“SENYUM DAN TAWAKAL”

SENYUM DAN TAWAKKAL

Dalam suatu penjalanan saya ke suatu tujuan,dalam angkutan kota saya mendengarkan perbincangan dua remaja yang tidak lain adalah mahasiswi disalah satu perguruan tinggi di Malang.Berdasarkan perbincangannya yang saya ikuti,rupanya kedua mahasiswi ini akan menuju kekampusnya untuk mengikuti ujian akhir semester (UAS).Salah satu obrolan mereka yang menarik bagi saya adalah tentang kesiapan belajar untuk ujian nanti.Salah satu dari mereka dengan wajah tenang mengatakan bahwa ia sudah siap sejak seminggu yang lalu,karena kebetulan mata kuliah itu sangat ia senangi.Sebaliknya temannya tidak siap bahkan ia mengatakan ”aku pasrah saja pada Allah,karena aku tidak belajar”.Pernyataannya ini langsung dikritisi oleh temannya tadi,katanya ”Kamu tidak boleh pasrah bongkokkan kepada Allah,itu bukan makna tawakkal.Sambil tersenyum ia melanjutkan penjelasan kepada temanya itu, tawakal itu kalau sebelumnya kita berusaha lebih dulu,harusnya kamu belajar lebih dulu barulah setelah itu berserah diri kepada Allah,hanya Allah lah yang kuasa atas hasilnya”
Perbincangan kedua mahasiswi ini membangkitkan inspirasi bagi saya,lebih-lebih saat mendengarkan koreksinya terhadap temannya yang pasrah bongkokkan itu tadi.
Bertawakal akan membuat diri kita lebih kuat,lebih sabar karena kita yakin ada yang menolong kita.Dengan bertawakal kita akan jauh dari putus asa,karena Allah telah memberi kita benteng pertahanan untuk bertahan dari setiap persoalan yang tidak mungkin kita atasi sendiri.
Dalam terminologi agama bahwa Tawakkal diartikan sebagai Sikap bersandar dan mempercayakan diri kepada Allah SWT.Tawakkal bukanlah sikap pasif,melainkan sikap aktif karena kita berusaha baru bersandar. Tawakal itu tumbuh melalui pribadi seseorang yang memahami hidup ini dengan tepat.Hal yang penting juga adalah bahwa Tawakal itu dibutuhkan karena kebenaran manusia adalah bersifat relatif.
Sekalipun kita telah bekerja keras,kita tidak dapat menentukan hasilnya,karena itu kita harus tawakkal kepada Allah.Manusia hanya mampu berusaha,namun tidak berwenang menetukan hasilnya.Oleh karena itu kita harus menyerahkan seluruh usaha kita kepada Sang Pencipta.
Dengan demikian apapun yang kita lakukan,seberat apapun beban kita,pasti kita sabar menghadapinya dan setiap saat kita mampu tersenyum.
Menurut pendapat Abdul Rochim dan Soejitno Irmin dalam ”Tersenyumlah Dunia akan Tersenyum Bersamamu” mengemukakan bahwa,dengan bertawakkal sebenarnya kita telah melepaskan beban yang ada di pundak kita kepada Allah. Manusia adalah mahluk yang lemah,ia punya keterbatasan. Orang yang bertawakkal adalah orang yang berpikir logis.Ia menyadari keterbatasan yang dimilikinya,mengakui dirinya bukanlah segala-galanya,potensi yang ia miliki tidak ada artinya tanpa campur tangan Allah SWT.

Senyumlah…
dengan segenap jiwamu… dengan sepenuh hatimu…
Semoga Allah memberkahi senyum ikhlasmu itu

One thought on ““SENYUM DAN TAWAKAL””

Comments are closed.