e-Commerce

Cybercrime #1; Bobol Uang
Dunia Bisnis berkembang luar biasa dalam 15 tahun terakhir dengan adanya internet. Suatu usaha untuk mencapai sukses besar biasanya membutuhkan waktu diatas 10 tahun; dengan adanya internet suatu usaha bias mem-bypass proses yang sebelumbya dilakukan secara tradisional sekarang dilakukan dengan system yang canggih melalui internet. Tetapi, dengan kemudahan serta kecanggihan teknologi, ada sisi negative yang bisa jadi belum terbayangkan oleh sebagian besar pelaku internet bisnis. Salah satu sisi negative ini adalah “Cybercrime” atau kejahatan di dunia cyber / dunia maya.
Ada sangat banyak jenis cybercrime yang telah beredar. Beberapa pihak telah dirugikan dengan adanya cybercrime ini walaupun pelaku cybercrime mendapatkan keuntungan besar.
Salah satu Cybercrime yang cukup tua dan dilakukan sejak awal adanya e-commerce adalah “Bobol Uang” melalui internet.
Terungkap Beberapa kasus Bobol Uang sebagai cycercrime awal di dunia.
Kasus Pertama.
Pada tahun 1982 telah terjadi penggelapan uang di bank melalui komputer sebagaimana diberitakan “Suara Pembaharuan” edisi 10 Januari 1991 tentang dua orang mahasiswa yang membobol uang dari sebuah bank swasta di Jakarta sebanyak Rp. 372.100.000,00 dengan menggunakan sarana komputer. Perkembangan lebih lanjut dari teknologi komputer adalah berupa computer network yang kemudian melahirkan suatu ruang komunikasi dan informasi global yang dikenal dengan internet.

Pada kasus tersebut, kasus ini modusnya adalah murni criminal, kejahatan jenis ini biasanya menggunakan internet hanya sebagai sarana kejahatan.

Penyelesaiannya, karena kejahatan ini termasuk penggelapan uang pada bank dengan menggunaka komputer sebagai alat melakukan kejahatan. Sesuai dengan undang-undang yang ada di Indonesia maka, orang tersebut diancam dengan pasal 362 KUHP atau Pasal 378 KUHP, tergantung dari modus perbuatan yang dilakukannya.

Kasus Kedua.
Pada pertengahan Mei lalu, publik dihebohkan tertangkapnya sindikat pembobol kartu kredit yang kerap membobol uang korbanya dengan perantara teknologi. Ditaksir sindikat pelaku pembobol ini berhasil meraup uang sebesar Rp 4 miliar lebih.

Kasus Ketiga
Carding, salah satu jenis cyber crime yang terjadi di Bandung sekitar Tahun 2003. Carding merupakan kejahatan yang dilakukan untuk mencuri nomor kartu kredit milik orang lain dan digunakan dalam transaksi perdagangan di internet. Para pelaku yang kebanyakan remaja tanggung dan mahasiswa ini, digerebek aparat kepolisian setelah beberapa kali berhasil melakukan transaksi di internet menggunakan kartu kredit orang lain. Para pelaku, rata-rata beroperasi dari warnet-warnet yang tersebar di kota Bandung. Mereka biasa bertransaksi dengan menggunakan nomor kartu kredit yang mereka peroleh dari beberapa situs. Namun lagi-lagi, para petugas kepolisian ini menolak menyebutkan situs yang dipergunakan dengan alasan masih dalam penyelidikan lebih lanjut.
Modus kejahatan ini adalah pencurian, karena pelaku memakai kartu kredit orang lain untuk mencari barang yang mereka inginkan di situs lelang barang. Karena kejahatan yang mereka lakukan, mereka akan dibidik dengan pelanggaran Pasal 378 KUHP tentang penipuan, Pasal 363 tentang Pencurian dan Pasal 263 tentang Pemalsuan Identitas.

Kasus Keempat
Komplotan hacker berhasil membobol dua bank di Timur Tengah senilai US$45 juta dengan melakukan penarikan ATM di 27 negara. Para peretas ini melakukannya dalam waktu 10 jam dengan 36 ribu transaksi.

Dikutip dari Reuters, Minggu 12 Mei 2013, Departemen Kehakiman AS mengungkapkan aksi tersebut diotaki oleh delapan orang. Penegak hukum AS telah menangkap tujuh sedangkan satu lagi, dilaporkan telah tewas dibunuh di Republik Dominika pada 27 April lalu.

Jaksa AS menyatakan serangan cyber crime tersebut hanya berlangsung satu kali dengan waktu 10 jam, menggasak lebih US$40 juta dengan koordinasi yang rapi di 27 negara yang melibatkan 36 ribu transaksi.

