Ada yang lebih dari anda….

Suatu waktu kita berada dalam kondisi sangat terpuruk, semuanya terasa buruk, dunia bagaikan akan ambruk. Pada waktu yang lain kita berada pada kondisi yang sangat berbahagia, hati terasa berbunga-bunga, dan terasa dunia bagaikan milik kita. Dalam kondisi terpuruk dan ambruk, ibaratnya bagi kita tidak ada orang lain yang mengalami malapetaka paling berat seperti kita, sebaliknya pada waktu kita mengalami situasi yang menyenangkan, ibaratnya tidak ada orang lain yang menerima kesenangan seperti yang kita alami, bahkan dengan pongah menepuk dada sampai-sampai lupa bisa lengah bahwa di sebelahnya kemungkinan ada jurang yang bisa menjerumuskannya.
Preambul di atas sengaja penulis sampaikan untuk mengingatkan diri kita masing-masing, manusiawi sebenarnya orang senang akan berbahagia, dan orang mengalami kegagalan akan bersedih. Namun tidak dengan maksud sok tahu, bahwa ada baiknya kita membuat ‘alarm’ untuk diri kita masing-masing jangan terlalu bersedih menerima ketidak berhasilan atau menerima sesuatu yang tidak kita inginkan, dan jangan terlalu bergembira pada waktu berhasil mencapai cita-cita atau mendapatkan sesuatu yang menggembirakan. Sejalan dengan itu, jika kita kaya jangan merasa paling kaya, demikian pula jika kita ada kekurangan jangan merasa paling berada dalam kekurangan tersebut.
Alarm yang penulis maksudkan adalah bahwa ‘ada yang lebih dari kita’, maksudnya jika kita menadapatkan kesedihan karena ketidak berhasilan, sebenarnyalah ada yang lebih tidak berhasil dari kita, jika kita mengalami kesenangan ada yang dialami oleh orang lain yang lebih menyenangkan, demikian pula jika kita merasa memiliki postur tubuh yang sempurna maka sebenarnyalah masih ada yang lebih sempurna dari kita, dan seterusnya dan seterusnya, prinsipnya ada yang lebih dari anda.

Merenung sejenak…

Merenung sejenak…
Bagaimana kebiasaan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu persoalan, tentu tergantung strata berat ringannya persoalan tersebut, atau mendesak dan kurang mendesaknya persoalan tersebut harus diselesaikan. Namun dengan meminjam pendapat para ahli, bahwa setiap orang mempunyai bawaan sejak lahir, yang istilah lainnya sebagai watak dan ini beda dengan watuk (batuk), karena batuk ada obatnya. Makna yang dapat dipetik disitu adalah setiap orang mempunyai kebiasaan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Namun ada statemen lain dari hasil penelitian, yang menyatakan bahwa sebenarnya kebiasaan dapat dipelajari dan dilatih, artinya jika kebiasaan dalam menyelesaikan masalah ternyata sering justru menimbulkan masalah baru, tentunya akan lebih baik kita meniru semboyan dari ‘pegadaian’ yakni menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Banyak orang menghadapi masalah menajadi panik, dapat dipastikan orang tersebut akan segera menyelesaikan masalah yang dihadapinya untuk menghindari rasa stress yang berkepanjangan. Kalau hal ini dilakukan cenderung akan menimbulkan masalah baru, karena dalam keadaan panik maka emosional sangat kental, dan karenanya ucapan, perbuatan, dan sikap sering kurang terkontrol, akibatnya ada yang tersinggung, sakit hati, dan mungkin marah, dan inilah yang dimaksudkan adanya kemungkinan timbulnya masalah baru.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan insya’Allah banyak orang pernah megalami serta menerapkannya, sebaiknya jangan mengambil keputusan apapun dalam keadaan panik, lebih baik ‘disrantekake’ maksudnya buat keseimbangan dulu atau dibuat hati tenang dulu, dengan cara merenung sejenak. Sebelum pengambilan keputusan dengan cara merenung sejenak ini akan berbeda untuk setiap orang berapa lama waktunya, tergantung bobot persoalannya dan keterlatihan dalam merenung sejenak tersebut. Artinya, jika seseorang sudah terlatih melakukan perenungan sejenak, maka semakin tangkas kemampuannya untuk pengambilan keputusan berdasarkan perenungan sejenak tersebut. Selamat mencobanya..

