Pada waktu aku kuliah S3 di Australia, tergelitik dalam hatiku untuk memperdalam Islamic Finance. Alasanku melakukan itu adalah banyak produk-produk derivatives yang menyebabkan krisis, seperti “sub-prime morgage” di Amerika yang baru-baru ini terjadi. Selain itu MUI sudah menyatakan bahwa bunga itu haram, nah padahal ekonomi kita masih menganut “konvensional” yaitu ekonomi yang melibatkan bunga. Alhamdulillah akhirnya aku selesai menulis paper yang berjudul “Derivatives in Islamic Perspective” di tahun 2009, yang sempat aku presentasikan di Bratislava, Slovakia, dan aku publikasikan di journal of International Finance and Economics. Tidak ada salahnya jika tulisanku ini aku tulis lagi dalam versi blog.

Derivatives yang akan saya bahas disini adalah futures dan option. Scholars punya dua pendapat, ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Untuk bagian pertama ini saya akan menulis pendapat yang “melarang futures”. Futures dilarang karena alasan sebagai berikut:

1.Forward/futures adalah penjualan berjangka (mudhaf sale). Sebagian besar ahli hukum melarang mudhaf sales karena memiliki gharar (ketidakpastian) di dalamnya. Gharar (ketidakpastian) berkaitan dengan waktu dan kondisi obyek yang dijual. Ketidakpastian yang berkaitan dengan waktu berarti “ketika kedua belah pihak membuat kontrak, mereka tidak tahu apakah mereka masih ingin melaksanakan perjanjian dan memiliki minat terus dalam kontrak sampai jatuh tempo”. Selain itu, Mufti Taqy Utsmani (1996), mengatakan bahwa “pertama, prinsip Syariah mengatakan bahwa pembelian atau penjualan tidak dapat dilakukan untuk tanggal di masa depan. Oleh karena itu, semua kontrak futures tidak valid dalam Syariah; kedua, karena dalam transaksi futures sebagian besar tidak dimaksudkan untuk pengiriman komoditas atau kepemilikan. Sebagian besar transaksi futures berakhir sebelum jatuh tempo, dengan kata lain pembeli/penjual akan keluar dari pasar futures tanpa ada niatan untuk melakukan pembelian/penjualan komoditas. Hal ini tidak diperbolehkan dalam Syariah “.

Obaidullah (2002) dan Al-Saati (2002) juga menyatakan bahwa kontrak futures memiliki unsur gharar karena kontrak ini menjual produk yang tidak memiliki produk yang dijual. “Sebuah transaksi harus mempunyai komponen nyata, misalnya barang, utilitas, atau jasa “, dengan kata lain,” uang tidak boleh dipergunakan untuk instrumen uang jika dilakukan untuk mencari keuntungan “(Al Suwailem, 2006). Salah satu implikasi dari perdagangan futures adalah sebagian besar peserta merupakan spekulan (Bacha, 1999; Salehabadi dan Aram, 2002). Seperti kita ketahui, spekulasi yang berlebihan dilarang dalam Islam.

2.Dikarenakan mudhaf sale, futures sebenarnya merupakan pencampuran pertukaran hutang untuk hutang yang lain (menjual hutang oleh hutang) atau bai-al-Dayn atau bai-al-kali-bi-al-kali, yang dilarang dalam Islam (Obaidullah, 2002; Al -Saati, 2002). Alasannya adalah menjual hutang oleh hutang tidak memenuhi tujuan kontrak penjualan, yaitu kepemilikan akan produk. Jadi, kontrak ini merupakan kewajiban yang tidak berguna bagi kedua belah pihak (Al-Saati, 2002).

3.Menurut Bacha (1999), volume perdagangan futures menunjukkan adanya perilaku spekulatif yang berlebihan. “Total volume perdagangan seringkali jauh lebih besar dari underlying volume ,perbedaan yang besar ini berhubungan dengan resiko yang besar”. Perilaku spekulatif yang berlebihan ini jelas dilarang oleh Islam, karena hal ini sama dengan judi.

4. “Reverse trading di pasar futures bertentangan dengan Syariah, yaitu pembeli tidak boleh menjual barang yang dibeli sampai barang tersebut berada di kepemilikannya” (Al-Saati, 2002).

5 “Short selling dalam pasar futures bertentangan dengan Syariah dalam hal barang yang dijual; yaitu barang harus ada dan dimiliki oleh penjual pada saat kontrak” (Al-Saati, 2002)

6.Forward kontrak untuk valuta asing dilarang karena uang bukan komoditas tetapi alat untuk perdagangan, sehingga, perdagangan uang lokal untuk uang asing hanya diperbolehkan di pasar spot.

Derivatives dalam Perspektif Islam I