Tepatnya Istishna’ atau Salam ya . . .

Kamis kemarin, kami membahas contoh transaksi Salam dari modul kuliah di kelas Shari’a Accounting. Dengan mengacu pada PSAK No.103, semua mahasiswa dengan aktif dan percaya diri berpartisipasi untuk mendemontrasikan pencatatan akuntansi transaksi Salam Paralel, di pihak pembeli, penjual, dan supliernya. Kamis minggu ini akan dilanjutkan dengan pembahasan contoh transaksi Istishna’.

Apa itu transaksi Salam, dapat dibaca pada blog ini, post tanggal 2 Desember 2010 “Menyingkap Beda Transaksi Salam dengan Murabahah”, dan kali ini transaksi Salam akan dibedakan dengan transaksi Istishna’.

Menurut PSAK No. 104, Istishna’ adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli, mustashni’) dan penjual (pembuat, shani’). Jika Penjual tidak dapat membuat sendiri barang pesanan, maka dilakukan Istishna’ paralel , yaitu suatu bentuk akad Istishna’ antara pemesan (pembeli, mustashni’) dengan penjual (pembuat, shani’), kemudian untuk memenuhi kewajibannya kepada mustashni’, penjual memerlukan pihak lain sebagai shani’.

istishna2

Keterangan

Salam

Istishna’

Jenis transaksi

Jual – beli

Pihak yang terkait

Pembeli dan penjual/pembuat barang

Pembeli, penjual, dan pembuat barang

Barang dagangan

Melalui pemesanan lebih dahulu, karakteristik barang dapat diidentifikasi dengan jelas

Kecenderungan untuk barang-barang hasil pertanian

Customized goods, bukan produk massal

Pembayaran

Pembeli harus membayar dulu (sebagaian/seluruh harga) kepada penjual, untuk modal kerja

Pembeli dapat memberikan uang muka kepada penjual

Ketika barang diterima, pembeli harus (telah) membayar lunas

Pembayaran dapat dilakukan tunai atau tangguh/diangsur sesuai jangka waktu yang disepakati

Pengakuan pendapatan

Pada saat penyerahan barang

a) Metode persentase penyelesaian

b) Metode akad selesai

Ketentuan lain terkait barang pesanan

a) Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.

b) Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan

Nah, dengan bantuan tabel diatas, ketika kita akan melakukan transaksi syariah dengan jual beli melalui pemesanan lebih dahulu ke Institusi Syariah, maka kita akan dapat menentukan apakah transaksi tersebut termasuk pada transaksi Istishna’ ataukah transaksi Salam ?, atau malah transaksi Murabahah . . . !

Istutik

STIE Malangkucecwara

Author: istutik

Istutik adalah Dosen STIE Malangkucecwara. Lahir di Surabaya, 27 Nopember 1963, menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi – jurusan Akuntansi Universitas Airlangga tahun 1987. Sejak Pebruari 1989 menjadi Dosen Tetap STIE Malangkucecwara, dan resmi menjadi arema hingga sekarang. Pendidikan S2 di Magister Manajemen Universitas Indonesia, tahun 1992. Bersertifikat Pendidik No. 101282204848.

4 thoughts on “Tepatnya Istishna’ atau Salam ya . . .”

  1. terkait dengan perbedaan akuntansi syariah salam dan istishna’,
    kalo dilihat dari pengertiannya dan jika dikaitkan dengan kegiatan saat ini, istishna’ dapat dengan mudah dipraktekkan pada kegiatan jual beli misalnya yang bersifat MLM (multi level marketing). pada umumnya, MLM menggunakan sistem pemesanan dimana pembeli harus membayar dulu baru kemudian hari barang yang dipesan akan datang. selain MLM, istishna juga dapat dipraktekkan dalam kegiatan jual beli yang bersifat kredit dengan sistem pembayaran mengansur. hal ini karena dalam akuntansi syariah istishna’ pembayaran dapat dilakukan secara mengangsur. beda dengan akuntansi syariah untuk salam, dimana metode pembayarannya adalah ada uang ada barang.

  2. Lho !, Istishna bukan MLM meskipun jualbelinya berdasarkan pesanan. Banyak hal yang membedakannya. Hayo . . . tugas Susi setelah ini coba identifikasi perbedaannya.

  3. Assalamu’alaikum wr.wb.

    Menurut pendapat saya, transaksi yang saya pilih adalah transaksi Murabahah. Karena yang pertama barangnya sudah jelas, artinya barang sudah ada di penjual. Yang kedua, harga perolehannya dan marginnya sudah jelas. Dan yang terakhir, kita bisa melakukan pembayaran secara kredit sesuai akad.
    Sedangkan transaksi Salam, barang yang dijual belum ada, jadi menimbulkan unsur keragu-raguan bagi pembeli. Dan sistemnya pembayarannya membuat sulit bagi pembeli yang memiliki ekonomi rendah..
    Jika transaksi Istishna, sistemnya menjual barang-barang yang limited..

    Terimakasih Bu…

  4. @Fitri: Masing-masing jenis transaksi yang menggunakan prinsip jualbeli (Murabahah, Salam, dan Isthisna) ada perbedaan karakteristik transaksinya. Jd coba dipahami dulu lebih lanjut ya . . . boleh baca modul Akuntansi Syariah yg digunakan di kelas Sharia’ Accounting.

Comments are closed.