LEBIH BESAR TIANG DARIPADA PASAK (cara cerdas mengelola keuangan keluarga)

Oleh Lindananty

Manajemen keuangan keluarga yang baik senantiasa menjaga keseimbangan antara besarnya pendapatan keluarga dengan besarnya pengeluaran, jangan sampai ‘besar pasak daripada tiang’.  Pepatah ini telah dikenal sejak jaman dahulu kala, menggambarkan betapa masalah keuangan keluarga adalah masalah klasik yang pasti dihadapi setiap manusia.  Mengelola keuangan pada prinsipnya adalah mengelola berapa jumlah uang yang diterima dan berapa uang yang dikeluarkan.  Uang bukanlah segalanya, tapi dapat membuat kita kelimpungan jika tidak mengelolanya dengan baik.

Menurut pengalaman dan pengamatan persoalan keuangan sering dituding sebagai biang pemicu perselisihan dalam keluarga. Masalah kekurangan uang banyak terjadi dikalangan ekonomi menengah kebawah, sedangkan masalah ketidakterbukaan sering muncul di keluarga kelompok ekonomi atas. Namun kelebihan atau kekurangan uang itu relatif.  Benarkah masalahnya terletak dari besar-kecilnya pendapatan keluarga?  Seringkali masalahnya bukan terletak pada penghasilan yang kurang, tapi kebiasaan yang salah dalam mengelola uang.  Kenyataannya banyak orang tidak begitu pusing dengan menajemen keuangan dan percaya bahwa pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi akan menyelesaikan semua masalah keuangan mereka. Yang penting rasa syukur, keterbukaan, dan kebersamaan keluarga akan meringankan masalah yang dihadapi. Tidak akan ada akhirnyan kalau bicara masalah kurang, karena bila pendapatan bertambah, uang yang dibelanjakan juga akan tambah, akhirnya akan kurang terus.

Sebuah keluarga baru yang terdiri dari suami dan istri sering terjadi kesulitan mengatur keuangan rumah tangga, karena belum adanya tanggungjawab pada anak-anaknya, biasanya mereka berpikir untuk “senang-senang dulu, mumpung belum punya momongan”, akibatnya pengelolaan keuangan belum terencana dengan baik.  Berbeda dengan ketika anak-anak mulai lahir, “senang-senang” harus mulai dikurangi.  Peran sebagai ayah dan ibu menuntut kecerdasan dalam mengelola rumah tangga terutama keuangan.  Ekonomi keluarga mutlak tanggung jawab suami, jika istri bekerja, penghasilannya ditujukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, dalam agama bernilai sedekah.

Berikut ini penulis mencoba berbagi pengalaman pribadi dalam mengelola keuangan keluarga, semoga dapat diambil manfaatnya.

Kunci untuk mengelola keuangan secara sederhana:

1. Tetapkan tujuan keuangan

Susun target keuangan yang ingin anda raih secara berkala bersama pasangan, dengan cara menetapkan tujuan spesifik, realistis, terukur dan dalam kurun waktu tertentu.  Tujuan ini membantu Anda lebih fokus merancang keuangan.

Sebagai contoh:

  • Memiliki rumah sendiri, maka anda akan menabung untuk uang muka rumah daripada untuk uang muka mobil.
  • Anak-anak berpendidikan tinggi, maka anda akan menabung untuk mempunyai dana pendidikan prasekolah hingga pendidikan tinggi.
  • Tujuan keamanan, maka anda  tidak akan membeli televisi yang besar untuk menyelamatkan biaya hidup selama beberapa bulan.

2.   Buat anggaran keuangan

Buat anggaran penerimaan dan pengeluaran pokok.   Rencana keuangan yang realistis membantu anda bersikap obyektif soal pengeluaran yang berlebihan. Tak perlu terlalu ideal, yang penting anggarkan jumlah yang realistis dan anda pun harus patuh dengan anggaran

Penerimaan uang yang tetap (fixed cash inflow) yang dapat dianggarkan untuk pengeluaran.  Anggaran pengeluaran disusun dengan membuat skala prioritas,  sisihkan dulu untuk membayar cicilan hutang rumah, kendaraan (sepeda motor saja dulu).

Hutang sebagai pos pertama karena berkaitan dengan urusan dunia sehingga jika telat dibayar, maka orang yang bersangkutan harus membayar denda, bunga, sampai diteror debt collector.   Hati-hati dengan hutang, jangan berhutang untuk sesuatu yang tidak penting.  Godaan untuk hidup konsumtif semakin besar.  Tanamkan kebiasaan keuangan yang sehat dengan tidak memiliki hutang konsumtif.

Pos berikutnya belanja kebutuhan pokok dan kebutuhan sekunder.  Kebutuhan pokok berupa belanja beras, lauk pauk, biaya pendidikan, dll.  Pos ini bersifat pasti dengan jumlah yang tidak tinggi perubahannya (kecuali BBM naik lagi).

Agak berbeda dengan kebutuhan sekunder, kebutuhan sekunder  berupa pakaian, sepatu, dll.  Hati-hati dengan pos belanja kebutuhan sekunder karena pos ini yang paling fleksibel.  Besar kecilnya tergantung pada kebutuhan atau keinginan.  Bila keinginan yang menjadi dasarnya maka pikirkan “beribukali” untuk segera dikeluarkan dari daftar.

Pos terakhir yang sering dikeluhkan yaitu menabung.  Menabung berkaitan dengan masa tua, namun sering harus diabaikan karena pendapatan yang “pas-pas an”.  Menabung dapat dilakukan dengan cara menyisihkan anggaran dari kebutuhan sekunder yang tidak selalu ada setiap bulan.  Namun dari pengalaman beberapa orang, untuk menabung, disisihkan segera setelah menerima gaji.  Sebaiknya, miliki rekening terpisah untuk tabungan dan kebutuhan sehari-hari.

3.  Bedakan “butuh” dan “ingin”.

Setelah anggaran pengeluaran disusun, jangan terburu-buru untuk segera meng-eksekusinya karena tak jarang kita membelanjakan uang untuk hal yang tak terlalu penting atau hanya didorong keinginan, bukan kebutuhan.  Setelah menyusun kolom pos belanja, pertimbangkan lagi dengan matang mana yang “kebutuhan” dan “keinginan”.  “Keinginan” segera coret, dan pindahkan dananya ke pos tabungan.

