Amal adalah dokter pribadi….

Apapula ini…, sewaktu saya mendengar pernyataan itu dari seorang teman sempat berpikir beberapa waktu mencoba mencerna maknanya. Pada mulanya saya berpikir amal ya amal, yang konotasinya adalah memberikan sesuatu pada orang lain dengan tulus ikhlas tanpa menharapkan imbalan, ibarat orang b.a.b yang sesudahnya puas atau lega, dan dokter pribadi berarti dokternya orang yang berpunya atau pejabat, karena dokter tersebut sewaktu-waktu selalu siaga untuk beliau. Perjalanan waktu saya dapat mengurai pernyataan tersebut, sejalan dengan upaya menyemangati diri dalam melangkah untuk menjalani hidup. Sebagaimana kita rasakan bahwa dalam kehidupan kita tidak selalu bagaikan lewat jalan tol yang mulus.
Kita semua pantas bersyukur sampai saat ini hampir semuanya terasa bagaikan rekreasi dalam perjalanan tersebut, ingin dikemukakan disini bahwa kita tidak dengan maksud pongah atau menepuk dada seakan paling hebat, namun kenyataan bahwa setiap sakit pasti ada obatnya, dan setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya. Kenapa … atau mengapa …… insya’Allah karena kita pernah beramal dan amal yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan, sehingga akan selalu setiap persoalan yan kita hadapi pasti ada uluran kasih dari Allah untuk kita menemukan jalan keluarnya. Amal yang dimaksud yang paling sederhana dan ringan, misalnya raut muka yang nyaman dilihat, senyuman yang tulus, apalagi berupa barang atau uang dengan tulus. Insya;Allah saya yaqinkan bahwa akan amenjadi dokter pribadi bagi yang menjalankannya. Amin.

ADA APA DENGAN WAKTU ?????

