KEBIRI

Saya awali tulisan ini dengan kisah dunia pewayangan,

Adalah Karno bukan golongan bangsawan. Setiap hari dia belajar memanah secara otodidak. Keinginannya adalah dibimbing oleh Begawan Durno, the best lecture cabang panahan. Saking ngefan-nya dengan Begawan Durno sampai-sampai dipasang patung Begawan kawakan itu dihalaman rumahnya tempat biasa dia berlatih memanah. Alih-alih sebagai sumber inspirasi pikirnya.

Ada lagi R. Arjuna, juga ahli dalam panahan. Pantaslah karena ia belajar panahan dibawah bimbingan langsung Begawan Durno dan memang murid tunggal begawan Durno. Tibalah saatnya R. Arjuna praktek memanah pada obyek bergerak dan melesatlah anak panah menerobos rintangan dahan dan ranting. Buk!..pengawal berlarian mencari buruan. Alangkah terkejutnya semua yang hadir ketika ada dua anak panah menancap dibadan tupai tersebut. Dalam waktu bersamaan hadir Karno, dia mengklaim bawa tupai terjatuh karena anak panahnya. Ditengah perdebatan siapa pemanah sebenarnya, iapun terkesima ketika melihat Guru Impiannya sang begawan durno. Dan dia memohon agar dia diterima sebagai murid sang begawan.

Perdebatan dilanjutkan. R. Arjuna mengklaim tupai adalah haknya, Karno juga mengklaim tupai adalah haknya. Ditengah perdebatan hadir Begawan Durno dengan sikap ”kelihatan” bijak nan arif dia mendamaikan. Sudah-sudah biar saya teliti dulu, kata sang begawan. Untuk menetukan siapa yang berhak dengan tupai ini, maka diadakanlah adu kecermatan memanah antara R. Arjuna yang bangsawan dengan Karno yang hanya anak desa. Walhasil hasilnya seri. Sama-sama jago.

Kemudian Begawan Durno nyeletuk…Hai Karno kamu serius ingin jadi muridku….Iya begawan kata Karno penuh harap. Tapi ada syaratnya kata Begawan Durno…Syarat apapun akan saya penuhi Begawan……kata Karno. Sebagai syaratnya potonglah ibu jarimu sebagai bukti ketaatan dan kesetiaan kepada guru. Saking ngebetnya ingin jadi murid Begawan Durno tanpa pikir panjang karno langsung memotong ibu jarinya.

Arjuna protes hebat kepada Gurunya, Begawan!! kenapa karno diterima jadi murid begawan. Padahal begawan sudah berjanji kepada istana utuk menjadikan aku sebagai ahli panah nomor satu di jagat ini. Sambil manggut-manggut Begawan Durno berbisik lirih, tenang raden dia memang muridku tetapi dengan ibu jarinya hilang mustahil dia bisa belajar memanah dengan baik.

……….Bersyukur kisah itu hanya ada di dunia pewayangan. Akan tetapi alangkah bahayanya jika didalam sebuah organisasi bisnis terlebih organisasi pendidikan yang didalamnya syarat dengan hal-hal yang berbau keilmuan justru terjadi perilaku seperti ala durno dan karno. Malah mengebiri potensi-potensi, kreasi-kreasi, keberanian-keberanian seseorang yang justru seharusnya di tumbuh kembangkan dan difasilitasi.

4 thoughts on “KEBIRI”

  1. Wow..cerita yang sarat dengan nilai filosofis. Lanjut terus dengan cerita wayang lainnya Pak… saya tunggu. Untung Pak, kita tidak dikebiri….yuk kita berkreasi memberikan yang terbaik.

Comments are closed.