Hati-hati dengan “keinginan”, saat ini sangat berkembang gaya hidup berlebihan, pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup.  Gaya hidup materialis ini akan menjadi bencana bagi orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak penganutnya, berupa bencana keuangan dan bencana moral.

4. Tips belanja hemat

  1. Buat daftar belanja saat anda akan berbelanja
  2. Bawalah uang secukupnya (sebaiknya uang tunai bukan kartu kredit), sejumlah catatan didaftar belanja.  Ini untuk menghindari membeli barang tidak sesuai dengan daftar belanja.
  3. Jangan luangkan waktu anda untuk cuci mata saat belanja karena makin banyak waktu untuk belanja, maka semakin banyak godaan untuk membeli barang yang tidak anda butuhkan.  Hilangkan kebiasaan jalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan untuk sekedar cuci mata, rekreasi, atau refreshing.
  4. Jangan malu untuk menawar serendah mungkin. Dengan begitu anda bisa menghemat sejumlah uang walau tidak terlalu besar jumlahnya, dan uang itu bisa dialokasikan untuk keperluan yang lain.
  5. Sebaiknya belanja sendiri.  Kalau perlu ditemani anggota keluarga sebaiknya ajaklah anggota keluarga yang dapat mengingatkan anda untuk tidak boros.
  6. Untuk kebutuhan yang dapat ditunda (sekunder) sebaiknya membeli saat ada tawaran potongan harga yang efektif (effective discount), bukan potongan harga terselubung.

    Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, sehingga pepatah lebih besar pasak daripada tiang menjadi lebih besar tiang daripada pasak.  Amin.

    PAHLAWAN TANPA TANDA JASA DARI AMPEL GADING KABUPATEN MALANG

    Libur tahun baru berarti istirahat, tidur, atau bersih-bersih rumah.  Itu merupakan kegiatan rutin saya setiap tahun sejak tahun kapan gitu sampai 2011 yang lalu.  Kenapa tidak jalan-jalan, karena pastilah dihadang kemacetan arus lalu lintas dan ramainya tempat wisata, sehingga bukan rasa bahagia tapi malah stress.  Namun agak berbeda di awal tahun 2012 ini, tanggal 1 Januari 2012 kemarin saya isi dengan keluar rumah mengantar komputer bekas ke seseorang yang sangat spesial.  Apa hubungan tahun baru dan komputer bekas? Lalu siapa orang spesial itu yang mau-maunya menerima komputer bekas?

    Cerita ini sebenarnya dimulai pada akhir tahun 2010 yang lalu, berawal dari niat gadisku untuk mengikuti Eagle Award, sebuah program Metro TV untuk membuat proposal film dokumenter dengan tema “CERDAS INDONESIAKU”.  Mulailah pencarian obyek sebagai bahan penyusunan proposal.  Pencarian berakhir di Ampel Gading kabupaten Malang dengan perkenalan gadisku dengan sosok bersahaja bernama Harsono.  Seorang pemuda yang mengabdikan hidupnya dengan mendidirikan sekolah gratis bagi anak-anak tidak mampu.

    Harsono, si anak bungsu lahir dari keluarga yang berkecukupan materi, terlihat dari rumah yang ditempati yang merupakan peninggalan dari ayahandanya.  Ia juga memiliki kakak-kakak yang berkecukupan dari segi ekonomi.  Si bungsu Harsono sejak kecil hingga remaja agak “aneh”, ia lebih senang bermain dengan anak dan remaja dari kalangan tidak mampu.  Memasuki usia dewasa, rasa empati dan kasih sayang yang begitu besar membuatnya memutuskan meninggalkan perburuan materi duniawi yang hampir menyita seluruh hidupnya.  Ia memilih menjadi guru gratis bagi anak-anak tidak mampu.

    Harsono mendirikan sekolah gratis yang tempatnya cukup jauh dari rumahnya yang harus ia tempuh dengan sepeda motor sederhananya.  Muridnya tidak banyak, tidak genap sebanyak jumlah jari kaki dan jari tangan kita, hanya 7-15 orang.  Dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada, Harsono berjuang seorang diri mencerdaskan anak bangsa.  Hasilnya, Harsono pernah mencetak lulusan SD yang meraih danem yang sangat memuaskan, sampai ia dicurigai membantu muridnya menyelesaikan soal-soal ujian tersebut.  Untuk kasu inipun ia harus berjuang meyakinkan pihak-pihak terkait, Allahuakbar, murid cerdas ini mendapat beasiswa ke jenjang yang lebih tinggi.  Banyak lagi kisah-kisah menarik yang diutarakan Harsono, dengan gaya penuh bahagia dan semangat.

    Harsono tidak mengenal kata putus asa, berbagai upaya ia tempuh demi anak-anak didiknya.  Namun ketika upaya itu membuahkan hasil yaitu dana bantuan dari beberapa pihak, yang terjadi sangat mencengangkan.  Benar kata pepatah “dimana ada gula disitu pasti semut berdatangan”.  Uang selalu menjadi motivasi manusia, wajarlah asal diperoleh dengan jalan yang halal.  Tapi ketika uang menjadi tujuan utama dan ditunggangi keserakahan, maka fitrah manusia menjadi rendah, rasa empati tersisihkan.  Ratusan juta uang di depan mata, Harsono mulai didatangi semut-semut itu.  Ketika sekolah gratis menjadi nyaman maka Harsono dengan berat hati meninggalkannya karena tak sanggup melihat tingkah semut-semut tersebut.  Harsono memilih menjadi petani dengan harapan hasil taninya membawa berkah bagi umat manusia, namun ia masih berkeinginan menjadi guru bagi siapa saja yang membutuhkan.

    INVESTASI DI KEBUN EMAS

    Oleh:  Lindananty

    Emas sebagai logam mulia yang bernilai tinggi telah lama dikenal dalam peradaban dunia.  Sebagai logam mulia emas mempunyai sifat kimia yang tidak mudah bereaksi dengan unsur kimia lain.  Kelebihan emas inilah yang membuat emas tidak dapat rusak, berkarat, berjamur, maupun berubah warna.

    Selama usia peradaban manusia, emas telah teruji ketangguhannya, tidak ada logam lain yang dapat menggantikannya, baik dari segi nilai, keindahannya, dan terutama prestigenya.  Emas mempunyai kegunaan pada berbagai industri, bidang kedokteran, elektronik, dan sebagai mata uang.  Sebagai nilai tukar tidak diragukan lagi ketahanannnya terhadap inflasi maupun deflasi.  1400 tahun yang lalu, pada jaman Rasulullah Muhammad SAW, emas telah digunakan sebagai  mata uang.  Selama kurun waktu 400 tahun harga emas terhadap komoditi konstan dan stabil.

