Realita dan fakta Remaja akhir-akhir ini

Remaja adalah kelompok yang paling berisiko terpapar HIV/AIDS. Perilaku menyimpang seks bebas dan pemakaian narkoba dikalangan remaja sudah pada taraf yang sangat mencekam, maraknya industri hiburan berbasis seks dan narkoba serta mudahnya mengakses situs-situs online pornografi menjadi salah satu pemicunya. Kejadian ini membuat pemerintah dan semua lapisan masyarakat khawatir akan masa depan bangsa ini. Lingkungan sekitarlah yang sangat berperan dalam menjadikan jati diri seorang pelajar (remaja), seperti lingkungan rumah dan lingkungan sekolah. Pergaulan yang kurang baik akan membuat seorang pelajar berperilaku kurang baik juga. Peran orang tua pun sangat berpengaruh, dalam pembentukan perilaku dan kepribadian seorang siswa.
BKKBN online melansir hasil temuan penelitian yang memprihatinkan, pada penelitian tersebut Jawa Barat diwakili kota Tasikmalaya dan Cirebon. Hasilnya, 17% remaja Tasik mengaku sudah melakukan seks pra nikah, dan 6,7% remaja Cirebon mengaku penganut seks bebas. Di Bandung temuan BKKBN menyebutkan, sekitar 21-30% remaja melakukan seks pra nikah, menyamai DKI Jakarta dan Jogjakarta.
Data di atas tidak akan berbanding lurus dengan realitas di lapangan, karena sifatnya yang epidemik. HIV/AIDS adalah fenomena gunung es, teridentifikasi di permukaan dibawah akan jauh lebih besar. Study kasus HIV/AIDS hanya terdeteksi di kalangan pemakai narkoba saja karena ketika akan menjalani rehabilitasi diwajibkan menjalani tes HIV, sedangkan untuk pengidap heteroseksual belum ada mekanisme untuk menjaringnya. Sehingga tidaklah mengherankan persentase HIV/AIDS melalui heteroseksual ini relatif kecil, http://www.satuportal.net/content/hiv-dan-remaja
Melihat fenomena diatas, sangat diperlukan adanya Perencanaan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR), agar remaja dapat terhindar dari resiko pernikahan dini, seks bebas, HIV AIDS, serta narkoba. Resiko-resiko tersebut dalam program PKBR sering disebut dengan istilah triad KRR. PKBR (Program Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja) berperan secara aktif dan intensif memberikan penyuluhan bagi remaja untuk lebih peduli terhadap dirinya, sehingga remaja dapat terhindar dari resiko-resiko pergaulan bebas yang tidak diinginkan, serta dapat merencakan masa depannya. Adapun alat pelaksanaan program PKBR adalah dengan membentuk wadah kegiatan remaja yang disebut PIK (Pusat Informasi dan Konseling) Remaja. Kegiatan ini diawali dari remaja dilakukan oleh remaja dan diperuntukkan kepada remaja, dengan nafas peer education (pendidikan sebaya).

