LEBIH BESAR TIANG DARIPADA PASAK (cara cerdas mengelola keuangan keluarga)

Oleh Lindananty

Manajemen keuangan keluarga yang baik senantiasa menjaga keseimbangan antara besarnya pendapatan keluarga dengan besarnya pengeluaran, jangan sampai ‘besar pasak daripada tiang’.  Pepatah ini telah dikenal sejak jaman dahulu kala, menggambarkan betapa masalah keuangan keluarga adalah masalah klasik yang pasti dihadapi setiap manusia.  Mengelola keuangan pada prinsipnya adalah mengelola berapa jumlah uang yang diterima dan berapa uang yang dikeluarkan.  Uang bukanlah segalanya, tapi dapat membuat kita kelimpungan jika tidak mengelolanya dengan baik.

Menurut pengalaman dan pengamatan persoalan keuangan sering dituding sebagai biang pemicu perselisihan dalam keluarga. Masalah kekurangan uang banyak terjadi dikalangan ekonomi menengah kebawah, sedangkan masalah ketidakterbukaan sering muncul di keluarga kelompok ekonomi atas. Namun kelebihan atau kekurangan uang itu relatif.  Benarkah masalahnya terletak dari besar-kecilnya pendapatan keluarga?  Seringkali masalahnya bukan terletak pada penghasilan yang kurang, tapi kebiasaan yang salah dalam mengelola uang.  Kenyataannya banyak orang tidak begitu pusing dengan menajemen keuangan dan percaya bahwa pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi akan menyelesaikan semua masalah keuangan mereka. Yang penting rasa syukur, keterbukaan, dan kebersamaan keluarga akan meringankan masalah yang dihadapi. Tidak akan ada akhirnyan kalau bicara masalah kurang, karena bila pendapatan bertambah, uang yang dibelanjakan juga akan tambah, akhirnya akan kurang terus.

Sebuah keluarga baru yang terdiri dari suami dan istri sering terjadi kesulitan mengatur keuangan rumah tangga, karena belum adanya tanggungjawab pada anak-anaknya, biasanya mereka berpikir untuk “senang-senang dulu, mumpung belum punya momongan”, akibatnya pengelolaan keuangan belum terencana dengan baik.  Berbeda dengan ketika anak-anak mulai lahir, “senang-senang” harus mulai dikurangi.  Peran sebagai ayah dan ibu menuntut kecerdasan dalam mengelola rumah tangga terutama keuangan.  Ekonomi keluarga mutlak tanggung jawab suami, jika istri bekerja, penghasilannya ditujukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, dalam agama bernilai sedekah.

Berikut ini penulis mencoba berbagi pengalaman pribadi dalam mengelola keuangan keluarga, semoga dapat diambil manfaatnya.

Kunci untuk mengelola keuangan secara sederhana:

1. Tetapkan tujuan keuangan

Susun target keuangan yang ingin anda raih secara berkala bersama pasangan, dengan cara menetapkan tujuan spesifik, realistis, terukur dan dalam kurun waktu tertentu.  Tujuan ini membantu Anda lebih fokus merancang keuangan.

Sebagai contoh:

  • Memiliki rumah sendiri, maka anda akan menabung untuk uang muka rumah daripada untuk uang muka mobil.
  • Anak-anak berpendidikan tinggi, maka anda akan menabung untuk mempunyai dana pendidikan prasekolah hingga pendidikan tinggi.
  • Tujuan keamanan, maka anda  tidak akan membeli televisi yang besar untuk menyelamatkan biaya hidup selama beberapa bulan.

2.   Buat anggaran keuangan

Buat anggaran penerimaan dan pengeluaran pokok.   Rencana keuangan yang realistis membantu anda bersikap obyektif soal pengeluaran yang berlebihan. Tak perlu terlalu ideal, yang penting anggarkan jumlah yang realistis dan anda pun harus patuh dengan anggaran

Penerimaan uang yang tetap (fixed cash inflow) yang dapat dianggarkan untuk pengeluaran.  Anggaran pengeluaran disusun dengan membuat skala prioritas,  sisihkan dulu untuk membayar cicilan hutang rumah, kendaraan (sepeda motor saja dulu).