    Seiring perjalanan waktu dengan terbatasnya jumlah persediaan emas dunia, mata uang emas mulai ditinggalkan.  Pada tahun 1971 presiden AS Richard Nixon melarang dolar ditukar dengan emas, yang juga berarti menghentikan sistem Bretton Woods yang berlaku sejak tahun 1944.  Sejak itu penggunaan emas sebagai mata uang menghilang secara perlahan.  Demikian juga dibidang industri, semakin mahalnya harga emas menimbulkan keengganan industri menggunakan emas sebagai salah satu bahan baku, kecuali dalam industri perhiasan.

    Penggunaan nilai tukar mengambang menuai banyak masalah.  Beberapa pakar ekonomi mengajukan peninjauan kembali sistem moneter yang ada selama ini.  Mulailah masyarakat dunia membuka kembali lembaran sejarah masa lalu.  Penggunaan mata uang emas mulai dipertimbangkan sebagai alternatif pemecahan masalah, walaupun sampai sekarang masih dalam wacana saja.

    Seiring meningkatnya pamor emas, masyarakat mulai mengalihkan pilihan investasinya pada emas, terutama  emas batangan.  Yang menarik, dunia perbankan menangkap situasi ini sebagai peluang meraih keuntungan.  Belakangan ini marak bank-bank menawarkan gadai emas, terutama perbankan syariah, paling getot menawarkan gadai emas.

    Tentu ini menarik untuk kita kaji, mengapa perbankan menawarkan gadai emas?  Pastilah keuntungan yang sangat menggiurkan yang menjadi tujuan mereka.  Apakah keuntungan yang akan diraih bank juga akan memberika keuntungan pula bagi masyarakat yang membeli jasa ini?  Untuk itu perlu dilakukan kajian lebih lanjut baik dari segi manfaat jangka pendek dan manfaat jangka panjang.  Perlu pula kajian dari segi syariah Islam mengingat perbankan yang paling banyak menawarkan produk ini adalah bank-bank syariah, walaupun mereka berkilah tidak mungkin bank-bank syariah berani menawarkan produk gadai syariah tanpa disetujui oleh dewan syariah Indonesia.

    Walaupun telah mendapat restu dari dewan syariah, dalam prakteknya fungsi gadai tidak murni gadai lagi, terutama gadai emas, terbukti dengan munculnya istilah berkebun emas.  Fungsi gadai berubah fungsi untuk ajang spekulasi mencari keuntungan semata.  Untuk lebih jelasnya berikut ini uraian tentang berkebun emas beserta analisis perhitungannya.

    Analisis Berkebun Emas.

    Anda mempunyai emas batangan  seberat 100 gram yang saat ini bernilai Rp 42.024.000 (bila belum punya anda bisa membelinya dengan menggunakan dana sendiri).  Emas tersebut anda gadaikan pada sebuah bank dengan ketentuan sebagai berikut:

    Ilustrasi Gadai Emas

    100 gram
    Nilai Gadai 90% 37.710.000
    Nilai Taksir (Rp/gram)* 419.000 41.900.000
    Biaya Administrasi (Rp) Gratis 0
    Biaya Gadai (Ijarah)(Rp/gram/bulan) 3.750 2.250.000
    Jangka Waktu 6 bulan

    Cara berkebun emas:

    • Gadaikan 100 gram emas yang anda miliki (kita sebut emas ke 1)
    • Anda memperoleh dana Rp 37.710.000
    • Dana Rp 37.710.000 gunakan untuk membeli 100 gram emas lagi (emas ke 2).  Dengan asumsi harga emas tetap sebesar Rp 42.024.000, maka dana sendiri yang harus ditambahkan adalah sebesar Rp 4.314.000 (=Rp 42.024.000–37.710.000).
    • Emas ke 2 ini anda gadaikan lagi
    • Anda memperoleh uang sebesar Rp 37.710.000 lagi.
    • Dana Rp 37.710.000 gunakan untuk membeli 100 gram emas lagi (emas ke 3).  Dengan asumsi harga emas tetap sebesar Rp 42.024.000, maka dana sendiri yang harus ditambahkan adalah sebesar Rp 4.314.000 (=Rp 42.024.000–37.710.000).
    • Emas ke 3 ini anda gadaikan lagi
    • Anda memperoleh uang sebesar Rp 37.710.000 lagi.
    • Dana Rp 37.710.000 gunakan untuk membeli 100 gram emas lagi (emas ke 4).  Dengan asumsi harga emas tetap sebesar Rp 42.024.000, maka dana sendiri yang harus ditambahkan adalah sebesar Rp 4.314.000 (=Rp 42.024.000–37.710.000).
    • Emas ke 4 ini anda simpan (tidak digadaikan)

    ILUSTRASI PEROLEHAN DANA DAN PENDANAAN SENDIRI

    GADAI EMAS

    Langkah Perolehan Dana dari Gadai Pendanaan Sendiri
    Dana Sendiri untuk Beli Emas Biaya Penitipan

    6 bulan

    Beli Emas 100 gr 42,024,000
    1 Emas 100 gr ke 1, gadaikan 37,710,000 4,314,000 2,250,000
    2 Beli Emas 100 gr ke 2, gadaikan 37,710,000 4,314,000 2,250,000
    3 Beli Emas 100 gr ke 3, gadaikan 37,710,000 4,314,000 2,250,000
    4 Beli Emas 100 gr ke 4, disimpan
    54,966,000 6,750,000

    Selanjutnya, setelah masa 6 bulan maka lakukan langkah-langkah berikut ini: (dengan asumsi harga emas saat itu sebesar Rp 470.000 per gram)

    • Emas ke 4 yang anda simpan (tidak digadaikan), anda jual seharga Rp 47.000.000
    • Dana dari penjualan emas ke 4 ini anda gunakan untuk menebus emas ke 1 sebesar Rp 37.710.000
    • Emas ke 1 anda jual
    • Dana dari penjualan emas ke 1, gunakan untuk menebus emas ke 2
    • Emas ke 2 anda jual
    • Dana dari penjualan emas ke 2, gunakan untuk menebus emas ke 3
    • Emas ke 3 anda simpan

    Ilustrasi perhitungan tebus emas disajikan pada tabel berikut ini:

