PENGELOLAAN KEUANGAN UMKM

Dalam era pasar bebas dimana situasi pasar yang semakin kompetitif serta penuh dengan ketidakpastian, setiap perusahaan akan dihadapan pada persaingan yang semakin ketat. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk dapat melakukan aktivitas yang seefektif dan seefisien mungkin, sehingga perusahaan tesebut dapat meningkatkan daya saingnya dan kelangsungan hidup perusahaan terjamin dalam jangka panjang.

Continue reading “PENGELOLAAN KEUANGAN UMKM”

FAKTOR PENGHAMBAT PERKEMBANGAN USAHA KECIL

Usaha kecil merupakan kegiatan ekonomi yang mendominasi lebih dari 95 % struktur perekonomian Indonesia. Sektor ini memiliki peran yang strategis baik secara ekonomi maupun social politis. Fungsi ekonomi sector ini antara lain menyediakan barang dan jasa bagi konsumen berdaya beli rendah sampai sedang; menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi serta kontributif dalam perolehan devisa Negara.

Continue reading “FAKTOR PENGHAMBAT PERKEMBANGAN USAHA KECIL”

Kewirausahaan salah satu solusi mengatasi pengangguran di Indonesia

Masalah pengangguran merupakan kasus krusial yang menyebabkan lambannya pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Penyebab utama tingginya pengangguran di Indonesia antara lain : kurangnya lapangan kerja, rendahnya jenjang pendidikan yang dicapai masyarakat, minimnya ketrampilan yang dikuasai oleh sumber daya manusia.

Jika melihat data dari 8,32 juta orang pengangguran di Indonesia sampai Agustus 2010, ternyata paling banyak didominasi para lulusan sarjana dan diploma. Hal ini tentu menjadi sangat ironis sekali karena dengan pendidikan yang dimiliki tentunya dapat menjadi modal untuk membangun Negara, bahkan dapat membantu Negara dengan menciptakan lapangan pekerjaan bagi pengangguran bukannya malah ikut serta menambah pengangguran. Oleh sebab itu menanamkan jiwa kewirausahaan kepada masyarakat dapat menjadi solusi untuk mengurangi pengangguran, karena dengan melakukan  kegiatan wirausaha maka dapat menciptakan lapangan pekerjaan sehingga pada akhirnya diharapkan akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Mengapa kewirausahaan ? Setidaknya terdapat 4 alasan mengapa menciptakan sebanyak mungkin enterpreneur di suatu negara memiliki keterkaitan dengan kesejahteraan negara tersebut, yaitu : (1) Solusi bagi dirinya sendiri, karena mereka tidak perlu menganggur dan mereka adalah pencipta kerja bagi dirinya sendiri; (2) solusi bagi sesamanya, karena dari pekerjaan yang mereka ciptakan akan memberikan pekerjaan bagi yang lain; (3) solusi bagi komunitasnya, karena dari daya inovasi kreatifitasnya akan dapat merubah sumber daya menjadi produk yang dibutuhkan masyarakat luas; (4) solusi bagi negara, karena dari hasil karya para enterpreneur negara memperoleh pendapatan melalui pajak yang dibayarkan, dimana hasil pajak ini berguna untuk membiayai pemerintahan dan kelangsungan pembangunan negara ini.

Banyak upaya yang ditempuh pemerintah dan elemen masyarakat lain untuk mendorong tumbuhnya lebih banyak enterpreneurship di Indonesia. Menurut A.B. Susanto, Managing Partner The Jakarta Consulting Group, seseorang enterpreneurship harus memiliki semangat serta kemampuan teknis yang memadai, selain itu juga memiliki kedisiplinan dan kepemimpinan. Dengan kata lain, disamping memiliki pengetahuan serta ketrampilan enterpreneurship, seorang enterpreneur juga harus memiliki kualitas kepemimpinan (leadership) yang baik. Perpaduan ini dapat disebut sebagai leadpreneurship. Orang-orang yang memiliki kualitas leadpreneurship yang tinggi adalah mereka yang mampu untuk mengubah sumber daya yang bernilai rendah menjadi sumber daya yang bernilai tinggi melalui pengambilan resiko yang terukur dan kepemimpinan yang efektif.

Hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah membangun jiwa kewirausahaan dalam diri setiap individu  ?