Keempat kasus ini menunjukkan bahwa cybercrime semakin canggih dan pelaku semakin cerdik dalam menjalankan aksinya. E-commerce yang seharusnya menjadi peluang bagi para pebisnis pemula maupun yang sudah professional, menjadi sebuah sisi pertumbuhan bisnis yang menakutkan. Sebagian calon pembeli membatalkan transaksi dengan pengusaha melalui e-commerce karena khawatir dengan cybercrime. Sebagian website menjadi sangat sepi pembeli karena pengunjung khawatir bertransaksi di internet karena mendapat informasi cybercrime.
Kejahatan ada di dunia nyata maupun dunia maya. Di dunia nyata, walaupun kejahatan merajalela dimana-mana tetap saja ada usaha yang sangat berhasil. Begitu juga di dunia maya, dengan kehati-hatian dan sikap professional didukung dengan attitude yang positive, sangat banyak yang Berjaya dengan bisnis di internet.

Giving Power… an Attitude Mind

Mabrur Sebelum Berhaji (Kisah nyata yang sangat mengharukan)

Seorang Asep Sudrajat (61 tahun) bersama Asih, istrinya mewakili seorang yang mabrur sebelum berhaji, insya Allah. Hampir selama 20 tahun mereka menabung demi mewujudkan cita-cita mulia. Memenuhi panggilan Allah menuju tanah suci Mekah Al Mukarramah. Niat yang kuat dibuktikan dengan usaha sungguh-sungguh. Mengumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil warung kecil mereka yang seadanya.

Rp 50. 830. 000 terkumpul sudah. Hampir mencukupi untuk ongkos haji yang 27 juta rupiah per orang, ketika itu. Hanya perlu menambah sedikit agar benar-benar pas. Menabung satu tahun lagi barangkali tercukupi.

Niat sudah lengkap. Tekad sudah bulat. Mereka akan segera mendaftar di hari-hari depan. Hari-hari berikutnya mereka semakin giat berdagang. Menyisahkan hasil meski kecil. Hingga suatu pagi

Patience… an Attitude Behaviour

The Power Of Patience…
Sabar, Sabar, Sabar…

Ini cerita yang saya baca beberapa bulan yang lalu, yang kemudian saya share-kan dengan beberapa komunitas yang semoga bermanfaat untuk menambah amunisi kesabaran kita…

Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan bayak kisah. Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika. Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit hitam yang juga kerja di Hotel ini.Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja. Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum bisa ramah dikulit saya.
Hari itu Ammar tidak terlihat. Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya. ”Oh kamu tidak tahu?” Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur dengan logat urdhu yang pekat.
“Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?” Jawab saya. Selepas itu, tanpa saya duga iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar. Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu. Saya mendengarkan dengan seksama.
Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004 lalu. Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini.
Saudi arabia memang memberikan free visa untuk Negara Negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket.
Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya.
Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan. Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat…
Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir.. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana Kota yang garang. Tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.
Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.
Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia. Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..
Amar seperti terjerat di belantara Kota ini. Pulang ke suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu tekadnya.
Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.
Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.
Tapi Ammar pun Manusia. Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah.
Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan. Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.
Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang. Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepad
teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya ia memberinya sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan.
Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.
Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.
Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan.
Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.
Adzan dzuhur bergema.. Semua Toko Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai.
Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu.. memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air.
Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.
Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.
Shalat telah selesai. Ammar masih bingung untuk memulai langkah. Penerbangan masih seminggu lagi.
Ia diam.
Dilihatnya beberapa mushaf al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.
Selepas Maghrib ia masih disana. Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.
Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya. Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu. Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota.
Adzannya memang khas. Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana.
Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh. Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya.
Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.
Amar sudah duduk diruang tunggu dibandara, Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya. Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.
Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam
keluarga dan ayah buat anak anaknya. Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil manggil namanya.Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya.
Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata ”Prince memanggilmu”. Ammarpun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince. Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini. Mereka memilii Palace atau Istana masing masing.
Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan.
Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil.. Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke Negerinya.
Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince. Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan.
Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya.
Prince mengangguk nganguk dan bertanya: “Berapakah gajihmu dalam satu bulan?” Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji dinegeri ini.
Prince memakluminya. Beliau bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapati?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: “Hanya SR 1.400″, jawab Ammar.
Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang. 1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Amar.
Tubuh Amar bergetar melihat keajaiban dihadapannya. Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah, Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata: ”Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah Bilall dimasjidku.. dan hiduplah bersama kami di Palace ini”
Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya. Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.
Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak. Semua berubah dalam sekejap!
Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah. Nothing Imposible for Allah, Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah..
Bumi inipun Milik Allah,..
Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan Nya.
Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan. Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang bak, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Imama