    ILUSTRASI TEBUS EMAS

    Jual Emas Rp Tebus Emas Rp
    4 47,000,000 1 37,710,000
    1 47,000,000 2 37,710,000
    2 47,000,000 3 37,710,000
    Sisa Emas no 3 senilai 47,000,000
    188,000,000 113,130,000

    Ilustrasi perhitungan keuntungan gadai emas disajikan pada tabel berikut ini:

    ILUSTRASI PERHITUNGAN KEUNTUNGAN GADAI EMAS

    LABA/RUGI
    Posisi kekayaan akhir 188,000,000 – 113,130,000 74,870,000
    Total Modal yang Dikeluarkan
    Dana sendiri untuk beli emas 54,966,000
    Biaya penitipan 6,750,000
    61,715,000
    Laba/Rugi 13,154,000
    Profit Margin 0.18

    Besarnya profit margin yang diperoleh adalah 18%.  Bandingkan dengan investasi emas biasa tanpa memanfaatkan gadai emas berikut ini:

    ILUSTRASI PERHITUNGAN KEUNTUNGAN

    INVESTASI EMAS TANPA GADAI

    Total Modal Sendiri 61,715,000
    Beli emas (Rp 420.240/gr) =61,715,000/420.240

    =146.85 gram

    Jual Emas (Rp 470.000/gr) =146.85 gram x 470.000 69,022,578
    Laba/Rugi 7,307,578
    Profit Margin 0.1184

    Profit margin yang diperoleh tanpa berkebun emas adalah sebesar 11.84%.  Profit margin berkebun emas lebih besar 6.16% dibandingkan tanpa berkebun emas.

    Benarkah berkebun emas selalu lebih besar keuntungannya dibandingkan tidak berkebun emas.  Bagaimana bila harga emas tidak sebesar Rp 470.000 per gram saat ditebus?  Mudah menghitungnya, anda tinggal merubah nilai harga emas pada saat ditebus pada tabel tersebut di atas, misalnya harga emas Rp 430.000 per gram maka besarnya profit margin adalah:

    ILUSTRASI TEBUS EMAS

    Jual Emas Rp Tebus Emas Rp
    4 43,000,000 1 37,710,000
    1 43,000,000 2 37,710,000
    2 43,000,000 3 37,710,000
    Sisa Emas no 3 senilai 43,000,000
    172,000,000 113,130,000

    Ilustrasi perhitungan keuntungan gadai emas disajikan pada tabel berikut ini:

    ILUSTRASI PERHITUNGAN KEUNTUNGAN

    GADAI EMAS

    LABA/RUGI
    Posisi kekayaan akhir 113,130,000 58,870,000
    Total Modal yang Dikeluarkan
    Dana sendiri untuk beli emas 54,966,000
    Biaya penitipan 6,750,000
    61,715,000
    Laba/Rugi -2,845,000
    Profit Margin -0.05

    Ilustrasi perhitungan keuntungan tanpa gadai emas disajikan pada tabel berikut ini:

    ILUSTRASI PERHITUNGAN KEUNTUNGAN

    INVESTASI EMAS TANPA GADAI

    Total Modal Sendiri 61,715,000
    Beli emas (Rp 420.240/gr) =61,715,000/420.240

    =146.85 gram

    Jual Emas (Rp 470.000/gr) 146.85 gram x 430.000 (63,145,500)
    Laba/Rugi 1,430,500
    Profit Margin 0.023

    Besarnya profit margin yang diperoleh dari berkebun emas adalah -5%.  Bandingkan dengan investasi emas biasa tanpa memanfaatkan gadai emas, profit margin yang diperoleh adalah sebesar 2.3%.  Profit margin berkebun emas lebih kecil bahkan rugi dibandingkan tanpa berkebun emas.

    Berkebun emas akan lebih menguntungkan bila harga emas naik sangat signifikan pada saat ditebus namun akan merugikan bila kenaikan harga emas tidak signifikan, apalagi kalau harga emas turun lebih kecil dari harga emas saat digadaikan.  Kerugian terjadi bukan saja sebesar selisih harga beli emas dan harga jual emas, tapi ditambah beban biaya penitipan gadai dan biaya adminstrasi yang mana bila dihitung bisa lebih besar dari keuntungan yang diharapkan.

    Selain itu konsep berkebun emas menyalahi konsep investasi, investasi dilakukan dengan cara gadai berarti dana untuk pembelian emas berikutnya berasal dari utang.  Sumber dana untuk suatu investasi sebaiknya berasal dari dana yang tidak terpakai (dana nganggur) sehingga bila terjadi kerugian tidak mengganggu keuangan secara mendasar.  Beda bila investasi pada sektor riil, memungkinkan diperoleh dari utang karena dana tersebut akan digunakan secara produktif, pengembalian pinjaman akan diperoleh dari hasil produktifitas.  Kesalahan lainnya adalah, investasi emas merupakan investasi jangka panjang, bagaimana mungkin investasi jangka panjang didanai dari sumber dana jangka pendek seperti gadai.

    Setiap investasi pasti berisiko, namun khusus untuk investasi dalam bentuk berkebun emas perlu lagi dikaji secara cerdas dampak secara ekonomi makro dan psikologis masyarakat.  Embel-embel syariah akan menjebak masyarakat dalam kesalahan yang cukup fatal.  Terutama benarkah cara berkebun emas dengan menunggangi sistem gadai? Perlu digali dan dianalisis secara mendalam hadis-hadis yang meriwayatkan tentang gadai (rahn), bagaimana mekanisme gadai yang diterapkan Rasullulah Muhammad, SAW agar kita umat Islam tidak salah langkah.

    Penulis bukanlah ahli dalam bidang agama Islam, sehingga tidak berani menulis tentang haram halalnya investasi model ini, namun hati nurani yang paling dalam tergelitik untuk mempelajari  akan kebenaran model investasi ini dari syariah Islam.

    PULANG DENGAN KEMENANGAN (Selamat Datang Tim PKM Pahlawan STIE-MCE)

    Kabar yang luar biasa saya terima pada malam hari ketika rasa kantuk memuncak.  Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) STIE –MCE berhasil meraih 2 penghargaan yaitu emas dan perak.

    Emas diraih oleh kelompok Alin,dkk dibawah bimbingan Ibu Siwi Syah Ratna Sari.  Perak diraih oleh kelompok Andi Tripenus, dkk dibawah bimbingan pak Uke Prajoga.  Penghargaan bagi tim Kornelius, dkk  atas perjuangan dilaga PIMNAS (pekan ilmiah mahasiswa nasional).  Prestasi ini diraih bukan tanpa usaha yang keras.  Suatu kemustahilan bagi kita meraih prestasi tanpa kerja keras hanya dengan mengharap keajaiban semata.

