Masih tentang 24 lessons untuk menjadi investor yang sukses dari William J. O’Neil. Sebelum dia menguraikan secara detil maksud dari lesson ke 3 ini: Follow a system rather than your emotions, dia menceritakan tentang a famous old trader yang bernama Jesse Livermore. Livermore pernah berkata “there are only two emotions in the market – hope and fear”. Permasalahannya adalah kita berharap pada saat seharusnya kita takut, dan kita takut pada saat seharusnya kita berharap. Nah pada bagian ini O’Neil akan memberikan beberapa tips agar kita bisa menyisihkan emosi kita pada saat membuat keputusan investasi.

Pada lesson sebelumnya O’Neil menyarankan untuk menjual stock/saham kita pada saat harga saham jatuh 8% dibawah harga beli. Kebanyakan dari kita pada saat situasi ini, kita masih banyak berharap (hope) bahwa harga akan naik kembali sehingga kita tidak mengambil tindakan untuk cutting the loss (menjual saham), padahal seharusnya kita takut karena kita akan kehilangan banyak uang. Keputusan yang benar adalah kita cepat-cepat menjual stock. Sebaliknya, pada saat harga naik, dan tentunya ini merupakan indikator bahwa pasar lagi kuat, kita merasakan ketakutan jangan-jangan harga akan drop, akhirnya kita membuat keputusan untuk menjual saham kita. Situasi sepeti yang digambarkan diatas sering terjadi pada kita, inilah yang dimaksudkan oleh Livermore “you hope when you should fear, you fear when you should hope”.

Sudah menjadi hukum alam, emosi kita akan terlibat dalam jika uang kita “on the line”, begitu juga di pasar saham. Perasaan ego, mudah tertipu, takut, keserakahan akan selalu ada dalam pasar saham. Tetapi permasalahannya pasar tidak tahu kita, pasar tidak peduli pikiran, perasaan dan kejadian yang ingin kita lihat. Oleh karena itu, apa yang seharusnya kita lakukan? menurut pengalaman O’Neil, satu-satunya jalan aadalah membuat aturan membeli dan menjual yang diambil dari historical research, yaitu aturan yang berdasarkan bagaimana sebenarnya pasar berjalan, bukan berdasarkan opini seseorang dan dugaan. Semakin kita mengenal pasar secara histori semakin kita mampu mengenal opportunity kedepannya. Jadi analisa histori akan memberikan kita perspektif yang utuh tentang pasar. Fluktuasi pasar secara harian dan mingguan akan mengintimidasi investor, bahkan investor yang sudah berpengalaman. Tetapi, histori (masa lalu) akan memperlihatkan secara keseluruhan “uptrend” pasar, pergantian siklus yang memberi kesempatan besar investor untuk mendapatkan uang. Jadi mengetahui fakta dan menganalisa histori pasar merupakan kunci. Hal ini penting agar kita bisa membuat aturan dan kita harus berpegang pada aturan ini. Mematuhi aturan yang kita buat adalah hal yang tersulit, terutama untuk investor yang terbiasa berinvestasi secara tidak sehat (seenaknya sendiri).

Low-priced stock (saham-saham murah) merupakan salah satu daya tarik pasar. Karena dengan membeli low-priced stock dan melihat harga saham murah ini menjadi berlipat memberikan kebahagian. Ingat, berinvestasi di pasar saham tidak sama dengan membeli diskon baju atau mobil. Pasar adalah tempat lelang: “stocks sell for what they’re worth at the time”. Secara histori, saham yang murah selalu mempunyai resiko yang tinggi. O’Neil tidak pernah membeli saham dibawah $15/share. Dia selalu membeli saham antara $16/share – $100/share. Perusahaan yang outstanding (bagus) tidak pernah menjual sahamnya dengan harga yang murah di IPO. Banyak orang yang ingin kaya dalam waktu yang singkat (overnight). Sukses butuh waktu, dan kemauan untuk secara objektif dan jujur menganalisa kesalahan kita merupakan kunci untuk membuat kita semakin pandai dalam hal apapun di kehidupan kita ini.

Tidak satupun orang di dunia ini senang dengan kesalahan. Tetapi membiarkan ego kita untuk menghalangi kita dalam menganalisa tindakan kita adalah perbuatan yang tidak benar terutama jika kita berada dalam pasar. Yang dilakukan oleh O’Neil adalah melakukan “post-analysis” semua trading yang dilakukannya. Jadi setiap tahun dia membuat daily chart (grafik harian) kapan dia beli dan jual, begitu juga alasan dia beli dan jual. Kemudian dia memisahkan saat-saat dia mendapatkan keuntungan dan mendapatkan kerugian, menganalisa apa saja yang dia lakukan secara benar pada saat pasar dalam keadaan naik, dan kesalahan-kesalahan apa saja yang sudah dia buat. Setelah itu, dia membuat aturan-aturan baru yang mencegah dia untuk berbuat kesalahan yang sama di masa yang akan datang. “if you don’t look at wht you’re doing wrong, you’ll never become a better investor”.

