Hutang dan atau pihutang……

Banyak kejadian yang adanya sejalan dengan waktu dalam kehidupan kita, ada yang menyenangkan dan sebaliknya ada yang tidak menyenangkan. Mungkin kejadian yang menyenangkan terkait dengan perencanaan, perhitungan yang matang sehingga hasilnya menggembirakan sebagaimana harapan. Sementara kejadian yang tidak menyenangkan kita dapatkan karena diluar perencanaan dan perhitungan yang matang. Sebagai orang yang banyak bergelut dengan ilmu manajemen nampaknya hal itu mendekati kebenaran, namun jika kita mencoba mengamati dan menelusuri, tidak semua yang sudah dihitung dengan perencanaan matang pasti hasilnya menyenangkan. Perlu dikemukakan bahwa tulisan ini tidak dalam upaya mengajak untuk lebih percaya pada hal yang tidak masuk akal, justru dalam upaya melihat adanya ruang untuk menyemangati diri kearah yang positif.
Beranjak dari uraian di atas, penulis kadang mendapatkan kebahagiaan atau kejadian yang luar biasa menyenangkan, di lain pihak pernah juga mendapatkan situasi yang luar biasa di luar keinginan dan tentunya sangat tidak menyenangkan. Kejadian yang demikian terjadi beberapa kali, pada mulanya kaget, bahkan panik. Namun lama-lama dengan tidak mengabaikan dunia keilmuan yang bersifat realistis, pada waktu mengalami kejadian yang tidak menyenangkan di luar perhitungan, penulis berusaha mensugesti diri bahwa kejadian tersebut adalah buah dari perbuatan, sikap, atau ucapan saya yang perlu diperbaiki kedepannya, Sebaliknya, perlu kita sugesti diri kita bahwa dalam kehidupan itu bersifat seimbang, artinya Tetuka itu digdaya mandraguna karena kawah candradimuka, hari raya itu adanya karena ada puasa, jadi besar kemungkinan di muka kita ada sesuatu yang menyenangkan, bersiaplah untuk itu. Di lain pihak, pada waktu mendapatkan kejadian yang menyenangkan bersifat luar biasa dan di luar perhitungan, nikmatilah itu, mungkin buah dari perbuatan, sikap, dan ucapan kita yang baik. Kembali perlu diingatkan bahwa ada kemungkinan keseimbangan dalam kehidupan, artinya bersiaplah jika ada kemungkinan di depan kita nantinya ada kejadiaqn yang sebaliknya dari hal tersebut.
Apa hubungannya dengan hutang dan atau pihutang…..?, jika uraian di atas benar, maka kejadian yang tidak menyenangkan bisa bermakna hutang kalau kita menyadari bahwa kejadian tidak menyenangkan tersebut buah dari perbuatan, sikap, dan ucapan yang kurang baik, artinya hutang kita terbayarkan, atau dapat juga kita punya pihutang karena kedepannya kita akan memperoleh kejadian yang menyenangkan. Demikian pula jika kita mendapatkan kesenagan yang luar biasa mungkin itu buah dari sikap, perbuatan atau ucapan kita yang baik, berarti pihutang kita dapat hasilnya, atau justru kita harus bersiap untuk menerima kejadian yang tidak menyenangkan, sebagai keseimbangan dalam kehidupan kita.
Kesimpulan yang dapat dikemukakan, selalu berbuat baiklah, walaupun hambatan dan tantangan kemungkinan sering merintangi upaya kita untuk berbuat baik tersebut, atau cobalah menghitung asset kita di dunia lain, tidak hanya pandai menghitung asset di sunia nyata.