    PKM mulai dikenal di STIE-MCE dimotori oleh almarhumah Dr. Aida Ainul Mardiyah,  ibu kita tercinta yang sarat dengan prestasi dan penghargaan tingkat nasional bahkan internasional, asset berharga milik STIE-MCE.  Sayangnya Allah, SWT berkehendak lain, pada usia yang sangat muda dan berada pada puncak prestasi beliau di panggil.  Kita kehilangan sosok luar biasa, sosok seorang ilmuwan sejati, pendidk dan peneliti.

    Semangat beliau menggugah saya untuk meneruskan perjuangannya di PKM.  Tiga tahun berturut-turut kami tim PKM STIE-MCE bahu membahu membudayakan ajang bergensi ini dilingkungan STIE-MCE. Suatu perjuangan yang tak kenal lelah dengan motivasi yang tinggi.  Sebagai manusia kadang semangat mengalami pasang surut, berbagai rintangan kami hadapi.  Mulai dari tahap awal yaitu sosialisasi program hingga akhir kegiatan harus tim jalani dalam kurun waktu satu tahun untuk satu kali periode program.  Namun tim kami cukup solid, saling memberikan motivasi, saling menyemangati.

    Usaha ini tidak sia-sia, setelah almarhumah berpulang, tiga tahun berturut-turut mahasiswa PKM STIE-MCE berhasil menembus ke PIMNAS, ajang bergengsi yang menjadi impian mahasiswa Indonesia.  Pada tahun 2009 satu tim lolos ke PIMNAS yang dimotori oleh ibu Siwi, disusul pada tahun 2010 satu tim lolos lagi yang dimotori oleh Pak Uke, dan pada tahun 2011 ini 3 tim lolos dengan dimotori oleh ibu Siwi, Pak Uke, dan Bu Dwinita.

    Dua tim PKM menorehkan sejarah baru bagi STIE-MCE dengan meraih medali emas dan perak pada PIMNAS 2011 di Universitas Hasanuddin Makasar.  Prestasi luar biasa yang diraih dengan perjuangan keras.  Keterlibatan mahasiswa, dosen pembimbing, dan institusi (kampus) merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak ada kata aku yang paling berjasa, aku yang paling pintar, apalagi aku yang paling hebat.  Hanya Allah SWT yang boleh sombong.  Sepandainya seorang mahasiswa, tanpa dukungan teman satu tim bahkan teman diluar tim, dan dosen pembimbing apalah artinya ia.  Sehebat-hebatnya seorang dosen, lulusan S2 atau S3 sekalipun, tak ada artinya tanpa dukungan mahasiswa yang solid dan rekan dosen yang lain.  Allah SWT telah memberi teladan di depan mata kita yaitu tubuh kita sendiri, segagah apapun kita bila salah satu bagian tubuh tidak berfungsi apalah jadinya kita???

    Semoga keberhasilan tim PKM STIE-MCE ini memacu semangat kita bahwa bersama kita bisa, dan memberikan hikmah bagi kita semua, kita adalah satu tim, satu keluarga besar STIE-MCE, tidak ada yang paling hebat, paling pintar, paling berjasa dengan menepuk dada berbangga diri, tapi “kita adalah mahluk yang paling lemah, hina, dan tak punya apa-apa tanpa bantuan siapapun, apalagi tanpa bantuan ALLAH SWT”.

    SUMBER MODAL PADA SETIAP SIKLUS HIDUP PERUSAHAAN

    Fungsi manajemen keuangan ada tiga, pertama mengatur alokasi modal pada aktiva perusahaan, kedua, membuat keputusan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan modal, dan ketiga, keputusan managerial.  Dari tiga fungsi tersebut masalah pemenuhan kebutuhan modal sering menjadi masalah yang pelik bagi perusahaan.

    Modal merupakan salah satu faktor produksi terpenting yang digunakana perusahaan untuk membiayai operasi perusahaan.  Strategi pemenuhan modal perusahaan berhubungan dengan kebijakan struktur modal.  Sumber modal perusahaan berasal dari dua sumber yaitu dari dalam perrusahaan (internal) dan dari luar perusahaan (eksternal).  Sumber modal internal berasal dari laba (kas), biaya penyusutan, dan suntikan modal dari pemilik perusahaan.  Sedangkan sumber modal eksternal berasal dari utang dan saham.

    Keputusan apakah modal dipenuhi dari sumber internal atau eksternal merupakan suatu keputusan yang tidak mudah.  Penggunaan sumber eksternal tidak menjadi masalah selama perusahaan mengalami pertumbuhan, karena perusahaan mempunyai harapan memperoleh laba dan arus kas yang cukup tinggi untuk menutupi kewajiban terhadap pemilik modal.  Namun tidak demikian dengan perusahaan yang tidak mengalami pertumbuhan, penggunaan sumber eksternal akan menambah beban dalam bentuk kewajiban membayar bunga dan turunnya nilai perusahaan.

    Setiap perusahaan akan mengalami lima tahap siklus kehidupan yaitu tahap pendirian, ekspansi, pertumbuhan tinggi, kedewasaan, dan penurunan.  Pada setiap tahap siklus kehidupan ini kebutuhan akan besarnya modal akan berbeda.  Guna memenuhi kebutuhan tersebut perusahaan akan menggunakan strategi pendanaan berbeda pula.  Damodaran (2001) dalam teori analisis siklus kehidupan pendanaan (life cycle analysis of financing) menggambarkan kerangka strategi pendanaan yang dipilih perusahaan dihubungankan dengan tahap siklus hidup perusahaan.

    Tahapan siklus hidup perusahaan yang dikemukakan oleh Damodaran ini tidak berbeda dengan siklus hidup produk dalam pemasaran yang terkenal itu.  Pada teori siklus hidup produk Kotler (1985:492) berpendapat bahwa bila produk mempunyai siklus hidup berarti ada empat hal yang harus diperhatikan.  Pertama, setiap produk mempunyai batas umur, kedua, penjualan produk melewati tahap-tahap yang jelas dan setiap tahap memberi tantangan berbeda, ketiga, keuntungan yang diperoleh akan meningkat dan menurun pada tahap berbeda, dan terakhir perusahaan dituntut menetapkan strategi yang berbeda dalam hal pemasaran, keuangan, produksi, personalia maupun pembelian pada setiap tahap siklus hidup produk.  Dari keempat hal tersebut salah satu yang terpenting adalah menetapkan strategi keuangan.

