Pasti terjadi dalam kehidupan: perubahan…..

Ada ungkapan tentang anak, menurut orang tua dulu, ‘cilik dadi ati, yen wis gedhe nggadho ati, kepara bisa mangan ati’. Maksudnya: sewaktu masih kecil hati orang tua tersita untuknya (anak), ada rasa kawatir dan sepenuhnya perhatian untuknya. Sewaktu beranjak menjadi besar, mulai punya dunia sendiri, agak melawan, ingin tidak selalu menjadi bagian dari kegiatan orang tua, bahkan setelah agak mandiri sudah tidak lagi agak melawan tetapi benar-benar melawan, disini makna ‘nggadho ati’ bahkan ‘mangan ati’ tadi.
Pertanyaan besarnya, mengapa demikian… ???? Ungkapan lain yang juga tidak kalah pentingnya dan sering diabaikan oleh orang tua, adalah yang pasti terjadi dalam kehidupan kita, selain mati, adalah perubahan, sementara banyak orang tua yang relative anti perubahan dan lebih emosional dengan nostalgia masa lalu, bahwa orang tuanya dulu mendidik coba diterapkan pada anaknya, namun perubahan menyebabkan adanya pergeseran nilai, anak sekarang lebih punya dunia dan berbeda dengan orang tuanya semasa masih kecil yang relative lebih tergantung pada orang tuanya, adanya HAM, adanya kemajuan TI yang spectakuler dan nilai pendidikan yang relative lebih berpihak pada perkembangan anak. Sadar atau tidak, kondisi ini akan terus berjalan, kapan, dimanapun. Bagaimana sebaiknya kita….????, ilmu lama yang sering dikemukakan orang-orang terdahulu mungkin dapat kita coba menghadapinya: ‘diculke endhase (sirahe), dicekel buntute’, identik dengan: dilepas kepalanya dipegang ekornya. Sangat tidak mudah menerapkan hal tersebut, namun ada peluang untuk dapat diterapkan, kenapa tidak kita coba…, persoalannya harus disadari bahwa realita yang kita hadapi sebagai orang tua, ada tuntutan untuk menjadikan anak yang sebaik mungkin, untuk kebahagiannya, sekaligus kebanggaan bagi kita, namun kita berhadapan dengan dunia anak, karena pemahamannya atas dirinya dan masa depannya.
Persoalan di atas, relative menjadi sederhana jika kita mencoba melihat apa yang kita upayakan untuk anak adalah usaha, soal bagaimana realisasinya di lapangan, kita terima dengan rasa syukur, dan kita tekankan pada diri kita, bahwa: ada yang lebih dari kita…….

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Keseimbangan dalam kehidupan…..

Kita sangat familier dengan siang-malam, baik-buruk, kiri-kanan, dan seterusnya. Bahkan dalam dunia pewayangan ada Kurawa-Pendawa, juga di TV ada acara hitam-putih. Saya kemukakan hal tersebut sebagai gambaran bahwa dalam kehidupan terdapat neraca keseimbangan. Lalu apa yang menarik dari gambaran tersebut…… ??? menariknya banyak dari kita terkesan kaget atau justru kehilangan keseimbangan karena lengah atau ‘besar pasak daripada tiang’ artinya harapan terlalu besar dibandingkan aksi untuk memenuhi harapan tersebut. Mungkin hal ini terkait dengan teori baru yang lebih jadi pegangan, misalnya: belajar banyak, lupa banyak, sedangkan belajar sedikit, lupa sedikit, dan tidak belajar, tidak lupa. Akhirnya memilih yang resikonya sedikit, yakni bekajar sedikit, lupa sedikit atau tidak belajar biar tidak lupa, namun tentunya hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Atau mungkin karena ilmu ekonomi yang sekarang lebih dominan menguasai kehidupan kita, sehingga prinsip ekonomi lebih memiliki pengaruh lebih besar, harapan memperoleh hasil sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, atau seperangkat peraturan yang lebih berpihak pada aksi yang membuat pergeseran nilai agung keseimbangan tersebut, missal: kecurangan, kriminalitas, penyelewengan, dan lain sebagainya dengan sangsi yang relative ringan karena HAM, sebagai penyebab pilihan suri tauladan bukan lagi pada tokoh pahlawan pemberantas angkara murka, tapi lebih berprinsip pada pukul dahulu perkara belakang.
Penulis sangat menyadari perubahan dan pergeseran nilai tersebut, kadang masih terkaget-kaget, karena belum terbiasa, contoh: mahasiswa dengan tanpa beban mengatakan dosennya dengan kata-kata: ‘sing genah pak…..!!’. sederhana dan fun saja hal itu terucapkan, tapi mungkin bagi kita yang belum siap akan terasa aneh pernyataan tersebut disampaikan dalam kondisi tertentu. Memang bisa terjadi jika si dosen dalam tidak genah, tetapi saya mencoba menganalisis kadang lebih pada suatu pernyataan yang tanpa beban karena memang tidak selalu si dosen juga genah.
Berdasarkan uraian di atas, dan mungkin masih banyak lagi kejadian dan pernyataan yang dapat dicontohkan, maka rasanya pantas untuk kita bersiap diri menghadapi pergeseran keseimbangan dalam kehidupan karena akan terus muncul nilai-nilai yang bergeser.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jer Basuki Mawa Beya……