Saran, masukan……

Suatu pernyataan yang sering dilontarkan orang tua, orang yang merasa punya pengalaman lebih, dengan maksud meredam rasa tidak nyaman bagi yang diajak berbicara, atau semacam harapan agar yang bersangkutan (yang diajak berbicara) kembali dalam keseimbangan.
Enteng sekali pernyataan tersebut dilontarkan, serasa semudah atau seenteng itu jika yang mengatakan tersebut mendapatkan pernyataan serupa dari orang lain.
Agak mengganggu dan menggelitik untuk tidak mencoba menganalisisnya, masalahnya terkadang yang mengatakannya melakukan dengan tulus, tidak menggurui, bahkan ada keinginan atau kemauan yang sungguh-sungguh dalam upaya memberikan informasi atau dalam menyampaikan pernyataan tersebut. Persoalannya adalah: apakah medan magnit yang menyampaikan sama dengan medan magnit yang diajak berbicara. Dilain pihak, sebaik apapun saran atau masukan, antara yang memberi saran atau masukan dengan yang diberi tentunya yang lebih tahu tentang permasalahannya adalah yang bersangkutan.
Berdasarkan uraian di atas, yang bisa dipetik untuk dapat dijadikan pelajaran adalah: yang memberi saran atau masukan, pantas kiranya menyadari bahwa tidak semua masukan dapat diterima atau sesuai dengan kondisi yang diberi masukan. Konon ada kata bijak yang kiranya sering kita dengar namun sering kali kita lupakan, yang berbunyi: jangan membuat ukuran baju orang lain dengan ukuran baju kita, maknanya: baik menurut kita belum tentu sebaik yang kita rasakan untuk orang lain.
Menariknya kita sering terjebak, bahwa mengabarkan keberhasilan yang identik (seakan-akan menyarankan orang lain bertindak seperti kita) sering kali membuat kita kurang control, justru orang lain mencibir atau tidak tertarik untuk sependapat atau orang lain berada dalam kondisi ‘defense mecanism’ terhadap apa yang kita sampaikan. Lebih jauh agar kita berada dalam jalur berpikir positif terhadap orang lain, sangat penting untuk kita mengadopsi pernyataan yang mengatakan ‘jangan dilihat orang yang mengatakan, tapi resapi apa yang dikatakan’ maka pantas kiranya untuk kita meluangkan waktu guna mendengar dan menghargai masukan tersebut, mungkin ada baiknya untuk lebih mempercantik hasil pemikiran kita sebelumnya, atau mungkin karena tidak sejalan dengan kondisi kita akhirnya belum dapat diterapkan, dan insya’Allah pada saatnya justru bisa menjadi referensi keputusan kita.

Ada yang lebih dari anda….

Suatu waktu kita berada dalam kondisi sangat terpuruk, semuanya terasa buruk, dunia bagaikan akan ambruk. Pada waktu yang lain kita berada pada kondisi yang sangat berbahagia, hati terasa berbunga-bunga, dan terasa dunia bagaikan milik kita. Dalam kondisi terpuruk dan ambruk, ibaratnya bagi kita tidak ada orang lain yang mengalami malapetaka paling berat seperti kita, sebaliknya pada waktu kita mengalami situasi yang menyenangkan, ibaratnya tidak ada orang lain yang menerima kesenangan seperti yang kita alami, bahkan dengan pongah menepuk dada sampai-sampai lupa bisa lengah bahwa di sebelahnya kemungkinan ada jurang yang bisa menjerumuskannya.
Preambul di atas sengaja penulis sampaikan untuk mengingatkan diri kita masing-masing, manusiawi sebenarnya orang senang akan berbahagia, dan orang mengalami kegagalan akan bersedih. Namun tidak dengan maksud sok tahu, bahwa ada baiknya kita membuat ‘alarm’ untuk diri kita masing-masing jangan terlalu bersedih menerima ketidak berhasilan atau menerima sesuatu yang tidak kita inginkan, dan jangan terlalu bergembira pada waktu berhasil mencapai cita-cita atau mendapatkan sesuatu yang menggembirakan. Sejalan dengan itu, jika kita kaya jangan merasa paling kaya, demikian pula jika kita ada kekurangan jangan merasa paling berada dalam kekurangan tersebut.
Alarm yang penulis maksudkan adalah bahwa ‘ada yang lebih dari kita’, maksudnya jika kita menadapatkan kesedihan karena ketidak berhasilan, sebenarnyalah ada yang lebih tidak berhasil dari kita, jika kita mengalami kesenangan ada yang dialami oleh orang lain yang lebih menyenangkan, demikian pula jika kita merasa memiliki postur tubuh yang sempurna maka sebenarnyalah masih ada yang lebih sempurna dari kita, dan seterusnya dan seterusnya, prinsipnya ada yang lebih dari anda.

