang. Hal itu dinamakan pembelian berdasarkan “needs”. Lain halnya jika anak kita membeli sebungkus bakmi goreng plus satu pisang goreng plus satu camilan plus beberapa permen, hal itu dinamakan pembelian berdasarkan “wants”, karena sebenarnya dia sudah kenyang hanya dengan memakan bakmi goreng dan air minum saja.

    2.Sebagai panutan anak, orang tua harus menunjukkan kalau kita tidak memiliki budaya konsumtif juga.
    Jika orang tua sudah memberi banyak nasehat pada anak untuk hidup berhemat, melarang beli ini itu kepada anak, maka kita juga harus bisa menahan diri untuk tidak membeli sepatu atau baju saat melihat barang-barang tersebut didiskon besar-besaran di pusat perbelanjaan. Kecuali jika baju atau sepatu kita sudah rusak dan tidak dapat diperbaiki atau digunakan lagi. Apabila kita masih tidak bisa menahan budaya konsumtif, hal ini tentu saja membingungkan anak kita karena tidak adanya kesesuaian kata dan tindakan dari orang tua.

    3.Mengingatkan anggota keluarga lain (nenek, kakek, om, tante, bude, pakde) untuk tidak memberi contoh konsumtif pada anak.
    Bukan rahasia lagi jika seorang kakek atau nenek menyayangi cucu melebihi dari orang tuanya sendiri. Sudah lumrah rasanya apabila kakek atau nenek membelikan barang-barang untuk cucunya dimana barang-barang tersebut tidak dapat diberikan oleh orang tuanya dengan alasan ini itu. Walaupun dalam konteks “sayang” tetapi sebenarnya hal tersebut bisa menjerumuskan anak ke dalam pola hidup konsumtif. Mereka akan terbiasa mencari jalur alternatif apabila permintaannya tidak dikabulkan oleh orang tua. Jadi, kita harus dapat memberikan pengertian kepada anggota keluarga lain untuk juga kompak dengan orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak kita agar tidak terjadi kebingungan dan hal-hal yang tidak diinginkan.

    MANFAAT MENGELOLA UANG SAKU
    1.Anak belajar untuk tidak menjadi konsumtif
    Dengan mengelola uang saku dapat menjadikan anak belajar bertanggung jawab, memahami kondisi orang tua dan mensyukuri pemberian orang tua, sehingga termotivasi untuk tidak menjadi konsumtif.

    2.Anak dapat membuat budget/perencanaan keuangan
    Dengan memberikan kepercayaan pada anak untuk mengelola uang sakunya sendiri, secara tidak langsung anak diberi pelajaran mengenai penganggaran (budgeting). Sehingga mereka dapat memilah-milah mana pengeluaran yang harus dilakukan, mana yang dapat ditunda, yang tentu saja disesuaikan dengan kondisi keuangan. Berapa uang yang harus dikumpulkan/ditabung untuk dapat membeli barang yang dibutuhkan.

    3.Anak belajar membuat pilihan, menjadi lebih mandiri, dan mengetahui cara menetapkan serta mencapai berbagai sasaran finansial.

    4.Anak dapat membuat keputusan membeli yang cerdas, menentukan prioritas pengeluaran, dan mematuhi anggaran yang telah dibuat.

    TEHNIK MENGELOLA UANG SAKU
    1.Uang saku dapat diberikan harian, mingguan, bulanan.
    Untuk anak-anak usia PAUD, tentu saja pengelolaan uang saku dan uang jajan sepenuhnya masih dikendalikan oleh orang tua. Tetapi mereka tetap harus diberi batasan anggaran berapa uang jajannya setiap hari. Untuk anak usia kelas 1-5 SD bisa diberikan uang saku harian. Untuk anak kelas 6 SD sampai SMP bisa mulai diberi kepercayaan mengelola uang saku secara mingguan dengan melaporkan penggunaan uang saku tersebut. Untuk anak usia SMA dan perguruan tinggi bisa diberikan uang saku bulanan dengan tetap memberikan laporan penggunaan uang saku tersebut.