Pribahasa jawa yang rasanya tidak asing di telinga kita, yang artinya untuk mendapatkan keberhasilan, kebahagiaan, keselamatan, dan sebagainya yang intinya menyenangkan pasti ada ongkos yang harus kita keluarkan. Sebenarnya tidak beda dengan ajaran agama, dan kiranya pribahasa tersebut benar kemungkinan diserap dari sana. Misalnya: berhari raya setelah puasa; termasuk mendapatkan nilai tambah setelah berusaha dan berdo’a. pelajaran dalam pewayangan pantas juga kita resapi, bagaimana Harjuna mendapatkan keris pusakaq Pasopati yang nilai pakainya hebat, dia harus bertapa, yang atinya melepas semua kepentingan duniawinya dan lebih pada memohon keberkahan dari yang Maha Agung.
Kondisi demikian nampaknya sekarang banyak dilupakan orang karena multi kebutuhan dan kayaknya sekarang kita berada di era serba cepat dan instan, sehingga muncul pedoman siapa cepat dia akan dapat. Pedoman terakhir berakibat banyak orang melupakan sikap santun dalam pergaulan tentu saja sangat rentan dengan marabahaya. Contoh nyata bagaimana sikap santun banyak dari kita di jalanan, yang akhirnya dapat menimbulkan kecelakaan bagi kita dan juga bagi pemakai jalan lainnya. Kemajuan teknologi yang sangat pesat, ditambah pula dengan suri tauladan dari tokoh yang notabene sukses, sangat member jalan terjadinya pergeseran nilai di lingkungan pergaulan. Apa yang kurang….., menurut penulis, selain banyak hal lain yang mungkin sangat perlu dimunculkan, namun yang sangat urgen adalah keterlambatan adanya peraturan yang logis dengan sangsi yang diterapkan secara konsisten yang menungkinkan pelanggar mendapatkan efek jera. Pertanyaan besarnya adalah adakah peraturan yang sekarang mengarah atau lebih memihak pada kepentingan orang banyak, serta apakah ada ketulusan bagi seseorang, termasuk untuk keluarganya mendapatkan konsekwensi sangsi jika melakukan pelanggaran peraturan….??? Jika kondisi tersebut dapat dilaksanakan penulis yakin bahwa kita semua akan berkomitmen, dan tentunya ajaran Jer Basuki Mawa Beya benar-benar akan menjadi semangat yang insya’Allah akan dasyat hasilnya. Semoga kondisi sebagaimana pada kalimat terakhir tadi akan menjadi realita di lingkungan kita Aminnnn.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Serahkan pada Ahlinya…..

