INVESTASI DI KEBUN EMAS

Oleh:  Lindananty

Emas sebagai logam mulia yang bernilai tinggi telah lama dikenal dalam peradaban dunia.  Sebagai logam mulia emas mempunyai sifat kimia yang tidak mudah bereaksi dengan unsur kimia lain.  Kelebihan emas inilah yang membuat emas tidak dapat rusak, berkarat, berjamur, maupun berubah warna.

Selama usia peradaban manusia, emas telah teruji ketangguhannya, tidak ada logam lain yang dapat menggantikannya, baik dari segi nilai, keindahannya, dan terutama prestigenya.  Emas mempunyai kegunaan pada berbagai industri, bidang kedokteran, elektronik, dan sebagai mata uang.  Sebagai nilai tukar tidak diragukan lagi ketahanannnya terhadap inflasi maupun deflasi.  1400 tahun yang lalu, pada jaman Rasulullah Muhammad SAW, emas telah digunakan sebagai  mata uang.  Selama kurun waktu 400 tahun harga emas terhadap komoditi konstan dan stabil.

Seiring perjalanan waktu dengan terbatasnya jumlah persediaan emas dunia, mata uang emas mulai ditinggalkan.  Pada tahun 1971 presiden AS Richard Nixon melarang dolar ditukar dengan emas, yang juga berarti menghentikan sistem Bretton Woods yang berlaku sejak tahun 1944.  Sejak itu penggunaan emas sebagai mata uang menghilang secara perlahan.  Demikian juga dibidang industri, semakin mahalnya harga emas menimbulkan keengganan industri menggunakan emas sebagai salah satu bahan baku, kecuali dalam industri perhiasan.

Penggunaan nilai tukar mengambang menuai banyak masalah.  Beberapa pakar ekonomi mengajukan peninjauan kembali sistem moneter yang ada selama ini.  Mulailah masyarakat dunia membuka kembali lembaran sejarah masa lalu.  Penggunaan mata uang emas mulai dipertimbangkan sebagai alternatif pemecahan masalah, walaupun sampai sekarang masih dalam wacana saja.

Seiring meningkatnya pamor emas, masyarakat mulai mengalihkan pilihan investasinya pada emas, terutama  emas batangan.  Yang menarik, dunia perbankan menangkap situasi ini sebagai peluang meraih keuntungan.  Belakangan ini marak bank-bank menawarkan gadai emas, terutama perbankan syariah, paling getot menawarkan gadai emas.

Tentu ini menarik untuk kita kaji, mengapa perbankan menawarkan gadai emas?  Pastilah keuntungan yang sangat menggiurkan yang menjadi tujuan mereka.  Apakah keuntungan yang akan diraih bank juga akan memberika keuntungan pula bagi masyarakat yang membeli jasa ini?  Untuk itu perlu dilakukan kajian lebih lanjut baik dari segi manfaat jangka pendek dan manfaat jangka panjang.  Perlu pula kajian dari segi syariah Islam mengingat perbankan yang paling banyak menawarkan produk ini adalah bank-bank syariah, walaupun mereka berkilah tidak mungkin bank-bank syariah berani menawarkan produk gadai syariah tanpa disetujui oleh dewan syariah Indonesia.

Walaupun telah mendapat restu dari dewan syariah, dalam prakteknya fungsi gadai tidak murni gadai lagi, terutama gadai emas, terbukti dengan munculnya istilah berkebun emas.  Fungsi gadai berubah fungsi untuk ajang spekulasi mencari keuntungan semata.  Untuk lebih jelasnya berikut ini uraian tentang berkebun emas beserta analisis perhitungannya.

Analisis Berkebun Emas.

