Ketahanan pangan dalam sistem Islam tidak terlepas dari sistem politik Islam. Politik ekonomi Islam yaitu jaminan pemenuhan semua kebutuhan primer (kebutuhan pokok bagi individu dan kebutuhan dasar bagi masyarakat) setiap orang individu per individu secara menyeluruh, berikut jaminan kemungkinan bagi setiap orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya, sesuai dengan kadar kesanggupannya sebagai individu yang hidup dalam masyarakat yang memiliki gaya hidup tertentu.

Terpenuhinya kebutuhan pokok akan pangan bagi tiap individu ini akan menentukan ketahanan pangan Daulah. Selain itu, ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan yang dibutuhkan oleh rakyat besar pengaruhnya terhadap kesejahteraan dan kualitas sumber daya manusia. Hal itu berpengaruh pada kemampuan, kekuatan dan stabilitas negara itu sendiri. Juga mempengaruhi tingkat kemajuan, daya saing dan kemampuan negara untuk memimpin dunia. Lebih dari itu, negara harus memiliki kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok dan pangan utama dari daam negeri. Sebab jika pangan pokok dan pangan utama berkaitan dengan hidup rakyat banyak tergantung pada negara lain melalui impor hal itu bisa membuat nasib negar tergadai pada negara lain. Ketergantungan pada impor bisa membuka jalan pengaruh asing terhadap politik, kestabilan dan sikap negara. Ketergantungan pada impor juga berpengaruh pada stabilitas ekonomi dan moneter, bahkan bisa menjadi pemicu krisis. Akibatnya stabilitas dan ketahanan negara bahkan eksistens negara sebagai negara yang independen, secara keseluruhan bisa menjadi taruhan.

Karena itu ketahanan pangan dalam Islam mencakup: (1) Jaminan pemenuhan kebutuhan pokok pangan; (2) Ketersediaan pangan dan keterjangkauan pangan oleh individu masyarakat; dan (3) Kemandirian Pangan Negara.

Itulah yang perlu kita lakukan agar ketahanan pangan di negara kita bisa terpenuhi, bukan seperti saat ini yang untuk buat tempe dan tahu saja, kita harus import. Padaha negara kita adalah negara yang tongkat dan kayu jika ditanam, akan jadi tanaman. Seharusnya negara kita harus lebih menggalakkan trasmigrasi, agar daerah terpencil bisa membantu kita dalam penyediaan pangan.
Atau kita perlu belajar dari kisah nabi Yusuf A.S yang perlu menyimpan 7 tahun hasil bumi agar 7 tahun berikutnya kita tidak harus import. Tetapi penyimpanan hasil bumi yang 7 tahun tentu saja bukan disimpan oleh individu sebagai tengkulak, tapi disimpan oleh Bulog misalnya, seperti yang selama ini telah dilakukan di zaman rezim Soeharto.

KETAHANAN PANGAN DALAM SISTEM ISLAM