Main menu:

Site search

Categories

March 2011
M T W T F S S
« Nov   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tags

Blogroll

ILMU YANG BAROKAH (Sendang Biru dan Abah Atmo)

Sendang Biru, terletak di pantai selatan Jawa Timur, dua jam perjalanan mobil dari kota Malang.  Pantai indah dengan pulau Sempu yang terkenal (bukan Nyai Roro Kidul).  “Sudah tahu! Buat apa bercerita tentang pantai Sendang Biru, aku sudah sering kesana” batin anda.  Sabar!!! Saya tidak akan bercerita tentang pantai Sendang Biru, itu sih bagian anak saya yang doyan adventure.  Lho! Apa kaitan Sendang Biru dengan Abah Atmo (siapa pula ini?).  Sabar!! Jangan kemana-mana dulu.

Sendang Biru, sebuah desa nelayan dengan Abah Atmo sebagai salah seorang penduduknya.    Abah Atmo, panggilan untuk seorang nelayan tua tanpa embel-embel gelar akademis di depan dan di belakang nama sederhana ini.  Lalu, apa yang istimewa dari nelayan tua itu?  Decak kagum dan ancungan jempol tidak serta merta saya acungkan kepada nelayan tua ini.  Ikuti kisah saya ini!!!

Sendang Biru, 6 Maret 2011.  Saya dan keluarga berekreasi yang kesekian kali (lupa ngitungnya) ke pantai Sendang Biru.  “Kok sering banget!” “Yah, laut adalah tempat favorit saya karena saya anak laut (asli Bima, pulau Sumbawa).  “Dimana itu?” (silakan cek sendiri di peta Indonesia).  Rekreasi yang ini agak berbeda karena kami mengunjungi empat pantai yaitu pantai Bajul Mati, Gua Cina, dan Tamban.  Sebelum ke pantai Tamban, ayah anak-anak saya mengajak bertandan ke rumah kenalannya, 200-300 meter dari TPI (tempat pelelangan ikan) Sendang Biru.  Saat menuju kesana, kami melewati masjid yang cukup megah, “Itu Abah Atmo” seru suami saya sambil menunjuk seorang laki-laki tua sederhana yang sedang menutupi galian got dengan belahan-belahan bambu di depan masjid.

Sambutan yang hangat dan ramah ciri khas orang desa menggiring kami menuju ke rumah Abah Atmo.  Umi Atmo, istri Abah Atmo merasa sangat jengah karena tidak bisa menyuguhkan penganan istimewa, “Maaf…maaf, kalau mau berkunjung telpon dulu, agar Umi bisa siap-siap”.  Abah Atmo membuka obrolan dengan topik-topik ringan, merembet topik Gayus, Century, sampai Timur Tengah.  “Wah…luar biasa perkembangan media informasi saat ini, seorang nelayan tua obrolannya berat juga” kata hati saya, sambil menahan ngantuk karena bosan dengan topik-topik yang sering saya dengar di TV, eh…disini sama juga topiknya.  Saya tersentak dari kantuk yang sangat ketika Abah Atmo bertanya “Ibu dosen juga?”.  “Iya bah” jawab saya.  Topik ternyata sudah beralih ke pendidikan.

Abah Atmo:  Betapa banyak uang dan waktu yang diinvestasikan untuk menggapai ilmu, sejak SD sampai jenjang pendidikan tinggi.  Dunia pendidikan kita makin hari makin hebat dengan berbagai kemajuan yang selalu inovatif ditambah dengan sarana dan prasarana yang memadai, namun justru makin timbul pula fenomena-fenomena negatif yang kian memperparah keresahan masyarakat.  Kita punya jutaan sarjana, master, ribuan doktor dan professor dari berbagai disiplin ilmu tapi mengapa negara ini sangat terpuruk???  Banyak sarjana kita yang tidak sujana, satu contoh Gayus, sarjana menjadi koruptor, salahkah ilmu yang dipelajari di kampusnya?  Itukan salah sistem! Eh.. tunggu dulu, yang buat sistem itukan sarjana juga!   Senior Gayus yang ngajari Gayus korupsi itukan sarjana juga.  Pejabat-pejabat di negara kita yang hobi korupsi itu banyak sarjananya.  Apakah mereka tidak memiliki ilmu, bahwa korupsi itu dosa dan menyengsarakan rakyat? Mereka tahu kok.  

