Bagaimana Memilih Pemimpin Sesuai Al Qur’an dan Sunnah

Pemimpin adalah orang yang akan membawa kita kepada arah yang lebih baik dibanding kondisi
saat ini. Kepemimpinan (ke-khalifah-an) dalam Islam sangatlah penting melihat posisi
itu lebih dari sekedar tugas dan tanggung jawab, melainkan sebagai amanah yang
harus diemban sebaik-baiknya. Itu sebabnya, pemimpin (imam) semacam itu harus
“dicari” melalui sebuah proses pemilihan umum yang jujur, adil dan demokratis
disertai hati yang tulus tanpa usur paksaan apalagi politik uang (money
politics).

Berkenaan dengan kriteria kepemimpinan itu, alangkah baiknya kita merujuk kepada
Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber dari segala sumber hukum Ummat Islam.
Terdapat beberapa istilah dalam Al-Qur,an yang menunjuk kepada pengertian
pemimpin, diantaranya: Khalifah, Imam dan Ra’in. Tiga konsep tersebut merupakan
satu kesatuan yang padu tak dapat dipisahkan dan seharusnya ada dan tercermin
pada seriap diri pemimpin mendatang.

Kriteria seorang pemimpin menurut (Imam Nur Suharno, Republika 24 April 2009), terdiri dari:

1. Yang pandai menjaga (hafidzun) :
a. Seorang pemimpin harus pandai menjaga hubungan dengan Allah swt.
b. Mampu menghadirkan Allah swt dalam setiap aktivitas dan perilakuknya
c. Bekerja dengan kerja amanah , jujur, memiliki integritas, komitmen terhadap
bangsa dan negara. Tidak terjatuh dalam perilaku yang negatif : KKN misalnya
( Bila dirangkum ,kurang lebih memiliki SQ dan EQ)

2. Berpengetahuan (IQ).

Seorang pemimpin harus memiliki dan
menguasai beragam disiplin ilmu untuk menunjang keberhasilan kepemimpinannya.
Diantaranya, ilmu agama, manajerial, leadership, ketatanegaraan, pengetahuan
tentang kompleksitas problematika masyarakat , dan ilmu lainnya ygmenunjang utk
kesuksesan dan keberhasilan kepemimpinanya. Dengan dmkn diharapkan seseorang
dpt memimpin secara professional, sehingga kebijakan yg dibuatnya akan
berorientasi pada kemaslahatan rakyat yg dipimpinnya. Sifat ini hanya terwujud
pada diri seorang pemimpin yg mempunyai kecerdasan intelektual.

Ke-Khalifah-an : “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat. “Aku hendak
menjadikan khalifah di bumi…” (Q.S Al-Baqarah/2: 30). Ayat ini menjelaskan
kriteria utama pemimpin adalah kesadarannya akan peran dan fungsinya sebagai
khalifah atau wakil Allah. Ini berarti, ketika sang pemimpin bekerja
menjalankan amanahnya melayani dan membenahi masyarakat di disertai visi dan
misi ke-Illahiyahan (Ketuhanan) dalam bentuk berbagai macam kegiatan dalam
rangka membentuk masyarakat muslim yang cerdas dan intelektual.

Dengan demikian, ia akan memiliki legitimasi kepemimpinan yang sangat kuat serta di
tambah dengan visi misi yang tajam dan kemampuannya dalam menjelaskan
konsep-konsep Islam dan solusi untuk perbaikan di masyarakat yang lebih baik
sehingga membuat keunggulan itu semakin mendapatkan pengakuan dari khalayak
umum sebagaimana para malaikat memberikan pengakuan kepada Nabi Adam a.s (QS.
Al-Baqarah/2: 30-34)

1. Pemimpin harus berperan sebagai Imam, pertama-tama haruslah menjadi panutan masyarakat yang dipimpin. Sebagaimana Nabi
Ibrahim a.s telah menjadi tauladan dalam hal keta’atan, kehanifan, ke-tauhid-an dan kemuliaan akhlaknya, mensyukuri nikmat Allah SWT.