Pada setiap tahapan perkembangan manusia terdapat tugas-tugas tertentu yang berasal dari harapan masyarakat yang harus dipenuhi oleh individu, dan ini sering disebut tugas-tugas perkembangan. Keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan tugas perkembangan pada periode usia tertentu akan mempengaruhi berhasil atau tidaknya seseorang dalam menjalankan tugas perkembangan pada periode usia selanjutnya. Pada usia remaja terdapat pula tugas-tugas perkembangan tertentu yang harus dipenuhi oleh individu. Remaja diharapakan dapat memenuhinya sehingga individu tersebut siap memasuki masa dewasa dengan peran-peran serta tugas-tugas barunya sebagai orang dewasa. Tugas-tugas remaja tersebut menurut Pikunas (1976) antara lain:
a. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan figur-figur otoritas.
b. Mengembangkan keterampilan dalam komunikasi interpersonal, belajar membina relasi dengan teman sebaya dan orang dewasa, baik secara individu maupun dalam kelompok.
c. Memperkuat kontrol diri berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang ada.
d. Meninggalkan bentuk-bentuk rekasi dan penyesuaian yang kekanak-kanakan.
Tampak bahwa secara umum tugas perkembangan masa remaja berkaitan dengan diri sendiri dan juga dengan lingkungan sosial yang dihadapinya. Semua perubahan yang terjadi menuntut individu untuk melakukan penyesuaian dalam dirinya, menerima perubahan-perubahan itu sebagai bagian dari dirinya, menerima perubahan-perubahan itu sebagai bagian dari dirinya, dan membentuk suatu sense of self yang baru tentang siapa dirinya, untuk mempersiapkan diri menghadapi masa dewasa. Dengan bertambahnya usia, lingkungan sosial juga yang dihadapi pun makin luas. Lingkungan menuntut individu untuk bertingkah laku dengan cara tertentu sesuai dengan norma yang ada pada lingkungan tersebut, dan ini berarti individu juga harus menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan. Jika individu mampu memenuhi tuntutan-tuntutan dari lingkungan yang dihadapinya, maka individu tersebut akan lebih siap memasuki masa dewasa dengan peran-peran dan tanggung jawab yang baru.

Tugas dalam proses perkembangan Remaja.

Pada setiap tahapan perkembangan manusia terdapat tugas-tugas tertentu yang berasal dari harapan masyarakat yang harus dipenuhi oleh individu, dan ini sering disebut tugas-tugas perkembangan. Keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan tugas perkembangan pada periode usia tertentu akan mempengaruhi berhasil atau tidaknya seseorang dalam menjalankan tugas perkembangan pada periode usia selanjutnya. Pada usia remaja terdapat pula tugas-tugas perkembangan tertentu yang harus dipenuhi oleh individu. Remaja diharapakan dapat memenuhinya sehingga individu tersebut siap memasuki masa dewasa dengan peran-peran serta tugas-tugas barunya sebagai orang dewasa. Tugas-tugas remaja tersebut menurut Pikunas (1976) antara lain:
a. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan figur-figur otoritas.
b. Mengembangkan keterampilan dalam komunikasi interpersonal, belajar membina relasi dengan teman sebaya dan orang dewasa, baik secara individu maupun dalam kelompok.
c. Memperkuat kontrol diri berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang ada.
d. Meninggalkan bentuk-bentuk rekasi dan penyesuaian yang kekanak-kanakan.
Tampak bahwa secara umum tugas perkembangan masa remaja berkaitan dengan diri sendiri dan juga dengan lingkungan sosial yang dihadapinya. Semua perubahan yang terjadi menuntut individu untuk melakukan penyesuaian dalam dirinya, menerima perubahan-perubahan itu sebagai bagian dari dirinya, menerima perubahan-perubahan itu sebagai bagian dari dirinya, dan membentuk suatu sense of self yang baru tentang siapa dirinya, untuk mempersiapkan diri menghadapi masa dewasa. Dengan bertambahnya usia, lingkungan sosial juga yang dihadapi pun makin luas. Lingkungan menuntut individu untuk bertingkah laku dengan cara tertentu sesuai dengan norma yang ada pada lingkungan tersebut, dan ini berarti individu juga harus menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan. Jika individu mampu memenuhi tuntutan-tuntutan dari lingkungan yang dihadapinya, maka individu tersebut akan lebih siap memasuki masa dewasa dengan peran-peran dan tanggung jawab yang baru.