  • Menyediakan pelatihan tentang kewirausahaan dan pengembangan  manajemen dengan tujuan untuk menyediakan para pengusaha fasilitas sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak.
  • Memberi pelayanan dan bimbingan setelah pelatihan selesai dilakukan untuk membantu pengusaha lama dan baru dalam mengelola bisnis mereka dengan efektif.
  • Menyediakan fasilitas mentor bagi para pengusaha muda dan memberi kesempatan pada mereka untuk berkomunikasi dengan para pemilik bisnis sehingga mereka mampu mengembangkan bisnis mereka.

Menumbuhkan jiwa kewirausahaan tidaklah cukup dengan hanya memberi bantuan berupa material, karena hal itu berarti tidak menumbuhkan jiwa kewirausahaan, mereka hanya akan terbantu pada saat itu saja, tidak berusaha untuk memberdayakan kemampuan mereka sendiri. Keterampilan dan kemampuanlah yang mereka butuhkan.

MENGAPA MEMPERHATIKAN LIKUIDITAS PENTING ?

Setiap usaha pasti harus memperhatikan likuiditas usahanya, mengapa ? Karena dengan mempertahankan  likuiditasnya perusahaan akan tetap mendapat kepercayaan  oleh fihak internal maupun fihak eksternal.
Fihak internal, misalnya  gaji karyawan yang biasanya dibayarkan selalu tepat tanggal 1, kemudian karena likuiditasnya kurang diperhatikan maka gaji karyawan baru diberikan tgl 4 kalau hal ini seringkali terjadi, maka akan mempengaruhi semangat kerja dan produktifitas karyawan.
Sedangkan dampak pada fihak eksternal misalnya Bank atau supplier, apabila terjadi berulangkali  dengan tidak tepat waktu pembayarannya maka akan mempengaruhi kepercayaan dari fihak Bank untuk memberikan pinjaman lagi atau pemasok enggan bekerjasama lagi dengan perusahaan. Continue reading “MENGAPA MEMPERHATIKAN LIKUIDITAS PENTING ?”

PENYEBAB PERBEDAAN DALAM ANALISIS

Untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan itu baik atau kurang baik, harus ada pembandingnya. Yang dapat dijadikan pembanding antara lain adalah perusahaan pesaing yang sejenis dan besarnya relative sama.
Perusahaan pesaing yang dijadikan pembanding tersebut meskipun kondisinya relative sama dengan perusahaan yang dibandingkan, tetapi apakah dapat dikatakan bahwa salah satu dari perusahaan tersebut benar-benar lebih baik atau kurang baik daripada yang lain ?
Ada beberapa factor yang dapat menyebabkan nilai perhitungan  rasio kedua perusahaan tersebut berbeda, yaitu :
1.Perbedaan struktur modal yang digunakan.
Misalnya jumlah modal yang digunakan untuk operasional dari kedua perusahaan  sama besarnya yaitu Rp. 500.000.000,- tetapi perusahaan A lebih banyak menggunakan modalnya dari pinjaman dari pada modal sendiri, sedangkan perusahaan B lebih banyak menggunakan modal sendiri daripada pinjaman, perbedaan penggunaan struktur modal ini akan mengakibatkan perbedaan hasil perhitungan  total debt to total assets ratio  dan perhitungan total debt to equity ratio  sehingga analisisnya berbeda.
2.Perbedaan dalam penggunaan metode penilaian persediaan.
Misalnya untuk menilai persediaan sebanyak 10.000 unit, perusahaan A  menggunakan metode FIFO dan perusahaan B menggunakan metode LIFO, maka nilai rupiah dari persediaan sejumlah 10.000 unit tersebut juga berbeda sehingga hasil perhitungan Inventory Turnover dan Days in Inventory dari kedua perusahaan tersebut juga berbeda, hasil analisisnya juga berbeda.
3. Perbedaan kepemilikan mesin.
Misalnya 2 perusahaan tersebut sama- sama menggunakan 4 unit mesin, tetapi perusahaan A semua mesinnya tersebut miliknya sendiri sedangkan perusahaan B semua mesin tersebut dari menyewa, sehingga nilai perkiraan mesin didalam neraca untuk perusahaan A lebih besar dan biaya operasional perusahaan B lebih besar. Akibatnya nilai perhitungan  Fixed Assets Turnover  dari kedua perusahaan tersebut  akan berbeda sehingga analisisnya juga berbeda.
4.Perbedaan system penjualan.
Misalnya 2 perusahaan tersebut menghasilkan penjualan senilai Rp. 500.000.000,- perusahaan A menggunakan system penjualannya 70 % kredit dan 30 % tunai,  sedangkan perusahaan B menggunakan system penjualan 40 % secara kredit dan 60 % tunai. Dari perbedaan ini nilai piutang perusahaan A akan nampak lebih besar daripada perusahaan B, sehingga akan menghasilkan perhitungan Account Receivable Turnover dan hasil perhitungan Days in Account Receivable kedua perusahaan tersebut berbeda , sehingga hasil analisisnya juga berbeda.