Sederhana kumpulan kata tersebut, bahkan sering jadi tertawaan untuk dilontarkan, namun maknanya akan menjadi luar biasa jika dipahami. Banyak kejadian di sekitar kita, serasa carut marut karena banyak hal yang ditangani atau banyak orang berada pada posisi kegiatan atau pekerjaan yang kurang pada tempatnya. Mungkin karena jumlah penduduk yang sedemikian besar sebagai penyebabnya, atau daripada tidak ada pekerjaan, maka masuklah yang bersangkutan di tempat pekerjaan yang tidak sesuai dengan disiplin ilmunya. Demikian pula jika kita perhatikan para pengamat yang mungkin bukan pada bidang ilmunya dan mereka berbicara banyak sesuai dengan asumsi mereka, akibatnya banyak hal yang terasa, terdengar semakin jauh dari upaya secara konstruktif sebagai tujuan meluruskan, alih-alih jadi lurus bahkan menjadi semakin menjauh dari baik. Contoh lain, para Mentri Negara yang di resuple, terasa aneh jika ada diantara mereka bukannya diganti tetapi kemudian dialihtugaskan pada departemen yang berbeda sama sekali, hasil akhirnya tentu bisa ditebak, semakin carut marut.
Kumpulan kata, yang kemudian menjadi kalimat, dan sering kita dengar diucapkan banyak orang, namun dalam konteks ‘guyonan’ tersebut, dapat dicontohkan sebagai berikut: suatu hari pintu rumah kita rusak, saya percaya bahwa kita dapat memperbaiki jika tidak terlalu parah, bahkan parah sekalipun. Namun coba bandingkan hasil pekerjaan kita dengan tukang kayu yang spesialisnya pekerjaan di bidang perpintuan, kita semua akan sependapat bahwa jauh lebih efisien (waktu dan biayanya) hasilnya jika pintu rusak tadi diperbaiki oleh tukang kayu di bidang perpintuan tersebut.
Uraian di atas, tidak dalam upaya mensugesti agar kita tidak mau berbuat sesuatu jika bukan bidang keahlian kita, tetapi lebih pada upaya mengingatkan kita untuk menyadari kapasitas yang ada pada diri kita dan justru lebih mengembangkan kapasitas tersebut yang pada gilirannya akan lebih berdaya guna, dibandingkan jika kita terjebak dengan hal-hal kecil akhirnya menghilangkan peluang untuk hal yang jauh lebih besar, yang dalam bahasa sehari-hari disebutkan mburu uceng kelangan dheleg.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hutang dan atau pihutang……

Banyak kejadian yang adanya sejalan dengan waktu dalam kehidupan kita, ada yang menyenangkan dan sebaliknya ada yang tidak menyenangkan. Mungkin kejadian yang menyenangkan terkait dengan perencanaan, perhitungan yang matang sehingga hasilnya menggembirakan sebagaimana harapan. Sementara kejadian yang tidak menyenangkan kita dapatkan karena diluar perencanaan dan perhitungan yang matang. Sebagai orang yang banyak bergelut dengan ilmu manajemen nampaknya hal itu mendekati kebenaran, namun jika kita mencoba mengamati dan menelusuri, tidak semua yang sudah dihitung dengan perencanaan matang pasti hasilnya menyenangkan. Perlu dikemukakan bahwa tulisan ini tidak dalam upaya mengajak untuk lebih percaya pada hal yang tidak masuk akal, justru dalam upaya melihat adanya ruang untuk menyemangati diri kearah yang positif.
Beranjak dari uraian di atas, penulis kadang mendapatkan kebahagiaan atau kejadian yang luar biasa menyenangkan, di lain pihak pernah juga mendapatkan situasi yang luar biasa di luar keinginan dan tentunya sangat tidak menyenangkan. Kejadian yang demikian terjadi beberapa kali, pada mulanya kaget, bahkan panik. Namun lama-lama dengan tidak mengabaikan dunia keilmuan yang bersifat realistis, pada waktu mengalami kejadian yang tidak menyenangkan di luar perhitungan, penulis berusaha mensugesti diri bahwa kejadian tersebut adalah buah dari perbuatan, sikap, atau ucapan saya yang perlu diperbaiki kedepannya, Sebaliknya, perlu kita sugesti diri kita bahwa dalam kehidupan itu bersifat seimbang, artinya Tetuka itu digdaya mandraguna karena kawah candradimuka, hari raya itu adanya karena ada puasa, jadi besar kemungkinan di muka kita ada sesuatu yang menyenangkan, bersiaplah untuk itu. Di lain pihak, pada waktu mendapatkan kejadian yang menyenangkan bersifat luar biasa dan di luar perhitungan, nikmatilah itu, mungkin buah dari perbuatan, sikap, dan ucapan kita yang baik. Kembali perlu diingatkan bahwa ada kemungkinan keseimbangan dalam kehidupan, artinya bersiaplah jika ada kemungkinan di depan kita nantinya ada kejadiaqn yang sebaliknya dari hal tersebut.
Apa hubungannya dengan hutang dan atau pihutang…..?, jika uraian di atas benar, maka kejadian yang tidak menyenangkan bisa bermakna hutang kalau kita menyadari bahwa kejadian tidak menyenangkan tersebut buah dari perbuatan, sikap, dan ucapan yang kurang baik, artinya hutang kita terbayarkan, atau dapat juga kita punya pihutang karena kedepannya kita akan memperoleh kejadian yang menyenangkan. Demikian pula jika kita mendapatkan kesenagan yang luar biasa mungkin itu buah dari sikap, perbuatan atau ucapan kita yang baik, berarti pihutang kita dapat hasilnya, atau justru kita harus bersiap untuk menerima kejadian yang tidak menyenangkan, sebagai keseimbangan dalam kehidupan kita.
Kesimpulan yang dapat dikemukakan, selalu berbuat baiklah, walaupun hambatan dan tantangan kemungkinan sering merintangi upaya kita untuk berbuat baik tersebut, atau cobalah menghitung asset kita di dunia lain, tidak hanya pandai menghitung asset di sunia nyata.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Saran, masukan……