    2.Uang saku meliputi: uang jajan, uang transport dan kebutuhan lain.
    Terutama uang saku untuk anak usia SMP sampai perguruan tinggi, uang saku tidak hanya uang jajan saja karena kebutuhan lain-lain yang mendadak harus dipenuhi juga banyak. Jadi mereka perlu berjaga-jaga memiliki uang cadangan untuk keperluan mendadak tersebut.

    3.Bicarakan dengan anak untuk mengetahui kesiapan dan kesanggupan dia mengelola uang.
    Dampingi juga dalam menyusun kebutuhan mingguan atau bulanan anak yang disesuaikan dengan keuangan yang ada. Jika anak sudah siap mengelola uang sakunya sendiri, berilah pula konsekuensi yang diberlakukan jika uang saku sudah habis sebelum waktunya. Hal ini dimaksudkan untuk memberi pengertian mengenai hak dan kewajibannya. Anak diberi hak untuk memegang uang sakunya, tetapi wajib mengelolanya dengan baik sehingga memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

    4.Uang saku secara bulanan, orang tua dapat mulai mengajak anak untuk membuka rekening tabungan sendiri agar uangnya dapat ditransfer.
    Untuk anak usia remaja dan dewasa, maka sudah sepantasnyalah mereka diberi uang saku bulanan dan membuka rekening tabungan sendiri. Selain terlihat lebih keren dan prestise, hal ini akan menambah rasa percaya diri anak bahwa dia sudah dianggap dewasa dan dapat mengatur keuangannya sendiri. Jangan lupa untuk juga memberikan rambu-rambu, aturan main dan batasan penggunaan uang saku.

    Semoga bermanfaat….

    Artikel ini disampaikan pada acara Pengabdian Masyarakat di Posdaya Mentari Jaya, RW 08, Kelurahan Lowokwaru Malang
    Rina Irawati – STIE Malangkucecwara Malang

 

21 responses to “MENGELOLA UANG SAKU ANAK SEJAK DINI” RSS icon

  • Didik (31166)

    kalau menurut saya bagus artikelnya.
    pengaturan uang saku perlu di implementasi bagi setiap orang tua.karena supaya bisa meminimalkan biaya pengeluaran dan pemasukan setiap harian,mingguan,dan bulanan.tetapi bagaimana caranya mengatasi yang orang tua yang sama anaknya suka menghaburan2 uang bukan mementingkan kebutuhannya tetapi keinginannya yang lebih diperlukan.Dan yang perlu diharapkan orang tua harus mampu mengatur perputaran uang yang ada demi kebutuhan keluarga kedepannya.

  • loly inang c

    setuju dengan pendapat bu rina,,,,
    mengolah uang saku anak sejak dini,,itu perlu
    pengalaman d keluarga saya,,ortu saya negajari saya dan adik saya, untuk mempergunakan uang seperlunya,,kalo bisa ada uang sisa ditabung,,,
    lain dengan sepupu saya, dia kebiasaan suka minta apapun ke bundanya,,entah itu beli mainan, beli kue, beli apa yang dia suka,,bundanya pun juga suka membeli2kan, jadi sepupu saya dari kecil sudah diajari konsumtif,,,sekarang sepupu saya itu tinggal dirumah saya,, jadi kalo ditinggal pergi ma bundanya,,selalu menagih uang ato gak oleh2 waktu plgnya,,ayah saya sudah berkali2 menasihati,,jangan terlalu memanjakan anak dengan uang,,tapi nasehat ayah saya tidak didengar,,apalagi sepupu saya itu anak tunggal,,apa itu juga jd pengaruhnya yaw bu??kalo menurut saya begitu,, emang penting banget mengajari anak untuk tidak konsumtif,,,

    loly inang christian
    k.2008.1.31067

  • @Loli: kecenderungan anak tunggal memang memiliki rasa ego yang tinggi dan besar, karena tidak ada lagi curahan kasih sayang orang tua ke anak yang lain. Banyak sekali sifat2 negatif seorang anak tunggal, walau tidak semuanya begitu. Sepupu saya ada yang seperti saudaramu itu. Tetapi suami kakak saya (seorang laki-laki) walau anak tunggal tapi sangat mandiri, sangat pengertian keadaan orang tua dan tidak memanfaatkan kekayaan orang tua dan ketenaran nama orang tua sama sekali..
    Jadi intinya, semua itu tergantu dari pola asuh orang tua sejak dini. Anak terlahir bagaikan kertas putih. Yang mencetak anak jadi baik atau buruk itu adalah orang tua.. Thanks for sharing..

