Menyingkap Beda Transaksi Salam dengan Transaksi Murabahah

Sebelum kita menyingkap beda transaksi salam dengan transaksi murabahah, ayo ditengok dulu persamaannya. Transaksi salam maupun transaksi murabahah, dua-duanya adalah transaksi syariah yang menggunakan prinsip jual-beli. Sehingga dalam transaksi tersebut ada dua pihak yang terlibat, yaitu penjual dan pembeli. Jual beli ini juga harus memenuhi karakterstik sebagai transaksi syariah. Tentunya dalam jual beli ada obyek /barang yang akan diperjualbelikan dan ada harga.

Pada transaksi murabahah, penjual harus memiliki lebih dahulu barang yang akan dijual. Proses pengadaan barang murabahah (aktiva murabahah) harus dilakukan oleh penjual. Jika penjual hendak mewakilkan kepada nasabah (wakalah) untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang menjadi milik penjual. Dalam PSAK No. 102 tentang Akuntansi Murabahah, mengisyaratkan bahwa pencatatan akuntansi atas penyerahan barang dari penjual ke pembeli dilakukan setelah penjual memperoleh atau memiliki aktiva murabahah.

Beda dengan transaksi salam, penjual justru belum memiliki barang yang akan dijual karena barang yang diperjualbelikan belum ada ketika transaksi dilakukan, namun pembeli melakukan pembayaran dimuka sedangkan penyerahan barang baru dilakukan di kemudian hari. Apakah transaksi ini tidak berisiko mengandung penipuan (qharari) atau adanya unsur spekulatif ?. Tentu saja tidak, kog bisa . . . !. Karena harga, spesifikasi barang, karakteristik tehnis lainnya, kualitas, kuantitas dan waktu penyerahan barang yang dipesan sudah ditentukan dan disepakati ketika akad salam terjadi.

PSAK No.103 menyebutkan bahwa salam adalah akad jual beli barang pesanan (muslam fiih) dengan pengiriman di kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli (al muslam) pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Harga barang pesanan yang sudah disepakati tidak dapat berubah selama jangka waktu akad. Apabila barang yang dikirim tidak sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati sebelumnya, maka pembeli boleh melakukan khiar yaitu memilih apakah transaksi dilanjutkan atau dibatalkan.

Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) tentang transaksi Salam, ketentuan tentang barang :

  1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.
  2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
  3. Penyerahannya dilakukan kemudian.
  4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
  5. Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
  6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.

salamm

Mengapa transaksi salam terjadi ?

Karena kedua belah pihak yang melakukan transaksi sama-sama memperoleh manfaat, yaitu :

  • Bagi pembeli , adanya jaminan memperoleh barang dengan karakteristik tertentu dalam jumlah dan kualitas tertentu pula pada saat ia membutuhkan dengan harga yang disepakatinya di awal.
  • Bagi penjual , diperolehnya dana untuk modal melakukan aktivitas produksi dan juga dapat memenuhi sebagian kebutuhan hidupnya.

Istutik

STIE Malangkucewara

Author: istutik

Istutik adalah Dosen STIE Malangkucecwara. Lahir di Surabaya, 27 Nopember 1963, menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi – jurusan Akuntansi Universitas Airlangga tahun 1987. Sejak Pebruari 1989 menjadi Dosen Tetap STIE Malangkucecwara, dan resmi menjadi arema hingga sekarang. Pendidikan S2 di Magister Manajemen Universitas Indonesia, tahun 1992. Bersertifikat Pendidik No. 101282204848.

18 thoughts on “Menyingkap Beda Transaksi Salam dengan Transaksi Murabahah”

  1. saya tanya ni buk……!!!!
    dalam era saat ini, menurut IBU yang sering digunakan msyarakat dalam transaksi secara syariah cendrung kemana……..???
    apakah itu transaksi mobarahah atau transaksi salam…????

    (^_^)
    gede yudi astawa A.2008.1.31125
    (bligede-buah.blogspot.com)/ Gede-buah

  2. Berdasarkan data statistik perbankan syariah di BI, jumlah pembiayaan Murabahah menempati urutan pertama, sedangkan Salam urutan terakhir dari seluruh jenis pembiayaan.

  3. bu, apakah transaksi murabahah itu ya seperti jual beli biasa? penjual harus memiliki barang dagangannga terlebih dahulu baru bisa ,menawarkan kepada pembeli??
    jadi ya seperti toko-toko gt ya bu??

  4. assalamu’alaikum wr.wb.

    Bagaimana Bu, jika seseorang melakukan penjualan barang dengan harga yang sudah keseluruhan tanpa memberi tahu berapa nilai pokoknya,apakah itu juga termasuk transaksi murabahah?

    Terimakasih Bu….