Anda mempunyai emas batangan  seberat 100 gram yang saat ini bernilai Rp 42.024.000 (bila belum punya anda bisa membelinya dengan menggunakan dana sendiri).  Emas tersebut anda gadaikan pada sebuah bank dengan ketentuan sebagai berikut:

Ilustrasi Gadai Emas

100 gram
Nilai Gadai 90% 37.710.000
Nilai Taksir (Rp/gram)* 419.000 41.900.000
Biaya Administrasi (Rp) Gratis 0
Biaya Gadai (Ijarah)(Rp/gram/bulan) 3.750 2.250.000
Jangka Waktu 6 bulan

Cara berkebun emas:

  • Gadaikan 100 gram emas yang anda miliki (kita sebut emas ke 1)
  • Anda memperoleh dana Rp 37.710.000
  • Dana Rp 37.710.000 gunakan untuk membeli 100 gram emas lagi (emas ke 2).  Dengan asumsi harga emas tetap sebesar Rp 42.024.000, maka dana sendiri yang harus ditambahkan adalah sebesar Rp 4.314.000 (=Rp 42.024.000–37.710.000).
  • Emas ke 2 ini anda gadaikan lagi
  • Anda memperoleh uang sebesar Rp 37.710.000 lagi.
  • Dana Rp 37.710.000 gunakan untuk membeli 100 gram emas lagi (emas ke 3).  Dengan asumsi harga emas tetap sebesar Rp 42.024.000, maka dana sendiri yang harus ditambahkan adalah sebesar Rp 4.314.000 (=Rp 42.024.000–37.710.000).
  • Emas ke 3 ini anda gadaikan lagi
  • Anda memperoleh uang sebesar Rp 37.710.000 lagi.
  • Dana Rp 37.710.000 gunakan untuk membeli 100 gram emas lagi (emas ke 4).  Dengan asumsi harga emas tetap sebesar Rp 42.024.000, maka dana sendiri yang harus ditambahkan adalah sebesar Rp 4.314.000 (=Rp 42.024.000–37.710.000).
  • Emas ke 4 ini anda simpan (tidak digadaikan)

ILUSTRASI PEROLEHAN DANA DAN PENDANAAN SENDIRI

GADAI EMAS

Langkah Perolehan Dana dari Gadai Pendanaan Sendiri
Dana Sendiri untuk Beli Emas Biaya Penitipan

6 bulan

Beli Emas 100 gr 42,024,000
1 Emas 100 gr ke 1, gadaikan 37,710,000 4,314,000 2,250,000
2 Beli Emas 100 gr ke 2, gadaikan 37,710,000 4,314,000 2,250,000
3 Beli Emas 100 gr ke 3, gadaikan 37,710,000 4,314,000 2,250,000
4 Beli Emas 100 gr ke 4, disimpan
54,966,000 6,750,000

Selanjutnya, setelah masa 6 bulan maka lakukan langkah-langkah berikut ini: (dengan asumsi harga emas saat itu sebesar Rp 470.000 per gram)

  • Emas ke 4 yang anda simpan (tidak digadaikan), anda jual seharga Rp 47.000.000
  • Dana dari penjualan emas ke 4 ini anda gunakan untuk menebus emas ke 1 sebesar Rp 37.710.000
  • Emas ke 1 anda jual
  • Dana dari penjualan emas ke 1, gunakan untuk menebus emas ke 2
  • Emas ke 2 anda jual
  • Dana dari penjualan emas ke 2, gunakan untuk menebus emas ke 3
  • Emas ke 3 anda simpan

Ilustrasi perhitungan tebus emas disajikan pada tabel berikut ini:

ILUSTRASI TEBUS EMAS

Jual Emas Rp Tebus Emas Rp
4 47,000,000 1 37,710,000
1 47,000,000 2 37,710,000
2 47,000,000 3 37,710,000
Sisa Emas no 3 senilai 47,000,000
188,000,000 113,130,000

Ilustrasi perhitungan keuntungan gadai emas disajikan pada tabel berikut ini:

ILUSTRASI PERHITUNGAN KEUNTUNGAN GADAI EMAS

LABA/RUGI
Posisi kekayaan akhir 188,000,000 – 113,130,000 74,870,000
Total Modal yang Dikeluarkan
Dana sendiri untuk beli emas 54,966,000
Biaya penitipan 6,750,000
61,715,000
Laba/Rugi 13,154,000
Profit Margin 0.18

Besarnya profit margin yang diperoleh adalah 18%.  Bandingkan dengan investasi emas biasa tanpa memanfaatkan gadai emas berikut ini:

ILUSTRASI PERHITUNGAN KEUNTUNGAN

INVESTASI EMAS TANPA GADAI

Total Modal Sendiri 61,715,000
Beli emas (Rp 420.240/gr) =61,715,000/420.240

=146.85 gram

Jual Emas (Rp 470.000/gr) =146.85 gram x 470.000 69,022,578
Laba/Rugi 7,307,578
Profit Margin 0.1184

Profit margin yang diperoleh tanpa berkebun emas adalah sebesar 11.84%.  Profit margin berkebun emas lebih besar 6.16% dibandingkan tanpa berkebun emas.