Tugas dalam proses perkembangan Remaja

Pada setiap tahapan perkembangan manusia terdapat tugas-tugas tertentu yang berasal dari harapan masyarakat yang harus dipenuhi oleh individu, dan ini sering disebut tugas-tugas perkembangan. Keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan tugas perkembangan pada periode usia tertentu akan mempengaruhi berhasil atau tidaknya seseorang dalam menjalankan tugas perkembangan pada periode usia selanjutnya. Pada usia remaja terdapat pula tugas-tugas perkembangan tertentu yang harus dipenuhi oleh individu. Remaja diharapakan dapat memenuhinya sehingga individu tersebut siap memasuki masa dewasa dengan peran-peran serta tugas-tugas barunya sebagai orang dewasa. Tugas-tugas remaja tersebut menurut Pikunas (1976) antara lain:
a. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan figur-figur otoritas.
b. Mengembangkan keterampilan dalam komunikasi interpersonal, belajar membina relasi dengan teman sebaya dan orang dewasa, baik secara individu maupun dalam kelompok.
c. Memperkuat kontrol diri berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang ada.
d. Meninggalkan bentuk-bentuk rekasi dan penyesuaian yang kekanak-kanakan.
Tampak bahwa secara umum tugas perkembangan masa remaja berkaitan dengan diri sendiri dan juga dengan lingkungan sosial yang dihadapinya. Semua perubahan yang terjadi menuntut individu untuk melakukan penyesuaian dalam dirinya, menerima perubahan-perubahan itu sebagai bagian dari dirinya, menerima perubahan-perubahan itu sebagai bagian dari dirinya, dan membentuk suatu sense of self yang baru tentang siapa dirinya, untuk mempersiapkan diri menghadapi masa dewasa. Dengan bertambahnya usia, lingkungan sosial juga yang dihadapi pun makin luas. Lingkungan menuntut individu untuk bertingkah laku dengan cara tertentu sesuai dengan norma yang ada pada lingkungan tersebut, dan ini berarti individu juga harus menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan. Jika individu mampu memenuhi tuntutan-tuntutan dari lingkungan yang dihadapinya, maka individu tersebut akan lebih siap memasuki masa dewasa dengan peran-peran dan tanggung jawab yang baru.

Tantangan yang dihadapi Remaja

Selain segala perubahan yang terdapat dalam diri remaja, terdapat perubahan dalam lingkungan seperti sikap orang tua atau anggota keluarga lain, guru, teman sebaya, maupun masyarakat pada umumnya. Remaja dituntut untuk mampu menampilkan tingkah laku yang dianggap pantas atau sesuai bagi orang-orang seusianya. Adanya perubahan baik di dalam maupun di luar dirinya itu
membuat kebutuhan remaja semakin meningkat terutama kebutuhan sosial dan kebutuhan psikologisnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut remaja memperluas lingkungan sosialnya di luar lingkungan keluarga seperti lingkungan teman sebaya dan lingkungan pergaulannya di masyarakat.
Secara umum Konopka 1973 dan Ingersoll 1989 membagi masa remaja menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
a. Masa remaja awal (12-15 tahun)
Pada masa ini individu mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak dan berusahan mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan tidak tergantung pada orang tua. Fokus dari tahap ini adalah penerimaan terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat dengan teman sebaya.
b. Masa remaja pertengahan (15-18 tahun)
Masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berpikir yang baru. Teman sebaya masih memiliki peran yang penting, namun individu sudah lebih mampu mengarahkan kematangan tingkah laku, belajar mengendalikan impulsivitas, dan membuat keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan tujuan vokasional yang ingin dicapai. Selain itu penerimaan dari lawan jenis menjadi penting bagi individu.
c. Masa remaja akhir (19-22 tahun)
Masa ini ditandai dengan oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa. Selama periode ini remaja berusaha memantapkan tujuan vokasional dan mengembangkan sense of personal identity. Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa, juga menjadi ciri dari tahap ini.