  5. Assalamu’alaikum bu istutik.. saya mencoba ngasik komentar.
    ^Transaksi Murabahah dan Salam^
    iya bu dalam hal ini membandingkan antara kita jika lagi ada jual beli ada barang dan dengan memesan dulu..
    SALAM,Transaksi jual beli dengan cara pesanan tersebut disebut transaksi salam.Sesuai PSAK 103,pengakuan piutang salam dilakukan pada saat modal usaha salam dibayarkan.Transaksi ini bisa terjadi karena pembeli berniat memberikan modal kerja terlebih dahulu untuk memungkinkan produsen menyediakan barangnya dan diselesaikan saat penjual/produsen menyerahkan barang kepada pembeli.
    Penjual meyakinkan pembeli bahwa barang yang dipesan emang bener ada saat waktu pengambilan barang.Transaksi salam berlaku untuk barang hasil pertanian,contohnya:Toko X awal tahun 2011 melakukan pemesanan hasil produksi Kopersai Alfa Kepuh dengan akad salam dengan data pesanan teetentu.keuntungan menggunakan transaksi ini ada jaminan memperoleh barang dlm jmlh yang dia butuhkan sesuai akad.Tentunya ada karakteristik barang yang dipesan.
    MURABAHAH sendiri bahwa penjual harus memberi tau harga produk yang dia beli dan menentukan tingkat keuntungan,transaksi ini juga dapat dilakukan pembelian dengan pemesanan sebagaiman dalam PSAK No. 102,Akuntansi Murabahah mengisyaratkan bahwa pencatatan akuntansi atas penyerahan barang dari penjual ke pembeli dilakukan setelah penjual memperoleh atau memiliki aktiva murabahah.Biasanya murabahah diterapkan di institusi syari’ah(prinsip jual beli)tetapi prakteknya juga dilakukan oleh lembaga keuangan non bank.Didalamnya juga ada pembiayaan murabahah.Tetapi murabahah tersebut tidak kalah menarik.

  6. @Ninda : Wah . . . Ninda sudah mulai ngerti tentang karakteristik transaksi Murabahah dan Salam, Nanti setelah UTS kita akan ulas lebih dalam, dan sekaligus bagaimana pencatatan akuntansinya, jadi jangan sampe nggak hadir ya . . . !

  7. @Ninda : Penasaran kan ?, wah . . . berarti Ninda akan jadi semangat nanti mencoba melakukan pencatatan akuntansinya !

  8. iya bu is.. di syariah emang banya istilah dan transaksi yang baru bagi saya . .
    oia,mau tanya:Qordhul Hasan Qardh dan Ba’i Bistman Ajil itu apa ya bu?maksud saya beda dari keduanya . . ,,
    Terima Kasih Bu..

  9. salam…
    Murobahah: tanpa pesanan dan berdasarkan pesanan.
    jika berdasarkan pesanan. sebenarnya apa perbedaan murobahah(berdasarkan pesanan) dengan akad salam dalam hal jual-beli??

    klu menurut saya klu berdasarkan pesanan juga berarti harus duketahui spesifikasinya(murobahah) begitu juga dengan salam. aku jadi bingung bu/mbak. mohon penjelasannya.

    terimakasih sebelumnya…

  10. @Habib : Murabahah berdasarkan pesanan beda dg salam. Dalam murabahah, barang hrs dimiliki dulu oleh penjual baru ada akad murabahah.dg pembeli.

  11. @Habib : Bedanya murabahah berdasarkan pesanan dg salam. Dalam murabahah, barang hrs dimiliki dulu oleh penjual baru ada akad murabahah.dg pembeli.
    Sdgkan persamaannya, dua2-nya spesifikasi brg diajukan oleh calon pembeli.

  12. Assalamu’alaikum bu istutik, saya mau tanya ini, ketentuan dewan syariah tentang barang salam ” Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya” maksudnya bagaimana ya ?? bisa tolong diberikan contoh ???
    Terima kasih banyak

  13. bu,,,saya boleh tanya???
    kalo perbedaan dari 3 pembiayaan, yaitu murabahah, salam, isthisna,?
    saya sudah cari, tapi masih belum paham bu..
    makasi

  14. salam,,,,,,
    banyak produk-produk perbankan syariah yang ditawarkan kepada nasabah, yaitu kerjasama, jual beli dan jasa. dalam jual beli diperbankan syariah ada 3 akad yaitu murabahah (murabahah pesanan), salam, dan istishna’. persamaan ketiganya adalah spesifikasi barang ditentukan oleh pembeli (nasabah) dan ditentukan diawal. sedangkan perbedaannya adalah jika murabahah pesanan sebelum akad barang/ objeknya harus menjadi milik penjual (bank) baru dilakukan akad jual beli murabahah dengan pembayaran bisa diawal, ditengah atau diakhir (tunai/angsuran), sedangkan salam adalah akad pesanan dimana objek barang belum ada dengan pembayaran diawal dan penyerahan barang diakhir, sedangkan istishna’ intinya sama dengan salam yang membedakan adalah pembayaran bisa tunai/ angsuran dan penyerahan barang diakhir.

Comments are closed.