Pasti terjadi dalam kehidupan: perubahan…..

Ada ungkapan tentang anak, menurut orang tua dulu, ‘cilik dadi ati, yen wis gedhe nggadho ati, kepara bisa mangan ati’. Maksudnya: sewaktu masih kecil hati orang tua tersita untuknya (anak), ada rasa kawatir dan sepenuhnya perhatian untuknya. Sewaktu beranjak menjadi besar, mulai punya dunia sendiri, agak melawan, ingin tidak selalu menjadi bagian dari kegiatan orang tua, bahkan setelah agak mandiri sudah tidak lagi agak melawan tetapi benar-benar melawan, disini makna ‘nggadho ati’ bahkan ‘mangan ati’ tadi.
Pertanyaan besarnya, mengapa demikian… ???? Ungkapan lain yang juga tidak kalah pentingnya dan sering diabaikan oleh orang tua, adalah yang pasti terjadi dalam kehidupan kita, selain mati, adalah perubahan, sementara banyak orang tua yang relative anti perubahan dan lebih emosional dengan nostalgia masa lalu, bahwa orang tuanya dulu mendidik coba diterapkan pada anaknya, namun perubahan menyebabkan adanya pergeseran nilai, anak sekarang lebih punya dunia dan berbeda dengan orang tuanya semasa masih kecil yang relative lebih tergantung pada orang tuanya, adanya HAM, adanya kemajuan TI yang spectakuler dan nilai pendidikan yang relative lebih berpihak pada perkembangan anak. Sadar atau tidak, kondisi ini akan terus berjalan, kapan, dimanapun. Bagaimana sebaiknya kita….????, ilmu lama yang sering dikemukakan orang-orang terdahulu mungkin dapat kita coba menghadapinya: ‘diculke endhase (sirahe), dicekel buntute’, identik dengan: dilepas kepalanya dipegang ekornya. Sangat tidak mudah menerapkan hal tersebut, namun ada peluang untuk dapat diterapkan, kenapa tidak kita coba…, persoalannya harus disadari bahwa realita yang kita hadapi sebagai orang tua, ada tuntutan untuk menjadikan anak yang sebaik mungkin, untuk kebahagiannya, sekaligus kebanggaan bagi kita, namun kita berhadapan dengan dunia anak, karena pemahamannya atas dirinya dan masa depannya.
Persoalan di atas, relative menjadi sederhana jika kita mencoba melihat apa yang kita upayakan untuk anak adalah usaha, soal bagaimana realisasinya di lapangan, kita terima dengan rasa syukur, dan kita tekankan pada diri kita, bahwa: ada yang lebih dari kita…….

Keseimbangan dalam kehidupan…..