Workplace Spirituality

Workplace Spirituality

Dua kalimat ini seolah-olah sangat aneh, sangat incompatible, sangat out of place. Selama ini sebuah organisasi cenderung sangat rasional, sangat mengedepankan logika dan sangat mengikuti ‘rules’ of management. Beberapa tahun terakhir ini berkembang pesat ketertarikan pada ‘spirituality at work’ pada karyawan di semua level organisasi.
Apa sebetunya Workplace Spirituality?
Workplace Spirituality bukanlah meng-organize acara keagamaan. Juga bukan organisasi yang mempunyai produk-produk religi. Tetapi, Workplace Spirituality lebih pada pengenalan terhadap ‘inner life’ yang lebih jauh memperkuat keyakinan dalam dunia kerja dan kemasyarakatan. Banyak sekali karyawan yang sedang mencari makna hidup, tujuan hidup dan rasa ketehubungan (sense of connectedness) antara pekerjaan mereka dan dunia kerja mereka.
Workplace Spirituality muncul sebagai trend baru di dunia organisasi. Masyarkat sedang mencari pemahaman mendalam tentang siapa mereka dan mengapa mereka ada di bumi ini? Mereka menginginkan sesuatu yang lebih dalam kehidupan mereka dari hanya sekedar rutinitas kerja dan rutinitas gaji untuk kehidupan mereka. Mereka ingin sekali merasakan makna lain dalam kehidupan, serta merasakan bahwa mereka adalah hanya bagian kecil dari kehidupan ini. Sejak perasaan-perasaan tentang pencarian makna, sense of connectedness dan pemenuhan akan perasaan ini datang bukan dari linhkungan keluarga, atau komunitas terdekat, mereka banyak mencari dan (mungkin) mendapatkannya justru dari tempat kerja dimana mereka melewati waktu yang sangat panjang di dunia kerja dalam sehari. Disamping itu, faktor lain penyebab munculnya workplace spirituality adalah semakin meningkatnua uncertainty atau ketidakpastian organisasi. Ketidakpastian menyebabkan kepanikan, ketakutan bahkan ketegangan. Dengan Spirituality at Work Practices – dengan cara yang bermacam-macam sesuatu keyakinan dan kondisi masing-masing, akan membuat karyawan mempunyai perasaan lebih tenang (sense of calm), perasaan memiliki (belonging), perasaan keterhubungan (connectedness), perasaan terpenuhi (fullfilment), dan perasaan bermakna (meaning).
Jika Workplace Spirituality begitu powerfulnyaa membuat seseorang mempunyai perasaan-perasaan di atas…, lalu apa pengaruhnya untuk manager? Apa pengaruhnya terhadap organisasi? Apakah Workplace Spirituality hanya sebuah trend seperti tren fashion yang ceoat sekali berganti mode? Sangat sulit menjawab pertanyaan ini. Tetapi, research studies telah melihat bahwa ada hubungan antara workplace spirituality dengan produktivitas. Salah satu studi mengungkapkan bahwa ketika sebuah perusahaan menerapkan program dengan spiritual teknik, ternyata produktivitas karyawan meningkat, dan turnover karyawan menurun secara signifikan. Studi lain menunjukkan bahwa penerapan workplace spirituality dapat mengurangi tingkat ketakutan atau stress karyawan, karwayan juga lebih memiliki ‘nilai’, serta mampu berkomitmen pada pekerjaannya.

