POTENSI DILUSI EPS PADA PENERBITAN WARAN

Penerbitan saham baru biasanya dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh tambahan dana. Saham-saham baru harus ditawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham lama (pre-emptive right = hanya untuk pemegang saham). Jika pemegang saham lama tidak menggunakan haknya maka saham-saham baru tersebut ditawarkan kepada investor lain.

Sebagai langkah awal sebelum saham baru diterbitkan emiten dapat menerbitkan waran terlebih dahulu. Waran adalah kontrak yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk membeli saham baru perusahaan dengan harga tertentu (exercise price) pada tanggal pelaksanaannya (exercise date). Waran merupakan daya tarik (sweetener) pada penawaran umum saham ataupun obligasi. Biasanya harga pelaksanaannya lebih rendah daripada harga pasar saham. Setelah saham ataupun obligasi tercatat di bursa, saham dapat diperdagangkan secara terpisah. Periode perdagangan waran lebih lama daripada bukti right (right issue), yaitu 3 tahun sampai 5 tahun. Waran merupakan pilihan, dimana pemilik waran dapat memilih untuk menukarkan atau tidak warannya dengan saham pada tanggal pelaksanaannya.

Waran mempunyai manfaat dan juga risiko. Manfaat dari waran adalah pemegang waran mempunyai hak untuk membeli saham baru perusahaan dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar saham tersebut, selain itu apabila waran dipedagangkan di bursa maka pemegang waran mempunyai kesempatan mendapatkan keuntungan (capital gain) yaitu apabila harga jual waran lebih tinggi dari harga beli waran.  Adapun risiko dari waran adalah jika pada tanggal pelaksanaan harga saham lebih rendah dari harga pelaksanaan (exercise price), pemegang waran tentu tidak akan menukarkan warannya dengan saham maka ia akan mengalami kerugian sebesar harga beli waran tersebut. Risiko lainnya adalah pemegang waran mengalami kerugian bila harga jual waran lebih rendah dari harga belinya (capital loss).

Hak untuk membeli saham terlebih dahulu merupakan ketentuan hukum yang mengatur adanya pre-emtive right bagi setiap pemegang saham lama di dalam perseroan terbatas, dimana setiap pemegang saham yang terdaftar berhak mendapatkan hak untuk membeli saham baru . Penerbitan waran bertujuan agar investor tertarik untuk membeli sekuritas yang diterbitkan perusahaan.  Aset dasar (underlying) dari waran adalah saham atau obligasi, waran memiliki exercise price yang artinya pemegang waran tersebut memiliki hak untuk membeli saham perusahaan pada harga exercise tersebut pada saat jatuh tempo, tak masalah berapapun harga saham tersebut di bursa (spot). Bila pemegang waran yang tidak tertarik menggunakan haknya maka dapat menjual waran tersebut pada investor lain. Waran juga bermanfaat bagi emiten yang menerbitkannya. Bagi emiten, menerbitkan waran lebih menguntungkan daripada menerbitkan saham bonus. Kalau membagikan saham bonus emiten tidak mendapatkan uang, sedangkan waran dapat dijual yang berarti perusahaan mendapatkan uang.

Waran merupakan bagian dari total ekuitas yang dimiliki perusahaan penerbit karena pada saat waran dikonversikan berarti jumlah lembar saham yang beredar akan meningkat. Meningkatnya jumlah lembar saham akan mengurangi pendapatan per lembar saham bagi pemegang saham bila tidak diikuti dengan peningkatan earnings yang signifikan dengan peningkatan jumlah saham. Namun bila dana yang diperoleh dari penerbitan saham baru digunakan tidak untuk meningkatkan earnings perusahaan, misalnya untuk membayar utang maka akan berdampak pada terdilusinya earnings perusahaan.

Penerbitan waran tidak selalu disukai oleh pemegang saham lama karena penerbitan waran berarti akan bertambahnya jumlah saham yang beredar pada tanggal pelaksanaan (exercise date). Bertambahnya jumlah saham yang beredar berarti mengurangi jumlah pendapatan per lembar saham (earnings per share atau EPS) bagi setiap pemegang saham. Ancaman dilusi EPS inilah yang merupakan alasan mengapa penerbitan saham baru tidak disukai pemodal.

Daya tarik sebuah waran selain hak membeli saham dengan harga saham yang lebih murah dari harga pasar adalah daya tarik akan nilai waktu dari uang, artinya investor yang membeli waran berarti membeli potensi pertumbuhan usaha dari emiten. Jika perusahaan ingin agar warannya sukses diperdagangkan yang berarti pula suksesnya penerbitan saham baru maka tujuan penerbitan saham baru harus ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Jika perusahaan tidak menjaga kinerja dengan baik maka penerbitan waran akan berpotensi pula pada terdilusinya harga saham perusahaan karena potensi dilusi EPS pada perusahaan yang menerbitkan waran akan berpengaruh pula pada harga saham perusahaan yang mana akan berdampak pada kinerja pasar saham. Karenanya waran akan lebih atraktif untuk perusahaan yang mempunyai potensi pertumbuhan usaha yang bagus untuk jangka panjang.

Daftar Pustaka:

Anugerah, Nurul, Abd. Hamid Habbee, dan M. Natsir Kadir (2001), Korelasi Antara Price Earnings Ratio (PER) dan        Return Saham Pada Perusahaan Go Public di Bursa Efek Jakarta, Bandung: Simposium Akuntansi IV, Ikatan Akuntansi Indonesia.

Beaver, W., dan d. Morse, 1978, What Determines Price Earnings Ratio?, Financial Analysts Journal, vol.34, no.4 (July/August), hal. 65-78.

Craig, D., G. Johson, and M. Joy, 1978, Accounting Methods and P/Es, Financial Analysist Journal, vol. 43, no. 2 (March/April), hal. 41-45.

Gaver, J.J., and K.M. Gaver, 1993, Additional Evidence on the Association between the Investment Opportunities Set and Corporate Financing, Dividend, and Compensation Policies, Journal of Accounting and Economics, vol. 16, no. 1-3 (January/April/July), hal. 125-160.

Harto, Puji, 2001, Analisis Kinerja Perusahaan Yang Melakukan Right Issues di Indonesia, Bandung: Simposium Akuntansi IV, Ikatan Akuntansi Indonesia.

Neill, D. John, dan Pfeiffer, M. Glenn, 1999, The Effect of Potentially dilutive Securities on P/Es, Financial Analyst Journal (FIA), vol.55, hal. 58-64.

Sharpe, William F., Gordon J. Alexander, dan Jeffrey V. Bailey (1997), Investasi, Jilid 2, PT. Prenhallindo, Jakarta.
Tandelilin, Eduardus (2001), Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, Edisi Pertama, PT. BPFE, Yogyakarta.

Author: lindananty

Dosen STIE-MCE