INVESTASI DI KEBUN EMAS

Oleh:  Lindananty

Emas sebagai logam mulia yang bernilai tinggi telah lama dikenal dalam peradaban dunia.  Sebagai logam mulia emas mempunyai sifat kimia yang tidak mudah bereaksi dengan unsur kimia lain.  Kelebihan emas inilah yang membuat emas tidak dapat rusak, berkarat, berjamur, maupun berubah warna.

Selama usia peradaban manusia, emas telah teruji ketangguhannya, tidak ada logam lain yang dapat menggantikannya, baik dari segi nilai, keindahannya, dan terutama prestigenya.  Emas mempunyai kegunaan pada berbagai industri, bidang kedokteran, elektronik, dan sebagai mata uang.  Sebagai nilai tukar tidak diragukan lagi ketahanannnya terhadap inflasi maupun deflasi.  1400 tahun yang lalu, pada jaman Rasulullah Muhammad SAW, emas telah digunakan sebagai  mata uang.  Selama kurun waktu 400 tahun harga emas terhadap komoditi konstan dan stabil.

Seiring perjalanan waktu dengan terbatasnya jumlah persediaan emas dunia, mata uang emas mulai ditinggalkan.  Pada tahun 1971 presiden AS Richard Nixon melarang dolar ditukar dengan emas, yang juga berarti menghentikan sistem Bretton Woods yang berlaku sejak tahun 1944.  Sejak itu penggunaan emas sebagai mata uang menghilang secara perlahan.  Demikian juga dibidang industri, semakin mahalnya harga emas menimbulkan keengganan industri menggunakan emas sebagai salah satu bahan baku, kecuali dalam industri perhiasan.

Penggunaan nilai tukar mengambang menuai banyak masalah.  Beberapa pakar ekonomi mengajukan peninjauan kembali sistem moneter yang ada selama ini.  Mulailah masyarakat dunia membuka kembali lembaran sejarah masa lalu.  Penggunaan mata uang emas mulai dipertimbangkan sebagai alternatif pemecahan masalah, walaupun sampai sekarang masih dalam wacana saja.

Seiring meningkatnya pamor emas, masyarakat mulai mengalihkan pilihan investasinya pada emas, terutama  emas batangan.  Yang menarik, dunia perbankan menangkap situasi ini sebagai peluang meraih keuntungan.  Belakangan ini marak bank-bank menawarkan gadai emas, terutama perbankan syariah, paling getot menawarkan gadai emas.

Tentu ini menarik untuk kita kaji, mengapa perbankan menawarkan gadai emas?  Pastilah keuntungan yang sangat menggiurkan yang menjadi tujuan mereka.  Apakah keuntungan yang akan diraih bank juga akan memberika keuntungan pula bagi masyarakat yang membeli jasa ini?  Untuk itu perlu dilakukan kajian lebih lanjut baik dari segi manfaat jangka pendek dan manfaat jangka panjang.  Perlu pula kajian dari segi syariah Islam mengingat perbankan yang paling banyak menawarkan produk ini adalah bank-bank syariah, walaupun mereka berkilah tidak mungkin bank-bank syariah berani menawarkan produk gadai syariah tanpa disetujui oleh dewan syariah Indonesia.

Walaupun telah mendapat restu dari dewan syariah, dalam prakteknya fungsi gadai tidak murni gadai lagi, terutama gadai emas, terbukti dengan munculnya istilah berkebun emas.  Fungsi gadai berubah fungsi untuk ajang spekulasi mencari keuntungan semata.  Untuk lebih jelasnya berikut ini uraian tentang berkebun emas beserta analisis perhitungannya.

Analisis Berkebun Emas.

Anda mempunyai emas batangan  seberat 100 gram yang saat ini bernilai Rp 42.024.000 (bila belum punya anda bisa membelinya dengan menggunakan dana sendiri).  Emas tersebut anda gadaikan pada sebuah bank dengan ketentuan sebagai berikut:

Ilustrasi Gadai Emas

100 gram
Nilai Gadai 90% 37.710.000
Nilai Taksir (Rp/gram)* 419.000 41.900.000
Biaya Administrasi (Rp) Gratis 0
Biaya Gadai (Ijarah)(Rp/gram/bulan) 3.750 2.250.000
Jangka Waktu 6 bulan

Cara berkebun emas:

