Antara Perigi dan Prigen, Berlabuh di Pondok ABM

Wah, sepertinya puas sekali rombongan teman-teman kampus ABM yang berlibur ke pantai Perigi, bagaimana tidak, lebih dari 24 jam berada di sekitar pantai pasti menyenangkan. Pantai Perigi memang elok, pasirnya putih berkilau, sore ke malam ombaknya tinggi dan suaranya makin menderu.

Subhanallah, setiap pantai memberikan keunikan tersendiri, begitu juga dengan keindahan pantai Perigi, tak ada bosannya kita mengagumi ciptaan Allah tersebut. Tak jadi bergabung dalam liburan ke Perigi, karena Sabtunya badan memang masih lemes pasca sakit, saya jadi kepingin buka album foto. Saya bandingkan pasir putihnya Perigi di tahun 2004 dengan tahun 1985, nyaris sama. Nah, bagaimana kalau dibandingkan dengan rekaman 19-20 Pebruari 2011, tentu teman-teman rombongan kemarin dapat mengidentifikasi, serupa tapi tidak samakah ?

Batal ke Perigi, beralih keinginan untuk bergabung dengan teman-teman ’82 FEUA ke Prigen. Sepertinya akhir-akhir ini makin tertarik untuk kumpul-kumpul dengan teman lama, karena ketika ketemu serasa tak ada batas waktu, gaya ngomong dan guyonannya tetap terbawa peran masing-masing ketika mahasiswa. Eh . . . kog ya ke Prigen saya batal juga berangkat, padahal suasana rame terdengar di Milis. Anna, Azza, dan Neny, ku tampilkan aja foto kita berempat ketika pipi kita masih kenceng. Ta’ apalah, yang penting salamku untuk teman-teman sudah disampaikan.

Perigi . . . tidak, Prigen . . . juga tidak !.  Namun tentunya kita harus menghindarkan diri dari rasa kecewa, dengan ide si bungsu ananda Rafif,  saya lakukan aktivitas yang menyenangkan, yaitu membenahi tanaman di halaman dan dalam rumah. Dari satu pot ke pot yang lain, ta’ terasa sampai belasan pot yang telah terjamah. Memang asyik, bisa lupa waktu kalau sudah membelai daun-daun indah. Saya jadi kagum sendiri dengan hasil kerja saya dalam hari Minggu ini, betul-betul produktif, ditambah lagi dengan bonus makan malam bersama keluarga. He . . . he . . meski cukup di Pondok ABM saja, kecewa telah berubah menjadi RIaaang !

Istutik

STIE Malngkucecwara

Author: istutik

Istutik adalah Dosen STIE Malangkucecwara. Lahir di Surabaya, 27 Nopember 1963, menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi – jurusan Akuntansi Universitas Airlangga tahun 1987. Sejak Pebruari 1989 menjadi Dosen Tetap STIE Malangkucecwara, dan resmi menjadi arema hingga sekarang. Pendidikan S2 di Magister Manajemen Universitas Indonesia, tahun 1992. Bersertifikat Pendidik No. 101282204848.

4 thoughts on “Antara Perigi dan Prigen, Berlabuh di Pondok ABM”

  1. Woh….woh….woh….hebat, itu namanya pengalihan yang cerdik Bu. Wah itu tanaman gelombang cinta ya Bu? Cantik sekali Bu…daunnya. Nah kalau yang di bawahnya itu sepertinya ayam goreng Pak Soleh…apa betul Bu. waktu saya lihat fotonya, saya sepertinya bau ayam goreng yang khas ini….dan beras kencur….saya jagi “ngiler” Bu…

  2. woh..woh..woh.. saya juga gak ikut… diganti dengan plesir sama anak berenang… woh..woh..woh… segerrr…

Comments are closed.