  • Saya setuju dengan isi blog bu rina,
    Sebenarnya saya sejak kecil sudah diajarkan cara mengatur uang saku biar gak boros,tetapi saya tidak pernah memperdulikan apa yang diajarkan oleh ortu dan saya anak cewek cuman 1 yang di manja sama keluarga. Mulai SMA saya diberi uang saku bulanan belum genap 1 bulan ato pertengahan bulan uang saku habis dan minta ke mama sambil di omeli tapi tidak saya pedulikan omelan mama. Tidak bisa mengatur uang saku sampek kuliah semester 2 , menginjak semester 3 mulai sadar dan belajar mengatur uang. Syukur alhamdulillah mulai hidup hemat mengurangi shopping dan mulai terbuka pikiran untuk menabung uang. Setelah di ksih uang bulanan mulai memilah-milah uang jajan,transportasi dan yang paling penting adalah menabung.
    Ternyata mengatur uang saku sangat penting dan saya juga menyesal tidak pernah memperdulikan nasihat ortu…
    Dhimas Fajar amalia
    K.2008.1.31066

  • Ranggi Dermawan

    Setelah saya membaca sebagian blog bu rina ternyata sangat bagus isi dan cara penulisannya karena mudah di fahami. Tetapi yang saya suka blog ibu tentang mengelola uang saku anak sejak dini karena disinilah kita bisa melihat seberapa pentingnya tentang pengolahan uang sejak dini agar kita bisa belajar menghemat dan menggunakan uang sesuai dengan kebtuhan atau kepentingan saja bukan hawa nasfsu yang diutamakan. karena pada saat ini banyak orang tua yang kurang memperhatikan pemberian uang saku dimasa dini, itulah yang membuat anak kecil saat ini menjadi boros.
    salah satu yang membuat orang tua tidak bisa mengatur pemberian uang saku pada anaknya karena orang tua itu mampu/kaya sehingga apapun yang diinginkan anaknya selalu dituruti, padahal cara itu tidak baik dalam mendidik anak kecil, karena hal itu dapat menjadikan anak tersebut terbiasa hidup boros pada masa depannya.
    Terima kasih bu blog ini sangat bermanfaat bagi saya untuk menerapkan di masa mendatang.

    Ranggi Dermawan
    K.2007.1.30714

  • @ranggi: thanks for visiting this article.. i hope you can arrange your monthly financial so well..

    @dhimas: nanti suatu saat jika dirimu sudah menjadi orang tua, nyeselnya bakal habis2an deh. karena saat itu kita bisa merasakan bagaimana menjadi orang tua yang harus berjuang mati2an menghidupi kebutuhan keluarga dan mengelola keuangan keluarga.. cukup gak cukup harus cukup.. syukurlah sekarang sudah insyaf ya Neng.. hehehe..