  • Gadaikan 100 gram emas yang anda miliki (kita sebut emas ke 1)
  • Anda memperoleh dana Rp 37.710.000
  • Dana Rp 37.710.000 gunakan untuk membeli 100 gram emas lagi (emas ke 2).  Dengan asumsi harga emas tetap sebesar Rp 42.024.000, maka dana sendiri yang harus ditambahkan adalah sebesar Rp 4.314.000 (=Rp 42.024.000–37.710.000).
  • Emas ke 2 ini anda gadaikan lagi
  • Anda memperoleh uang sebesar Rp 37.710.000 lagi.
  • Dana Rp 37.710.000 gunakan untuk membeli 100 gram emas lagi (emas ke 3).  Dengan asumsi harga emas tetap sebesar Rp 42.024.000, maka dana sendiri yang harus ditambahkan adalah sebesar Rp 4.314.000 (=Rp 42.024.000–37.710.000).
  • Emas ke 3 ini anda gadaikan lagi
  • Anda memperoleh uang sebesar Rp 37.710.000 lagi.
  • Dana Rp 37.710.000 gunakan untuk membeli 100 gram emas lagi (emas ke 4).  Dengan asumsi harga emas tetap sebesar Rp 42.024.000, maka dana sendiri yang harus ditambahkan adalah sebesar Rp 4.314.000 (=Rp 42.024.000–37.710.000).
  • Emas ke 4 ini anda simpan (tidak digadaikan)

ILUSTRASI PEROLEHAN DANA DAN PENDANAAN SENDIRI

GADAI EMAS

Langkah Perolehan Dana dari Gadai Pendanaan Sendiri
Dana Sendiri untuk Beli Emas Biaya Penitipan

6 bulan

Beli Emas 100 gr 42,024,000
1 Emas 100 gr ke 1, gadaikan 37,710,000 4,314,000 2,250,000
2 Beli Emas 100 gr ke 2, gadaikan 37,710,000 4,314,000 2,250,000
3 Beli Emas 100 gr ke 3, gadaikan 37,710,000 4,314,000 2,250,000
4 Beli Emas 100 gr ke 4, disimpan
54,966,000 6,750,000

Selanjutnya, setelah masa 6 bulan maka lakukan langkah-langkah berikut ini: (dengan asumsi harga emas saat itu sebesar Rp 470.000 per gram)

  • Emas ke 4 yang anda simpan (tidak digadaikan), anda jual seharga Rp 47.000.000
  • Dana dari penjualan emas ke 4 ini anda gunakan untuk menebus emas ke 1 sebesar Rp 37.710.000
  • Emas ke 1 anda jual
  • Dana dari penjualan emas ke 1, gunakan untuk menebus emas ke 2
  • Emas ke 2 anda jual
  • Dana dari penjualan emas ke 2, gunakan untuk menebus emas ke 3
  • Emas ke 3 anda simpan

Ilustrasi perhitungan tebus emas disajikan pada tabel berikut ini:

ILUSTRASI TEBUS EMAS

Jual Emas Rp Tebus Emas Rp
4 47,000,000 1 37,710,000
1 47,000,000 2 37,710,000
2 47,000,000 3 37,710,000
Sisa Emas no 3 senilai 47,000,000
188,000,000 113,130,000

Ilustrasi perhitungan keuntungan gadai emas disajikan pada tabel berikut ini:

ILUSTRASI PERHITUNGAN KEUNTUNGAN GADAI EMAS

LABA/RUGI
Posisi kekayaan akhir 188,000,000 – 113,130,000 74,870,000
Total Modal yang Dikeluarkan
Dana sendiri untuk beli emas 54,966,000
Biaya penitipan 6,750,000
61,715,000
Laba/Rugi 13,154,000
Profit Margin 0.18

Besarnya profit margin yang diperoleh adalah 18%.  Bandingkan dengan investasi emas biasa tanpa memanfaatkan gadai emas berikut ini:

ILUSTRASI PERHITUNGAN KEUNTUNGAN

INVESTASI EMAS TANPA GADAI

Total Modal Sendiri 61,715,000
Beli emas (Rp 420.240/gr) =61,715,000/420.240

=146.85 gram

Jual Emas (Rp 470.000/gr) =146.85 gram x 470.000 69,022,578
Laba/Rugi 7,307,578
Profit Margin 0.1184

Profit margin yang diperoleh tanpa berkebun emas adalah sebesar 11.84%.  Profit margin berkebun emas lebih besar 6.16% dibandingkan tanpa berkebun emas.

