Renungan Ramadhan: Makna Surat Al Humazah

Dalam surat Al Baqarah ayat 183 telah jelas disebutkan bahwa tujuan dari ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah untuk membentuk manusia bertaqwa. Jadi  ‘menjadi manusia bertaqwa’ adalah indikator keberhasilannya. Selain itu dalam ayat tersebut menyerukan kewajiban untuk berpuasa ditujukan kepada orang-orang yang beriman, ini menunjukkan bahwa syarat minimal untuk mencapai taqwa yaitu harus beriman.

Sudah seminggu kita melalui hari-hari di bulan Ramadhan. Saya yakin Kita semua selalu punya harapan untuk dapat mencapai tujuan berpuasa, berupaya mengisi bulan Ramadhan dengan amalan yang lebih baik di banding bulan-bulan sebelumnya dan juga bulan Ramadhan tahun lalu. Agar dapat terwujud harapan tersebut, maka dapat dibantu dengan membuat target yang lebih dapat diukur ketercapaiannya, misal jumlah minimal rupiah sadaqah , jumlah minimal ayat Al Qur’an yang dibaca dan dipahami, jumlah minimal kunjungan/hubungi kerabat, jumlah minimal sholat sunnah, dst, dll . .

Tentu saja semua aktivitas tersebut akan bermakna amalan ibadah jika dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan didasarkan pada tuntunan dari Rasulallah Muhammad SAW.

Selain itu perlu juga direnungkan bagaimana upaya kita menghindarkan diri dari perbuatan dosa. Kita sering mendengarkan, beberapa ceramah yang ditayangkan dalam bulan Ramadhan ini di berbagai saluran televisi, ataupun langsung ketika kita mengikuti sholat Tarawih, beberapa hal yang membuat shaum kita sia-sia, tidak mendapat imbalan pahala yang didapat, tak lain hanya lapar dan dahaga saja, nauzubillah min dzalik. Salah satu yang paling perlu mendapat perhatian adalah berkaitan dengan LISAN, bagaimana kita mampu mengendalikannya . . . !?

Coba kita renungkan bersama isi surat Al Humazah ayat 1-9 diatas, jika kita bermuhasabah atas diri kita masing-masing tentu sudah seharusnya kita menyesal andaikan lisan tidak digunakan untuk membicarakan yang bermanfaat, apalagi untuk mengumpat atau mencela. Astaghfirullah . . . tidak sekedar sia-sia puasa kita, namun Allah juga tidak menggolongkan orang yang tidak berkata benar sebagai orang bertaqwa (Al Ahzab: 70. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar).

Sangat penting untuk selalu berdoa untuk dihindarkan dari perbuatan syaitan dan memohon petunjuk untuk dapat berkata baik dan benar (Al Israa’:53. Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia; Al Hajj:24. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji).

Pada ayat-ayat berikutnya surat Al Humazah, memberikan peringatan dan ancaman bagi orang-orang yang mengumpulkan harta serta menghitung-hitungnya, dalam maksud mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang karenanya menjadi kikir dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah. Karena sangat cinta dan senangnya kepada harta seakan-akan tidak ada kebahagiaan dan kemuliaan dalam hidup kecuali karena harta.Dalam surat Al Humazah ini diterangkan bahwa harta tidak berguna sedikitpun untuk menghadapi kekuasaan Allah.

Dalam ayat-ayat ini Allah menggambarkan betapa dahsyatnya neraka Hutamah dalam bentuk pertanyaan: “Tahukah engkau apa Hutamah?”. Allah menjawab;” Hutamah yaitu api yang disediakan Allah untuk menyiksa orang-orang yang durhaka dan berdosa. Tidak ada yang mampu mengetahui apa hakikatnya kecuali Allah penciptanya.

Tak dipungkiri bahwa dalam menjalani kehidupan yang lebih berkualitas diperlukan harta, bahkan untuk menjalani rukun Islam secara menyeluruh hanya dapat dilakukan bagi orang yang berharta. Itu artinya bukan berarti kita menjadi pesimis dengan harta yang kita miliki. Asal sumber dari pemilikan harta berasal dari rezeki yang halal dan disisi lain untuk penggunaanyapun lebih diutamakan untuk kepatuhan kita kepada Allah, Insya Allah akan terhindar dari ancaman Allah bahkan dilipatgandakan (Al Baqarah: 261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui).

Istutik

STIE Malangkucecwara

Author: istutik

Istutik adalah Dosen STIE Malangkucecwara. Lahir di Surabaya, 27 Nopember 1963, menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi – jurusan Akuntansi Universitas Airlangga tahun 1987. Sejak Pebruari 1989 menjadi Dosen Tetap STIE Malangkucecwara, dan resmi menjadi arema hingga sekarang. Pendidikan S2 di Magister Manajemen Universitas Indonesia, tahun 1992. Bersertifikat Pendidik No. 101282204848.

2 thoughts on “Renungan Ramadhan: Makna Surat Al Humazah”

Comments are closed.