PSAK 10 (Revisi 2009): Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing

Bagi entitas yang melakukan transaksi dalam valuta asing, sering muncul pertanyaan tentang (1) bagaimana memasukkan transaksi dalam mata uang asing dan kegiatan usaha luar negeri ke dalam laporan keuangan, serta (2) bagaimana menjabarkan laporan keuangan ke dalam suatu mata uang pelaporan. Terutama di era persaingan global akan makin dibutuhkan standar akuntansi yang dapat mengatur hal ini.

Tak perlu khawatir, DSAK telah menyiapkannya sejak dini seiring dengan proses konvergensi ke IFRS, yaitu PSAK 10 (Revisi 2009) tentang  Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing yang berlaku efektif 1 Januari 2012 yang juga sekaligus digunakan untuk menggantikan PSAK 10 (Revisi 1994) dan mencabut PSAK 11, PSAK 52, dan ISAK 4.

PSAK 10 (Revisi 2009) menetapkan bahwa entitas diwajibkan menggunakan pengukuran dengan mata uang fungsional, sedangkan untuk penilaiannya dapat menggunakan mata uang apa saja.

Apa yang dimaksud dengan mata uang fungsional . . . ?

Mata uang fungsional adalah mata uang utama pada lingkungan ekonomi tempat entitas tersebut beroperasi, yaitu lingkungan dimana entitas tersebut menghasilkan dan mengeluarkan kas. Beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan mata uang fungsional, yaitu:

  • Mata uang yang paling mempengaruhi harga jual barang dan jasa (mata uang ini seringkali menjadi mata uang dimana harga jual untuk barang dan jasa didenominasikan dan diselesaikan), dan dari suatu negara yang kekuatan persaingan dan perundang-undangannya sebagian besar menentukan harga jual dari barang dan jasanya.
  • Mata uang yang paling mempengaruhi biaya tenaga kerja, biaya bahan baku, biaya lain dari pengadaan barang dan jasa.
  • Bila mata uang tersebut bersumber dari aktivitas pendanaan, baik melalui penerbitan instrument hutang atau instrument ekuitas.
  • Mata uang dari penerimaan aktivitas operasi yang ditahan oleh entitas tersebut.

Ketentuan diatas dapat menjawab pertanyaan pertama, artinya bahwa transaksi mata uang asing dicatat dengan mata uang fungsional, pada saat pengakuan pertama (saat perolehan). Nilai mata uang asing dihitung ke dalam mata uang fungsional dengan menggunakan nilai tukar spot antara mata uang fungsional dan mata uang asing pada tanggal transaksi.

Sedangkan pada tanggal pelaporan, saldo dalam mata uang asing disesuaikan menurut kategori apakah merupakan pos moneter ataukah pos non moneter. Jika pos moneter maka saldo mata uang asing dilaporkan dengan menggunakan kurs penutup pada tanggal pelaporan. Sementara untuk pos non moneter yang diukur dengan historical cost menggunakan kurs pada tanggal transaksi, dan yang diukur dengan fair value menggunakan kurs tanggal nilai wajar ditentukan.

Menjawab pertanyaan kedua, untuk penyajian laporan keuangan, entitas dapat menggunakan mata uang apa saja, jika berbeda dengan mata uang fungsionalnya maka perlu dilakukan translasi laporan keuangan.  Akun-akun asset dan liabilias menggunakan kurs penutup, sedangkan pendapatan dan beban menggunakan kurs rata-rata atau kurs tanggal transaksi. Sementara transaksi ekuitas menggunakan kurs transaksi. Selisih kurs yang terjadi akan disajikan pada laporan laba rugi komprehensif sesuai dengan PSAK 1 (Revisi  2009) http://blog.stie-mce.ac.id/istutik/2010/11/23/ada-apa-dengan-penyajian-laporan-keuangan-tahun-2011/ .

Tidak menutupkan kemungkinan jika terjadi perubahan substansi ekonomi entitas maka mata uang fungsional  yang digunakan juga menyesuaikan . Implikasi penggantian mata uang fungsional perlu diperlakukan secara prospektif.

Istutik

STIE Malangkucecwara

Author: istutik

Istutik adalah Dosen STIE Malangkucecwara. Lahir di Surabaya, 27 Nopember 1963, menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi – jurusan Akuntansi Universitas Airlangga tahun 1987. Sejak Pebruari 1989 menjadi Dosen Tetap STIE Malangkucecwara, dan resmi menjadi arema hingga sekarang. Pendidikan S2 di Magister Manajemen Universitas Indonesia, tahun 1992. Bersertifikat Pendidik No. 101282204848.