Imama

Millionaire Training

Millionaire Training

Terinspirasi dari motivator terkenal Indonesia, Bapak Khrishnamurti yang sharing di facebook kalau beliau ke Australia mengikuti training Millionaire Mind oleh Harv Eker, yang katanya harus merogoh dompet dalam-dalam, karena bayar trainingya sekitar 100 juta. Karena penasaran, saya browse di internet tentang millionaire mind ini & saya pelajari apa inti konsepnya.
Eker mengatakan ‘How your Money Blueprint determines your feelings around money. Blueprint Keuangan kita menentukan perasaan kita tentang uang.
Dalam kehidupan kita, ternyata ‘invisible that creates what is visible’. Coba lihat sebuah pohon. Hasil dari pohon tersebut adalah Buah-buahan. Dalam kehidupan kita, buah identik dengan HASIL. Berkali-kali Eker mengatakan bahwa It’s What’s Invisible that Creates What’s Visible.
Apa maknanya?
Kita hidup paling tidak dalam empat dunia yang berbeda sekaligus, yaitu Mental World (M), Emotional World (E), Spiritual World (S) dan Physical World (P). Ternyata, Eker mengungkapkan bahwa “The Physicals are the printout of the other 3 areas”. Maksudnya, apa yang ada dalam diri kita, apa yang kta miliki, semuanya merupakan printout dari tiga dunia lainnya; yaitu olahan dari Mental kita, dari Emotional kita, dan dari Spiritual kita. Jika kita bayangkan hasil cetak itu sebuah hasil dari printout, maka banyak hal yang harus dilakukan sebelum kita memutuskan untuk nge-print hasil olahan kita di computer. Bayangkanlah aktivitas yang biasanya dilakukan sebelum kita ngeprint sesuatu..
Seperti itulah juga berlaku dalam kehidupan kita. Kita harus olah dulu apa yang akan kita print.
M (Mental World),E (Emotional World), dan S (Spiritual World) merupakan sisi-sisi Invisible yang harus kita olah secara serius untuk menghasilkan sesauatu yang Visible. Tidak akan ada yang terjadi sebelum melalui area M,E,S.
Kekayaan, kemakmuram, kesehatan, sakit – semua adalah ‘Result’ atau Hasil yang diinginkan mayoritas manusia di seluruh dunia. Semuanya di-create melalui Invisible area.
Salah satu deklarasi yang Eker sampaikan adalah “My inner World creates my Outer World”.  Apa yang ada di dalam diri kita akan membentuk apa dunia kita. Jika ingin Dunia kita baik, maka yang harus diolah terlebih dahulu adalah dunia internal kita.
Inilah sedikit sharing dari materi Harv Eker tentang Millionaire Training.

Imama

Jika uang di seluruh dunia dibagi rata…

Ada penelitian yang membuka mata banyak orang, menurut Marshal Silver, pengarang buku Passion, Profit & Power, ternyaata 1% orang di dunia ini menguasai 50% uang yang beredar di dunia. Ternyata juga, 5% orang bisa menguasai 90% uang yang beredar.

Di salah satu artikel di internet (alamat web : http://www.mybudget360.com) juga menjelaskan bahwa 1% orang mengontrol 42% uang yang ada.

Dari data ini, tergelitik di pikiran kita, bagaimana kita bisa menjadi yang minoritas itu ya?

Proporsi ini (5% orang kuasai 90%) hampir terjadi sepanjang masa. Dan, bahkan,menurut prediksi Marshal Silver,  jika uang yang ada di seluruh dunia dibagi rata, dalam waktu lebih kurang lima tahun, komposisi akan kembali seperti semula (1% orang kuasai 50% dan 5% orang kuasai 90%). Kok bisa ya? Jawabannya ternyata ada pada MINDSET orang yang terima uang. Akan diapakan uang yang diterimanya?

Sebelum lebih jauh…, yuk kita prediksi, kalau uang di seluruh dunia dibagi rata dimana hampir setiap orang akan dapat jatah uang yang sama persis…, berapakah yang akan diterima masing-masing orang di seluruh dunia?

It’s Your Job to Keep Your Window Clean!

Attitude is Internally Controllable !

Encouragement, support atau apapun namanya…, saya bisa kasih. Orang lainpun bisa kasih back up & support kita. Tapi pada akhirnya,tak ada seorangpun yang dapat melakukannya untuk kita kecuali kita sendiri. Seperti di artikel sebelumnya : “The door can only be open from the inside”.

Kita selalu punya pilihan. Kita bisa aja membiarkan kotoran, sampah atau apapun nempel pada jendela attitude kita & kita tetap bisa melihat keluar jendela kan? Tetapi, konsekuensinya yang kita lihat ke luar jendela hanya sebagian saja atau yang bisa kita lihat keluar tidak seluas yang bisa kita lihat jika jendela itu bersih & jernih. Dalam kehidupan, apa yang sesungguhnya bisa kita capai jadi tidak mudah dicapai karena kotornya jendela attitude kita.

Ketika kita memilih untuk me-remove semua kotoran dan membersihkan jendela kita, hidup akan lebih terang, bersinar; lebih menyehatkan & membahagiakan. Bahkan kita bisa punya new goals.. and begin to achieve the goals; punya semangat dan spirit baru. Bukankah itu yang kita rasakan kalau kita berada pada suatu tempat yang indah, bersih, tenang. Cobalah sekali waktu masuk ke hotel berbintang***** (bintang 5)… Melihat suasana nyaman, bersih, rapi, mewah seakan-akan membawa kerapian, kebersihan, kenyamanan dalam jiwa kita. Atau ke tempat-tempat lain yang memberikan ‘kenyamanan, kedamaian’ pada hati kita.