Remaja

Remaja berasal dari kata latin adolesence yang berarti tumbuh, atau tumbuh menjadi dewasa. Hal ini berarti tumbuh dewasa yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik. Remaja tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi juga bukan golongan dewasa atau tua. Masa remaja adalah peralihan dari masa anak ke masa dewasa yang mengalami perkembangan di semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa . Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.
Berdasarkan definisi tersebut, masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis. Menurut WHO rentang usia masa remaja adalah 10 tahun – 24 tahun.
Masa remaja dimulai dari saat sebelum baligh dan berakhir pada usia baligh. Oleh sebagian ahli psikologi, masa remaja berada dalam kisaran usia antara 11-19 tahun. Adapula yang mengatakan antara usia 11-24 tahun. Selain itu, masa remaja merupakan masa transisi (masa peralihan) dari masa anak-anak menuju masa dewasa, yaitu saat manusia tidak mau lagi diperlakukan oleh lingkungan keluarga dan masyarakat sebagian anak-anak, tetapi dilihat dari pertumbuhan fisik, perkembangan psikis (kejiwaan), dan mentalnya belum menjukkan tanda-tanda dewasa. Pada masa ini (masa remaja), manusia banyak mengalami perubahan yang sangat fundamental dalam kehidupan baik perubahan fisik dan psikis (kejiwaan dan mental). Masa remaja merupakan masa yang sangat penting, sangat kritis dan sangat rentan, karena bila manusia melewati masa remajanya dengan kegagalan, dimungkinkan akan menemukan kegagalan dalam perjalanan kehidupan pada masa berikutnya. Sebaliknya bila masa remaja itu diisi dengan kesuksesan, kegiatan yang sangat produktif dan berhasil guna dalam rangka menyiapkan diri untuk memasuki tahapan kehidupan selanjutnya, dimungkinkan manusia itu akan mendapatkan kesuksesan dalam perjalanan hidupnya. Dengan demikian, masa remaja menjadi kunci sukses dalam memasuki tahapan kehidupan selanjutnya.

Pasti terjadi dalam kehidupan: perubahan…..

Ada ungkapan tentang anak, menurut orang tua dulu, ‘cilik dadi ati, yen wis gedhe nggadho ati, kepara bisa mangan ati’. Maksudnya: sewaktu masih kecil hati orang tua tersita untuknya (anak), ada rasa kawatir dan sepenuhnya perhatian untuknya. Sewaktu beranjak menjadi besar, mulai punya dunia sendiri, agak melawan, ingin tidak selalu menjadi bagian dari kegiatan orang tua, bahkan setelah agak mandiri sudah tidak lagi agak melawan tetapi benar-benar melawan, disini makna ‘nggadho ati’ bahkan ‘mangan ati’ tadi.
Pertanyaan besarnya, mengapa demikian… ???? Ungkapan lain yang juga tidak kalah pentingnya dan sering diabaikan oleh orang tua, adalah yang pasti terjadi dalam kehidupan kita, selain mati, adalah perubahan, sementara banyak orang tua yang relative anti perubahan dan lebih emosional dengan nostalgia masa lalu, bahwa orang tuanya dulu mendidik coba diterapkan pada anaknya, namun perubahan menyebabkan adanya pergeseran nilai, anak sekarang lebih punya dunia dan berbeda dengan orang tuanya semasa masih kecil yang relative lebih tergantung pada orang tuanya, adanya HAM, adanya kemajuan TI yang spectakuler dan nilai pendidikan yang relative lebih berpihak pada perkembangan anak. Sadar atau tidak, kondisi ini akan terus berjalan, kapan, dimanapun. Bagaimana sebaiknya kita….????, ilmu lama yang sering dikemukakan orang-orang terdahulu mungkin dapat kita coba menghadapinya: ‘diculke endhase (sirahe), dicekel buntute’, identik dengan: dilepas kepalanya dipegang ekornya. Sangat tidak mudah menerapkan hal tersebut, namun ada peluang untuk dapat diterapkan, kenapa tidak kita coba…, persoalannya harus disadari bahwa realita yang kita hadapi sebagai orang tua, ada tuntutan untuk menjadikan anak yang sebaik mungkin, untuk kebahagiannya, sekaligus kebanggaan bagi kita, namun kita berhadapan dengan dunia anak, karena pemahamannya atas dirinya dan masa depannya.
Persoalan di atas, relative menjadi sederhana jika kita mencoba melihat apa yang kita upayakan untuk anak adalah usaha, soal bagaimana realisasinya di lapangan, kita terima dengan rasa syukur, dan kita tekankan pada diri kita, bahwa: ada yang lebih dari kita…….