“Sungguh, Ibrahim adalah Imam (Pemimpin) yang dapat dijadikan teladan,
patuh kepada Allah SWT dan hanif . Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik
(mempersekutukan Allah).(Q.S An-Nahl/16: 120)

Peran dan fungsi ke-Imam-an dari seorang pemimpin, secara kongkrit dapat dilihat pada imam sholat. Kriteria Imam
sholat ialah lebih berilmu atau lebih fasih bacaannya. Begitu selektifnya,
mengingat beratnya tanggung jawabnya seorang imam maka harus yang “tafaqquh
fid-din”, yaitu orang yang memahami, mamaknai dan mendalami agama. Sehingga
tidak menjadikan posisi Imam sebagai ajang perebutan kekuasaan. Menunjuk
Imam dengan tulus dan ma’mum pun menerima posisi mereka dengan rela hati serta
ikhlas.

2. Imam harus mau dikoreksi,karena imam tidak sunyi dari koreksi ma’mum bilamana ia lupa atau salah maka bersedia diingatkan. Oleh
karena itu jika kita melaksanakan sholat tepat dibelakang posisi imam biasanya
didampingi orang yang mempunyai keilmuan yang tinggi pula dibelakangnya agar
dapat mengingatkan apabila terjadi kesalahan gerakan dan bacaan. Dan biasanya
posisi shaff pertama diisi oleh orang-orang baik yang mempunyai pemahaman Islam
karena mereka bertanggung jawab pula untuk mengawal dan mengikuti proses sholat
agar berjalan dengan baik. Bahkan ketika imam berada dalam situasi yang
menyebabkan wudhunya batal, imam dengan legowo mundur dan digantikan oleh
ma’mum yang lain. Ini mengidikasikan bahwa pemimpin harus dekat kepada para
ulama dan ustadz disekelilingnya sehingga kelak memiliki integritas, moralitas
dan kejujuran yang tinggi.

3. Sebagai penggembala (Ra’in-an) : Ra’in berasal dari kata Ra’a-yara-Ra’yan, yang bermakna pengembala. Rasulullah SAW dalam sebuah
hadist menggunakan kata ini untuk menunjukan fungsi pemimpin. “Setiap kamu adalah
pengembala dan setiap kamu akan diminta pertanggung jawabannya. Seorang
pemimpin adalah pengembala bagi rakyatnya, maka ia akan ditanya tentang apa
yang digembalakannya”(HR. Ahmad)

Pada fungsi ke-Ra’in-annya, dituntut dari seorang pemimpin kemampuannya untuk membenahi
sistem pemerintahan yang lebih baik dan mengarahkan rakyatnya menuju perbaikan
Ummat. Ia seorang leader yang berpengalaman dalam memimpin anak buahnya dan
memahami prinsip-prinsip leadership karena kelak akan bertanggung jawab
terhadap nasib rakyatnya. Ia juga adalah orang yang mengerti betul
kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat yang bersifat kekinian dan berorientasi masa
depan yang lebih baik serta selalu ber-empati (peduli) terhadap masyarakat
tertindas (termarjinal). Untuk itu, ia harus merakyat berada di tengah-tengah
rakyatnya sehingga tahu dan mengerti betul apa yang diinginkan rakyatnya.

Adapun jika sesuai model kepemimpinan yang dimiliki para Nabi dan Rasul, terdiri dari; siddiq, amanah, tabligh dan fathanah adalah sebuah sifat dan
karakter terbaik untuk dijadikan tauladan dalam mengembangkan potensi
kepemimpinan individu maupun kelompok.

Siddiq, secara etimologis berarti benar, jujur, apa adanya, dan tidak menyembunyikan sesuatu. Ia merupakan lawan kata dari dusta. Dalam konteks
yang berbeda, siddiq juga diartikan sebagai suatu yang haq. Siddiq terbagi dalam tiga kategori; (1) siddiq dalam perkataan, (2) siddiq dalam sikap, dan (3) siddiq dalam perbuatan.

