e-Commerce

Cybercrime #1; Bobol Uang
Dunia Bisnis berkembang luar biasa dalam 15 tahun terakhir dengan adanya internet. Suatu usaha untuk mencapai sukses besar biasanya membutuhkan waktu diatas 10 tahun; dengan adanya internet suatu usaha bias mem-bypass proses yang sebelumbya dilakukan secara tradisional sekarang dilakukan dengan system yang canggih melalui internet. Tetapi, dengan kemudahan serta kecanggihan teknologi, ada sisi negative yang bisa jadi belum terbayangkan oleh sebagian besar pelaku internet bisnis. Salah satu sisi negative ini adalah “Cybercrime” atau kejahatan di dunia cyber / dunia maya.
Ada sangat banyak jenis cybercrime yang telah beredar. Beberapa pihak telah dirugikan dengan adanya cybercrime ini walaupun pelaku cybercrime mendapatkan keuntungan besar.
Salah satu Cybercrime yang cukup tua dan dilakukan sejak awal adanya e-commerce adalah “Bobol Uang” melalui internet.
Terungkap Beberapa kasus Bobol Uang sebagai cycercrime awal di dunia.
Kasus Pertama.
Pada tahun 1982 telah terjadi penggelapan uang di bank melalui komputer sebagaimana diberitakan “Suara Pembaharuan” edisi 10 Januari 1991 tentang dua orang mahasiswa yang membobol uang dari sebuah bank swasta di Jakarta sebanyak Rp. 372.100.000,00 dengan menggunakan sarana komputer. Perkembangan lebih lanjut dari teknologi komputer adalah berupa computer network yang kemudian melahirkan suatu ruang komunikasi dan informasi global yang dikenal dengan internet.

Pada kasus tersebut, kasus ini modusnya adalah murni criminal, kejahatan jenis ini biasanya menggunakan internet hanya sebagai sarana kejahatan.

Penyelesaiannya, karena kejahatan ini termasuk penggelapan uang pada bank dengan menggunaka komputer sebagai alat melakukan kejahatan. Sesuai dengan undang-undang yang ada di Indonesia maka, orang tersebut diancam dengan pasal 362 KUHP atau Pasal 378 KUHP, tergantung dari modus perbuatan yang dilakukannya.

Kasus Kedua.
Pada pertengahan Mei lalu, publik dihebohkan tertangkapnya sindikat pembobol kartu kredit yang kerap membobol uang korbanya dengan perantara teknologi. Ditaksir sindikat pelaku pembobol ini berhasil meraup uang sebesar Rp 4 miliar lebih.

Kasus Ketiga
Carding, salah satu jenis cyber crime yang terjadi di Bandung sekitar Tahun 2003. Carding merupakan kejahatan yang dilakukan untuk mencuri nomor kartu kredit milik orang lain dan digunakan dalam transaksi perdagangan di internet. Para pelaku yang kebanyakan remaja tanggung dan mahasiswa ini, digerebek aparat kepolisian setelah beberapa kali berhasil melakukan transaksi di internet menggunakan kartu kredit orang lain. Para pelaku, rata-rata beroperasi dari warnet-warnet yang tersebar di kota Bandung. Mereka biasa bertransaksi dengan menggunakan nomor kartu kredit yang mereka peroleh dari beberapa situs. Namun lagi-lagi, para petugas kepolisian ini menolak menyebutkan situs yang dipergunakan dengan alasan masih dalam penyelidikan lebih lanjut.
Modus kejahatan ini adalah pencurian, karena pelaku memakai kartu kredit orang lain untuk mencari barang yang mereka inginkan di situs lelang barang. Karena kejahatan yang mereka lakukan, mereka akan dibidik dengan pelanggaran Pasal 378 KUHP tentang penipuan, Pasal 363 tentang Pencurian dan Pasal 263 tentang Pemalsuan Identitas.

Kasus Keempat
Komplotan hacker berhasil membobol dua bank di Timur Tengah senilai US$45 juta dengan melakukan penarikan ATM di 27 negara. Para peretas ini melakukannya dalam waktu 10 jam dengan 36 ribu transaksi.

Dikutip dari Reuters, Minggu 12 Mei 2013, Departemen Kehakiman AS mengungkapkan aksi tersebut diotaki oleh delapan orang. Penegak hukum AS telah menangkap tujuh sedangkan satu lagi, dilaporkan telah tewas dibunuh di Republik Dominika pada 27 April lalu.

Jaksa AS menyatakan serangan cyber crime tersebut hanya berlangsung satu kali dengan waktu 10 jam, menggasak lebih US$40 juta dengan koordinasi yang rapi di 27 negara yang melibatkan 36 ribu transaksi.

Keempat kasus ini menunjukkan bahwa cybercrime semakin canggih dan pelaku semakin cerdik dalam menjalankan aksinya. E-commerce yang seharusnya menjadi peluang bagi para pebisnis pemula maupun yang sudah professional, menjadi sebuah sisi pertumbuhan bisnis yang menakutkan. Sebagian calon pembeli membatalkan transaksi dengan pengusaha melalui e-commerce karena khawatir dengan cybercrime. Sebagian website menjadi sangat sepi pembeli karena pengunjung khawatir bertransaksi di internet karena mendapat informasi cybercrime.
Kejahatan ada di dunia nyata maupun dunia maya. Di dunia nyata, walaupun kejahatan merajalela dimana-mana tetap saja ada usaha yang sangat berhasil. Begitu juga di dunia maya, dengan kehati-hatian dan sikap professional didukung dengan attitude yang positive, sangat banyak yang Berjaya dengan bisnis di internet.