Benarkah berkebun emas selalu lebih besar keuntungannya dibandingkan tidak berkebun emas.  Bagaimana bila harga emas tidak sebesar Rp 470.000 per gram saat ditebus?  Mudah menghitungnya, anda tinggal merubah nilai harga emas pada saat ditebus pada tabel tersebut di atas, misalnya harga emas Rp 430.000 per gram maka besarnya profit margin adalah:

ILUSTRASI TEBUS EMAS

Jual Emas Rp Tebus Emas Rp
4 43,000,000 1 37,710,000
1 43,000,000 2 37,710,000
2 43,000,000 3 37,710,000
Sisa Emas no 3 senilai 43,000,000
172,000,000 113,130,000

Ilustrasi perhitungan keuntungan gadai emas disajikan pada tabel berikut ini:

ILUSTRASI PERHITUNGAN KEUNTUNGAN

GADAI EMAS

LABA/RUGI
Posisi kekayaan akhir 113,130,000 58,870,000
Total Modal yang Dikeluarkan
Dana sendiri untuk beli emas 54,966,000
Biaya penitipan 6,750,000
61,715,000
Laba/Rugi -2,845,000
Profit Margin -0.05

Ilustrasi perhitungan keuntungan tanpa gadai emas disajikan pada tabel berikut ini:

ILUSTRASI PERHITUNGAN KEUNTUNGAN

INVESTASI EMAS TANPA GADAI

Total Modal Sendiri 61,715,000
Beli emas (Rp 420.240/gr) =61,715,000/420.240

=146.85 gram

Jual Emas (Rp 470.000/gr) 146.85 gram x 430.000 (63,145,500)
Laba/Rugi 1,430,500
Profit Margin 0.023

Besarnya profit margin yang diperoleh dari berkebun emas adalah -5%.  Bandingkan dengan investasi emas biasa tanpa memanfaatkan gadai emas, profit margin yang diperoleh adalah sebesar 2.3%.  Profit margin berkebun emas lebih kecil bahkan rugi dibandingkan tanpa berkebun emas.

Berkebun emas akan lebih menguntungkan bila harga emas naik sangat signifikan pada saat ditebus namun akan merugikan bila kenaikan harga emas tidak signifikan, apalagi kalau harga emas turun lebih kecil dari harga emas saat digadaikan.  Kerugian terjadi bukan saja sebesar selisih harga beli emas dan harga jual emas, tapi ditambah beban biaya penitipan gadai dan biaya adminstrasi yang mana bila dihitung bisa lebih besar dari keuntungan yang diharapkan.

Selain itu konsep berkebun emas menyalahi konsep investasi, investasi dilakukan dengan cara gadai berarti dana untuk pembelian emas berikutnya berasal dari utang.  Sumber dana untuk suatu investasi sebaiknya berasal dari dana yang tidak terpakai (dana nganggur) sehingga bila terjadi kerugian tidak mengganggu keuangan secara mendasar.  Beda bila investasi pada sektor riil, memungkinkan diperoleh dari utang karena dana tersebut akan digunakan secara produktif, pengembalian pinjaman akan diperoleh dari hasil produktifitas.  Kesalahan lainnya adalah, investasi emas merupakan investasi jangka panjang, bagaimana mungkin investasi jangka panjang didanai dari sumber dana jangka pendek seperti gadai.

Setiap investasi pasti berisiko, namun khusus untuk investasi dalam bentuk berkebun emas perlu lagi dikaji secara cerdas dampak secara ekonomi makro dan psikologis masyarakat.  Embel-embel syariah akan menjebak masyarakat dalam kesalahan yang cukup fatal.  Terutama benarkah cara berkebun emas dengan menunggangi sistem gadai? Perlu digali dan dianalisis secara mendalam hadis-hadis yang meriwayatkan tentang gadai (rahn), bagaimana mekanisme gadai yang diterapkan Rasullulah Muhammad, SAW agar kita umat Islam tidak salah langkah.