Masih ragu kalau kita sebetulnya punya POWER untuk merubah attitude kita? Mungkin ada yang berpikir, “That’s easy for you to say”. Ngomong gampang, coba situ punya masalah seberat aku.. Hutang banyak, keluarga berantakan, usaha gagal terus, gaji kecil, anak-anak gak nurut de el el yang isinya masalah tok. Apapun masalahnya, seringan apapun masalahnya, seberat apapun problemnya, fakta ini tetapu berlaku : ‘the choice is yours’. Bebas mau milih attitude seperti apa untuk hadapi semua masalah kita.

Ada seorang yang sangat qualified untuk bicara masalah attitude. Namanya Dr. Viktor Frankl – yang pernah merasakan neraka dunia; berhasil me-manage : tidak hanya untuk survive… tapi juga menginspirasi jutaan orang.  Kita tau, Viktor Frankl bertahun-tahun hidup dalam kesengsaraan di penjara Nazi. Ayah, ibu, saudara dan istrinya terbunuh di Nazi camp. Setiap hari Viktor dan penghuni penjara lainnya merasakan kelaparan, kedinginan dan kebrutalan yang tidak masuk akal. Dapatkah seseorang mengontrol attitudenya dalam situasi seperti ini? Dr. Frankl menceritakannya dalam buku karangannya,: “Man Search for Meaning”; buku yang merupakan salah satu buku paling berpengaruh di dunia; kabarnya terjual lebih dari 12 juta copi. Now, jika Dr.Frankl bisa memilih attitudenya pada saat menghadapi ‘unspeakable suffering’ (penderitaan yang sudah gak bisa dicertakan parahnya); siapa yang mengklaim bahwa kita tidak bisa meng-kontrol attitude kita?

Simple illustration – hampir semua kita bisa membersihkan jendela. (jendela beneran). Bagaimana caranya kok kita bisa mbersihkan jendela? Atau, metode apa yang dipakai membersihkan jendela? Atau, dari mana kita belajar membersihkan jendela?

Jawabannya : Banyak cara untuk melakukannya… termasuk banyak cara untuk lakukan clean off our window… and attitude cleansing… persis seperti caranya gimana kita sampai bisa membersihkan jendela? (jendela beneran). Kan ada yang pakai lap kering, lap kotor; ada yang pakai Koran; ada yang pakai glass cleaner berbagai merek, bahkan ada yang panggil oranng untuk mbersihkan kaca jendela…dan masih banyak cara lain….  Untuk attitude – hmmm… Hampir sama untuk attitude cleasning…

Next article (insyaAllah)….

Imama

Your Positive Attitude is Your Passport to a better Tomorrow

Your Attitude is Your Window to the World

Setiap orang Memulai Kehidupan dengan ‘Jendela yang Bersih’

Kita semua memulai kehidupan dengan ‘good attitude’, dengan attitude yang baik atau ‘a clean mental window’; jendela yang bersih. Bayangkan sebuah jendela dengan kaca besar. Jika jendela itu bersih, kita bisa melihat luar dengan nyaman & terlihat luas. Jika jendela kotor, indahnya dunia luar terasa tidak nampak karena dipengaruhi oleh kotornya jendela. Lihat juga Anak-anak. Mereka selalu gembira, tertawa & bebas mengeksplorasi apapun tanpa takut, khawatir terhadap resiko apapun.. jendela mereka masih sangat bersih.

Continue reading “Your Positive Attitude is Your Passport to a better Tomorrow”

Attitude is Everything

Change Your Attitude… And You Change Your Life!

Ini adalah judul buku, karangan Jeff Keller; bukunya saya beli beberapa saat lalu via internet di amazon.com. Ternyata pengalaman membeli di amazon.com sangat berkesan.. Biaya kirim ternyata harganya hampir = harga bukunya… Selain itu, ontime banget.. Dari waktu 2 minggu yang dijanjikan, ternyata +/- seminggu buku sudah sampe rumah. & mereka bisa kirim dari mana saja, jika bukunya sedang tidak ada di Amerika, mereka bisa kirim lewat negara mana aja yang dimana buku itu ‘available’

Buku ini meluaskan mindset kita, sangat menggugah, & kalo kita ikuti langkah-langkahnya, kita akan punya ‘the right attitude’. The right attitude is very important, because… :

“Nothing can stop the man with the right mental attitude from achieving his goal. Nothing on earth can help the man with the wrong attitude.” ——- ( – Thomas Jefferson – )

Artinya ???

Continue reading “Attitude is Everything”