PAHLAWAN TANPA TANDA JASA DARI AMPEL GADING KABUPATEN MALANG

Libur tahun baru berarti istirahat, tidur, atau bersih-bersih rumah.  Itu merupakan kegiatan rutin saya setiap tahun sejak tahun kapan gitu sampai 2011 yang lalu.  Kenapa tidak jalan-jalan, karena pastilah dihadang kemacetan arus lalu lintas dan ramainya tempat wisata, sehingga bukan rasa bahagia tapi malah stress.  Namun agak berbeda di awal tahun 2012 ini, tanggal 1 Januari 2012 kemarin saya isi dengan keluar rumah mengantar komputer bekas ke seseorang yang sangat spesial.  Apa hubungan tahun baru dan komputer bekas? Lalu siapa orang spesial itu yang mau-maunya menerima komputer bekas?

Cerita ini sebenarnya dimulai pada akhir tahun 2010 yang lalu, berawal dari niat gadisku untuk mengikuti Eagle Award, sebuah program Metro TV untuk membuat proposal film dokumenter dengan tema “CERDAS INDONESIAKU”.  Mulailah pencarian obyek sebagai bahan penyusunan proposal.  Pencarian berakhir di Ampel Gading kabupaten Malang dengan perkenalan gadisku dengan sosok bersahaja bernama Harsono.  Seorang pemuda yang mengabdikan hidupnya dengan mendidirikan sekolah gratis bagi anak-anak tidak mampu.

Harsono, si anak bungsu lahir dari keluarga yang berkecukupan materi, terlihat dari rumah yang ditempati yang merupakan peninggalan dari ayahandanya.  Ia juga memiliki kakak-kakak yang berkecukupan dari segi ekonomi.  Si bungsu Harsono sejak kecil hingga remaja agak “aneh”, ia lebih senang bermain dengan anak dan remaja dari kalangan tidak mampu.  Memasuki usia dewasa, rasa empati dan kasih sayang yang begitu besar membuatnya memutuskan meninggalkan perburuan materi duniawi yang hampir menyita seluruh hidupnya.  Ia memilih menjadi guru gratis bagi anak-anak tidak mampu.

Harsono mendirikan sekolah gratis yang tempatnya cukup jauh dari rumahnya yang harus ia tempuh dengan sepeda motor sederhananya.  Muridnya tidak banyak, tidak genap sebanyak jumlah jari kaki dan jari tangan kita, hanya 7-15 orang.  Dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada, Harsono berjuang seorang diri mencerdaskan anak bangsa.  Hasilnya, Harsono pernah mencetak lulusan SD yang meraih danem yang sangat memuaskan, sampai ia dicurigai membantu muridnya menyelesaikan soal-soal ujian tersebut.  Untuk kasu inipun ia harus berjuang meyakinkan pihak-pihak terkait, Allahuakbar, murid cerdas ini mendapat beasiswa ke jenjang yang lebih tinggi.  Banyak lagi kisah-kisah menarik yang diutarakan Harsono, dengan gaya penuh bahagia dan semangat.

Harsono tidak mengenal kata putus asa, berbagai upaya ia tempuh demi anak-anak didiknya.  Namun ketika upaya itu membuahkan hasil yaitu dana bantuan dari beberapa pihak, yang terjadi sangat mencengangkan.  Benar kata pepatah “dimana ada gula disitu pasti semut berdatangan”.  Uang selalu menjadi motivasi manusia, wajarlah asal diperoleh dengan jalan yang halal.  Tapi ketika uang menjadi tujuan utama dan ditunggangi keserakahan, maka fitrah manusia menjadi rendah, rasa empati tersisihkan.  Ratusan juta uang di depan mata, Harsono mulai didatangi semut-semut itu.  Ketika sekolah gratis menjadi nyaman maka Harsono dengan berat hati meninggalkannya karena tak sanggup melihat tingkah semut-semut tersebut.  Harsono memilih menjadi petani dengan harapan hasil taninya membawa berkah bagi umat manusia, namun ia masih berkeinginan menjadi guru bagi siapa saja yang membutuhkan.

PULANG DENGAN KEMENANGAN (Selamat Datang Tim PKM Pahlawan STIE-MCE)

Kabar yang luar biasa saya terima pada malam hari ketika rasa kantuk memuncak.  Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) STIE –MCE berhasil meraih 2 penghargaan yaitu emas dan perak.

Emas diraih oleh kelompok Alin,dkk dibawah bimbingan Ibu Siwi Syah Ratna Sari.  Perak diraih oleh kelompok Andi Tripenus, dkk dibawah bimbingan pak Uke Prajoga.  Penghargaan bagi tim Kornelius, dkk  atas perjuangan dilaga PIMNAS (pekan ilmiah mahasiswa nasional).  Prestasi ini diraih bukan tanpa usaha yang keras.  Suatu kemustahilan bagi kita meraih prestasi tanpa kerja keras hanya dengan mengharap keajaiban semata.