Benarkah berkebun emas selalu lebih besar keuntungannya dibandingkan tidak berkebun emas.  Bagaimana bila harga emas tidak sebesar Rp 470.000 per gram saat ditebus?  Mudah menghitungnya, anda tinggal merubah nilai harga emas pada saat ditebus pada tabel tersebut di atas, misalnya harga emas Rp 430.000 per gram maka besarnya profit margin adalah:

ILUSTRASI TEBUS EMAS

Jual Emas Rp Tebus Emas Rp
4 43,000,000 1 37,710,000
1 43,000,000 2 37,710,000
2 43,000,000 3 37,710,000
Sisa Emas no 3 senilai 43,000,000
172,000,000 113,130,000

Ilustrasi perhitungan keuntungan gadai emas disajikan pada tabel berikut ini:

ILUSTRASI PERHITUNGAN KEUNTUNGAN

GADAI EMAS

LABA/RUGI
Posisi kekayaan akhir 113,130,000 58,870,000
Total Modal yang Dikeluarkan
Dana sendiri untuk beli emas 54,966,000
Biaya penitipan 6,750,000
61,715,000
Laba/Rugi -2,845,000
Profit Margin -0.05

Ilustrasi perhitungan keuntungan tanpa gadai emas disajikan pada tabel berikut ini:

ILUSTRASI PERHITUNGAN KEUNTUNGAN

INVESTASI EMAS TANPA GADAI

Total Modal Sendiri 61,715,000
Beli emas (Rp 420.240/gr) =61,715,000/420.240

=146.85 gram

Jual Emas (Rp 470.000/gr) 146.85 gram x 430.000 (63,145,500)
Laba/Rugi 1,430,500
Profit Margin 0.023

Besarnya profit margin yang diperoleh dari berkebun emas adalah -5%.  Bandingkan dengan investasi emas biasa tanpa memanfaatkan gadai emas, profit margin yang diperoleh adalah sebesar 2.3%.  Profit margin berkebun emas lebih kecil bahkan rugi dibandingkan tanpa berkebun emas.

Berkebun emas akan lebih menguntungkan bila harga emas naik sangat signifikan pada saat ditebus namun akan merugikan bila kenaikan harga emas tidak signifikan, apalagi kalau harga emas turun lebih kecil dari harga emas saat digadaikan.  Kerugian terjadi bukan saja sebesar selisih harga beli emas dan harga jual emas, tapi ditambah beban biaya penitipan gadai dan biaya adminstrasi yang mana bila dihitung bisa lebih besar dari keuntungan yang diharapkan.

Selain itu konsep berkebun emas menyalahi konsep investasi, investasi dilakukan dengan cara gadai berarti dana untuk pembelian emas berikutnya berasal dari utang.  Sumber dana untuk suatu investasi sebaiknya berasal dari dana yang tidak terpakai (dana nganggur) sehingga bila terjadi kerugian tidak mengganggu keuangan secara mendasar.  Beda bila investasi pada sektor riil, memungkinkan diperoleh dari utang karena dana tersebut akan digunakan secara produktif, pengembalian pinjaman akan diperoleh dari hasil produktifitas.  Kesalahan lainnya adalah, investasi emas merupakan investasi jangka panjang, bagaimana mungkin investasi jangka panjang didanai dari sumber dana jangka pendek seperti gadai.

Setiap investasi pasti berisiko, namun khusus untuk investasi dalam bentuk berkebun emas perlu lagi dikaji secara cerdas dampak secara ekonomi makro dan psikologis masyarakat.  Embel-embel syariah akan menjebak masyarakat dalam kesalahan yang cukup fatal.  Terutama benarkah cara berkebun emas dengan menunggangi sistem gadai? Perlu digali dan dianalisis secara mendalam hadis-hadis yang meriwayatkan tentang gadai (rahn), bagaimana mekanisme gadai yang diterapkan Rasullulah Muhammad, SAW agar kita umat Islam tidak salah langkah.

Penulis bukanlah ahli dalam bidang agama Islam, sehingga tidak berani menulis tentang haram halalnya investasi model ini, namun hati nurani yang paling dalam tergelitik untuk mempelajari  akan kebenaran model investasi ini dari syariah Islam.

Author: lindananty

Dosen STIE-MCE