    Damodaran (2001:512) berpendapat kebutuhan sumber dana yang berasal dari internal maupun eksternal pada setiap tahap siklus hidup perusahaan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan memperoleh aliran kas dan tingkat preferensi risiko. Secara umum pada tahap pendirian, sumber dana perusahaan banyak berasal dari pendiri perusahaan (sumber dana internal) dan utang bank.  Pada tahap ekspansi, peningkatan kebutuhan dana dipenuhi dari modal ventura.  Pada tahap pertumbuhan tinggi, perusahaan menjadi perusahaan publik (sumber dana eksternal).  Pada tahap kedewasaan, kebutuhan dana eksternal mulai menurun karena sumber dana internal yang relatif cukup.  Pada tahap terakhir, tahap penurunan, kebutuhan akan dana eksternal dan internal menurun drastis.

    Studi tentang struktur modal perusahaan telah banyak dilakukan, diantaranya teori struktur modal tradisional, teori Modigliani dan Miller (1958), Static Trade-Off yang dikemukan oleh Miller (1977) dan teori Pecking Order Hypothesis oleh Myers dan Majluf (1984).  Penggunaan alternatif sumber dana perusahaan dengan teori Static Trade-Off didasarkan pada cost dan benefit-nya antara biaya modal dan keuntungan penggunaan utang yaitu, biaya kebangkrutan dan keuntungan pajak. Penentuan struktur modal perusahaan dengan Pecking Order Hypothesis didasarkan pada keputusan pendanaan secara hierarki

    Myers dan Majluf (1984:148) mengemukakan bahwa manajer yang mengetahui jika nilai perusahaan mereka tinggi maka akan menerbitkan saham  tetapi jika nilai perusahaan rendah maka akan menggunakan kas yang berasal dari laba atau dengan kata lain perusahaan mengutamakan sumber dana internal yang berasal dari kas, dan apabila sumber dana internal tidak mencukupi maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman yaitu obligasi, kemudian sekuritas yang berkarateristik opsi, apabila belum mencukupi baru menerbitkan saham.

    Damodaran (2001:512) yang diterjemahkan bebas oleh Gumanti (2001:16) membagi lima tahap siklus hidup produk yang dihubungkan dengan keputusan pendanaan. Lima tahap tersebut adalah

    1. Tahap Pendirian (start up)

    Tahap ini adalah tahap permulaan bagi setiap perusahaan baru.  Segala sesuatu yang mendukung operasi perusahaan bersifat baru, misalnya tenaga kerja, tempat, dan fasilitas lainnya.  Biasanya perusahaan yang baru didirikan berbentuk perusahaan perorangan dimana kebutuhan modalnya dipenuhi oleh pemilik (pendiri) ditambah dana pinjaman dari bank.  Sifat dari perusahaan yang baru berdiri adalah keengganan mereka untuk mengandalkan pinjaman dana dari pihak luar karena kemampuan infrastuktur masih belum memungkinkan.

    2. Tahap Ekpansi

    Pada tahap ini perusahaan sudah memiliki pelanggan dan cukup mampu memposisikan keberadaannya di pasar.  Manajemen termotivasi untuk melakukan pengembangan, untuk itu dibutuhkan dana yang tidak sedikit.  Pada tahap ini kebutuhan dana eksternal sangat tinggi karena aliran kas masuk relatif kecil.  Pilihan awal biasanya berasal dari dana privat atau perorangan (private equity) dan modal venture (venture capital).  Tidak jarang perusahaan akan mengambil keputusan untuk menjadi perusahaan publik (go public).

    3. Tahap Pertumbuhan (high growth)

    Begitu memasuki masa transisi untuk menjadi perusahaan publik, pilihan sumber pendanaan menjadi semakin terbuka.  Pada tahap ini, kebutuhan dana eksternal bersifat moderat relatif terhadap nilai perusahaan.  Kecenderungan perilaku aliran kas pada tahap ini masih tidak jauh berbeda dengan tahap kedua dimana laba yang diperoleh masih belum seimbang dibandingkan dengan pendapatan usaha (penjualan dan aliran kas yang masuk juga belum banyak sementara kebutuhan investasi relatif tinggi.  Biasanya perusahaan yang sudah menjadi perusahaan publik dan berada ada tahap pertumbuhan akan mencari alternatif pendanaan lain selain menambah saham yang ditawarkan ke upblik melalui mekanisme right issue atau opsi ekuitas (equity options).  Bila perusahaan memilih untuk menggunakan sumber dana utang, ada kecenderungan untuk memilih bentuk utang yang dapat dikonversi (convertible debt).

    4. Tahap Kedewasaan (mature)

    Perusahaan yang memasuki tahap ini mempunyai dua ciri yaitu:

    a.  Peningkatan laba dan aliran kas yang cepat sebagai cermin dari keberhasilan investasi masa lalu.

    b. Kebutuhan dana untuk investasi ada produk dan proyek baru akan mulai menurun.  Tingkat pertumbuhan perusahaan akan mulai mendatar,

    Pada tahap ini kebutuhan dana eksternal mulai menurun dan sebagai gantinya, karena perusahaan telah mampu mencukui kebutuhan dana dari dalam, dana internal akan lebih menarik untuk dijadikan alternatif pendanaan.  Jenis kebutuhan dana dari luar mulai berubah.  Perusahaan akan lebih menyukai dana utang, khususnya dari bank atau dengan menerbitkan obligasi.

    5. Penurunan (decline)

    Pada tahap ini ciri utama yang ditemui adalah penurunan yang stabil terhadap pendapatan dan laba sebagai konsekuensi dari kedewasaan perusahaan dan masuknya pesaing-pesaing baru.  Walaupun investasi yang ada masih mampu menghasilkan aliran kas, tetapi jumlahnya relatif tidak banyak.  Disamping itu, kebutuhan perusahaan untuk investasi baru mulai menurun.  Pada tahap ini kebutuhan dana eksternal menurun drastis karena proyek-proyek atau investasi baru juga menurun dan jumlah dana internal yang tersedia diperusahaan sangat besar.  Perusahan berpikir bahwa penjualan saham atau obligasi sudah bukan alternatif yang menarik lagi bahkan dengan kelebihan dana internal perusahaan mulai berpikir untuk melunasi semua kewajibannya atau membeli balik sahamnya.  Pada tahap ini dapat dikatakan bahwa perusahaan secara bertahap mengalami apa yang disebut sebagai melikuidasi diri sendiri.