Merenung sejenak…

Bagaimana kebiasaan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu persoalan, tentu tergantung strata berat ringannya persoalan tersebut, atau mendesak dan kurang mendesaknya persoalan tersebut harus diselesaikan. Namun dengan meminjam pendapat para ahli, bahwa setiap orang mempunyai bawaan sejak lahir, yang istilah lainnya sebagai watak dan ini beda dengan watuk (batuk), karena batuk ada obatnya. Makna yang dapat dipetik disitu adalah setiap orang mempunyai kebiasaan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Namun ada statemen lain dari hasil penelitian, yang menyatakan bahwa sebenarnya kebiasaan dapat dipelajari dan dilatih, artinya jika kebiasaan dalam menyelesaikan masalah ternyata sering justru menimbulkan masalah baru, tentunya akan lebih baik kita meniru semboyan dari ‘pegadaian’ yakni menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Banyak orang menghadapi masalah menajadi panik, dapat dipastikan orang tersebut akan segera menyelesaikan masalah yang dihadapinya untuk menghindari rasa stress yang berkepanjangan. Kalau hal ini dilakukan cenderung akan menimbulkan masalah baru, karena dalam keadaan panik maka emosional sangat kental, dan karenanya ucapan, perbuatan, dan sikap sering kurang terkontrol, akibatnya ada yang tersinggung, sakit hati, dan mungkin marah, dan inilah yang dimaksudkan adanya kemungkinan timbulnya masalah baru.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan insya’Allah banyak orang pernah megalami serta menerapkannya, sebaiknya jangan mengambil keputusan apapun dalam keadaan panik, lebih baik ‘disrantekake’ maksudnya buat keseimbangan dulu atau dibuat hati tenang dulu, dengan cara merenung sejenak. Sebelum pengambilan keputusan dengan cara merenung sejenak ini akan berbeda untuk setiap orang berapa lama waktunya, tergantung bobot persoalannya dan keterlatihan dalam merenung sejenak tersebut. Artinya, jika seseorang sudah terlatih melakukan perenungan sejenak, maka semakin tangkas kemampuannya untuk pengambilan keputusan berdasarkan perenungan sejenak tersebut. Selamat mencobanya..

Tugas dan tantangan identik dengan rekreasi…..

Sering kita mendengar dan membaca tentang bagaimana mengemas suatu stress menjadi kekuatan. Sepertinya enak dibaca dan didengarkan, namun tidak semudah untuk dilaksanakan. Mahasiswa menjelang ujian komprehensip cenderung stress, banyak diantara mereka datang ke pembimbing, sekedar bertanya kemungkinan suasana ujian dan bayangan yang mungkin akan diujikan oleh tim penguji.
Sebetulnya mereka sudah banyak mencari informasi dari kakak-kakak tingkat yang sudah ujian, namun dengan maksud yang terselubung bahwa mereka mencari keseimbangan karena mental yang sedang tertekan yang pada gilirannya merasa stress.
Penulispun ketika sedang menghadapi ujian juga mengalami kondisi mental yang sama, mencari orang yang dapat diajak berbicara, tentunya orang yang mempunyai empati terhadap permasalahan yang penulis hadapi, dan berdasarkan pengalaman penulis cara-cara tersebut sangat bermanfaat.
Diantaranya:
o Tugas dan tantangan dihadapi oleh banyak orang atau semua orang, artinya ibarat di tengah padang pasir yang panas, akan tidak terasa panas jika disitu banyak orang yang ada bersama kita di terik panas matahari tersebut, sangat berbeda jika terik panas di padang pasir itu kita sendirian disitu.
o Tugas dan tantangan dikemas menjadi kuajiban, artinya harus kita hadapi dan kita yaqin bahwa keberhasilan penyelesaian tugas dan tantangan tersebut akan memudahkan kita menanpakkan kaki diperjalanan kita berikutnya.
o Tugas dan tantangan jembatan yang tidak bisa dihindari, laksana Gatutkaca yang menjadi sakti mandraguna setelah dimasukkan ke dalam kawah candradimuka…
Dalam kaitannya dengan rekreasi, dan uraian di atas maka dapat dikemukakan sebagai berikut:
o Proses dalam penyelesaian tugas, ada kecenderungan berinteraksi dengan orang lain, suasana lain, maka akan diperoleh masukan dan mungkin justru muncul ide yang lebih cerdas atas penyelesaian tugas tersebut.
o Jika proses penyelesaian tugas dihadapi dengan rasa hati yang nyaman, pihak lain dan suasana di sekitar akan memberikan stimulant, maka dapat dipastikan pihak lain lebih dapat ikut menikmati penyelesain tugas tersebut, dengan asumsi makna rekreasi condong pada hal-hal yang menyenangkan.
Dengan demikian, berdasarkan uraian di atas, pantas kiranya untuk dicoba dan diterapkan kondisi dalam makna, kita menghadapi tugas untuk kita ibaratkan sebagai rekreasi.