  • Novando KP Putra. K.2007.1.20583

    Pendapat saya tentang uang saku bagi anak – anak memang perlu di awasi dan di perhatikan, terutama pada kondisi keuangan dari kita selaku orang yang lebih tua untuk membimbing dan mengarahkan bagaimana uang saku dipergunakan, tetapi juga tidak membatasi apa yang dia suka.
    Dalam mengatur uang saku setidaknya tidak berlabihan agar dapat mendidik anak dari usia kecil dengan bekal yang bayak, memberinya bekal dari rumah adalah solusi yang cukup baik karena dapat terhindar dari makanan yang banyak mengandung bahan pengawet, serta gizi dapat kita pantau sebagai kita orang yang lebih tua (karna saya blum punya anak maksudnya).
    Jika anak sudah beranjak besar maka hendaknya kita memberi pengertian tentang kebutuhan apa saja yang diperlukan dan yang tidak diperlukan, uang saku bulanan perlu di terapkan agar mendidik anak bisa bertanggung jawab atas kegiatannya, tanpa kita memotong anggaran atau kebutuhan yang seharusnya dia dapatkan (sama aja pelit kalo dipotong, sudah irit dipotong lagi).
    Kegagalan dalam mengelola uang pada pertama kali diberikan uang saku bulanan janganlah di beri hukuman, anggaplah pelajaran agar dia mengerti.
    Dan yang terakhir, jika sudah dewasa berilah uang lebih jika mempunyai pacar, yang di takutkan jika uang pas-pasan dibuat teman dekatnya (Pasangan) maka biasanya anak tersebut akan bohong dengan mengada – adakan kebutuhan yang menyangkut tentang uang, misal bli buku dan alasan sepeda rusak.
    Sekian Bu dari saya, maaf kalo kata – kata banyak salahnya ya Bu.

  • Evin Herarindy

    Pendapat saya juga setuju dengan bagaimana mengatur keuangan anak sejak dini, karena melihat pengalaman saya dulu waktu kecil, saya menyisahkan uang saku sebagian untuk ditabung. Setelah membaca blog bu rina tadi, dampak dari menyisahkan uang saku sejak kecil sampai sekarang dampaknya terlihat sekarang ini bagi saya. Melihat di jaman sekarang ini masyarakat bersifat konsumtif, namun bagi saya bagaimana untuk mengatur pengeluaran semaksimal mungkin yang sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Maka dari itu sangat penting sejak kecil untuk mengelola uang saku yang diberi orang tua agar nantinya pada sewaktu dewasa kita terbiasa dalam mengatur kebutuhan yang diperlukan dan bisa memaksimalkan pengeluaran yang diperlukan.

    Evin Herarindy
    K.2009.1.31291

  • Ahmad Sony Syarif

    Saya setuju dengan isi blok yang ada diatas.
    sebab pengalaman saya dikeluarga dulu semua saudara-saudara saya disuruh bagai mana untuk bisa mengelola uang saku yang diberikan oleh orang tua untuk menggunakannya sesuai kebutuhan kita dan kalau bisa meskipun ada lebih sedikit itu harus ditabung, dengan begini harapan orang tua supaya kita tidak boros dan bisa menggunakan uang itu sebaik mungkin, dan dampak dari itu sangat bermanfaat bagi saya….semisal salah satu mata kulia ada yang diwajibkan membeli buku, kita bisa membelinya dengan tabungan hasil kita menyisikan sebagian uang saku kita…jadi kita tidak usah minta lagi kepada orang tua…zz membantu sedikit lah untuk meringankan kewajiban orang tua kita….jangan hanya dikii-dikit minta, kapan dewasanya kita kalou begitu terus……

    Ahmad Sony syarif
    K.2009.1.31310

  • @novando: terima kasih atas saranmu di akhir koment berkaitan uang saku jika anak sudah punya pacar.. soalnya anak bu rina yang sulung masih kelas 3 sd..

    @evit & ahmad sony: oke.. lanjutkan terus manajemen uang saku dengan baik.. semoga bisa terus dilanjutkan ke anak2 kalian

  • Diva Kamadipha

    menurut saya, pengaturan uang saku anak sejak kecil atau dini sangatlah peting dan bermanfaat untuk nantinya karena selain bisa menghemat uang jajan si anak uang saku yang lebih bisa ditabung untuk membeli keperluan yang anak inginkan. seperti yang kita tahu pada masa anak-anak semua anak pasti sedang senang berbelanja memebeli permen dan coklat apabila kita tidak mengingatkan si anak untuk tetap hemat selain boros juga berdampak fatal bagi si anak apabila setaip hari mereka berbelanja makanan yang manis-manis karena dapat merusak kesehatan mereka terutama gigi mereka yang masih sensitif terhadap makanan yang manis.bila dari kecil sudah kita kontrol keuangan mereka dan mengajarkan mereka untuk menabung otomatis dampak ini akan mereka bawa sampai mereka besar untuk pintar-pintar menyisihkan uang jajan mereka untuk ditabung atau untuk memebeli keperluan yang lebih penting.terimakasih
    Nama : Putu Galung Diva K.
    NPK : 31468

  • postingan yang bagus bisa memberikan referensi,
    jika sempat mampir dulu ke blog saya
    http://merdeka.blog.stisitelkom.ac.id/

    terimakasih

  • @ika merdeka: terima kasih sudah mampir ke blog saya..