Penulis bukanlah ahli dalam bidang agama Islam, sehingga tidak berani menulis tentang haram halalnya investasi model ini, namun hati nurani yang paling dalam tergelitik untuk mempelajari  akan kebenaran model investasi ini dari syariah Islam.

SUMBER MODAL PADA SETIAP SIKLUS HIDUP PERUSAHAAN

Fungsi manajemen keuangan ada tiga, pertama mengatur alokasi modal pada aktiva perusahaan, kedua, membuat keputusan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan modal, dan ketiga, keputusan managerial.  Dari tiga fungsi tersebut masalah pemenuhan kebutuhan modal sering menjadi masalah yang pelik bagi perusahaan.

Modal merupakan salah satu faktor produksi terpenting yang digunakana perusahaan untuk membiayai operasi perusahaan.  Strategi pemenuhan modal perusahaan berhubungan dengan kebijakan struktur modal.  Sumber modal perusahaan berasal dari dua sumber yaitu dari dalam perrusahaan (internal) dan dari luar perusahaan (eksternal).  Sumber modal internal berasal dari laba (kas), biaya penyusutan, dan suntikan modal dari pemilik perusahaan.  Sedangkan sumber modal eksternal berasal dari utang dan saham.

Keputusan apakah modal dipenuhi dari sumber internal atau eksternal merupakan suatu keputusan yang tidak mudah.  Penggunaan sumber eksternal tidak menjadi masalah selama perusahaan mengalami pertumbuhan, karena perusahaan mempunyai harapan memperoleh laba dan arus kas yang cukup tinggi untuk menutupi kewajiban terhadap pemilik modal.  Namun tidak demikian dengan perusahaan yang tidak mengalami pertumbuhan, penggunaan sumber eksternal akan menambah beban dalam bentuk kewajiban membayar bunga dan turunnya nilai perusahaan.

Setiap perusahaan akan mengalami lima tahap siklus kehidupan yaitu tahap pendirian, ekspansi, pertumbuhan tinggi, kedewasaan, dan penurunan.  Pada setiap tahap siklus kehidupan ini kebutuhan akan besarnya modal akan berbeda.  Guna memenuhi kebutuhan tersebut perusahaan akan menggunakan strategi pendanaan berbeda pula.  Damodaran (2001) dalam teori analisis siklus kehidupan pendanaan (life cycle analysis of financing) menggambarkan kerangka strategi pendanaan yang dipilih perusahaan dihubungankan dengan tahap siklus hidup perusahaan.

Tahapan siklus hidup perusahaan yang dikemukakan oleh Damodaran ini tidak berbeda dengan siklus hidup produk dalam pemasaran yang terkenal itu.  Pada teori siklus hidup produk Kotler (1985:492) berpendapat bahwa bila produk mempunyai siklus hidup berarti ada empat hal yang harus diperhatikan.  Pertama, setiap produk mempunyai batas umur, kedua, penjualan produk melewati tahap-tahap yang jelas dan setiap tahap memberi tantangan berbeda, ketiga, keuntungan yang diperoleh akan meningkat dan menurun pada tahap berbeda, dan terakhir perusahaan dituntut menetapkan strategi yang berbeda dalam hal pemasaran, keuangan, produksi, personalia maupun pembelian pada setiap tahap siklus hidup produk.  Dari keempat hal tersebut salah satu yang terpenting adalah menetapkan strategi keuangan.

Damodaran (2001:512) berpendapat kebutuhan sumber dana yang berasal dari internal maupun eksternal pada setiap tahap siklus hidup perusahaan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan memperoleh aliran kas dan tingkat preferensi risiko. Secara umum pada tahap pendirian, sumber dana perusahaan banyak berasal dari pendiri perusahaan (sumber dana internal) dan utang bank.  Pada tahap ekspansi, peningkatan kebutuhan dana dipenuhi dari modal ventura.  Pada tahap pertumbuhan tinggi, perusahaan menjadi perusahaan publik (sumber dana eksternal).  Pada tahap kedewasaan, kebutuhan dana eksternal mulai menurun karena sumber dana internal yang relatif cukup.  Pada tahap terakhir, tahap penurunan, kebutuhan akan dana eksternal dan internal menurun drastis.