Merenung sejenak…

Merenung sejenak…
Bagaimana kebiasaan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu persoalan, tentu tergantung strata berat ringannya persoalan tersebut, atau mendesak dan kurang mendesaknya persoalan tersebut harus diselesaikan. Namun dengan meminjam pendapat para ahli, bahwa setiap orang mempunyai bawaan sejak lahir, yang istilah lainnya sebagai watak dan ini beda dengan watuk (batuk), karena batuk ada obatnya. Makna yang dapat dipetik disitu adalah setiap orang mempunyai kebiasaan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Namun ada statemen lain dari hasil penelitian, yang menyatakan bahwa sebenarnya kebiasaan dapat dipelajari dan dilatih, artinya jika kebiasaan dalam menyelesaikan masalah ternyata sering justru menimbulkan masalah baru, tentunya akan lebih baik kita meniru semboyan dari ‘pegadaian’ yakni menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Banyak orang menghadapi masalah menajadi panik, dapat dipastikan orang tersebut akan segera menyelesaikan masalah yang dihadapinya untuk menghindari rasa stress yang berkepanjangan. Kalau hal ini dilakukan cenderung akan menimbulkan masalah baru, karena dalam keadaan panik maka emosional sangat kental, dan karenanya ucapan, perbuatan, dan sikap sering kurang terkontrol, akibatnya ada yang tersinggung, sakit hati, dan mungkin marah, dan inilah yang dimaksudkan adanya kemungkinan timbulnya masalah baru.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan insya’Allah banyak orang pernah megalami serta menerapkannya, sebaiknya jangan mengambil keputusan apapun dalam keadaan panik, lebih baik ‘disrantekake’ maksudnya buat keseimbangan dulu atau dibuat hati tenang dulu, dengan cara merenung sejenak. Sebelum pengambilan keputusan dengan cara merenung sejenak ini akan berbeda untuk setiap orang berapa lama waktunya, tergantung bobot persoalannya dan keterlatihan dalam merenung sejenak tersebut. Artinya, jika seseorang sudah terlatih melakukan perenungan sejenak, maka semakin tangkas kemampuannya untuk pengambilan keputusan berdasarkan perenungan sejenak tersebut. Selamat mencobanya..

Merenung sejenak…

Bagaimana kebiasaan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu persoalan, tentu tergantung strata berat ringannya persoalan tersebut, atau mendesak dan kurang mendesaknya persoalan tersebut harus diselesaikan. Namun dengan meminjam pendapat para ahli, bahwa setiap orang mempunyai bawaan sejak lahir, yang istilah lainnya sebagai watak dan ini beda dengan watuk (batuk), karena batuk ada obatnya. Makna yang dapat dipetik disitu adalah setiap orang mempunyai kebiasaan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Namun ada statemen lain dari hasil penelitian, yang menyatakan bahwa sebenarnya kebiasaan dapat dipelajari dan dilatih, artinya jika kebiasaan dalam menyelesaikan masalah ternyata sering justru menimbulkan masalah baru, tentunya akan lebih baik kita meniru semboyan dari ‘pegadaian’ yakni menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Banyak orang menghadapi masalah menajadi panik, dapat dipastikan orang tersebut akan segera menyelesaikan masalah yang dihadapinya untuk menghindari rasa stress yang berkepanjangan. Kalau hal ini dilakukan cenderung akan menimbulkan masalah baru, karena dalam keadaan panik maka emosional sangat kental, dan karenanya ucapan, perbuatan, dan sikap sering kurang terkontrol, akibatnya ada yang tersinggung, sakit hati, dan mungkin marah, dan inilah yang dimaksudkan adanya kemungkinan timbulnya masalah baru.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan insya’Allah banyak orang pernah megalami serta menerapkannya, sebaiknya jangan mengambil keputusan apapun dalam keadaan panik, lebih baik ‘disrantekake’ maksudnya buat keseimbangan dulu atau dibuat hati tenang dulu, dengan cara merenung sejenak. Sebelum pengambilan keputusan dengan cara merenung sejenak ini akan berbeda untuk setiap orang berapa lama waktunya, tergantung bobot persoalannya dan keterlatihan dalam merenung sejenak tersebut. Artinya, jika seseorang sudah terlatih melakukan perenungan sejenak, maka semakin tangkas kemampuannya untuk pengambilan keputusan berdasarkan perenungan sejenak tersebut. Selamat mencobanya..