Keseimbangan dalam kehidupan…..

Kita sangat familier dengan siang-malam, baik-buruk, kiri-kanan, dan seterusnya. Bahkan dalam dunia pewayangan ada Kurawa-Pendawa, juga di TV ada acara hitam-putih. Saya kemukakan hal tersebut sebagai gambaran bahwa dalam kehidupan terdapat neraca keseimbangan. Lalu apa yang menarik dari gambaran tersebut…… ??? menariknya banyak dari kita terkesan kaget atau justru kehilangan keseimbangan karena lengah atau ‘besar pasak daripada tiang’ artinya harapan terlalu besar dibandingkan aksi untuk memenuhi harapan tersebut. Mungkin hal ini terkait dengan teori baru yang lebih jadi pegangan, misalnya: belajar banyak, lupa banyak, sedangkan belajar sedikit, lupa sedikit, dan tidak belajar, tidak lupa. Akhirnya memilih yang resikonya sedikit, yakni bekajar sedikit, lupa sedikit atau tidak belajar biar tidak lupa, namun tentunya hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Atau mungkin karena ilmu ekonomi yang sekarang lebih dominan menguasai kehidupan kita, sehingga prinsip ekonomi lebih memiliki pengaruh lebih besar, harapan memperoleh hasil sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, atau seperangkat peraturan yang lebih berpihak pada aksi yang membuat pergeseran nilai agung keseimbangan tersebut, missal: kecurangan, kriminalitas, penyelewengan, dan lain sebagainya dengan sangsi yang relative ringan karena HAM, sebagai penyebab pilihan suri tauladan bukan lagi pada tokoh pahlawan pemberantas angkara murka, tapi lebih berprinsip pada pukul dahulu perkara belakang.
Penulis sangat menyadari perubahan dan pergeseran nilai tersebut, kadang masih terkaget-kaget, karena belum terbiasa, contoh: mahasiswa dengan tanpa beban mengatakan dosennya dengan kata-kata: ‘sing genah pak…..!!’. sederhana dan fun saja hal itu terucapkan, tapi mungkin bagi kita yang belum siap akan terasa aneh pernyataan tersebut disampaikan dalam kondisi tertentu. Memang bisa terjadi jika si dosen dalam tidak genah, tetapi saya mencoba menganalisis kadang lebih pada suatu pernyataan yang tanpa beban karena memang tidak selalu si dosen juga genah.
Berdasarkan uraian di atas, dan mungkin masih banyak lagi kejadian dan pernyataan yang dapat dicontohkan, maka rasanya pantas untuk kita bersiap diri menghadapi pergeseran keseimbangan dalam kehidupan karena akan terus muncul nilai-nilai yang bergeser.