Abah Atmo:  Ilmu itu seharusnya menjadikan manusia mulia baik secara materi maupun non materi, baik di dunia maupun di akhirat, ilmu yang hakiki adalah ilmu yang dapat merubah perilaku dari perilaku jahiliyah menjadi perilaku mulia.  Orang dikatakan berilmu bukannya orang yang diukur dari berapa banyak buku yang sudah ia baca dan ia tulis, setinggi apa gelar kesarjanaannya (paling tinggi khan prof!), atau kemana saja ia belajar, Amrik, Jerman, Mesir, atau ke negeri antabrantah sekalipun.  Tapi  diukur dari bagaimana ilmu itu merubah perilaku si pemilik ilmu dari perilaku jahiliyah menjadi perilaku yang membawa kemuliaan bagi manusia, hewan, tumbuhan, dan alam semesta ini, walaupun ilmu itu hanya satu huruf “Alif“.  Contohnya Buya Hamka yang hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR) menjadi ahli tafsir.

Abah Atmo:  Mengapa ilmu kita jauh dari barokah?  Karena orang dikatakan pandai apabila ia pandai menangkap, menghapal, dan menyimpan semua ilmu dalam memori otaknya, yang kemudian dikeluarkan saat ujian, lalu dinilai oleh guru/dosen, lalu diberi stempel pintar/bodoh.  Stempel itulah yang dikejar oleh kita, akibatnya kita tidak pandai mengamalkannya ilmu itu dalam kehidupan sehari-hari apalagi mampu menginternalisasikan semua nilai pengetahuan itu ke dalam jiwa, karakter, dan tingkah lakunya dalam interaksi sosial.   Naudzubillah min dzalik.

Abah Atmo:  Pendidikan kita harus belajar dari perguruan Al-Azhar di Mesir.  Al-Azhar merupakan perguruan tinggi terbesar di dunia.  Didirikan pada 365 H / 976 M. mulai dibuka kegiatan belajar-mengajar, 12 tahun kemudian (378H / 988 M) Al-Azhar telah menjadi sebuah universitas besar dan terkenal.  Selama berabad-abad Al-Azhar menjadi pusat pengembangan ilmu dan melahirkan ulama-ulama handal karena para pendidik adalah pendidik yang memiliki ilmu yang barokah (apa yang diucapkan itu yang diamalkan), karena mereka tahu “bahwa orang yang mempunyai ilmu tanpa diamalkan seperti keledai yang membawa kitab di punggungnya, tanpa mendapat manfaat sama sekali dari kitab tersebut” (Al-Qur’an). Tapi apa yang terjadi pada masa sekarang, kecermelangan Al-Azhar mulai memudar perlahan-lahan karena terjadi pencemaran pada pengamalan ilmu yang dimiliki.  Belajarlah dari pengalaman yang ada bila tidak ingin terpuruk.

Abah Atmo:  Imam Al-Ghozali juga menyinggung dalam kitabnya, “Ihyya Ulumuddin”, bahwa orang yang banyak maksiat dan dosa tidak akan mendapatkan hakikat ilmu, kecuali hanya huruf dan lafadznya saja. Hakikat ilmu adalah cahaya Tuhan, dan cahaya Tuhan tidak akan ditunjukkan kepada orang yang bermaksiat (hatinya kotor).

Sayang wejangan Abah Atmo harus dipotong karena hari semakin sore, dan kami harus pulang ke Malang.  Setelah menjauh dari rumah Abah Atmo, saya bertanya pada suami “Siapa Abah Atmo itu?”  Abah Atmo adalah seorang nelayan biasa tanpa gelar sarjana, tokoh masyarakat di Sendang Biru karena sumbangan pemikiran dan tenaga yang luar biasa untuk mensejahterakan masyarakat sekitarnya, berjihad tanpa lelah melawan kemaksiatan yang seakan tiada pupus.  Inilah contoh nyata di depan mata saya, seorang nelayan tua sederhana, laut adalah kampusnya, kitab suci adalah buku bacaannya, masyarakat adalah tim pengujinya, Allah SWT yang mengukuhkan gelar Profesornya.  Subbahanallah.  Apa yang mau kita sombongkan, sarjana …, master…, doktor…., atau prof.???  Sementara ilmu yang hakiki tidak kita miliki.  Bandingkan ilmu kita dengan ilmu Allah SWT, ilmu kita hanya setetes air di lautan.

Comments

Comment from Eddy Suprihadi
Time March 9, 2011 at 7:11 am

waduh, itu prof Atmo ya, sayang tidak ketemu waktu ke sana kemarin… nice story bu, menggugah hati…

Comment from rina
Time March 9, 2011 at 1:52 pm

subhanallah… ternyata kita tidak mempunyai apa2 untuk disombongkan ya bu… terima kasih, tulisan ibu bisa menjadi bahan masukan buat sy untuk mengevaluasi diri..

Comment from yuyuk
Time March 9, 2011 at 8:25 pm

Ibu sangat menarik sekali ceritanya bahw akita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan abah atmo , yang walaupun tidak sekolah tinggi tp beliau mampu menerapkan ilmu nya dalam perilkunya, semoga membawa berkah bagi kita yang sudah banyak makan ilmu…

Write a comment