Suatu pernyataan yang sering dilontarkan orang tua, orang yang merasa punya pengalaman lebih, dengan maksud meredam rasa tidak nyaman bagi yang diajak berbicara, atau semacam harapan agar yang bersangkutan (yang diajak berbicara) kembali dalam keseimbangan.
Enteng sekali pernyataan tersebut dilontarkan, serasa semudah atau seenteng itu jika yang mengatakan tersebut mendapatkan pernyataan serupa dari orang lain.
Agak mengganggu dan menggelitik untuk tidak mencoba menganalisisnya, masalahnya terkadang yang mengatakannya melakukan dengan tulus, tidak menggurui, bahkan ada keinginan atau kemauan yang sungguh-sungguh dalam upaya memberikan informasi atau dalam menyampaikan pernyataan tersebut. Persoalannya adalah: apakah medan magnit yang menyampaikan sama dengan medan magnit yang diajak berbicara. Dilain pihak, sebaik apapun saran atau masukan, antara yang memberi saran atau masukan dengan yang diberi tentunya yang lebih tahu tentang permasalahannya adalah yang bersangkutan.
Berdasarkan uraian di atas, yang bisa dipetik untuk dapat dijadikan pelajaran adalah: yang memberi saran atau masukan, pantas kiranya menyadari bahwa tidak semua masukan dapat diterima atau sesuai dengan kondisi yang diberi masukan. Konon ada kata bijak yang kiranya sering kita dengar namun sering kali kita lupakan, yang berbunyi: jangan membuat ukuran baju orang lain dengan ukuran baju kita, maknanya: baik menurut kita belum tentu sebaik yang kita rasakan untuk orang lain.
Menariknya kita sering terjebak, bahwa mengabarkan keberhasilan yang identik (seakan-akan menyarankan orang lain bertindak seperti kita) sering kali membuat kita kurang control, justru orang lain mencibir atau tidak tertarik untuk sependapat atau orang lain berada dalam kondisi ‘defense mecanism’ terhadap apa yang kita sampaikan. Lebih jauh agar kita berada dalam jalur berpikir positif terhadap orang lain, sangat penting untuk kita mengadopsi pernyataan yang mengatakan ‘jangan dilihat orang yang mengatakan, tapi resapi apa yang dikatakan’ maka pantas kiranya untuk kita meluangkan waktu guna mendengar dan menghargai masukan tersebut, mungkin ada baiknya untuk lebih mempercantik hasil pemikiran kita sebelumnya, atau mungkin karena tidak sejalan dengan kondisi kita akhirnya belum dapat diterapkan, dan insya’Allah pada saatnya justru bisa menjadi referensi keputusan kita.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ada yang lebih dari anda….

