Masyarakat kelas 3 dan kartu kredit

Kasus penganiayaan terhadap salah seorang pemegang kartu kredit terkemuka oleh debt collector sempat membuat merinding (ngeri!!), betapa tidak berharganya nyawa manusia di negeri ini. Perkembangan gaya hidup dan teknologi mendorong tingginya keinginan masyarakat modern akan kartu kredit untuk menunjang semua aktivitas dalam kehidupannya. Mulai dari untuk keperluan bisnis sampai keperluan pribadi.

Perkenalan masyarakat dunia dengan kartu kredit dimulai setelah Perang Dunia II. Dimasa itu telah ada alat pembayaran selain uang tunai yaitu cek (cheque). Kartu kredit menjadi produk abad ke-20 yang menjadi produk prestige bagi pemegangnya. Pada tahun 1951 kartu kredit pertama diluncurkan oleh Diners Club dan American Express bagi 200 pelanggan untuk digunakan di 27 restoran di New York. Dari benua Amerika, kartu kredit berkembang pula sampai ke Inggris dan benua Eropa lain, yaitu yang dikeluarkan oleh Euro Cheque dan oleh Chargex. Kartu kredit mulai merambah Indonesia sejak tahun 1964, Hotel Indonesia (HI) sebagai pelopor menerima pembayaran dengan kartu kredit. Kartu kredit yang pertama kali muncul di Indonesia adalah kartu kredit yang diterbitkan oleh American Exprees dan Dinners Club. Sedangkan bank nasional pertama yang menerbitkan kartu kredit adalah Bank BCA, namun kartu ini hanya dapat digunakan oleh nasabah BCA saja (bersifat internal).

Tawaran penggunaan kartu kredit menyentuh masyarakat dengan penghasilan Rp 2.000.000,- per bulan. Sungguh ironis, seseorang dengan penghasilan Rp 2.000.000,- per bulan memiliki kartu kredit? Bagaimana mungkin ia bisa mengalokasikan penghasilan sebesar itu untuk memenuhi kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan melunasi kartu kreditnya? Dengan bunga rata-rata sebesar 3% per bulan, jumlah utang akan menjadi dua kali lipat lebih dalam 21 bulan. Seseorang dengan penghasilan Rp 2.000.000,- per bulan bukanlah segmen yang tepat untuk penawaran kartu kredit dengan bunga yang tinggi. , hingga saat ini ada 19 bank yang menerbitkan kartu kredit.

Di zaman dengan perekonomian yang serba sulit dan mahal seperti sekarang ini, mereka dengan penghasilan sebesar itu digolongkan sebagai masyarakat kelas bawah bukan lagi kelas menengah, karena hanya dapat memenuhi kebutuhan yang paling mendasar sebagai manusia yaitu kebutuhan pangan, sandang dan pendidikan. Masyarakat kelas ini (sebut golongan kelas 3) adalah masyarakat dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi (lulusan SMA/sederajat dan sarjana), secara naluri manusiawinya membutuhkan standar hidup yang lebih baik dibandingkan masyarakat golongan miskin yang sekedar bertahan hidup saja. Namun kebutuhan akan pangan dan pendidikan yang memadai tidak diimbangi dengan penghasilan yang cukup untuk memenuhinya. Beban yang paling berat yaitu pemenuhan kebutuhan biaya pendidikan yang sangat tinggi. Rendahnya penghasilan yang mereka peroleh (karena kebijakan yang tidak bijak) ditambah lagi dengan sulitnya akses untuk memperoleh dana (kas bon di kantor, kredit lunak) menuntun mereka memilih sumber dana yang ditawarkan perbankan berupa kartu kredit (tanpa agunan dan tanpa syarat yang rumit).

Perbankan harus menyadari psikologi masyarakat golongan kelas 3 ini, mereka memiliki risiko keuangan yang sangat tinggi. Lemahnya akses untuk mendapatkan utang untuk memenuhi kebutuhannya, maka kartu kredit dianggap sebagai solusi akan kesulitan mereka . Masyarakat kelompok ini juga rentan terhadap pengaruh gaya hidup materialis sehingga mereka cenderung menggunakan dana dari kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan konsumtif. Sayangnya pihak perbankan tidak menyadari (atau pura-pura) hal tersebut, bank hanya mengejar target pemasarannya tanpa memberikan edukasi kepada masyarakat akan manfaat dan fungsi dari kartu kredit.

Masyarakat kita tidak memahami bahwa kartu kredit pada prinsipnya berfungsi sebagai alat pembayaran, bukan alat untuk berutang seperti yang terjadi saat ini. Edukasi  menjadi kewajiban bagi perbankan untuk mengurangi risiko bagi pemegang kartu kredit maupun pihak bank. Pemahaman yang benar terhadap kartu kredit adalah memandangnya sebagai alat bayar dan bukan alat utang.  Pemahaman yang benar dan penggunaan yang benar tentang kartu kredit akan menghindari terjadinya kekerasan bahkan kematian yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Author: lindananty

Dosen STIE-MCE

5 thoughts on “Masyarakat kelas 3 dan kartu kredit”

  1. I never want to be a credit card member.. Tulisan ibu sudah sangat bagus… inspiratif.. saran saya, supaya blog tambah meriah, bisa ditambahkan selipan picture yang berkaitan.. biar tambah cantik, kayak yang bikin.. oke?? maju terus bu linda..

  2. ya… sekarang, bank-bank sebagai credit-card issuer, mulai menyentuh para mahasiswa dan SMA, walaupun mereka punya limit yang tidak seberapa banyak. Namun, saya pikir itu akan berdampak lebih banyak tidak positif-nya.

Comments are closed.