Wah ternyata dalam lesson ke tiga ini membuat saya sadar bahwa dimana saja, kapan saja, jadi apa saja “kita tidak pernah berhenti dalam belajar” dalam kata lain kita harus mempunyai karakter “endless learning” agar kita sukses.

Follow a System rather than Your Emotions
Tagged on:         

2 thoughts on “Follow a System rather than Your Emotions

  • February 26, 2011 at 10:21 pm
    Permalink

    Seorang trader yang profesional haruslah memiliki kemampuan untuk memanage mental serta emosi mereka demi kepentingan tradingnya. Mereka yang gagal disini tidak akan dapat bertahan lama dalam investasi saham. Dan ini bukan perkara yang mudah. Ada yang cukup melakukan simulasi dalam pikiran mereka lalu mereka mampu menjaga pikiran dan emosi mereka tetap sehat dalam bertrading. Ada juga yang membutuhkan waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun untuk dapat memanage mental mereka. Lainnya bahkan ada yang tidak dapat melewatinya sama sekali.

    MASTERING SELF-Seni Penguasaan Diri Ketika anda bertransaksi, ada 2 emosi yang harus ditaklukan, FEAR (ketakutan) dan GREED (keserakahan). Dalam intensitasnya masing-masing, setiap trader akan mengalami kedua emosi tersebut.

    Trader yang cenderung berhati-hati dalam bertransaksi akan lebih banyak dikuasai oleh FEAR/ketakutan. Banyak kesempatan yang hilang karena takut kalah, banyak juga keuntungan yang tidak maksimal karena emosi tersebut memaksa keluar dari posisi sebelum waktunya.Trader yang ingin cepat mendapatkan keuntungan cenderung menjadi SERAKAH, mengambil setiap kesempatan yang muncul, ingin mendapatkan keuntungan yang lebih, dan menggunakan semua modalnya dalam sekali transaksi.Pergerakan harga di pasar modal sendiri dimotivasi oleh kedua emosi tersebut, hanya trader yang bisa mengatasi kedua emosi itulah yang mampu bertahan dan berhasil.

    Ada beberapa sikap yang harus dimiliki untuk membantu mengatasi 2 emosi tersebut:

    1. Tetapkan Tujuan Yang Masuk Akal.Hampir setiap buku yang mengisahkan pengalaman seorang trader yang berhasil selalu menyampaikan bahwa keberhasilan yang dicapai didorong oleh tujuan yang mereka tetapkan. Tujuan tersebut membantu mereka untuk menjadi fokus dan berhasil.Seseorang akan bekerja secara efektif bila dia memiliki tujuan dalam pikirannya, bahkan orang tersebut akan mencapai taraf efektivitas kerja maksimal saat dia betul-betul memahami tujuan pekerjaannya (dan keuntungan untuk dirinya), demikianlah cara kerja pikiran anda.Agar tujuan yang anda buat tidak terlalu membebani anda dan bisa dicapai, maka:Tujuan harus realistis.Tujuan harus dapat dicapai.Tujuan harus dapat diukur.

    2. Learning to love to take a loss.Pepatah yang akan anda sering dengar dari sesama trader adalah “Belajar untuk menerima kekalahan sebagai bagian dari permainan.”Dalam bisnis apapun ada waktunya anda rugi terlebih dahulu, yakni waktu-waktu dimana usaha anda mungkin belum terlalu dikenal, masih harus memberi diskon untuk menarik pelanggan, hal itu sangat wajar dalam dunia bisnisDemikian juga dalam bisnis pasar modal, ada saat dimana anda akan mengalami kekalahan. Belajar untuk menerima kekalahan adalah salah satu sikap yang harus dikembangkan oleh seorang trader yang berhasil. Jangan pernah menyalahkan siapapun atau apapun, baik itu broker, sistem trading dll.. Mulai belajar menerima tanggung jawab, sama seperti anda menerima kemenangan dengan tangan terbuka. Demikian juga saat anda menerima kekalahan dengan sikap penuh tanggung jawab. Belajarlah dari kekalahan tersebut. Cari tahu apa yang membuat anda bisa kalah dan belajarlah darinya. Seorang trader yang sukses masih harus menghadapi puluhan kali kerugiaan dalam transaksinya, tetapi mereka memandang kerugian sebagai bagian yang harus mereka terima yang sama dengan kemenangan.Seorang trader yang sukses bukanlah seorang trader yang tidak pernah kalah, tetapi seorang trader yang dapat meminimalkan resiko kekalahan dan menaikkan tingkat kemenangan dengan strategi yang benar. (Probabilitas kemenangannya lebih besar dibandingkan kekalahannya