Berdasarkan pada tugas pokok manajemen, yakni mengamankan kelanjutan organisasi melalui inovasi yang sesuai dan tepat waktu, maka selanjutnya perlu diketahui dan dipahami tentang bagaimana waktu harus dikelola atau dimanajemenkan agar waktu dapat menjadi mitra bukan lawan serta tekanan bagi kita. Diantaranya, kita hamburkan waktu, kita habiskan waktu untuk memburu hal yang keliru; kita mengerjakan pekerjaan orang lain sehingga merasa kecapekan/kepayahan, namun tetap berusaha tegar sehingga menimbulkan ketegangan, baik untuk diri sendiri maupun keluarga dan kesehatan.
Ketika kita meragukan pernyataan tersebut, cobalah bertanya tentang hari kemarin Anda:
1. Apakah ada tiga masalah utama yang sudah Anda tangani ? Apakah itu benar masalah Anda dan pada tingkat bisnis Anda ? Atau seharusnya ditangani oleh orang lain ?
2. Ambilah salah satu masalah itu. Apakah Anda telah menyelesaikannya dengan ‘tuntas’? Apakah Anda sudah menandainya untuk menyelidiki secara cermat dan tahu penyebabnya, atau Anda hanya menyelesaikan apa yang nampak di permukaan saja ?
Oleh karena itu, hentikanlah pemborosan waktu. Mulailah mengelola dan menginvestasikan waktu Anda. Mungkin ini akan menjadi investasi terbaik yang pernah Anda lakukan untuk diri sendiri dan organisasi Anda.
Waktu adalah sumber yang unik. Waktu tidak dapat ditabung, tapi hanya dapat dipergunakan dengan bijak. Waktu yang sudah berlalu hilang selamanya. Waktu tidak dapat diganti dan tidak elastis. Waktu adalah sumber paling penting bagi seseorang, dan waktu juga tidak mungkin dibalik jalannya.
Waktu sama bagi siapapun (24 jam setiap hari, 7 hari setiap minggu dan seterusnya), yang lebih penting adalah bagaimana waktu itu dikelola, artinya bagaimana dengan waktu yang sama akan menghasilkan penggunaan yang lebih efektif dan kemampuan mencapai hasil yang lebih banyak.
Lebih jauh dapat diartikan bahwa cara Anda menghabiskan waktu akan menentukan bagaimana Anda memanfaatkan hidup Anda dan hal itu sama dengan siapa Anda sebenarnya, sebab hari esok berhubungan dengan hari ini dan hari kemarin. Belajar untuk mengendalikan waktu sendiri berarti mengubah beberapa kebiasaan waktu Anda dan Anda tidak dapat mengubahnya sebelum Anda mengetahui apa kebiasaan Anda itu. Maksudnya, bagaimana Anda menghabiskan waktu dalam satu atau dua minggu dan lebih bila perlu. Kemudian, periksa berapa banyak dari waktu itu yang sebenarnya digunakan untuk kegiatan yang berorientasi ke sasaran, yang dipreoritaskan, dan berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk kegiatan tanpa tujuan, berulang atau berpreoritas rendah.
Rencanakan waktu Anda dengan menetapkan sasaran, sasaran apa yang hendak Anda kerjakan yang terbagi dalam yujuan jangka pendek dan jangka panjang. Sasaran harus spesifik, terbagi dalam tujuan nyata dan wajar dapat dicapai.Bila sasaran telah ditentukan, selanjutnya perlu ditentukan preoritasnya dan kemudian pusatkan perhatian untuk mengerjakan sasaran dan tujuan yang telah dipreoritaskan tersebut.
Dengan menganalisis penggunaan waktu, menetapkan sasaran dan membuat preoritas, Anda menjadi terorganisir yang maksudnya Anda telah mengatasi halangan besar dalam menjalankan kantor, bisnis atau rumah dengan efisien. Hal penting selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengkomunikasikan sasaran dan preoritas tersebut pada mereka yang berkepentingan, bawahan misalnya. Supaya kejelasan dan pengertian menjadi kenyataan, saluran komunikasi vertikal harus terbuka. Bawahan mempunyai hak untuk mengetahui apa yang diharapkan dari atasan mereka dam bentuk informasi yang relevan, segera, padat, dan langsung. Ketika komunikasi tidak hanya vertikal dari atas ke bawah namun juga dari bawah ke atas maka akan terjadi umpan balik bahkan adanya pemberian penghargaaan untuk gagasan yang diajukan akan mengarah pada komitmen dan kreativitas di pihak bawahan.
Hal menarik yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah kemungkinan perencanaan waktu yang sedemikian rupa kemudian ada faktor sebagai penghambat akibatnya yang direncanakan terpaksa pelaksanaannya ditunda. Penundaan merupakan batu sandungan terbesar bagi hampir semua orang yang mencari perbaikan dalam memanfaatkan waktunya. Ada tiga sebab yang mengarah ke penundaan: – tidak menyenangkan, – proyek yang sulit, dan – keraguan.
Apapun yang Anda kerjakan, Anda akan bereaksi dengan cara khas dan mungkin berbeda dengan orang di sekitar Anda. Perbedaan individual dalam mempersepsikan waktu dapat memainkan peran kritis dalam kemampuan atau ketidak mampuan Anda untuk berhubungan dengan orang lain.
Apakah Anda selalu datang pagi ke suatu janji pertemuan? Atau Anda selalu terlambat secara kronis? Apakah Anda terusik oleh kawan sekerja yang kelihatannya selalu ada saja bantahannya? Ataukah Anda siap menjawab bila bertemu dengan seseorang yang berbicara cepat dan agaknya tidak mau mendengarkan orang lain? Apakah Anda seorang eksekutif muda yang ingin bertindak cepat? Atau seorang manajer berpengalaman yang bangga dapat mengatur langkah sendiri? Hanya sedikit orang yang dapat menentukan waktu dengan memuaskan. Di dalam diri kita, ada perasaan naluriah tentang arti waktu itu bagi kita, tetapi rupanya kita tidak menyadari bahwa orang lain mungkin merasakan waktu dengan cara lain. Keragaman persepsi waktu individual inilah seringkali membangun konfrontasi manusia yang tidak perlu. Dengan mengerti perasaan sendiri tentang waktu, demikian pula perasaan waktu rekan Anda,