Relative price strength adalah salah satu kunci indikator technical yang menunjukkan posisi saham di pasar. Jadi indikator ini menunjukkan bagaimana performance harga saham jika dihububgkan dengan pasar dan seluruh saham. Cara menghitung relative price strength adalah (P1 – P0)/P0 x 100%, dimana P1 = harga saham sekarang, P0 = harga saham tahun lalu; kemudian dibandingkan dengan saham yang lain. Setelah itu hasilnya di rangking, misalnya 1 – 99, dengan 99 merupakan yang tertinggi. Studi yang dilakukan oleh O’neil sejak tahun 1953 adalah rata-rata perusahaan yang superperform dirangking 87. Ini berarti bahwa saham perusahaan tersebut outperform 87% dari semua saham di tahun sebelumnya.

Bagaimana kita menggunakan relative price strenght untuk memilih saham?
O’Neil menyarankan untuk memilih saham yang mempunyai rating relative price strenght 80 atau lebih. Ini berarti bahwa saham yang kita pilih merupakan saham dari perusahaan yang mempunyai kinerja 20% tertinggi. Leader market biasanya mempunyai relative price strenght diatas 85. Jadi relative price strenght membantu kita untuk mengeliminasi saham dari perusahaan yang performance nya lambat (laggard) dan mediocre (sedang-sedang). Karena perusahaan jenis ini akan memperlambat performance keseluruhan saham yang kita punya. O’Neil tidak pernah menyarankanuntuk membeli sahamyang mempunyai relative price strenght 70 dan dibawahnya.

Apakah relative price strenght bisa membantu kita untuk menjual saham?
Relative price performance merupakan alat bantu yang handal untuk memilih dari 5 atau 6 saham yang kita miliki adalah true leader. Secara bulanan atau 3-bulanan, kita bisa merangking saham kita berdasarkan persentasi dari perubahan harga saham bulan yang bersangkutan. Jika kita mau menjual, biasanya kita akan menjual saham yang mempunyai performance paling jelek dulu.

Bagaimana jika saham yang mempunyai relative price strenght rating tinggi tiba-tiba harganya turun setelah kita membelinya? Bukankah kita seharusnya tetap memegang saham yang merupakan leader?
Jika saham yang baru kita beli harganya turun, jangan beli saham itu lagi. Seperti yang sudah diuraikan di lesson 1 bahwa kita harus menjual saham yang harganya jatuh sebesar 8% dari harga pembelian untuk proteksi diri kita. Averaging down yaitu membeli lebih banyak saham yang harganya turun adalah berbahaya. Bagaimana jika kita membeli saham yang harganya turun menjadi, misalnya, $50, dan kemudian kita membeli lebih banyak lagi dengan harga $45, kemudian apa yang harus kita lakukan kalau ternyata saham tersebut harganya turun lagi menjadi $40? kemudian turun lagi $35? Bagaimana jika saham tersebut tidak pernah naik lagi? Jadi sangat bijaksana untuk “average up” saham ketika harga naik. Inilah saham untuk investasi kita, jadi bukan saham yang mempunyai “lagging price action”. Jika kita memegang saham yang mempunyai relative strenght rating 80 atau 90 selama berbulan-bulan, kemudian ratingnya turun untuk pertama kalinya ke angka 70 atau dibawahnya, maka pada saat inilah kita bisa mengevaluasi posisi portfolio kita, dan mempertimbangkan untuk menjual saham kita.

Lesson 6: Relative Price Strength: a Key Technical Tool