Studi tentang struktur modal perusahaan telah banyak dilakukan, diantaranya teori struktur modal tradisional, teori Modigliani dan Miller (1958), Static Trade-Off yang dikemukan oleh Miller (1977) dan teori Pecking Order Hypothesis oleh Myers dan Majluf (1984).  Penggunaan alternatif sumber dana perusahaan dengan teori Static Trade-Off didasarkan pada cost dan benefit-nya antara biaya modal dan keuntungan penggunaan utang yaitu, biaya kebangkrutan dan keuntungan pajak. Penentuan struktur modal perusahaan dengan Pecking Order Hypothesis didasarkan pada keputusan pendanaan secara hierarki

Myers dan Majluf (1984:148) mengemukakan bahwa manajer yang mengetahui jika nilai perusahaan mereka tinggi maka akan menerbitkan saham  tetapi jika nilai perusahaan rendah maka akan menggunakan kas yang berasal dari laba atau dengan kata lain perusahaan mengutamakan sumber dana internal yang berasal dari kas, dan apabila sumber dana internal tidak mencukupi maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman yaitu obligasi, kemudian sekuritas yang berkarateristik opsi, apabila belum mencukupi baru menerbitkan saham.

Damodaran (2001:512) yang diterjemahkan bebas oleh Gumanti (2001:16) membagi lima tahap siklus hidup produk yang dihubungkan dengan keputusan pendanaan. Lima tahap tersebut adalah

1. Tahap Pendirian (start up)

Tahap ini adalah tahap permulaan bagi setiap perusahaan baru.  Segala sesuatu yang mendukung operasi perusahaan bersifat baru, misalnya tenaga kerja, tempat, dan fasilitas lainnya.  Biasanya perusahaan yang baru didirikan berbentuk perusahaan perorangan dimana kebutuhan modalnya dipenuhi oleh pemilik (pendiri) ditambah dana pinjaman dari bank.  Sifat dari perusahaan yang baru berdiri adalah keengganan mereka untuk mengandalkan pinjaman dana dari pihak luar karena kemampuan infrastuktur masih belum memungkinkan.

2. Tahap Ekpansi

Pada tahap ini perusahaan sudah memiliki pelanggan dan cukup mampu memposisikan keberadaannya di pasar.  Manajemen termotivasi untuk melakukan pengembangan, untuk itu dibutuhkan dana yang tidak sedikit.  Pada tahap ini kebutuhan dana eksternal sangat tinggi karena aliran kas masuk relatif kecil.  Pilihan awal biasanya berasal dari dana privat atau perorangan (private equity) dan modal venture (venture capital).  Tidak jarang perusahaan akan mengambil keputusan untuk menjadi perusahaan publik (go public).

3. Tahap Pertumbuhan (high growth)

Begitu memasuki masa transisi untuk menjadi perusahaan publik, pilihan sumber pendanaan menjadi semakin terbuka.  Pada tahap ini, kebutuhan dana eksternal bersifat moderat relatif terhadap nilai perusahaan.  Kecenderungan perilaku aliran kas pada tahap ini masih tidak jauh berbeda dengan tahap kedua dimana laba yang diperoleh masih belum seimbang dibandingkan dengan pendapatan usaha (penjualan dan aliran kas yang masuk juga belum banyak sementara kebutuhan investasi relatif tinggi.  Biasanya perusahaan yang sudah menjadi perusahaan publik dan berada ada tahap pertumbuhan akan mencari alternatif pendanaan lain selain menambah saham yang ditawarkan ke upblik melalui mekanisme right issue atau opsi ekuitas (equity options).  Bila perusahaan memilih untuk menggunakan sumber dana utang, ada kecenderungan untuk memilih bentuk utang yang dapat dikonversi (convertible debt).

4. Tahap Kedewasaan (mature)

Perusahaan yang memasuki tahap ini mempunyai dua ciri yaitu:

a.  Peningkatan laba dan aliran kas yang cepat sebagai cermin dari keberhasilan investasi masa lalu.

b. Kebutuhan dana untuk investasi ada produk dan proyek baru akan mulai menurun.  Tingkat pertumbuhan perusahaan akan mulai mendatar,

Pada tahap ini kebutuhan dana eksternal mulai menurun dan sebagai gantinya, karena perusahaan telah mampu mencukui kebutuhan dana dari dalam, dana internal akan lebih menarik untuk dijadikan alternatif pendanaan.  Jenis kebutuhan dana dari luar mulai berubah.  Perusahaan akan lebih menyukai dana utang, khususnya dari bank atau dengan menerbitkan obligasi.