Suatu waktu kita berada dalam kondisi sangat terpuruk, semuanya terasa buruk, dunia bagaikan akan ambruk. Pada waktu yang lain kita berada pada kondisi yang sangat berbahagia, hati terasa berbunga-bunga, dan terasa dunia bagaikan milik kita. Dalam kondisi terpuruk dan ambruk, ibaratnya bagi kita tidak ada orang lain yang mengalami malapetaka paling berat seperti kita, sebaliknya pada waktu kita mengalami situasi yang menyenangkan, ibaratnya tidak ada orang lain yang menerima kesenangan seperti yang kita alami, bahkan dengan pongah menepuk dada sampai-sampai lupa bisa lengah bahwa di sebelahnya kemungkinan ada jurang yang bisa menjerumuskannya.
Preambul di atas sengaja penulis sampaikan untuk mengingatkan diri kita masing-masing, manusiawi sebenarnya orang senang akan berbahagia, dan orang mengalami kegagalan akan bersedih. Namun tidak dengan maksud sok tahu, bahwa ada baiknya kita membuat ‘alarm’ untuk diri kita masing-masing jangan terlalu bersedih menerima ketidak berhasilan atau menerima sesuatu yang tidak kita inginkan, dan jangan terlalu bergembira pada waktu berhasil mencapai cita-cita atau mendapatkan sesuatu yang menggembirakan. Sejalan dengan itu, jika kita kaya jangan merasa paling kaya, demikian pula jika kita ada kekurangan jangan merasa paling berada dalam kekurangan tersebut.
Alarm yang penulis maksudkan adalah bahwa ‘ada yang lebih dari kita’, maksudnya jika kita menadapatkan kesedihan karena ketidak berhasilan, sebenarnyalah ada yang lebih tidak berhasil dari kita, jika kita mengalami kesenangan ada yang dialami oleh orang lain yang lebih menyenangkan, demikian pula jika kita merasa memiliki postur tubuh yang sempurna maka sebenarnyalah masih ada yang lebih sempurna dari kita, dan seterusnya dan seterusnya, prinsipnya ada yang lebih dari anda.

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Merenung sejenak…

Merenung sejenak…
Bagaimana kebiasaan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu persoalan, tentu tergantung strata berat ringannya persoalan tersebut, atau mendesak dan kurang mendesaknya persoalan tersebut harus diselesaikan. Namun dengan meminjam pendapat para ahli, bahwa setiap orang mempunyai bawaan sejak lahir, yang istilah lainnya sebagai watak dan ini beda dengan watuk (batuk), karena batuk ada obatnya. Makna yang dapat dipetik disitu adalah setiap orang mempunyai kebiasaan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Namun ada statemen lain dari hasil penelitian, yang menyatakan bahwa sebenarnya kebiasaan dapat dipelajari dan dilatih, artinya jika kebiasaan dalam menyelesaikan masalah ternyata sering justru menimbulkan masalah baru, tentunya akan lebih baik kita meniru semboyan dari ‘pegadaian’ yakni menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Banyak orang menghadapi masalah menajadi panik, dapat dipastikan orang tersebut akan segera menyelesaikan masalah yang dihadapinya untuk menghindari rasa stress yang berkepanjangan. Kalau hal ini dilakukan cenderung akan menimbulkan masalah baru, karena dalam keadaan panik maka emosional sangat kental, dan karenanya ucapan, perbuatan, dan sikap sering kurang terkontrol, akibatnya ada yang tersinggung, sakit hati, dan mungkin marah, dan inilah yang dimaksudkan adanya kemungkinan timbulnya masalah baru.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan insya’Allah banyak orang pernah megalami serta menerapkannya, sebaiknya jangan mengambil keputusan apapun dalam keadaan panik, lebih baik ‘disrantekake’ maksudnya buat keseimbangan dulu atau dibuat hati tenang dulu, dengan cara merenung sejenak. Sebelum pengambilan keputusan dengan cara merenung sejenak ini akan berbeda untuk setiap orang berapa lama waktunya, tergantung bobot persoalannya dan keterlatihan dalam merenung sejenak tersebut. Artinya, jika seseorang sudah terlatih melakukan perenungan sejenak, maka semakin tangkas kemampuannya untuk pengambilan keputusan berdasarkan perenungan sejenak tersebut. Selamat mencobanya..