    Tabel 1

    Analisis Siklus Kehidupan Pendanaan

    Kebutuhan Dana Luar Tinggi, tetapidibatasi oleh infrastuktur Tinggi, relatif terhadap nilai perusahaan Moderat, relatif terhadap nilai perusahaan Menurun, sebanding prosentase nilai perusahaan Rendah, karena proyek menyusut
    Pendanaan Internal Negatif atau rendah Negatif atau rendah Rendah, relatif terhadap kebutuhan pendanaan Tinggi, relatif terhadap kebutuhan pendanaan Lebih dari kebutuhan pendanaan
    Pendanaan Eksternal Modal pemilik, utang bank Modal ventura, saham biasa Saham biasa, warran, convertibles Utang Bayar utang,  beli kembali saham
    Tahap Pertumbuhan Tahap 1

    Pendirian

    Tahap 2

    Ekspansi

    Tahap 3

    Pertumbuhan

    Kedewasaan Penurunan

    Transisi            Penilaian            Penawaran           Penawaran              Penawaran

    Pendanaan        ekuitas               Saham Perdana    Saham Musiman     Obligasi

    (Sumber:  Damodaran,2001:512)

    Daftar Pustaka

    Damodaran, A. 2001. Corporate Finance: Theory and Practice, Second edition, Whiley and Sons, New York

    Gumanti, Tatang Ary, ………….,Manajemen Usahawan,

    Kotler Philip. 1985, Manajemen Pemasaran, penerbit Erlangga

    Modigliani F, Miller MH., 1958. The Cost of Capital, Corporate Finance and The Theory of Investment. The American Economic Review, vol.XLVIII, no.3, pp 261-297

    Myers, S.C., 1984, The Capital Structure Puzzle, lournal of Finance, Vol. XXXIX, july, hal. 144-155.

    POTENSI DILUSI EPS PADA PENERBITAN WARAN

    Penerbitan saham baru biasanya dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh tambahan dana. Saham-saham baru harus ditawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham lama (pre-emptive right = hanya untuk pemegang saham). Jika pemegang saham lama tidak menggunakan haknya maka saham-saham baru tersebut ditawarkan kepada investor lain.

    Sebagai langkah awal sebelum saham baru diterbitkan emiten dapat menerbitkan waran terlebih dahulu. Waran adalah kontrak yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk membeli saham baru perusahaan dengan harga tertentu (exercise price) pada tanggal pelaksanaannya (exercise date). Waran merupakan daya tarik (sweetener) pada penawaran umum saham ataupun obligasi. Biasanya harga pelaksanaannya lebih rendah daripada harga pasar saham. Setelah saham ataupun obligasi tercatat di bursa, saham dapat diperdagangkan secara terpisah. Periode perdagangan waran lebih lama daripada bukti right (right issue), yaitu 3 tahun sampai 5 tahun. Waran merupakan pilihan, dimana pemilik waran dapat memilih untuk menukarkan atau tidak warannya dengan saham pada tanggal pelaksanaannya.

    Waran mempunyai manfaat dan juga risiko. Manfaat dari waran adalah pemegang waran mempunyai hak untuk membeli saham baru perusahaan dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar saham tersebut, selain itu apabila waran dipedagangkan di bursa maka pemegang waran mempunyai kesempatan mendapatkan keuntungan (capital gain) yaitu apabila harga jual waran lebih tinggi dari harga beli waran.  Adapun risiko dari waran adalah jika pada tanggal pelaksanaan harga saham lebih rendah dari harga pelaksanaan (exercise price), pemegang waran tentu tidak akan menukarkan warannya dengan saham maka ia akan mengalami kerugian sebesar harga beli waran tersebut. Risiko lainnya adalah pemegang waran mengalami kerugian bila harga jual waran lebih rendah dari harga belinya (capital loss).

    Hak untuk membeli saham terlebih dahulu merupakan ketentuan hukum yang mengatur adanya pre-emtive right bagi setiap pemegang saham lama di dalam perseroan terbatas, dimana setiap pemegang saham yang terdaftar berhak mendapatkan hak untuk membeli saham baru . Penerbitan waran bertujuan agar investor tertarik untuk membeli sekuritas yang diterbitkan perusahaan.  Aset dasar (underlying) dari waran adalah saham atau obligasi, waran memiliki exercise price yang artinya pemegang waran tersebut memiliki hak untuk membeli saham perusahaan pada harga exercise tersebut pada saat jatuh tempo, tak masalah berapapun harga saham tersebut di bursa (spot). Bila pemegang waran yang tidak tertarik menggunakan haknya maka dapat menjual waran tersebut pada investor lain. Waran juga bermanfaat bagi emiten yang menerbitkannya. Bagi emiten, menerbitkan waran lebih menguntungkan daripada menerbitkan saham bonus. Kalau membagikan saham bonus emiten tidak mendapatkan uang, sedangkan waran dapat dijual yang berarti perusahaan mendapatkan uang.

    Waran merupakan bagian dari total ekuitas yang dimiliki perusahaan penerbit karena pada saat waran dikonversikan berarti jumlah lembar saham yang beredar akan meningkat. Meningkatnya jumlah lembar saham akan mengurangi pendapatan per lembar saham bagi pemegang saham bila tidak diikuti dengan peningkatan earnings yang signifikan dengan peningkatan jumlah saham. Namun bila dana yang diperoleh dari penerbitan saham baru digunakan tidak untuk meningkatkan earnings perusahaan, misalnya untuk membayar utang maka akan berdampak pada terdilusinya earnings perusahaan.

    Penerbitan waran tidak selalu disukai oleh pemegang saham lama karena penerbitan waran berarti akan bertambahnya jumlah saham yang beredar pada tanggal pelaksanaan (exercise date). Bertambahnya jumlah saham yang beredar berarti mengurangi jumlah pendapatan per lembar saham (earnings per share atau EPS) bagi setiap pemegang saham. Ancaman dilusi EPS inilah yang merupakan alasan mengapa penerbitan saham baru tidak disukai pemodal.