MENANGKAP PELUANG USAHA

MENANGKAP PELUANG USAHA
Oleh :
SRI INDRAWATI
STIE MALANGKUCECWARA MALANG

Kadang kita berfikir enaknya punya usaha apa ya ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebetulnya kita bisa mempunyai usaha dengan melihat peluang :
1. Ditempat tersebut banyak terdapat bahan yang dapat diolah menjadi suatu barang lain  yang mempunyai nilai tambah.
Misalnya : disuatu daerah tertentu banyak menghasilkan pisang dan ketela pohon. Masyarakat didaerah tersebut biasanya langsung menjual barang tersebut tanpa diolah lagi menjadi barang lain dengan harga yang murah. Kita melihat hal tersebut dapat mempunyai ide bagaimana kalau pisang tersebut diolah menjadi kripik pisang, pisang sale atau getuk pisang. Dengan adanya nilai tambah dari barang tersebut akan dapat meningkatkan harga dan pendapatan dari masyarakat tersebut.
2. Mempunyai hobby tertentu.
Hobby seseorang dapat dijadikan suatu usaha, selain dapat menyalurkan hobbynya juga dapat dijadikan suatu usaha yang menghasilkan pendapatan.
Misalnya yang mempunyai hobby menyanyi membuka kursus vocal atau tempat karaoke, mempunyai hobby memasak dapat membuka depot atau rumah makan.
3. Melihat peluang kebutuhkan masyarakat.
Karena saat ini sulit mencari pembantu rumah tangga dan sekarang kebanyakan ibu-ibu banyak yang bekerja sehingga kesulitan dalam mengurus putranya, maka hal tersebut dapat menjadi peluang untuk membuka usaha penitipan anak.
4. Barang tersebut saat ini lagi ngetrend.
Misalnya saat ini lagi demam main playstation, maka kita bisa membuka usaha persewaan playstation atau menjual CD dari playstation. Kalau saat ini sedang musim main game on line lewat internet, maka dapat membuka usaha warnet.

