Sekilas Tentang Franchising

Banyak orang mengenal kata waralaba (franchise) baru beberapa waktu belakangan ini, bahkan masih banyak yang sama sekali tidak mengenalnya. Memang, kata ini mulai dikenal hanya oleh kalangan terbatas ketika beberapa perusahaan waralaba mancanegara seperti KFC (tahun 1979) Dunkin’ Donut (1980), Pizza Hut (1990) dan McDonald’s (1990) beroperasi di Indonesia. Kemudian, kata ini semakin luas dikenal masyarakat, seiring perkembangan tidak saja waralaba perusahaan asing tersebut akan tetapi oleh usaha waralaba domestik yang diawali oleh Tiki (tahun 1972), Es Teler 77 (1982), dan Primagama (1982) yang bergerak dalam berbagai bidang usaha.

Secara harafia, sebenarnya kata franchise berasal dari bahasa Perancis yang berarti “bebas” atau “bebas dari perbudakan”. Namun, penggunaan istilah franchise dalam kegiatan bisnis dapat kita jumpai beberapa pengertian yang intinya sama saja antara satu dengan lainnya. Leon L. Bram dan Norma H. Dickey dalam Fun & Wagnalls New Encyclopedia memberikan batasan : “ .. in business, the term franchise refers to the exclusive right given to someone to market a company’s goods or services in a designated territory. In return for specified fee and usually a share of the profits, the franchisor provides the product, the name, and sometimes the physical plant and the advertising “ sementara itu, Black’s Law Dictionary mendifinisikan : ….. a franchise has evolved into an elaborate agreement under which the Franchisee undertakes to conduct a business or sell a product or service in accordance with methods and procedures prescribed by the Franchisor, and the Franchisor undertakes to assist the Franchisee through advertising, promotion and other advisory services ..”

Di Indonesia sendiri, pengertian waralaba dapat dijumpai dalam pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1997 (kemudian diperbarui dengan PP No. 42 Tahun 2007) antara lain : “….waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut, dala rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan atau jasa……” Lebih lanjut dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan Pemberi Waralaba atau Pewaralaba (franchisor) adalah badan usaha atau perorangan yang memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimilikinya. Sedangkan, Penerima Waralaba atau Terwaralaba (franchisee) adalah badan usaha atau perorangan yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki Pemberi Waralaba.

Dari beberapa batasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa franchise adalah hal-hal yang menyangkut : kerja sama usaha yang saling menguntungkan, pewaralaba (franchisor) dan terwaralaba (terwaralaba), hak dan kewajiban kedua belah pihak dan ikatan perjanjian yang sah berdasarkan hukum (legally binding). Sementara itu, Amir Karamoy, seorang pakar dalam bidang kewaralabaan di Indonesia, mengatakan bahwa “ …. jika suatu kerjasama tidak dalam format seperti di atur dalam PP No. 16 tahun 1997 (diperbarui dengan PP No.42 Tahun 2007), maka usaha tersebut bukanlah waralaba” ditambahkan pula bahwa “ .. yang dimaksud dengan pemberian hak adalah bukan menjual/mengalihkan hak akan tetapi peminjaman hak oleh pewaralaba kepada terwaralaba dalam kurun waktu tertentu yang disepakati ” Hal lain yang perlu diperhatikan dalam usaha waralaba adalah sifat kerjasama kedua belah didasarkan pada prinsip : saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.

3 thoughts on “Sekilas Tentang Franchising”

Comments are closed.