Pada bagian ke-3 ini saya akan menulis tentang instrument derivative yang lain yaitu “option”. Jika kita melihat definisi “option”, mirip dengan down payment (arbun) penjualan, yaitu “seseorang membeli barang dan membayar sejumlah uang tertentu kepada penjual dengan pemahaman jika ia jadi membeli barang tersebut, maka jumlah uang yang sudah terbayarkan akan menjadi bagian dari harga total yang harus dibayar, tetapi jika dia tidak jadi membeli, maka uang yang sudah dibayar menjadi hak penjual”(Al-Dhareer, 1997). Ada dua hadits tentang arbun ini: yaitu hadis yang melarang dan hadis yang memperbolehkan. Namun, sebagian besar ulama berpendapat pada hadis yang melarang penjualan arbun, sehingga mereka melarang penjualan arbun ini. Alasan keberatan penjualan arbun (option) ini sebagai berikut:

1. Penjualan arbun ini melibatkan gharar karena “baik pembeli maupun penjual belum yakin bahwa penjualan akan terjadi”.

2. Iqtisad al islami: sebagian besar ulama, pada prinsipnya mengatakan bahwa kontrak berjangka (futures) dan option mungkin kompatibel dengan prinsip-prinsip Syariah. Apa yang membuat mereka berkeberatan adalah cara mereka mengaplikasikannya di pasar dalam kasus-kasus tertentu, seperti misalnya dengan spekulasi dan eksploitasi pihak-pihak tertentu.

3. Ahmad M. Hasan (dikutip dalam Bacha, 1999) mengatakan bahwa option dilarang karena tanggal jatuh tempo (maturity date) nya lebih dari tiga hari, tidak seperti khiyar al-shart yaitu penjualan dengan hak untuk memilih tetapi jatuh tempo tidak lebih dari tiga hari. Selanjutnya, dalam hal ini pembeli memiliki potensi mendapatkan untung jauh lebih besar dari penjual, yaitu penjual memiliki potensi risiko yang tidak terbatas potensi keuntungan terbatas, sedangkan pembeli memiliki potensi resiko terbatas dan potensi keuntungan yang tidak terbatas, itu adalah “penindasan dan tidak adil” .

4. Option ini merupakan “zero sum game”, yang tidak dapat diterima dalam Syariah.

5. Option ini melibatkan gharar dan transaksinya terutama didasarkan pada perilaku spekulatif. Terjadinya gharar dan spekulasi berlebihan dikarenakan tidak ada pengiriman fisik barang atau hanya pembayaran tunai saja (Bacha, 1999).

6. Islamic Fiqh Academy, Jeddah (dikutip dalam Obaidullah, 2002) menyatakan “option contracts as currently applied in the work financial markets are a new type of contracts which do not come under any one of the Shariah nominate contracts. Since the subject of the contract is neither a sum of money nor a utility or a financial right which may be waived, the contract is not permissible in Shariah”. As a matter of fact, the object of option trading is “a right” which is neither a tangible commodity nor usufruct, thus it is not proper for a contract (Abu Sulayman in Obaidullah, 2002).

7. Beberapa scholars membandingkan option dengan bai-al urbun yaitu “transaksi dimana seseorang yang ingin membeli komoditas di masa yang akan datang, akan membayar sebagian harga yang ditentukan pada saat ini dan pada tanggal yang ditetapkan jika ia jadi membeli komoditas, maka ia membayar harga yang tersisa “(Salehabadi dan Aram, 2002). Namun, perbedaan antara option dan bai-al urbun adalah premi option (harga option yang harus dibayar) bukan merupakan bagian dari harga jual, sementara bai-al urbun adalah bagian dari harga jual. Selain itu, semua school of fiqih kecuali Hanbaliii melarang bai-al urbun (Obaidullah, 2002). Sebaliknya, menurut Salehabadi dan Aram (2002), “Imam Ali, membolehkan transaksi ini dan karena itu tampaknya call option diijinkan”.

Derivatives dalam Perspective Islam III

2 thoughts on “Derivatives dalam Perspective Islam III

  • November 2, 2014 at 6:50 am
    Permalink

    I have learn some good stuff here. Certainly price bookmarking for revisiting.
    I surprise how so much attempt you put to create this type of excellent informative site.

  • December 6, 2014 at 2:48 am
    Permalink

    I pay a quick visit every day a few web sites and blogs to
    read articles, however this web site presents feature based articles.

Comments are closed.