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Merenung sejenak…

Bagaimana kebiasaan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu persoalan, tentu tergantung strata berat ringannya persoalan tersebut, atau mendesak dan kurang mendesaknya persoalan tersebut harus diselesaikan. Namun dengan meminjam pendapat para ahli, bahwa setiap orang mempunyai bawaan sejak lahir, yang istilah lainnya sebagai watak dan ini beda dengan watuk (batuk), karena batuk ada obatnya. Makna yang dapat dipetik disitu adalah setiap orang mempunyai kebiasaan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Namun ada statemen lain dari hasil penelitian, yang menyatakan bahwa sebenarnya kebiasaan dapat dipelajari dan dilatih, artinya jika kebiasaan dalam menyelesaikan masalah ternyata sering justru menimbulkan masalah baru, tentunya akan lebih baik kita meniru semboyan dari ‘pegadaian’ yakni menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Banyak orang menghadapi masalah menajadi panik, dapat dipastikan orang tersebut akan segera menyelesaikan masalah yang dihadapinya untuk menghindari rasa stress yang berkepanjangan. Kalau hal ini dilakukan cenderung akan menimbulkan masalah baru, karena dalam keadaan panik maka emosional sangat kental, dan karenanya ucapan, perbuatan, dan sikap sering kurang terkontrol, akibatnya ada yang tersinggung, sakit hati, dan mungkin marah, dan inilah yang dimaksudkan adanya kemungkinan timbulnya masalah baru.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan insya’Allah banyak orang pernah megalami serta menerapkannya, sebaiknya jangan mengambil keputusan apapun dalam keadaan panik, lebih baik ‘disrantekake’ maksudnya buat keseimbangan dulu atau dibuat hati tenang dulu, dengan cara merenung sejenak. Sebelum pengambilan keputusan dengan cara merenung sejenak ini akan berbeda untuk setiap orang berapa lama waktunya, tergantung bobot persoalannya dan keterlatihan dalam merenung sejenak tersebut. Artinya, jika seseorang sudah terlatih melakukan perenungan sejenak, maka semakin tangkas kemampuannya untuk pengambilan keputusan berdasarkan perenungan sejenak tersebut. Selamat mencobanya..

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tugas dan tantangan identik dengan rekreasi…..

Sering kita mendengar dan membaca tentang bagaimana mengemas suatu stress menjadi kekuatan. Sepertinya enak dibaca dan didengarkan, namun tidak semudah untuk dilaksanakan. Mahasiswa menjelang ujian komprehensip cenderung stress, banyak diantara mereka datang ke pembimbing, sekedar bertanya kemungkinan suasana ujian dan bayangan yang mungkin akan diujikan oleh tim penguji.
Sebetulnya mereka sudah banyak mencari informasi dari kakak-kakak tingkat yang sudah ujian, namun dengan maksud yang terselubung bahwa mereka mencari keseimbangan karena mental yang sedang tertekan yang pada gilirannya merasa stress.
Penulispun ketika sedang menghadapi ujian juga mengalami kondisi mental yang sama, mencari orang yang dapat diajak berbicara, tentunya orang yang mempunyai empati terhadap permasalahan yang penulis hadapi, dan berdasarkan pengalaman penulis cara-cara tersebut sangat bermanfaat.
Diantaranya:
o Tugas dan tantangan dihadapi oleh banyak orang atau semua orang, artinya ibarat di tengah padang pasir yang panas, akan tidak terasa panas jika disitu banyak orang yang ada bersama kita di terik panas matahari tersebut, sangat berbeda jika terik panas di padang pasir itu kita sendirian disitu.
o Tugas dan tantangan dikemas menjadi kuajiban, artinya harus kita hadapi dan kita yaqin bahwa keberhasilan penyelesaian tugas dan tantangan tersebut akan memudahkan kita menanpakkan kaki diperjalanan kita berikutnya.
o Tugas dan tantangan jembatan yang tidak bisa dihindari, laksana Gatutkaca yang menjadi sakti mandraguna setelah dimasukkan ke dalam kawah candradimuka…
Dalam kaitannya dengan rekreasi, dan uraian di atas maka dapat dikemukakan sebagai berikut:
o Proses dalam penyelesaian tugas, ada kecenderungan berinteraksi dengan orang lain, suasana lain, maka akan diperoleh masukan dan mungkin justru muncul ide yang lebih cerdas atas penyelesaian tugas tersebut.
o Jika proses penyelesaian tugas dihadapi dengan rasa hati yang nyaman, pihak lain dan suasana di sekitar akan memberikan stimulant, maka dapat dipastikan pihak lain lebih dapat ikut menikmati penyelesain tugas tersebut, dengan asumsi makna rekreasi condong pada hal-hal yang menyenangkan.
Dengan demikian, berdasarkan uraian di atas, pantas kiranya untuk dicoba dan diterapkan kondisi dalam makna, kita menghadapi tugas untuk kita ibaratkan sebagai rekreasi.

Posted in Uncategorized | Leave a comment