MENILAI KESEHATAN PERUSAHAAN

MENGANALISIS KESEHATAN PRUSAHAAN
Setiap perusahaan yang didirikan pasti mempunyai tujuan perusahaan tersebut dapat menghasilkan keuntungan, berkembang dan sehat. Tetapi dalam kenyataannya meskipun perusahaan dapat menghasilkan keuntungan apakah perusahaan tersebut pasti sehat ? untuk itu perlu dianalisis apakah perusahaan yang menghasilkan keuntungan dan nampak berkembang tersebut dalam keadaan sehat.
Suatu perusahaan dapat berada pada salah satu keadaan, dimana (1) perusahaan dalam keadaan likwid dan solvable; (2) likwid tapi insolvable ; (3) illikwid tapi solvable dan (4) illikwid dan insolvable. Apabila dijelaskan masing-masing keadaan diatas bahwa perusahaan yang likwid dan solvable adalah keadaan perusahaan yang tidak mengalami kesulitan keuangan dan perusahaan dalam keadaan sehat, sedangkan keadaan yang likwid tapi insolvable adalah keadaan dimana perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan tetapi dalam keadaan tidak sehat. Untuk keadaan perusahaan yang illikwid tetapi solvable adalah keadaan dimana perusahaan dalam kesulitan keuangan tetapi masih dalam keadaan sehat, sedangkan keadaan yang illikwid dan solvable adalah keadaan dimana perusahaan dalam keadaan kesulitan keuangan dan juga tidak sehat.
Diantara 4 keadaan tersebut yang paling baik adalah keadaan yang pertama yaitu keadaan yang likwid dan solvable (sehat), yang paling tidak baik adalah keadaan ke 4 yaitu keadaan yang illkwid dan insolvable (tidak sehat atau bangkrut) , diantara nomor 2 dan 3 (kondisi rawan) meskipun kurang baik tetapi keadaan mana yang masih lebih baik . Diantara nomor 2 dan 3 tersebut, keadaan yang masih lebih baik adalah keadaan nomor 2 yaitu keadaan yang likwid tapi insolvable, karena kalau pada saat jangka pendek perusahaan bisa membayar semua kwajiban keuangannya tetapi jangka panjang kesulitan keuangan, masih dapat memperbaiki struktur keuangannya dengan menambah modal sendiri atau pinjaman karena masih dipercaya oleh fihak ketiga, tetapi kalau keadaan yang ke 3 yaitu keadaan yang illikwid tetapi solvable , dalam jangka pendek perusahaan kesulitan memenuhi kwajiban keuangannya tetapi jangka panjang tidak ada masalah keuangan. Kalau jangka pendek sudah kesulitan memenuhi kwajiban keuangannya perusahaan akan kehilangan kepercayaan dari fihakinternal maupun eksternal perusahaan terutama bank , sehingga kalau membutuhkan tambahan modal dari pinjaman akan sulit terpenuhi, dan untuk fihak internal perusahaan dampaknya akan menurunkan semangat kerja.
Teknik analisis untuk mengetahui perusahaan berada pada keadaan yang mana, ada teknik yang dikembangkan oleh Altman yang dapat digunakan untuk menilai kesehatan suatu perusahaan adalah Z-Score. Adapun penggunaan rumus Z-Score tersebut tergantung dari perusahaan tersebut apakah sudah go public atau belum go public karena rumus yang digunakan berbeda.
Untuk perusahaan Go Public : Z –Score = 1,2 X1 + 1,4 X2 + 3,3 X3 + 0,6 X4 + 1,0 X5
Dimana :
X1 = (Aktiva Lancar – Hutang Lancar) : Total Aktiva
X2 = Laba Ditahan : Total aktiva
X3= Laba Sebelum Bunga dan Pajak : Total aktiva
X4= Nilai Pasar Modal Saham : Nilai Buku Hutang
X5= Penjualan : Total Aktiva
Dari rumus tersebut disimpulkan bahwa perusahaan dikatakan sehat apabila nilai Z lebih besar dari 2,99, sedangkan dikatakan rawan apabila hasil Z diantara 1,81 dengan 2,99 dan dikatakan tidak sehat atau bangkrut apabila nilai Z lebih kecil dari 1,81.
Untuk Perusahaan yang tidak go public dan go public : Z = 0,717 X1 + 0,847 X2 + 3,107 X3 + 0,42 X4 + 0,998 X5
Dari rumus tersebut disimpulkan bahwa perusahaan dikatakan sehat apabila nilai Z lebih besar dari 2,90, sedangkan dikatakan rawan apabila hasil Z diantara 1,20 dengan 2,90 dan dikatakan tidak sehat atau bangkrut apabila nilai Z lebih kecil dari 1,20.

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN SEBAGAI INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA DAN PROSPEK PERUSAHAAN

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN SEBAGAI INSTRUMEN
PENILAIAN KINERJA KEUANGAN SERTA PROSPEK PERUSAHAAN