Hutang sebagai pos pertama karena berkaitan dengan urusan dunia sehingga jika telat dibayar, maka orang yang bersangkutan harus membayar denda, bunga, sampai diteror debt collector.   Hati-hati dengan hutang, jangan berhutang untuk sesuatu yang tidak penting.  Godaan untuk hidup konsumtif semakin besar.  Tanamkan kebiasaan keuangan yang sehat dengan tidak memiliki hutang konsumtif.

Pos berikutnya belanja kebutuhan pokok dan kebutuhan sekunder.  Kebutuhan pokok berupa belanja beras, lauk pauk, biaya pendidikan, dll.  Pos ini bersifat pasti dengan jumlah yang tidak tinggi perubahannya (kecuali BBM naik lagi).

Agak berbeda dengan kebutuhan sekunder, kebutuhan sekunder  berupa pakaian, sepatu, dll.  Hati-hati dengan pos belanja kebutuhan sekunder karena pos ini yang paling fleksibel.  Besar kecilnya tergantung pada kebutuhan atau keinginan.  Bila keinginan yang menjadi dasarnya maka pikirkan “beribukali” untuk segera dikeluarkan dari daftar.

Pos terakhir yang sering dikeluhkan yaitu menabung.  Menabung berkaitan dengan masa tua, namun sering harus diabaikan karena pendapatan yang “pas-pas an”.  Menabung dapat dilakukan dengan cara menyisihkan anggaran dari kebutuhan sekunder yang tidak selalu ada setiap bulan.  Namun dari pengalaman beberapa orang, untuk menabung, disisihkan segera setelah menerima gaji.  Sebaiknya, miliki rekening terpisah untuk tabungan dan kebutuhan sehari-hari.

3.  Bedakan “butuh” dan “ingin”.

Setelah anggaran pengeluaran disusun, jangan terburu-buru untuk segera meng-eksekusinya karena tak jarang kita membelanjakan uang untuk hal yang tak terlalu penting atau hanya didorong keinginan, bukan kebutuhan.  Setelah menyusun kolom pos belanja, pertimbangkan lagi dengan matang mana yang “kebutuhan” dan “keinginan”.  “Keinginan” segera coret, dan pindahkan dananya ke pos tabungan.

Hati-hati dengan “keinginan”, saat ini sangat berkembang gaya hidup berlebihan, pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup.  Gaya hidup materialis ini akan menjadi bencana bagi orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak penganutnya, berupa bencana keuangan dan bencana moral.

4. Tips belanja hemat

  1. Buat daftar belanja saat anda akan berbelanja
  2. Bawalah uang secukupnya (sebaiknya uang tunai bukan kartu kredit), sejumlah catatan didaftar belanja.  Ini untuk menghindari membeli barang tidak sesuai dengan daftar belanja.
  3. Jangan luangkan waktu anda untuk cuci mata saat belanja karena makin banyak waktu untuk belanja, maka semakin banyak godaan untuk membeli barang yang tidak anda butuhkan.  Hilangkan kebiasaan jalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan untuk sekedar cuci mata, rekreasi, atau refreshing.
  4. Jangan malu untuk menawar serendah mungkin. Dengan begitu anda bisa menghemat sejumlah uang walau tidak terlalu besar jumlahnya, dan uang itu bisa dialokasikan untuk keperluan yang lain.
  5. Sebaiknya belanja sendiri.  Kalau perlu ditemani anggota keluarga sebaiknya ajaklah anggota keluarga yang dapat mengingatkan anda untuk tidak boros.
  6. Untuk kebutuhan yang dapat ditunda (sekunder) sebaiknya membeli saat ada tawaran potongan harga yang efektif (effective discount), bukan potongan harga terselubung.

    Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, sehingga pepatah lebih besar pasak daripada tiang menjadi lebih besar tiang daripada pasak.  Amin.

    Author: lindananty

    Dosen STIE-MCE