Dalam kehidupannya para Nabi dan Rasul senantiasa menjunjung tinggi
nilai-nilai kebenaran dan kejujuran. Terhindar dari perkataan, sikap dan
perbuatan tidak terpuji, seperti berbohong dan berdusta. Sebagai pemimpin spritual, disamping juga kepala negara dan public figure, Nabi Muhammad SAW
semenjak kecil sudah memposisikan diri dengan sikap dan prilaku yang siddiq. Disamping atas kehendak Allah,
juga karena kepribadiannya yang mulia lagi agung. Sehingga oleh masyarakat Qurasy
diberi gelar al-Amin (terpercaya).

Amanah, secara etimologis berarti kejujuran, kepercayaan, titipan dan terkadang diartikan juga dengan keadaan aman. Amanah dibagi dua;
amanah dari Allah kepada manusia dan amanah manusia kepada manusia (QS.
Al-Ahdzab:72). Amanah yang pertama berupa kemampuan berlaku adil dan
tugas-tugas keagamaan, sedangkan amanah bentuk kedua adalah mewakilkan kepada
orang lain untuk memelihara hak-haknya.

Taba’ taba’iy dalam kitab tafsirnya al-Mizan mengartikan amanah sesuatu yang dipercayakan Allah kepada manusia untuk
memeliharanya demi kemaslahatan, kemudian amanat itu dikembalikan pada Allah
sebagaimana yang dikehendakinya.

Bagi Rasulullah kepemimpinan adalah amanah yang pertanggungjawabannya tidak
hanya kepada sesamanya namun juga kepada Allah SWT. Sebagai seorang pemimpin
agama, pemimpin negara dan pemimpin umat, Muhammad Rasulallah telah menunjukkan
kapasitas pribadinya yang amanah.

Tabligh, menurut bahasa artinya menyampaikan, mengutarakan, memberi atau mengeluarkan sesuatu kepada orang lain. Diperluas lagi juga dapat
diartikan sebagai suatu ajakan atau dakwah. Karena tugas Nabi dan Rasul adalah
menyampaikan risalah dan firman Allah kepada umat manusia.

Risalah yang disampaikan kepada kaumnya dan atau untuk universalitas umat
manusia berisi tentang perintah dan larangan. Tak berhak baginya menambah atau
mengurangi. Allah memerintahkan padanya untuk menegakkan yang makruf dan
mencegah yang mungkar serta berlaku bijaksana dalam kedua urusan tersebut, (QS.
Ali Imran: 110 dan QS. Al-Nahl:90).

Kepemimpinan erat kaitannya dengan tugas dan tanggungjawab untuk menyampaikan
sesuatu kepada umat yang dipimpinnya. Hukum dan aturan yang dibuat Allah dan
diperuntukkan pada umat manusia adalah tugas mulia yang harus disampaikan para
Nabi dan Rasul kepada kaumnya agar terwujud suatu tatanan kehidupan yang
bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Disamping memang karena kehendak
Allah, para Nabi dan Rasul tersebut telah menjalankan tugas dengan seindah-indahnya dan sebaik-baiknya.

Nilai-nilai yang terkandung dalam sifat siddiq,amanah, tabligh dan fathanah
memiliki kekuatan yang dahsyat dan luar biasa. Keempatnya adalah satu kesatuan
yang sinergis dan saling melengkapi. Variabel dari sifat-sifat tersebut sudah
teruji kesuksesan dan keberhasilannya. Sebagaimana sukses dan berhasilnya para
Nabi dan Rasul.

Karakter kepemimpinan sebagaimana yang ada pada Nabi dan Rasul sudah
terbukti keberhasilannya. Tugas kita sekarang hanya tinggal mengembangkan karakter kepemimpinan tersebut agar lebih adpatif dan up to date dengan perkembangan zaman
dan waktu.

Oleh karenanya kita sebagai hamba Allah SWT dan sebagai umat Rasulullah SAW
seharusnya mempunyai sifat-sifat seperti ini jika menjadi pemimpin. Pemimpin
bukan hanya dalam lingkup besar tetapi juga untuk lingkup terkecil, misalnya di
dalam sebuah rumah tangga. Karena kita semua adalah sebagai Khalifah atas
apapun tugas dan tanggung jawab kita…Wallahu a’alam…

Bagaimana Memilih Pemimpin Sesuai Al Qur’an dan Sunnah