Perusahaan mempunyai tujuan utama, yaitu: meningkatkan kesejahteraan bagi pemilik (pemegang saham) perusahaan, atau meningkatkan harta pemilik perusahaan. Untuk mencapainya, dilakukan melalui kegiatan usaha, sedangkan kegiatan usaha perusahaan, mempunyai tujuan utama, yaitu: memperoleh keuntungan maksimum.
Untuk mengetahui tingkat pencapain tujuan perusahaan waktu yang lalu, prospek perusahaan waktu yang akan datang, serta beberapa permasalahan dan hambatan perusahaan, maka secara periodic perusahaan melakukan pengukuran kinerja yang telah dicapai atau diperoleh, dengan menggunakan instrument, yaitu: Analisis Laporan Keuangan.
Penilaian kinerja keuangan dilakukan melalui analisis laporan keuangan, untuk itu diperlukan pengukuran kinerja keuangan perusahaan agar perusahaan dapat mengetahui pemanfaatan sumber daya yang dimiliki serta untuk mengetahui apakah perusahaan berkembang , bertahan atau mengalami kegagalan. Untuk mengetahui kinerja keuangan suatu perusahaan, ada beberapa teknik dalam melakukan analisis terhadap laporan keuangan yang biasa dipergunakan oleh perusahaan diantaranya : Analisis perbandingan (Comparative Analysis), Analisis prosentase per-komponen (Commonsize Analysis), Analisis Trend, Analisis Rasio (Rasio Likuiditas Jangka Pendek (Short-term Liquidity Analysis), Rasio Kinerja Operasi (Operating Performance Ratio), Rasio Pemanfaatan Aktiva (Assets`Utilization ratio), Rasio Struktur Modal (Capital Structure Ratio), Analisis aliran Dana.
Analisis Perbandingan dipergunakan untuk mengetahui perubahan masing-masing unsur laporan keuangan selama 2 atau 3 periode. Apakah menunjukkan perubahan yang menguntungkan atau perubahan yang kurang menguntungkan.
Analisis prosentase per-komponen dipergunakan untuk mengetahui komposisi unsur-unsur laporan keuangan dalam suatu periode yang dinyatakan dengan nilai relative (%). Suatu neraca yang disusun dalam prosentase per-komponen dapat memberikan informasi tentang komposisi investasi (aktiva) suatu perusahaan dapat memberikan gambaran tentang posisi relative aktiva lancar terhadap aktiva tak lancar, struktur modal (komposisi pasiva), dapat memberikan gambaran mengenai posisi relative hutang perusahaan terhadap modal sendiri.
Laporan Laba Rugi yang disusun dalam prosentase per-komponen (Commonsize percentage) dapat menggambarkan distribusi/alokasi setiap Rp 1,00 penjualan kepada masing-masing elemen biaya dan laba. Sementara apabila disusun secara komparatif, dapat menggambarkan perubahan distribusi tersebut.
Analisis Trend dipergunakan untuk mengetahui perkembangan masing-masing unsur laporan keuangan dalam beberapa periode. Dengan menganalisis laporan keuangan untuk jangka waktu lebih dari 3 tahun akan diketahui kecenderungan atau arah atau trend dari posisi keuangan maupun hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan apakah menunjukkan arah yang tetap, meningkat atau bahkan menurun.
Analisis rasio likuiditas jangka pendek dipergunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya. Adapun rasio yang dapat digunakan untuk menganalisis adalah Working Capital Ratio, Current Ratio, Quick Ratio, Inventory Turnover, Days in Inventory, Account Receivable Turnover, Days in Account Receivable, Account Payable Turnover, Days in Account payable.
Rasio Kinerja Operasi (Operating Performance Ratio) dipergunakan untuk mengetahui kemampulabaan atau kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba melalui pendapatan yang diterima perusahaan dari aktivitas operasinya pada suatu periode tertentu. Adapun rasio yang digunakan untuk analisis adalah Gross Profit Margin, Operating Profit Margin, Net Profit Margin, Rasio Harga Pokok Penjualan terhadap penjualan dan biaya usaha terhadap penjualan dan Earning Per Share.
Rasio Pemanfaatan Aktiva (Assets Utilization Ratio). Rasio ini dipergunakan untuk mengukur efisiensi dan efektivitas pemanfaatan aktiva dalam rangka memperoleh penghasilan tersebut. Adapun rasio yang dapat digunakan untuk analisis adalah Total Assets Turnover, Working Capital Turnover, Fixed Assets Turnover, Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE).
Rasio Struktur Modal dipergunakan untuk mengetahui perimbangan sumber dana jangka panjang yang dimiliki perusahaan, antara Hutang Jangka Panjang dengan Modal Sendiri. Dapat juga dikatakan bahwa Struktur Modal adalah perimbangan Total Hutang Jangka Panjang terhadap Total Ekuitas. Beberapa rasio yang dipergunakan untuk mengukur struktur modal adalah: Total Debt to Total Capital , Total Debt to Total Equity, Long-term Debt to Total Capital, Long-term Debt to Total Equity
Adapun mekanisme Analisis Keuangan adalah : menyiapkan Laporan Keuangan, Menghitung dan menganalisis Laporan Keuangan, Menterjemahkan atau mengartikan hasil perhitungan dan pengambilan keputusan atau implementasi manajemen.