PKM mulai dikenal di STIE-MCE dimotori oleh almarhumah Dr. Aida Ainul Mardiyah,  ibu kita tercinta yang sarat dengan prestasi dan penghargaan tingkat nasional bahkan internasional, asset berharga milik STIE-MCE.  Sayangnya Allah, SWT berkehendak lain, pada usia yang sangat muda dan berada pada puncak prestasi beliau di panggil.  Kita kehilangan sosok luar biasa, sosok seorang ilmuwan sejati, pendidk dan peneliti.

Semangat beliau menggugah saya untuk meneruskan perjuangannya di PKM.  Tiga tahun berturut-turut kami tim PKM STIE-MCE bahu membahu membudayakan ajang bergensi ini dilingkungan STIE-MCE. Suatu perjuangan yang tak kenal lelah dengan motivasi yang tinggi.  Sebagai manusia kadang semangat mengalami pasang surut, berbagai rintangan kami hadapi.  Mulai dari tahap awal yaitu sosialisasi program hingga akhir kegiatan harus tim jalani dalam kurun waktu satu tahun untuk satu kali periode program.  Namun tim kami cukup solid, saling memberikan motivasi, saling menyemangati.

Usaha ini tidak sia-sia, setelah almarhumah berpulang, tiga tahun berturut-turut mahasiswa PKM STIE-MCE berhasil menembus ke PIMNAS, ajang bergengsi yang menjadi impian mahasiswa Indonesia.  Pada tahun 2009 satu tim lolos ke PIMNAS yang dimotori oleh ibu Siwi, disusul pada tahun 2010 satu tim lolos lagi yang dimotori oleh Pak Uke, dan pada tahun 2011 ini 3 tim lolos dengan dimotori oleh ibu Siwi, Pak Uke, dan Bu Dwinita.

Dua tim PKM menorehkan sejarah baru bagi STIE-MCE dengan meraih medali emas dan perak pada PIMNAS 2011 di Universitas Hasanuddin Makasar.  Prestasi luar biasa yang diraih dengan perjuangan keras.  Keterlibatan mahasiswa, dosen pembimbing, dan institusi (kampus) merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak ada kata aku yang paling berjasa, aku yang paling pintar, apalagi aku yang paling hebat.  Hanya Allah SWT yang boleh sombong.  Sepandainya seorang mahasiswa, tanpa dukungan teman satu tim bahkan teman diluar tim, dan dosen pembimbing apalah artinya ia.  Sehebat-hebatnya seorang dosen, lulusan S2 atau S3 sekalipun, tak ada artinya tanpa dukungan mahasiswa yang solid dan rekan dosen yang lain.  Allah SWT telah memberi teladan di depan mata kita yaitu tubuh kita sendiri, segagah apapun kita bila salah satu bagian tubuh tidak berfungsi apalah jadinya kita???

Semoga keberhasilan tim PKM STIE-MCE ini memacu semangat kita bahwa bersama kita bisa, dan memberikan hikmah bagi kita semua, kita adalah satu tim, satu keluarga besar STIE-MCE, tidak ada yang paling hebat, paling pintar, paling berjasa dengan menepuk dada berbangga diri, tapi “kita adalah mahluk yang paling lemah, hina, dan tak punya apa-apa tanpa bantuan siapapun, apalagi tanpa bantuan ALLAH SWT”.

ILMU YANG BAROKAH (Sendang Biru dan Abah Atmo)

Sendang Biru, terletak di pantai selatan Jawa Timur, dua jam perjalanan mobil dari kota Malang.  Pantai indah dengan pulau Sempu yang terkenal (bukan Nyai Roro Kidul).  “Sudah tahu! Buat apa bercerita tentang pantai Sendang Biru, aku sudah sering kesana” batin anda.  Sabar!!! Saya tidak akan bercerita tentang pantai Sendang Biru, itu sih bagian anak saya yang doyan adventure.  Lho! Apa kaitan Sendang Biru dengan Abah Atmo (siapa pula ini?).  Sabar!! Jangan kemana-mana dulu.

Sendang Biru, sebuah desa nelayan dengan Abah Atmo sebagai salah seorang penduduknya.    Abah Atmo, panggilan untuk seorang nelayan tua tanpa embel-embel gelar akademis di depan dan di belakang nama sederhana ini.  Lalu, apa yang istimewa dari nelayan tua itu?  Decak kagum dan ancungan jempol tidak serta merta saya acungkan kepada nelayan tua ini.  Ikuti kisah saya ini!!!

Continue reading “ILMU YANG BAROKAH (Sendang Biru dan Abah Atmo)”