Tugas dan tantangan identik dengan rekreasi…..

Sering kita mendengar dan membaca tentang bagaimana mengemas suatu stress menjadi kekuatan. Sepertinya enak dibaca dan didengarkan, namun tidak semudah untuk dilaksanakan. Mahasiswa menjelang ujian komprehensip cenderung stress, banyak diantara mereka datang ke pembimbing, sekedar bertanya kemungkinan suasana ujian dan bayangan yang mungkin akan diujikan oleh tim penguji.
Sebetulnya mereka sudah banyak mencari informasi dari kakak-kakak tingkat yang sudah ujian, namun dengan maksud yang terselubung bahwa mereka mencari keseimbangan karena mental yang sedang tertekan yang pada gilirannya merasa stress.
Penulispun ketika sedang menghadapi ujian juga mengalami kondisi mental yang sama, mencari orang yang dapat diajak berbicara, tentunya orang yang mempunyai empati terhadap permasalahan yang penulis hadapi, dan berdasarkan pengalaman penulis cara-cara tersebut sangat bermanfaat.
Diantaranya:
o Tugas dan tantangan dihadapi oleh banyak orang atau semua orang, artinya ibarat di tengah padang pasir yang panas, akan tidak terasa panas jika disitu banyak orang yang ada bersama kita di terik panas matahari tersebut, sangat berbeda jika terik panas di padang pasir itu kita sendirian disitu.
o Tugas dan tantangan dikemas menjadi kuajiban, artinya harus kita hadapi dan kita yaqin bahwa keberhasilan penyelesaian tugas dan tantangan tersebut akan memudahkan kita menanpakkan kaki diperjalanan kita berikutnya.
o Tugas dan tantangan jembatan yang tidak bisa dihindari, laksana Gatutkaca yang menjadi sakti mandraguna setelah dimasukkan ke dalam kawah candradimuka…
Dalam kaitannya dengan rekreasi, dan uraian di atas maka dapat dikemukakan sebagai berikut:
o Proses dalam penyelesaian tugas, ada kecenderungan berinteraksi dengan orang lain, suasana lain, maka akan diperoleh masukan dan mungkin justru muncul ide yang lebih cerdas atas penyelesaian tugas tersebut.
o Jika proses penyelesaian tugas dihadapi dengan rasa hati yang nyaman, pihak lain dan suasana di sekitar akan memberikan stimulant, maka dapat dipastikan pihak lain lebih dapat ikut menikmati penyelesain tugas tersebut, dengan asumsi makna rekreasi condong pada hal-hal yang menyenangkan.
Dengan demikian, berdasarkan uraian di atas, pantas kiranya untuk dicoba dan diterapkan kondisi dalam makna, kita menghadapi tugas untuk kita ibaratkan sebagai rekreasi.

Amal adalah dokter pribadi….

