PENYEBAB PERBEDAAN DALAM ANALISIS

Untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan itu baik atau kurang baik, harus ada pembandingnya. Yang dapat dijadikan pembanding antara lain adalah perusahaan pesaing yang sejenis dan besarnya relative sama.
Perusahaan pesaing yang dijadikan pembanding tersebut meskipun kondisinya relative sama dengan perusahaan yang dibandingkan, tetapi apakah dapat dikatakan bahwa salah satu dari perusahaan tersebut benar-benar lebih baik atau kurang baik daripada yang lain ?
Ada beberapa factor yang dapat menyebabkan nilai perhitungan  rasio kedua perusahaan tersebut berbeda, yaitu :
1.Perbedaan struktur modal yang digunakan.
Misalnya jumlah modal yang digunakan untuk operasional dari kedua perusahaan  sama besarnya yaitu Rp. 500.000.000,- tetapi perusahaan A lebih banyak menggunakan modalnya dari pinjaman dari pada modal sendiri, sedangkan perusahaan B lebih banyak menggunakan modal sendiri daripada pinjaman, perbedaan penggunaan struktur modal ini akan mengakibatkan perbedaan hasil perhitungan  total debt to total assets ratio  dan perhitungan total debt to equity ratio  sehingga analisisnya berbeda.
2.Perbedaan dalam penggunaan metode penilaian persediaan.
Misalnya untuk menilai persediaan sebanyak 10.000 unit, perusahaan A  menggunakan metode FIFO dan perusahaan B menggunakan metode LIFO, maka nilai rupiah dari persediaan sejumlah 10.000 unit tersebut juga berbeda sehingga hasil perhitungan Inventory Turnover dan Days in Inventory dari kedua perusahaan tersebut juga berbeda, hasil analisisnya juga berbeda.
3. Perbedaan kepemilikan mesin.
Misalnya 2 perusahaan tersebut sama- sama menggunakan 4 unit mesin, tetapi perusahaan A semua mesinnya tersebut miliknya sendiri sedangkan perusahaan B semua mesin tersebut dari menyewa, sehingga nilai perkiraan mesin didalam neraca untuk perusahaan A lebih besar dan biaya operasional perusahaan B lebih besar. Akibatnya nilai perhitungan  Fixed Assets Turnover  dari kedua perusahaan tersebut  akan berbeda sehingga analisisnya juga berbeda.
4.Perbedaan system penjualan.
Misalnya 2 perusahaan tersebut menghasilkan penjualan senilai Rp. 500.000.000,- perusahaan A menggunakan system penjualannya 70 % kredit dan 30 % tunai,  sedangkan perusahaan B menggunakan system penjualan 40 % secara kredit dan 60 % tunai. Dari perbedaan ini nilai piutang perusahaan A akan nampak lebih besar daripada perusahaan B, sehingga akan menghasilkan perhitungan Account Receivable Turnover dan hasil perhitungan Days in Account Receivable kedua perusahaan tersebut berbeda , sehingga hasil analisisnya juga berbeda.