Merenung sejenak…

Bagaimana kebiasaan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu persoalan, tentu tergantung strata berat ringannya persoalan tersebut, atau mendesak dan kurang mendesaknya persoalan tersebut harus diselesaikan. Namun dengan meminjam pendapat para ahli, bahwa setiap orang mempunyai bawaan sejak lahir, yang istilah lainnya sebagai watak dan ini beda dengan watuk (batuk), karena batuk ada obatnya. Makna yang dapat dipetik disitu adalah setiap orang mempunyai kebiasaan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Namun ada statemen lain dari hasil penelitian, yang menyatakan bahwa sebenarnya kebiasaan dapat dipelajari dan dilatih, artinya jika kebiasaan dalam menyelesaikan masalah ternyata sering justru menimbulkan masalah baru, tentunya akan lebih baik kita meniru semboyan dari ‘pegadaian’ yakni menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Banyak orang menghadapi masalah menajadi panik, dapat dipastikan orang tersebut akan segera menyelesaikan masalah yang dihadapinya untuk menghindari rasa stress yang berkepanjangan. Kalau hal ini dilakukan cenderung akan menimbulkan masalah baru, karena dalam keadaan panik maka emosional sangat kental, dan karenanya ucapan, perbuatan, dan sikap sering kurang terkontrol, akibatnya ada yang tersinggung, sakit hati, dan mungkin marah, dan inilah yang dimaksudkan adanya kemungkinan timbulnya masalah baru.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan insya’Allah banyak orang pernah megalami serta menerapkannya, sebaiknya jangan mengambil keputusan apapun dalam keadaan panik, lebih baik ‘disrantekake’ maksudnya buat keseimbangan dulu atau dibuat hati tenang dulu, dengan cara merenung sejenak. Sebelum pengambilan keputusan dengan cara merenung sejenak ini akan berbeda untuk setiap orang berapa lama waktunya, tergantung bobot persoalannya dan keterlatihan dalam merenung sejenak tersebut. Artinya, jika seseorang sudah terlatih melakukan perenungan sejenak, maka semakin tangkas kemampuannya untuk pengambilan keputusan berdasarkan perenungan sejenak tersebut. Selamat mencobanya..