Solusi untuk Eric Cantona

Kemarin kita memperingati tahun baru Islam 1 Muharram 1432 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 7 Desember 2010. Berbagai macam perayaan kita saksikan melalui tayangan televisi, mulai dari anak-anak keliling pawai obor, pawai ta’aruf, membuat dan mengarak tumpeng, membuat dan merangkai kue bolu, lomba-lomba, sampai dengan ceramah agama. Perayaan tersebut secara simbolik menggambarkan rasa syukur atas nikmat Allah yang telah diterima tahun 1431 H. Dari semua itu tentunya yang paling utama adalah melakukan muhasabah supaya dapat melakukan koreksi dan peningkatan kualitas diri sebagai hamba Allah, meninggalkan yang dilarang dan melaksanakan yang diperintah.

Menariknya,

Eric Cantona, jutawan mantan pemain klub Manchester United dan yang kini tampil sebagai aktivis sosial berkampanye menyerukan agar setiap orang bersama-sama melakukan revolusi memerangi sistem perbankan, caranya, pada tanggal 7 Desember 2010 di mana pun mereka berada, menarik dan mengeluarkan uangnya dari bank. Eric dan para pendukungnya menyatakan bahwa hampir semua penyakit di dunia, termasuk perang, kelaparan dan polusi, adalah akibat sistem perbankan. mereka tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Dalam siaran pers-nya dinyatakan bahwa revolusi Cantona ini bertujuan menentang sistem yang korup, jahat dan mematikan.

eric-cantona

Karena seruan tersebut telah menyebar bagai virus melalui situs http://Bankrun2010.com/, bank-bank di Perancis pun mengharuskan nasabah melakukan pemberitahuan lebih dahulu jika ingin menarik uang tunai dalam jumlah besar (lebih dari beberapa ratus euro). Namun apa yang terjadi ?, ternyata seruannya untuk menarik uang secara serentak tersebut tidak ditanggapi oleh penduduk senegaranya.

Pertanyaannya, apakah tujuan dari revolusi Cantona tersebut tidak terpuji sehingga tidak mendapatkan respon positif ?. Tentunya banyak orang yang setuju dengan tujuan tersebut. Mungkin caranya saja yang tidak arif. Setiap negara tidak dapat terlepas dari ketergantungan peran perbankan dalam aktivitas perekonomiannya. Sehingga caranya dengan meruntuhkan perbankan itulah yang tidak arif, apalagi tidak memberikan alternatif solusinya.

Kita dapat menawarkan solusi untuk Eric Cantona, yaitu dengan mengusulkan ke perbankan di negaranya untuk menerapkan sistem perbankan syariah, melalui sistem bagi hasilnya telah terbukti lebih adil dan imun terhadap goncangan krisis ekonomi.

banksyariah

Di Indonesia, sejak diizinkannya perbankan syariah beroperasi, tahun 1992, Bank Muammalat Indonesia (BMI) adalah satu-satunya bank syariah yang beroperasi kala itu. Pada awalnya kinerja keuangan BMI menunjukkan overlikuid. Dana terhimpun melalui Wa’diah dan Mudharabah melimpah, namun karena begitu hati-hatinya (memegang amanah)maka penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan masih belum optimal, sehingga tingkat profitabilitasnya belum dapat menawarkan bagi hasil (dalam rupiah) tinggi. Pada saat itu karena belum ada pesaing dan nasabah loyal dengan prinsip syariah maka ya fine-fine aja.

Setelah 1 Mei 2002, yaitu disahkannya PSAK No.59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah, makin banyak bertebaran bank dengan menggunakan sistem Islam, baik karena telah teruji ketika masa krisis tahun 1997/1998 maupun karena standar akuntansi keuangannya telah tersedia. Tabel berikut menunjukkan perkembangan jumlah bank dan kantor perbankan syariah di Indonesia (diambil dari Statistik Perbankan Syariah Oktober 2010, http://www.bi.go.id ).

perbankansyariah

Istutik

STIE Malangkucecwara

Author: istutik

Istutik adalah Dosen STIE Malangkucecwara. Lahir di Surabaya, 27 Nopember 1963, menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi – jurusan Akuntansi Universitas Airlangga tahun 1987. Sejak Pebruari 1989 menjadi Dosen Tetap STIE Malangkucecwara, dan resmi menjadi arema hingga sekarang. Pendidikan S2 di Magister Manajemen Universitas Indonesia, tahun 1992. Bersertifikat Pendidik No. 101282204848.