    3. Anda Layak Menerima Kemenangan Besar dan Cepat.Ada banyak pemikiran yang salah yang anda terima dari orang tua/budaya, bahkan lingkungan tempat anda bertumbuh besar. Banyak diantara anda yang diajarkan bahwa untuk mendapatkan uang haruslah bekerja keras. Semakin keras bekerja, semakin banyak anda mendapatkan uang.Kesadaraan demikian terbawa hingga kini dan ketika anda mulai bertransaksi saham…bammm… transaksi anda menghasilkan keuntungan BESAR dalam waktu kurang dari 5 menit. Ada perasaan “tidak layak” untuk mendapatkan uang tersebut dalam waktu secepat itu. Apa yang terjadi kemudian adalah hal yang tidak dapat di duga. Anda mulai membiarkan keuntungan anda berkurang hanya demi mengurangi rasa bersalah yang timbul akibat kemenangan yang cepat tadi. Kemenangan besar yang anda peroleh merupakan salah satu hasil kerja keras dan investasi anda. Anda layak mendapatkan itu.

    4. Aturan Bertransaksi.Buat peraturan untuk anda sendiri, yakni peraturan yang timbul dari kebiasaan baik yang anda pelajari selama bertransaksi. Kebiasaan-kebiasaan yang anda sering lakukan dan biasanya membawa keuntungan.Beberapa contoh trading rules/ aturan transaksi yang bisa anda terapkan adalah:Mulailah dengan doa atau sikap spiritual yang membuat anda rileks.Jika target terpenuhi, berhentilah.Banyak membaca fundamental news untuk menambah wawasan.Baca..baca..baca.. banyak buku, upgrade your knowledge.Disiplin melakukan trading strategy yang anda ciptakan.Olah raga.Tidur cukup.Buat prioritas.. Don’t marry with your trade.

    5. Membuat Stop Loss yang bijaksana.Kemampuan anda untuk mengantisipasi dan mengawasi pergerakan harga sangat terbatas (anda tidak mungkin online 24jam sehari). Menyadari keterbatasan yang anda miliki dan mulai menggunakan Stop Loss adalah sebuah langkah preventif yang sederhana dan sangat bijaksana.Pasanglah stop loss berdasarkan beberapa ketentuan:Maksimal stop loss adalah sebesar resiko transaksi yang anda tetapkan .Stop Loss mengikuti besarnya channel (gunakan bolingger band)Sesuaikan dengan time frame yang anda gunakan.

    6. Being objective.Menjadi objektif saat mengamati pasar sangatlah penting. Trader yang objektif akan menerima setiap masukan dan menjadikannya bahan pertimbangaan untuk mengambil posisi.Mark Douglas, penulis buku “The Disciplined Trader”, menuliskan 7 karakterisitik trader yang objektif. Berikut ketujuh karakteristiknya:Tidak merasa ditekan.Anda tidak merasa takut.Anda tidak merasa ditolak.Tidak ada benar dan salah.Anda yakin dengan penilaian yang anda buat dan itulah yang anda kerjakan.Anda dapat menganalisis pasar dengan perspektif seakan-akan dia tidak sedang mengambil suatu posisi.Anda tidak berfokus pada uang , tetapi pada pergerakan harga.

    7. Revenge Trading.Jangan pernah transaksi dengan tujuan ‘balas dendam’.Dalam kondisi tersebut, emosi anda akan bergejolak. Anda marah, marah pada pasar yang bergerak tidak sesuai dengan keinginan anda. marah atas kecerobohan diri sendiri. Ketika kemarahan muncul, Anda mengambil keputusan transaksi untuk mengganti kerugian yang terjadi. Dengan begitu, keputusan tersebut biasanya tidak didasari atas pikiran yang jernih dan benar (sehingga akhirnya anda pun rugi dalam transaksi ini)..dan bola salju kekalahan itu terus bergerak kebawah, semakin besar dan semakin menghabiskan modal anda.

    Salam hormat buat bu Dahniar……Alumni Akuntansi 1999)

  • July 26, 2011 at 4:29 pm
    Permalink

    You got to push it-this esestianl info that is!

Comments are closed.