5. Penurunan (decline)

Pada tahap ini ciri utama yang ditemui adalah penurunan yang stabil terhadap pendapatan dan laba sebagai konsekuensi dari kedewasaan perusahaan dan masuknya pesaing-pesaing baru.  Walaupun investasi yang ada masih mampu menghasilkan aliran kas, tetapi jumlahnya relatif tidak banyak.  Disamping itu, kebutuhan perusahaan untuk investasi baru mulai menurun.  Pada tahap ini kebutuhan dana eksternal menurun drastis karena proyek-proyek atau investasi baru juga menurun dan jumlah dana internal yang tersedia diperusahaan sangat besar.  Perusahan berpikir bahwa penjualan saham atau obligasi sudah bukan alternatif yang menarik lagi bahkan dengan kelebihan dana internal perusahaan mulai berpikir untuk melunasi semua kewajibannya atau membeli balik sahamnya.  Pada tahap ini dapat dikatakan bahwa perusahaan secara bertahap mengalami apa yang disebut sebagai melikuidasi diri sendiri.

Tabel 1

Analisis Siklus Kehidupan Pendanaan

Kebutuhan Dana Luar Tinggi, tetapidibatasi oleh infrastuktur Tinggi, relatif terhadap nilai perusahaan Moderat, relatif terhadap nilai perusahaan Menurun, sebanding prosentase nilai perusahaan Rendah, karena proyek menyusut
Pendanaan Internal Negatif atau rendah Negatif atau rendah Rendah, relatif terhadap kebutuhan pendanaan Tinggi, relatif terhadap kebutuhan pendanaan Lebih dari kebutuhan pendanaan
Pendanaan Eksternal Modal pemilik, utang bank Modal ventura, saham biasa Saham biasa, warran, convertibles Utang Bayar utang,  beli kembali saham
Tahap Pertumbuhan Tahap 1

Pendirian

Tahap 2

Ekspansi

Tahap 3

Pertumbuhan

Kedewasaan Penurunan

Transisi            Penilaian            Penawaran           Penawaran              Penawaran

Pendanaan        ekuitas               Saham Perdana    Saham Musiman     Obligasi

(Sumber:  Damodaran,2001:512)

Daftar Pustaka

Damodaran, A. 2001. Corporate Finance: Theory and Practice, Second edition, Whiley and Sons, New York

Gumanti, Tatang Ary, ………….,Manajemen Usahawan,

Kotler Philip. 1985, Manajemen Pemasaran, penerbit Erlangga

Modigliani F, Miller MH., 1958. The Cost of Capital, Corporate Finance and The Theory of Investment. The American Economic Review, vol.XLVIII, no.3, pp 261-297

Myers, S.C., 1984, The Capital Structure Puzzle, lournal of Finance, Vol. XXXIX, july, hal. 144-155.

POTENSI DILUSI EPS PADA PENERBITAN WARAN

Penerbitan saham baru biasanya dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh tambahan dana. Saham-saham baru harus ditawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham lama (pre-emptive right = hanya untuk pemegang saham). Jika pemegang saham lama tidak menggunakan haknya maka saham-saham baru tersebut ditawarkan kepada investor lain.

Sebagai langkah awal sebelum saham baru diterbitkan emiten dapat menerbitkan waran terlebih dahulu. Waran adalah kontrak yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk membeli saham baru perusahaan dengan harga tertentu (exercise price) pada tanggal pelaksanaannya (exercise date). Waran merupakan daya tarik (sweetener) pada penawaran umum saham ataupun obligasi. Biasanya harga pelaksanaannya lebih rendah daripada harga pasar saham. Setelah saham ataupun obligasi tercatat di bursa, saham dapat diperdagangkan secara terpisah. Periode perdagangan waran lebih lama daripada bukti right (right issue), yaitu 3 tahun sampai 5 tahun. Waran merupakan pilihan, dimana pemilik waran dapat memilih untuk menukarkan atau tidak warannya dengan saham pada tanggal pelaksanaannya.