Apapula ini…, sewaktu saya mendengar pernyataan itu dari seorang teman sempat berpikir beberapa waktu mencoba mencerna maknanya. Pada mulanya saya berpikir amal ya amal, yang konotasinya adalah memberikan sesuatu pada orang lain dengan tulus ikhlas tanpa menharapkan imbalan, ibarat orang b.a.b yang sesudahnya puas atau lega, dan dokter pribadi berarti dokternya orang yang berpunya atau pejabat, karena dokter tersebut sewaktu-waktu selalu siaga untuk beliau. Perjalanan waktu saya dapat mengurai pernyataan tersebut, sejalan dengan upaya menyemangati diri dalam melangkah untuk menjalani hidup. Sebagaimana kita rasakan bahwa dalam kehidupan kita tidak selalu bagaikan lewat jalan tol yang mulus.
Kita semua pantas bersyukur sampai saat ini hampir semuanya terasa bagaikan rekreasi dalam perjalanan tersebut, ingin dikemukakan disini bahwa kita tidak dengan maksud pongah atau menepuk dada seakan paling hebat, namun kenyataan bahwa setiap sakit pasti ada obatnya, dan setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya. Kenapa … atau mengapa …… insya’Allah karena kita pernah beramal dan amal yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan, sehingga akan selalu setiap persoalan yan kita hadapi pasti ada uluran kasih dari Allah untuk kita menemukan jalan keluarnya. Amal yang dimaksud yang paling sederhana dan ringan, misalnya raut muka yang nyaman dilihat, senyuman yang tulus, apalagi berupa barang atau uang dengan tulus. Insya;Allah saya yaqinkan bahwa akan amenjadi dokter pribadi bagi yang menjalankannya. Amin.

ADA APA DENGAN WAKTU ?????