    Daya tarik sebuah waran selain hak membeli saham dengan harga saham yang lebih murah dari harga pasar adalah daya tarik akan nilai waktu dari uang, artinya investor yang membeli waran berarti membeli potensi pertumbuhan usaha dari emiten. Jika perusahaan ingin agar warannya sukses diperdagangkan yang berarti pula suksesnya penerbitan saham baru maka tujuan penerbitan saham baru harus ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Jika perusahaan tidak menjaga kinerja dengan baik maka penerbitan waran akan berpotensi pula pada terdilusinya harga saham perusahaan karena potensi dilusi EPS pada perusahaan yang menerbitkan waran akan berpengaruh pula pada harga saham perusahaan yang mana akan berdampak pada kinerja pasar saham. Karenanya waran akan lebih atraktif untuk perusahaan yang mempunyai potensi pertumbuhan usaha yang bagus untuk jangka panjang.

    Daftar Pustaka:

    Anugerah, Nurul, Abd. Hamid Habbee, dan M. Natsir Kadir (2001), Korelasi Antara Price Earnings Ratio (PER) dan        Return Saham Pada Perusahaan Go Public di Bursa Efek Jakarta, Bandung: Simposium Akuntansi IV, Ikatan Akuntansi Indonesia.

    Beaver, W., dan d. Morse, 1978, What Determines Price Earnings Ratio?, Financial Analysts Journal, vol.34, no.4 (July/August), hal. 65-78.

    Craig, D., G. Johson, and M. Joy, 1978, Accounting Methods and P/Es, Financial Analysist Journal, vol. 43, no. 2 (March/April), hal. 41-45.

    Gaver, J.J., and K.M. Gaver, 1993, Additional Evidence on the Association between the Investment Opportunities Set and Corporate Financing, Dividend, and Compensation Policies, Journal of Accounting and Economics, vol. 16, no. 1-3 (January/April/July), hal. 125-160.

    Harto, Puji, 2001, Analisis Kinerja Perusahaan Yang Melakukan Right Issues di Indonesia, Bandung: Simposium Akuntansi IV, Ikatan Akuntansi Indonesia.

    Neill, D. John, dan Pfeiffer, M. Glenn, 1999, The Effect of Potentially dilutive Securities on P/Es, Financial Analyst Journal (FIA), vol.55, hal. 58-64.

    Sharpe, William F., Gordon J. Alexander, dan Jeffrey V. Bailey (1997), Investasi, Jilid 2, PT. Prenhallindo, Jakarta.
    Tandelilin, Eduardus (2001), Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, Edisi Pertama, PT. BPFE, Yogyakarta.

    Masyarakat kelas 3 dan kartu kredit

    Kasus penganiayaan terhadap salah seorang pemegang kartu kredit terkemuka oleh debt collector sempat membuat merinding (ngeri!!), betapa tidak berharganya nyawa manusia di negeri ini. Perkembangan gaya hidup dan teknologi mendorong tingginya keinginan masyarakat modern akan kartu kredit untuk menunjang semua aktivitas dalam kehidupannya. Mulai dari untuk keperluan bisnis sampai keperluan pribadi.

    Perkenalan masyarakat dunia dengan kartu kredit dimulai setelah Perang Dunia II. Dimasa itu telah ada alat pembayaran selain uang tunai yaitu cek (cheque). Kartu kredit menjadi produk abad ke-20 yang menjadi produk prestige bagi pemegangnya. Pada tahun 1951 kartu kredit pertama diluncurkan oleh Diners Club dan American Express bagi 200 pelanggan untuk digunakan di 27 restoran di New York. Dari benua Amerika, kartu kredit berkembang pula sampai ke Inggris dan benua Eropa lain, yaitu yang dikeluarkan oleh Euro Cheque dan oleh Chargex. Kartu kredit mulai merambah Indonesia sejak tahun 1964, Hotel Indonesia (HI) sebagai pelopor menerima pembayaran dengan kartu kredit. Kartu kredit yang pertama kali muncul di Indonesia adalah kartu kredit yang diterbitkan oleh American Exprees dan Dinners Club. Sedangkan bank nasional pertama yang menerbitkan kartu kredit adalah Bank BCA, namun kartu ini hanya dapat digunakan oleh nasabah BCA saja (bersifat internal).

    Continue reading “Masyarakat kelas 3 dan kartu kredit”

    ILMU YANG BAROKAH (Sendang Biru dan Abah Atmo)

    Sendang Biru, terletak di pantai selatan Jawa Timur, dua jam perjalanan mobil dari kota Malang.  Pantai indah dengan pulau Sempu yang terkenal (bukan Nyai Roro Kidul).  “Sudah tahu! Buat apa bercerita tentang pantai Sendang Biru, aku sudah sering kesana” batin anda.  Sabar!!! Saya tidak akan bercerita tentang pantai Sendang Biru, itu sih bagian anak saya yang doyan adventure.  Lho! Apa kaitan Sendang Biru dengan Abah Atmo (siapa pula ini?).  Sabar!! Jangan kemana-mana dulu.

    Sendang Biru, sebuah desa nelayan dengan Abah Atmo sebagai salah seorang penduduknya.    Abah Atmo, panggilan untuk seorang nelayan tua tanpa embel-embel gelar akademis di depan dan di belakang nama sederhana ini.  Lalu, apa yang istimewa dari nelayan tua itu?  Decak kagum dan ancungan jempol tidak serta merta saya acungkan kepada nelayan tua ini.  Ikuti kisah saya ini!!!

    Continue reading “ILMU YANG BAROKAH (Sendang Biru dan Abah Atmo)”

    PENGGUNAAN ANALISIS TIME VALUE OF MONEY (TVOM) UNTUK PERENCANAAN KEUANGAN

    PENGGUNAAN ANALISIS TIME VALUE OF MONEY (TVOM) UNTUK PERENCANAAN KEUANGAN

    OLEH: Dra Lindananty, MM

    Perencanaan keuangan harus mempertimbangkan perubahan dari nilai uang, karena nilai uang di masa sekarang berbeda dengan nilai uang di masa yang akan datang, sehingga menyebabkan adanya perbedaan nilai atas sejumlah uang yang dikeluarkan (arus kas keluar) saat ini dengan yang diterima (arus kas masuk) dimasa yang akan datang. Hal ini akan berdampak pada penerimaan bersih arus.

    Konsep nilai waktu uang (Time Value of Money) menunjukkan uang yang dikeluarkan baik untuk membiayai investasi maupun hasil dari investasi tidak mempunyai nilai yang sama untuk waktu yang berbeda walaupun memiliki angka nominal yang sama.

    Continue reading “PENGGUNAAN ANALISIS TIME VALUE OF MONEY (TVOM) UNTUK PERENCANAAN KEUANGAN”