Waran mempunyai manfaat dan juga risiko. Manfaat dari waran adalah pemegang waran mempunyai hak untuk membeli saham baru perusahaan dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar saham tersebut, selain itu apabila waran dipedagangkan di bursa maka pemegang waran mempunyai kesempatan mendapatkan keuntungan (capital gain) yaitu apabila harga jual waran lebih tinggi dari harga beli waran.  Adapun risiko dari waran adalah jika pada tanggal pelaksanaan harga saham lebih rendah dari harga pelaksanaan (exercise price), pemegang waran tentu tidak akan menukarkan warannya dengan saham maka ia akan mengalami kerugian sebesar harga beli waran tersebut. Risiko lainnya adalah pemegang waran mengalami kerugian bila harga jual waran lebih rendah dari harga belinya (capital loss).

Hak untuk membeli saham terlebih dahulu merupakan ketentuan hukum yang mengatur adanya pre-emtive right bagi setiap pemegang saham lama di dalam perseroan terbatas, dimana setiap pemegang saham yang terdaftar berhak mendapatkan hak untuk membeli saham baru . Penerbitan waran bertujuan agar investor tertarik untuk membeli sekuritas yang diterbitkan perusahaan.  Aset dasar (underlying) dari waran adalah saham atau obligasi, waran memiliki exercise price yang artinya pemegang waran tersebut memiliki hak untuk membeli saham perusahaan pada harga exercise tersebut pada saat jatuh tempo, tak masalah berapapun harga saham tersebut di bursa (spot). Bila pemegang waran yang tidak tertarik menggunakan haknya maka dapat menjual waran tersebut pada investor lain. Waran juga bermanfaat bagi emiten yang menerbitkannya. Bagi emiten, menerbitkan waran lebih menguntungkan daripada menerbitkan saham bonus. Kalau membagikan saham bonus emiten tidak mendapatkan uang, sedangkan waran dapat dijual yang berarti perusahaan mendapatkan uang.

Waran merupakan bagian dari total ekuitas yang dimiliki perusahaan penerbit karena pada saat waran dikonversikan berarti jumlah lembar saham yang beredar akan meningkat. Meningkatnya jumlah lembar saham akan mengurangi pendapatan per lembar saham bagi pemegang saham bila tidak diikuti dengan peningkatan earnings yang signifikan dengan peningkatan jumlah saham. Namun bila dana yang diperoleh dari penerbitan saham baru digunakan tidak untuk meningkatkan earnings perusahaan, misalnya untuk membayar utang maka akan berdampak pada terdilusinya earnings perusahaan.

Penerbitan waran tidak selalu disukai oleh pemegang saham lama karena penerbitan waran berarti akan bertambahnya jumlah saham yang beredar pada tanggal pelaksanaan (exercise date). Bertambahnya jumlah saham yang beredar berarti mengurangi jumlah pendapatan per lembar saham (earnings per share atau EPS) bagi setiap pemegang saham. Ancaman dilusi EPS inilah yang merupakan alasan mengapa penerbitan saham baru tidak disukai pemodal.

Daya tarik sebuah waran selain hak membeli saham dengan harga saham yang lebih murah dari harga pasar adalah daya tarik akan nilai waktu dari uang, artinya investor yang membeli waran berarti membeli potensi pertumbuhan usaha dari emiten. Jika perusahaan ingin agar warannya sukses diperdagangkan yang berarti pula suksesnya penerbitan saham baru maka tujuan penerbitan saham baru harus ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Jika perusahaan tidak menjaga kinerja dengan baik maka penerbitan waran akan berpotensi pula pada terdilusinya harga saham perusahaan karena potensi dilusi EPS pada perusahaan yang menerbitkan waran akan berpengaruh pula pada harga saham perusahaan yang mana akan berdampak pada kinerja pasar saham. Karenanya waran akan lebih atraktif untuk perusahaan yang mempunyai potensi pertumbuhan usaha yang bagus untuk jangka panjang.

Daftar Pustaka:

Anugerah, Nurul, Abd. Hamid Habbee, dan M. Natsir Kadir (2001), Korelasi Antara Price Earnings Ratio (PER) dan        Return Saham Pada Perusahaan Go Public di Bursa Efek Jakarta, Bandung: Simposium Akuntansi IV, Ikatan Akuntansi Indonesia.