Berdasarkan pada tugas pokok manajemen, yakni mengamankan kelanjutan organisasi melalui inovasi yang sesuai dan tepat waktu, maka selanjutnya perlu diketahui dan dipahami tentang bagaimana waktu harus dikelola atau dimanajemenkan agar waktu dapat menjadi mitra bukan lawan serta tekanan bagi kita. Diantaranya, kita hamburkan waktu, kita habiskan waktu untuk memburu hal yang keliru; kita mengerjakan pekerjaan orang lain sehingga merasa kecapekan/kepayahan, namun tetap berusaha tegar sehingga menimbulkan ketegangan, baik untuk diri sendiri maupun keluarga dan kesehatan.
Ketika kita meragukan pernyataan tersebut, cobalah bertanya tentang hari kemarin Anda:
1. Apakah ada tiga masalah utama yang sudah Anda tangani ? Apakah itu benar masalah Anda dan pada tingkat bisnis Anda ? Atau seharusnya ditangani oleh orang lain ?
2. Ambilah salah satu masalah itu. Apakah Anda telah menyelesaikannya dengan ‘tuntas’? Apakah Anda sudah menandainya untuk menyelidiki secara cermat dan tahu penyebabnya, atau Anda hanya menyelesaikan apa yang nampak di permukaan saja ?
Oleh karena itu, hentikanlah pemborosan waktu. Mulailah mengelola dan menginvestasikan waktu Anda. Mungkin ini akan menjadi investasi terbaik yang pernah Anda lakukan untuk diri sendiri dan organisasi Anda.
Waktu adalah sumber yang unik. Waktu tidak dapat ditabung, tapi hanya dapat dipergunakan dengan bijak. Waktu yang sudah berlalu hilang selamanya. Waktu tidak dapat diganti dan tidak elastis. Waktu adalah sumber paling penting bagi seseorang, dan waktu juga tidak mungkin dibalik jalannya.
Waktu sama bagi siapapun (24 jam setiap hari, 7 hari setiap minggu dan seterusnya), yang lebih penting adalah bagaimana waktu itu dikelola, artinya bagaimana dengan waktu yang sama akan menghasilkan penggunaan yang lebih efektif dan kemampuan mencapai hasil yang lebih banyak.
Lebih jauh dapat diartikan bahwa cara Anda menghabiskan waktu akan menentukan bagaimana Anda memanfaatkan hidup Anda dan hal itu sama dengan siapa Anda sebenarnya, sebab hari esok berhubungan dengan hari ini dan hari kemarin. Belajar untuk mengendalikan waktu sendiri berarti mengubah beberapa kebiasaan waktu Anda dan Anda tidak dapat mengubahnya sebelum Anda mengetahui apa kebiasaan Anda itu. Maksudnya, bagaimana Anda menghabiskan waktu dalam satu atau dua minggu dan lebih bila perlu. Kemudian, periksa berapa banyak dari waktu itu yang sebenarnya digunakan untuk kegiatan yang berorientasi ke sasaran, yang dipreoritaskan, dan berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk kegiatan tanpa tujuan, berulang atau berpreoritas rendah.
Rencanakan waktu Anda dengan menetapkan sasaran, sasaran apa yang hendak Anda kerjakan yang terbagi dalam yujuan jangka pendek dan jangka panjang. Sasaran harus spesifik, terbagi dalam tujuan nyata dan wajar dapat dicapai.Bila sasaran telah ditentukan, selanjutnya perlu ditentukan preoritasnya dan kemudian pusatkan perhatian untuk mengerjakan sasaran dan tujuan yang telah dipreoritaskan tersebut.
Dengan menganalisis penggunaan waktu, menetapkan sasaran dan membuat preoritas, Anda menjadi terorganisir yang maksudnya Anda telah mengatasi halangan besar dalam menjalankan kantor, bisnis atau rumah dengan efisien. Hal penting selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengkomunikasikan sasaran dan preoritas tersebut pada mereka yang berkepentingan, bawahan misalnya. Supaya kejelasan dan pengertian menjadi kenyataan, saluran komunikasi vertikal harus terbuka. Bawahan mempunyai hak untuk mengetahui apa yang diharapkan dari atasan mereka dam bentuk informasi yang relevan, segera, padat, dan langsung. Ketika komunikasi tidak hanya vertikal dari atas ke bawah namun juga dari bawah ke atas maka akan terjadi umpan balik bahkan adanya pemberian penghargaaan untuk gagasan yang diajukan akan mengarah pada komitmen dan kreativitas di pihak bawahan.
Hal menarik yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah kemungkinan perencanaan waktu yang sedemikian rupa kemudian ada faktor sebagai penghambat akibatnya yang direncanakan terpaksa pelaksanaannya ditunda. Penundaan merupakan batu sandungan terbesar bagi hampir semua orang yang mencari perbaikan dalam memanfaatkan waktunya. Ada tiga sebab yang mengarah ke penundaan: – tidak menyenangkan, – proyek yang sulit, dan – keraguan.
Apapun yang Anda kerjakan, Anda akan bereaksi dengan cara khas dan mungkin berbeda dengan orang di sekitar Anda. Perbedaan individual dalam mempersepsikan waktu dapat memainkan peran kritis dalam kemampuan atau ketidak mampuan Anda untuk berhubungan dengan orang lain.
Apakah Anda selalu datang pagi ke suatu janji pertemuan? Atau Anda selalu terlambat secara kronis? Apakah Anda terusik oleh kawan sekerja yang kelihatannya selalu ada saja bantahannya? Ataukah Anda siap menjawab bila bertemu dengan seseorang yang berbicara cepat dan agaknya tidak mau mendengarkan orang lain? Apakah Anda seorang eksekutif muda yang ingin bertindak cepat? Atau seorang manajer berpengalaman yang bangga dapat mengatur langkah sendiri? Hanya sedikit orang yang dapat menentukan waktu dengan memuaskan. Di dalam diri kita, ada perasaan naluriah tentang arti waktu itu bagi kita, tetapi rupanya kita tidak menyadari bahwa orang lain mungkin merasakan waktu dengan cara lain. Keragaman persepsi waktu individual inilah seringkali membangun konfrontasi manusia yang tidak perlu. Dengan mengerti perasaan sendiri tentang waktu, demikian pula perasaan waktu rekan Anda,