  • Saya setuju dengan pendapat Bu Rina mengenai pengelolaan uang saku.
    Sepertinya mengelola uang saku sejak dini memang sebaiknya wajib dilakukan para orang tua kepada anaknya, apa lagi pada zaman sekarang memang banyak barang-barang yang dapat membuat anak kecil sudah memaksa orang tua mereka untuk membelikan barang tersebut.
    Tetapi beberapa orang tua tidak membiasakan kepada anak-anaknya untuk hidup hemat karena mereka berfikir kalau mereka termasuk keluarga yang tergolong mampu. Hal tersebut akan membuat anak mereka menjadi boros, dan sifat tersebut dapat menurun kepada generasi penerus keluarga tersebut.
    Setelah membaca article Bu Rina mengenai MENGELOLA UANG SAKU ANAK SEJAK DINI, saya jadi paham betapa pentingnya dalam memanage uang saku atau pengeluaran.
    Semoga dengan membaca article yang Bu Rina tulis tersebut, saya dapat mengelola uang saku saya, terima kasih bu…~

  • Farida Nursari (32007)

    menurut saya blog ini bagus.
    karena saat ini banyak sekali orang tua yang terlalu sayang pada anaknya tapi salah memperlakukan sang anak. contohnya saja bila uang saku yang di berikan kepada sang anak berlebihan , itu memang salah satu cara orang tua memanjakan kita. tapi menurut saya , bila orang tua tidak mulai dini pandai mengatur uang saku anak , itu sama saja menghambur2kan uang. mulai dari dini memang hendaknya orang tua memberi pengertian dan melatih sang anak untuk hidup hemat , membeli keperluan yang bermanfaat bukan keperluan yang tidak perlu.

  • menurut saya mngelola uang saku anak itu bagus dengan cara-cara tersebut,tapi yang mau saya tanyakan apa anak tidak merasa kurang atau merasa orang tuanya tidak sayang kalau kita tidak memberikan sesuai maunya dia?

    Siska orlis
    NPK:32024

  • mungkin selama ini saya boros akan yang namanya uang banyak “wants” yang ada pada diri sya. dengan membaca artikel bu rina ini. semoga saya bisa me-manage uang saku saya mulai sekarang.

  • ya, benar skali.. pda saat jaman skrng ini, blajar mnghemat uang saku sejak kecil sangat di perlukan. dgn jaman yg smakin brkembang, tentunya kebutuhan d masa datang pun jg lbih banyak.. sehingga pada saat kita berada d masa datang, kita tdak kuatir akan hal2 yg memang hrus mngeluarkan biaya besar.. serta, pembelajaran menghemat uang saku dapat membuat sseorang menjadi paham ttg hal2 yg hrus d perhatikan terlebih dahulu, dan mana yg hrus d kebelakangkan..

    nama : galang sefta p
    npk : A.2012.1.31890

  • Karena jika uang saku sdah di olah sejak dini apabila sdah besar nanti dapat memanagemen pemasukan dan pengeluaran sehingga dapat mengetahui keuangan nya dan tabungannya

  • mariya alfiyonita

    Saya sangat setuju dengan pendapat ibu..
    Mengelola uang saku anak sejak dini itu perlu karena di jaman yang semakin maju dan dan berkembang kebutuhan anak semakin maju..
    sehingga para orang tua harus mengatur dan mendidik
    anak agar mereka terbiasa untuk masa depan dalam mengelola uang sesuai kebutuhan.

  • sangat setuju banget dengan tips-tips nya


Leave a reply