Kita sangat familier dengan siang-malam, baik-buruk, kiri-kanan, dan seterusnya. Bahkan dalam dunia pewayangan ada Kurawa-Pendawa, juga di TV ada acara hitam-putih. Saya kemukakan hal tersebut sebagai gambaran bahwa dalam kehidupan terdapat neraca keseimbangan. Lalu apa yang menarik dari gambaran tersebut…… ??? menariknya banyak dari kita terkesan kaget atau justru kehilangan keseimbangan karena lengah atau ‘besar pasak daripada tiang’ artinya harapan terlalu besar dibandingkan aksi untuk memenuhi harapan tersebut. Mungkin hal ini terkait dengan teori baru yang lebih jadi pegangan, misalnya: belajar banyak, lupa banyak, sedangkan belajar sedikit, lupa sedikit, dan tidak belajar, tidak lupa. Akhirnya memilih yang resikonya sedikit, yakni bekajar sedikit, lupa sedikit atau tidak belajar biar tidak lupa, namun tentunya hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Atau mungkin karena ilmu ekonomi yang sekarang lebih dominan menguasai kehidupan kita, sehingga prinsip ekonomi lebih memiliki pengaruh lebih besar, harapan memperoleh hasil sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, atau seperangkat peraturan yang lebih berpihak pada aksi yang membuat pergeseran nilai agung keseimbangan tersebut, missal: kecurangan, kriminalitas, penyelewengan, dan lain sebagainya dengan sangsi yang relative ringan karena HAM, sebagai penyebab pilihan suri tauladan bukan lagi pada tokoh pahlawan pemberantas angkara murka, tapi lebih berprinsip pada pukul dahulu perkara belakang.
Penulis sangat menyadari perubahan dan pergeseran nilai tersebut, kadang masih terkaget-kaget, karena belum terbiasa, contoh: mahasiswa dengan tanpa beban mengatakan dosennya dengan kata-kata: ‘sing genah pak…..!!’. sederhana dan fun saja hal itu terucapkan, tapi mungkin bagi kita yang belum siap akan terasa aneh pernyataan tersebut disampaikan dalam kondisi tertentu. Memang bisa terjadi jika si dosen dalam tidak genah, tetapi saya mencoba menganalisis kadang lebih pada suatu pernyataan yang tanpa beban karena memang tidak selalu si dosen juga genah.
Berdasarkan uraian di atas, dan mungkin masih banyak lagi kejadian dan pernyataan yang dapat dicontohkan, maka rasanya pantas untuk kita bersiap diri menghadapi pergeseran keseimbangan dalam kehidupan karena akan terus muncul nilai-nilai yang bergeser.

Jer Basuki Mawa Beya……

Pribahasa jawa yang rasanya tidak asing di telinga kita, yang artinya untuk mendapatkan keberhasilan, kebahagiaan, keselamatan, dan sebagainya yang intinya menyenangkan pasti ada ongkos yang harus kita keluarkan. Sebenarnya tidak beda dengan ajaran agama, dan kiranya pribahasa tersebut benar kemungkinan diserap dari sana. Misalnya: berhari raya setelah puasa; termasuk mendapatkan nilai tambah setelah berusaha dan berdo’a. pelajaran dalam pewayangan pantas juga kita resapi, bagaimana Harjuna mendapatkan keris pusakaq Pasopati yang nilai pakainya hebat, dia harus bertapa, yang atinya melepas semua kepentingan duniawinya dan lebih pada memohon keberkahan dari yang Maha Agung.
Kondisi demikian nampaknya sekarang banyak dilupakan orang karena multi kebutuhan dan kayaknya sekarang kita berada di era serba cepat dan instan, sehingga muncul pedoman siapa cepat dia akan dapat. Pedoman terakhir berakibat banyak orang melupakan sikap santun dalam pergaulan tentu saja sangat rentan dengan marabahaya. Contoh nyata bagaimana sikap santun banyak dari kita di jalanan, yang akhirnya dapat menimbulkan kecelakaan bagi kita dan juga bagi pemakai jalan lainnya. Kemajuan teknologi yang sangat pesat, ditambah pula dengan suri tauladan dari tokoh yang notabene sukses, sangat member jalan terjadinya pergeseran nilai di lingkungan pergaulan. Apa yang kurang….., menurut penulis, selain banyak hal lain yang mungkin sangat perlu dimunculkan, namun yang sangat urgen adalah keterlambatan adanya peraturan yang logis dengan sangsi yang diterapkan secara konsisten yang menungkinkan pelanggar mendapatkan efek jera. Pertanyaan besarnya adalah adakah peraturan yang sekarang mengarah atau lebih memihak pada kepentingan orang banyak, serta apakah ada ketulusan bagi seseorang, termasuk untuk keluarganya mendapatkan konsekwensi sangsi jika melakukan pelanggaran peraturan….??? Jika kondisi tersebut dapat dilaksanakan penulis yakin bahwa kita semua akan berkomitmen, dan tentunya ajaran Jer Basuki Mawa Beya benar-benar akan menjadi semangat yang insya’Allah akan dasyat hasilnya. Semoga kondisi sebagaimana pada kalimat terakhir tadi akan menjadi realita di lingkungan kita Aminnnn.