Leader sebagai Stimulator Inovasi

Kata “perubahan” bagi sebagian orang merupakan sebuah kata yang menimbulkan kekhawatiran dan perasaan takut. Bagi mereka yang lain, kata itu adalah sebuah pertanda tantangan dan waktu-waktu yang menggairahkan. Sementara bagi sebagian lagi kata itu merupakan sebuah peringatan untuk memulai sebuah perjuangan demi kelangsungan hidup.

Dalam kontek organisasi perubahan berarti kemampuan organisasi untuk beradaptasi menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan bisnisnya. Perubahan organisasi merupakan suatu upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya yang dapat dicapai melalui proses transformasi berpikir atau transformasi mental dari anggotanya. Tidak ada organisasi yang dapat bertahan tanpa kemampuannya untuk beradaptasi sesuai tuntutan perubahan zaman.  Perubahan seharusnya tidak dianggap sebagai sebuah malapetaka karena manusia mempunyai kemampuan dalam beradaptasi dan memberikan kontribusi mereka pada perubahan tersebut.

Ketika kita bicara mengenai kepemimpinan, kita bicara lebih dari sekedar manager, direktur atau presiden direktur. Kita sedang membahas hal-hal yang lebih dalam daripada kemampuan intelektual atau nalar seseorang. Pemimpin merupakan otak dari sebuah organisasi. Layaknya seorang nakhoda yang mengarahkan kemana kapal yang akan ditumpanginya menuju. Secara gamblang, pemimpin bertanggung jawab secara penuh akan hal-hal yang terjadi didalam organisasi yang dia pimpin. Apa yang membuat orang menjadi seorang pemimpin? Apakah setiap orang bisa menjadi seorang pemimpin? Mengapa ada sebutan ”pemimpin yang baik” dan ”pemimpin yang tidak baik”? Apa yang membedakan antara seorang pemimpin dan pimpinan?. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang meminta orang lain melakukan sesuatu tanpa orang tersebut merasa terpaksa. Dengan kata lain, kemampuan orang untuk mengarahkan orang. Visi dan kemampuan untuk mengarahkan adalah dua hal yang menentukan kapasitas seorang pemimpin. Apapun sudut pandangnya, yang jelas bahwa pemimpin adalah sesesorang yang mempunyai visi dan mampu menjadi penggerak atau motor inovasi bagi organisasi dalam menghadapi perubahan.

Perspektif kontijensi dalam teori kepemimpinan di organisasi mengatakan bahwa pilihan struktur dan desain organisasi  ditentukan oleh jenis strategi yang dipilih, ukuran organisasi, teknologi dan ketidakpastian lingkungan. Dalam kondisi ketidakpastian lingkungan eksternal tinggi organisasi menghadapi lingkunan yang semakin dinamis dan komplek. Kondisi ini sering menjadi faktor pemicu pada banyak organisasi untuk melakukan inovasi. Pada kondisi lingkungan seperti ini, organisasi perlu memilih rancang struktur organic (bukan mechanic) yang antara lain ditandai dengan kerja tim lintas fungsi, arus informasi bebas mengalir, departementalisasi ramping, rentang kendali luas, tingkat formalitas rendah dan desentralisasi dalam proses pengambilan keputusan. Dari sudut pandang struktur organisasi, proses inovasi akan lebih terdorong dalam bentuk yang organik dibandingkan struktur yang mekanik.

Organisasi Mekanik vs Organisasi Organik

Mekanistik Organik
  • Spesialisasi tinggi
  • Departementalisasi
  • Rantai komando jelas
  • Sentralisasi
  • Formalisasi tinggi
  • Ada tim lintas fungsi
  • Informasi mengalir lebih bebas
  • Rentang kendali lebar
  • Desentralisasi
  • Formalisasi rendah

Peran pemimpin dan kepemiminan sangat vital dalam menentukan arah struktur dan desain organisasi serta dalam membangun budaya organisasi yang sesuai untuk mencapai tujuan, visi dan misi dan mengimplementasikan strategi organisasi. Ibarat gunung es, tujuan dan strategi organisasi, struktur, kebijakan dan prosedur, rantai komando, teknologi dan factor lainnya barulah merupakan bagian permukaan gunung es yang kelihaan  (perangkat keras). Ada elemen elemen organisasi yang tersembunyi dibawah permukaan misalnya sikap, asumsi, persepsi para anggota ,norma, konflik dan mindset yang menetukan sikap, rasa dan perilaku (perangkat lunak). Kompetensi organisasi sebagai perangkat keras sedangkan karakter organisasi sebagai perangkat lunak.

Dalam kontek pemimpin sebagai stimulator inovasi, perangkat lunak atau karakter inilah yang yang akan menjadi pemicu utama. Dalam upaya menciptakan lingkungan organisasi yang kondusif untuk berinovasi pemimpin dengan gaya kepemimpinannya harus meningkatkan kepercayaan yang tinggi, member peluang pembelajaran, pemberdayaan dan menciptakan kesadaran bagi angotanya untuk berkontribusi pada organisasi. Pemimpin juga harus berhasil mentransformasi budaya organisasi agar memiliki keterbukaan terhadap hal hal baru dan kesiapan menerima situasi dan kondisi yang tidak pasti. Sedangkan fokus pada manusia, pemimpin perlu memiliki coaching skills. Dalam hal ini pemimpin perlu mendorong individu untuk menjadi pencetus ide, percaya diri, berani mengambil resiko dan mampu memberi inspirasi yang visioner untuk berinovasi.

Pemimpin sebagai stimulator inovasi sangat diperlukan di era saat ini. Perubahan demi perubahan harus mendapat akselerasi dalam organisasi. Banyak organisasi yang berumur sangat pendek tapi juga ada organisasi yang berumur panjang semua tergantung bagaimana organisasi itu mampu bertahan dan memanfaatkan peluang perubahan. Oleh karenanya organisasi harus selalu belajar. Pada situasi inilah diperlukan seorang leader yang bervisi, berkemampuan holistic dan multiperspektif dan tentu harus bisa menjadi penggerak inovasi bagi organisasinya.

Tiga hal yang harus diperhatikan dalam kontek pemimpin sebagai stimulator inovasi: 1) pemimpin bukan satu satunya sumber ide oleh karena itu ia harus mendorong terciptanya kolabrasi dalam organisasi bahkan lintas organisasi. 2) pemimpin harus menghargai keberagaman oleh karena itu pemimpin harus mampu memetakan tahap tahap kreativitas sesuai dengan kebutuhan. 3) dalam hal merespon kegagalan, pemimpin perlu berhasil memotivasi anggota organisasi dengan tantangan intelektual.