Beaver, W., dan d. Morse, 1978, What Determines Price Earnings Ratio?, Financial Analysts Journal, vol.34, no.4 (July/August), hal. 65-78.

Craig, D., G. Johson, and M. Joy, 1978, Accounting Methods and P/Es, Financial Analysist Journal, vol. 43, no. 2 (March/April), hal. 41-45.

Gaver, J.J., and K.M. Gaver, 1993, Additional Evidence on the Association between the Investment Opportunities Set and Corporate Financing, Dividend, and Compensation Policies, Journal of Accounting and Economics, vol. 16, no. 1-3 (January/April/July), hal. 125-160.

Harto, Puji, 2001, Analisis Kinerja Perusahaan Yang Melakukan Right Issues di Indonesia, Bandung: Simposium Akuntansi IV, Ikatan Akuntansi Indonesia.

Neill, D. John, dan Pfeiffer, M. Glenn, 1999, The Effect of Potentially dilutive Securities on P/Es, Financial Analyst Journal (FIA), vol.55, hal. 58-64.

Sharpe, William F., Gordon J. Alexander, dan Jeffrey V. Bailey (1997), Investasi, Jilid 2, PT. Prenhallindo, Jakarta.
Tandelilin, Eduardus (2001), Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, Edisi Pertama, PT. BPFE, Yogyakarta.

Masyarakat kelas 3 dan kartu kredit

Kasus penganiayaan terhadap salah seorang pemegang kartu kredit terkemuka oleh debt collector sempat membuat merinding (ngeri!!), betapa tidak berharganya nyawa manusia di negeri ini. Perkembangan gaya hidup dan teknologi mendorong tingginya keinginan masyarakat modern akan kartu kredit untuk menunjang semua aktivitas dalam kehidupannya. Mulai dari untuk keperluan bisnis sampai keperluan pribadi.

Perkenalan masyarakat dunia dengan kartu kredit dimulai setelah Perang Dunia II. Dimasa itu telah ada alat pembayaran selain uang tunai yaitu cek (cheque). Kartu kredit menjadi produk abad ke-20 yang menjadi produk prestige bagi pemegangnya. Pada tahun 1951 kartu kredit pertama diluncurkan oleh Diners Club dan American Express bagi 200 pelanggan untuk digunakan di 27 restoran di New York. Dari benua Amerika, kartu kredit berkembang pula sampai ke Inggris dan benua Eropa lain, yaitu yang dikeluarkan oleh Euro Cheque dan oleh Chargex. Kartu kredit mulai merambah Indonesia sejak tahun 1964, Hotel Indonesia (HI) sebagai pelopor menerima pembayaran dengan kartu kredit. Kartu kredit yang pertama kali muncul di Indonesia adalah kartu kredit yang diterbitkan oleh American Exprees dan Dinners Club. Sedangkan bank nasional pertama yang menerbitkan kartu kredit adalah Bank BCA, namun kartu ini hanya dapat digunakan oleh nasabah BCA saja (bersifat internal).

Continue reading “Masyarakat kelas 3 dan kartu kredit”

PENGGUNAAN ANALISIS TIME VALUE OF MONEY (TVOM) UNTUK PERENCANAAN KEUANGAN

PENGGUNAAN ANALISIS TIME VALUE OF MONEY (TVOM) UNTUK PERENCANAAN KEUANGAN

OLEH: Dra Lindananty, MM

Perencanaan keuangan harus mempertimbangkan perubahan dari nilai uang, karena nilai uang di masa sekarang berbeda dengan nilai uang di masa yang akan datang, sehingga menyebabkan adanya perbedaan nilai atas sejumlah uang yang dikeluarkan (arus kas keluar) saat ini dengan yang diterima (arus kas masuk) dimasa yang akan datang. Hal ini akan berdampak pada penerimaan bersih arus.

Konsep nilai waktu uang (Time Value of Money) menunjukkan uang yang dikeluarkan baik untuk membiayai investasi maupun hasil dari investasi tidak mempunyai nilai yang sama untuk waktu yang berbeda walaupun memiliki angka nominal yang sama.

Continue reading “PENGGUNAAN ANALISIS TIME VALUE OF MONEY (TVOM) UNTUK PERENCANAAN KEUANGAN”