Jer Basuki Mawa Beya……

Pribahasa jawa yang rasanya tidak asing di telinga kita, yang artinya untuk mendapatkan keberhasilan, kebahagiaan, keselamatan, dan sebagainya yang intinya menyenangkan pasti ada ongkos yang harus kita keluarkan. Sebenarnya tidak beda dengan ajaran agama, dan kiranya pribahasa tersebut benar kemungkinan diserap dari sana. Misalnya: berhari raya setelah puasa; termasuk mendapatkan nilai tambah setelah berusaha dan berdo’a. pelajaran dalam pewayangan pantas juga kita resapi, bagaimana Harjuna mendapatkan keris pusakaq Pasopati yang nilai pakainya hebat, dia harus bertapa, yang atinya melepas semua kepentingan duniawinya dan lebih pada memohon keberkahan dari yang Maha Agung.
Kondisi demikian nampaknya sekarang banyak dilupakan orang karena multi kebutuhan dan kayaknya sekarang kita berada di era serba cepat dan instan, sehingga muncul pedoman siapa cepat dia akan dapat. Pedoman terakhir berakibat banyak orang melupakan sikap santun dalam pergaulan tentu saja sangat rentan dengan marabahaya. Contoh nyata bagaimana sikap santun banyak dari kita di jalanan, yang akhirnya dapat menimbulkan kecelakaan bagi kita dan juga bagi pemakai jalan lainnya. Kemajuan teknologi yang sangat pesat, ditambah pula dengan suri tauladan dari tokoh yang notabene sukses, sangat member jalan terjadinya pergeseran nilai di lingkungan pergaulan. Apa yang kurang….., menurut penulis, selain banyak hal lain yang mungkin sangat perlu dimunculkan, namun yang sangat urgen adalah keterlambatan adanya peraturan yang logis dengan sangsi yang diterapkan secara konsisten yang menungkinkan pelanggar mendapatkan efek jera. Pertanyaan besarnya adalah adakah peraturan yang sekarang mengarah atau lebih memihak pada kepentingan orang banyak, serta apakah ada ketulusan bagi seseorang, termasuk untuk keluarganya mendapatkan konsekwensi sangsi jika melakukan pelanggaran peraturan….??? Jika kondisi tersebut dapat dilaksanakan penulis yakin bahwa kita semua akan berkomitmen, dan tentunya ajaran Jer Basuki Mawa Beya benar-benar akan menjadi semangat yang insya’Allah akan dasyat hasilnya. Semoga kondisi sebagaimana pada kalimat terakhir tadi akan menjadi realita di lingkungan kita Aminnnn.

Serahkan pada Ahlinya…..

Sederhana kumpulan kata tersebut, bahkan sering jadi tertawaan untuk dilontarkan, namun maknanya akan menjadi luar biasa jika dipahami. Banyak kejadian di sekitar kita, serasa carut marut karena banyak hal yang ditangani atau banyak orang berada pada posisi kegiatan atau pekerjaan yang kurang pada tempatnya. Mungkin karena jumlah penduduk yang sedemikian besar sebagai penyebabnya, atau daripada tidak ada pekerjaan, maka masuklah yang bersangkutan di tempat pekerjaan yang tidak sesuai dengan disiplin ilmunya. Demikian pula jika kita perhatikan para pengamat yang mungkin bukan pada bidang ilmunya dan mereka berbicara banyak sesuai dengan asumsi mereka, akibatnya banyak hal yang terasa, terdengar semakin jauh dari upaya secara konstruktif sebagai tujuan meluruskan, alih-alih jadi lurus bahkan menjadi semakin menjauh dari baik. Contoh lain, para Mentri Negara yang di resuple, terasa aneh jika ada diantara mereka bukannya diganti tetapi kemudian dialihtugaskan pada departemen yang berbeda sama sekali, hasil akhirnya tentu bisa ditebak, semakin carut marut.
Kumpulan kata, yang kemudian menjadi kalimat, dan sering kita dengar diucapkan banyak orang, namun dalam konteks ‘guyonan’ tersebut, dapat dicontohkan sebagai berikut: suatu hari pintu rumah kita rusak, saya percaya bahwa kita dapat memperbaiki jika tidak terlalu parah, bahkan parah sekalipun. Namun coba bandingkan hasil pekerjaan kita dengan tukang kayu yang spesialisnya pekerjaan di bidang perpintuan, kita semua akan sependapat bahwa jauh lebih efisien (waktu dan biayanya) hasilnya jika pintu rusak tadi diperbaiki oleh tukang kayu di bidang perpintuan tersebut.
Uraian di atas, tidak dalam upaya mensugesti agar kita tidak mau berbuat sesuatu jika bukan bidang keahlian kita, tetapi lebih pada upaya mengingatkan kita untuk menyadari kapasitas yang ada pada diri kita dan justru lebih mengembangkan kapasitas tersebut yang pada gilirannya akan lebih berdaya guna, dibandingkan jika kita terjebak dengan hal-hal kecil akhirnya menghilangkan peluang untuk hal yang jauh lebih besar, yang dalam bahasa sehari-hari disebutkan mburu uceng kelangan dheleg.