FAKTOR PENGHAMBAT PERKEMBANGAN USAHA KECIL

Usaha kecil merupakan kegiatan ekonomi yang mendominasi lebih dari 95 % struktur perekonomian Indonesia. Sektor ini memiliki peran yang strategis baik secara ekonomi maupun social politis. Fungsi ekonomi sector ini antara lain menyediakan barang dan jasa bagi konsumen berdaya beli rendah sampai sedang; menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi serta kontributif dalam perolehan devisa Negara.

Pembangunan dan Pengembangan Usaha Kecil telah dilaksanakan sejak tahun 1950 an sampai sekarang, yang menjadi bagian dari pelaksanaan program pembangunan dan pengembangan usaha, merupakan bagian dari pembangunan bidang ekonomi dan sosial di Indonesia, karena usaha kecil mempunyai peranan dan memberikan beberapa kontribusi atau sumbangan dalam pembangunan bidang ekonomi dan sosial, kepada Negara dan Masyarakat, sehingga memperoleh perhatian yang cukup besar dari berbagai fihak, terutama dari Pemerintah.

Selain daripada itu, usaha ini mempunyai karakteristik tertentu apabila dibandingkan dengan lembaga usaha lainnya apabila dilihat dari sisi kekuatan dan kelebihannya; efektif sebagai lembaga penggerak dalam perekonomian nasional, regional, dan lokal, mempunyai daya tahan yang relatif lebih baik apabila dibandingkan dengan lembaga usaha lainnya yang disebabkan karena tingkat ketergantungan yang rendah terhadap beberapa hal, mempunyai potensi pasar yang cukup tinggi (Sjaifudian, 1995; 27), dan lembaga ini juga mempunyai fleksibilitas yang cukup tinggi dalam operasional usahanya (Subanar, 2001 :6).

Selain daripada itu, usaha kecil khususnya dinegara berkembang, seperti di Indonesia juga mempunyai peranan yang sangat penting apabila dikaitkan dengan beberapa permasalahan bidang ekonomi dan sosial, misal : kemiskinan, pengangguran, ketimpangan distribusi pendapatan, tidak meratanya pembangunan, urbanisasi, serta beberapa hal dalam bidang ekonomi dan sosial lainnya.

Peranan Usaha Kecil di Indonesia memang diakui sangat penting didalam perekonomian nasional, utamanya dalam aspek-aspek seperti peningkatan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan,pembangunan ekonomi pedesaan peningkatan ekspor non-migas. Selama ini telah banyak usaha-usaha yang dilakukan oleh Pemerintah untuk membantu perkembangan Usaha Kecil melalui berbagai macam program pengembangan atau pembinaan Usaha Kecil, termasuk diantaranya adalah program kemitraan antara Usaha Menengah dan Besar dengan Usaha Kecil. Namun demikian perkembangan Usaha Kecil hingga saat ini berjalan sangat lamban.

Salah satu penyebab kekurangberhasilan program pengembangan atau pembinaan Usaha Kecil di Indonesia dalam memperbaiki kondisi atau kinerja kelompok Usaha Kecil dari posisi yang lemah dan tradisional ke posisi yang kuat dan modern adalah tekanan orientasi program atau kebijaksanaan Pemerintah lebih terletak pada aspek sosial daripada aspek ekonomi atau bisnis. Selama ini usaha pengembangan kegiatan ekonomi skala kecil yang umumnya padat karya dan dilakukan oleh kelompok masyarakat miskin berpendidikan rendah ditujukan untuk meningkatkan pendapatan mereka atau mengurangi jumlah pengangguran dan kesenjangan.

Tuntutan untuk mengembangkan usaha kecil telah disadari oleh banyak pihak yang merasa memiliki kesamaan nilai-nilai dan kemudian mereka memutuskan untuk mengambil peranan tertentu dalam upaya mengembangkan usaha kecil. Banyaknya pihak yang peduli terhadap tumbuh dan berkembangnya usaha kecil, seperti Pemerintah, Perguruan Tinggi, lembaga-lembaga swasta seperti KADIN dan Koperasi, Asosiasi Pengusaha Kecil merupakan bukti bahwa ternyata tersimpan banyak potensi yang dapat digalang untuk mendorong pertumbuhan sector ini lebih dinamis lagi.

Pengalaman selama ini memperlihatkan bahwa upaya pengembangan usaha kecil masih mengandung banyak kelemahan. Sekalipun ada beberapa program dan intervensi yang telah sering diarahkan bagi pengembangan usaha kecil, tetapi manfaat yang mereka rasakan belum optimal. Terdapat tiga hal pokok yang perlu diperhatikan dalam kebijakan dan program bagi pengembangan usaha kecil.

Pertama, adanya persamaan program untuk beragam jenis usaha kecil yang ada, Kedua, peran pemerintah selama ini belum membuka peluang bagi peningkatan kemampuan usaha kecil. Ketiga, pendekatan pengembangan yang didasarkan pada konsep kelemahan usaha kecil terbukti kurang efektif untk mendorong sector ini berkembang menjadi usaha kecil yang mandiri.
Dalam kaitannya dengan upaya pengembangan usaha kecil, rencana strategis bagi pengembangan usaha kecil sangat dibutuhkan mengingat alasan-alasan berikut :
Usaha kecil harus mampu menanggapi berbagai perubahan pada lingkungannya yang sering tidak dapat diprediksi, pelaksanaan berbagai kebijakan penting untuk mengembangkan usaha kecil ternyata masih mengalami banyak hambatan politis dan structural sehingga hasilnya kurang efektif dan sering tidak menjangkau sasaran.

Permasalahan yang sering dihadapi oleh Usaha Kecil dan Menengah adalah dalam hal : bidang permodalan, bidang pemasaran, bidang bahan baku, bidang tenaga kerja, dan bidang manajemen.

Dari hasil penelitian yang kami lakukan terhadap UMKM Garment di Malang, menunjukkan bahwa :
Bidang keuangan masalah yang paling menonjol adalah kurangnya modal kerja untuk mengembangkan usaha dan terbatasnya akses`ke Bank, Bidang Pemasaran masalah yang paling dominan adalah , Bidang bahan baku masalah yang dominan adalah pembayaran harus tunai, Bidang Tenaga kerja masalah yang dominan adalah sering ganti karyawan dan kesulitan membayar karyawan sesuai dengan UMK, sedangkan bidang manajemen masalah yang paling menonjol adalah kemampuan kewirausahaan yang masih terbatas dan kurang mampu dalam mengantisipasi peluang pasar.

Sri Indrawati, STIE Malangkucecwara Malang

This entry was posted in BISNIS. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>