….sendiri……

Tiga minggu sudah terlewati Ramadhan thn 2013, nothing special, sampe saya merasa sama saja dengan bulan-bulan lainnya. Seminggu yang lalu saya merasa tidak enak “rasa”. Gundah gulana, tidak enak hati, tidak jelas apa yang akan saya lakukan. Otak seperti ‘blank”, berangkat kerja tanpa rencana yang jelas, apa yang harus dikerjakan. Di rumah hanya sekedar menyelesaikan pekerjaan tanpa ada target dan semangat. Semua dikerjakan tanpa “hati”.

Lemah darah. Berusaha mencari tahu penyebabnya, namun tidak kunjung diperoleh. Sampai pada suatu sore, tepatnya H-6, saya mengantar bekal buka puasa untuk gadis-gadisku di TPA, karena ada acara buka puasa sampai tarawih disana. Sesampai  rumah, ternyata anak lelaki nomor 2 juga gak ada, ada acara buber dengan teman-temannya. Kalau suami memang tidak memungkinkan berbuka bersama pada saat weekdays. Jadilah saya sendirian.

Jelas tidak enak, akan berbuka puasa sendirian, sambil menunggu waktu adzan maghrib, mengikuti oase ramadhan di TV. Entah apa yang di dalam hati dan pikiran, tiba-tiba saja ada perasaan takut ditinggal oleh orang-orang tercinta.

Anak pertama udah mulai merantau, yang kedua sudah merancang daerah yang akan dituju untuk kuliah. Gadis besarku siap masuk asrama putri, sedangkan si bungsu selalu ikut “mbak-nya”.

Ada rasa kosong ditinggal mereka, saya tidak siap. Namun sebagai ibu, saya harus mempersiapkan hati untuk kembali sendiri. Tiba-tiba saja saya ingat mama saya yang sendirian di rumah beliau, pikiran kemudian melanglang ke papa. Seandainya beliau masih ada, mama tidak akan sendiri.

Pada suatu titik, hati saya berkata “siapapun orangnya, dia akan berada sendirian dalam waktu lama”…….di alam kubur. Termasuk saya…….

Sendiri mempertanggungjawabkan semuanya selama hidup di dunia fana.

Hilang sudah rasa tidak enak yang saya pikul hari-hari belakangan ini, sudah terjawab….. senyampang masih ada lima hari lagi di bulan suci, saya harus ubah nothing special menjadi benar-benar istimewa, mengikuti jejak orang-orang yang sudah menemukan “ruh” ramadhan

Fastabiqul khoirot

air mata

Setiap kali berada di sekeliling orang-orang yang gigih mendekat kepadaMu…..

setiap kali itu pula hati rasanya terkoyak-koyak……..

Air mata menetes……satu per satu……..

Semakin lama semakin cepat turun ke kain ihramku

Apalah arti itu semua…..

Ingin hamba mengurai artinya……tetapi rasa sesak di dada begitu bergemuruh…..

Hanya ada satu keinginan……

Ingin rasanya segera berjumpa denganMu……ya Rabb……

Ingin menumpahkan semua isi kepala dan hati ini hanya padaMu…ya Rabbku….

Segala alpa terbayang kembali………

Betapa kufurnya diri hamba…..

Ingin bersimpuh ke haribaanMu…..bersujud dengan keningku….pasrah di hati…….

Ya Rabb……hamba tidak ingin air mata ini mengering sia-sia ……..

Mungkin air mata ini  caraMU mengingatkanku……

Bahwa pasti  hamba akan bertemu denganMu…….. dengan sangat  indah….

LOVE

Don’t think not not  if you read this title.

This feel is very common for human being.

Second Friday in June, 2012.

I was examined by Jusuf  in speaking. He’s a native from US, but he has lived in Bandung for 12 years, it’s long enough. He’s very tall for Indonesian, but common for “bule” and  handsome enough (makes me glad to see him), but his nose is very pointed, funny for Indonesian.

He’s not like other examiners, who are always prepare many question cards for the participants, that’s why it benefits me as a participant, (hehe….. sometimes it can make me as the winner before the fight).

I was the last one who examined by him, after five friends before. As usual, intoducing my self and told a little story about my further studying, he offered me “well, you can ask me anything you want to know, about me, my family or about US”

So I asked him (it’s a strategy to get good band score without speaking, hehe…)“ Okay pak, I know you’re muallaf and someone told me, that, the freedom to learn Islamic subjects in US is not well as Europe and Australia, is it true?”

His answers was so basic and global, every country had drawbacks related to this problem, and should be support  each other.

Moreover, he told about taliban, FPI, and bla…bla…bla…. Until he told “You know, we were born because of Allah’s love, If Allah doesn’t love you, you will never born

I just quiet and smile…..love….????

He continued, “ Like your children, you must be love them whatever they are. He never wants to destroy you.”

This exciting conversation was stopped by the time, because the room will be used by next lecturer.

Beside the stairs we continued the discussion , he showed me his family picture. Nice family.

We talked about plan of our weekend, he will go to Tangkuban Prahu with his son by trail and I told him will go to Ciater with friends…… “okay nice to talk with you, see u, enjoy your weekend…!!!!” He finished our talking.

And then I went home, I thougt about  L O V E, so deep “We were born because of Love Of Allah”

Truly, as long as I live, I thought Allah is the place we can beg anything, we can ask anything, begging solution of our  problems, but not for love.

Love is abstract thing.

It is can be felt in heart only, not logical things.

With love we can live now, because love makes a hope, makes a spirit…..

Human being feels respected and appreciated if someone else loves him/her, is it right?

So…., if Allah loves me, I should know Him, etc..etc…etc….and… l o v e  Him…..too

What about you…?????

Di Akhir Ramadlan

Tanggal 1 Ramadlan 1432 H kali ini jatuh persis tanggal 1 Agustus 2011, jadi mudah sekali untuk menghitung sudah berapa hari qta menjalani puasa….
Inti tausiyah puasa seperti pada umumnya adalah kesempatan qta untuk memperbaiki amal ibadah dengan training selama kurang lebih sebulan penuh yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi yang lebih utama adalah mengendalikan hawa nafsu. Nafsu amarah, su’udzon, dan ini yang paling sulit untuk kaum wanita adalah nafsu ber-ghibah.
Di awal ramadlan saya ber-azam “harus ada yang berbeda dengan ramadlan kali ini”
Perbedaan disini saya niatkan untuk mengurangi berat badan, dimana saya sudah masuk dalam kategori overweight.
Itung-itung….lumayanlah…mengurangi jatah makan siang selama satu bulan, harus ada beberapa kilogram yang hilang dari tubuh saya….dengan harapan baju-baju saya yang kekecilan bisa saya pake lg tanpa perlu beli yang baru.

Program ini saya mulai dengan setelah makan sahur dan sholat shubuh, saya lanjutkan membaca Al-Qur’an dan membersihkan rumah, tanpa tidur lagi (ini yang jarang sekali saya lakukan kalau boleh dikatakan tidak pernah di ramadlan-ramadlan sebelumnya,).
Lumayan…..lemak-lemak yang saya timbun mulai berkurang.
Setelah sholat maghrib, saya kembali tadarus lanjut ke tarawih di rumah.
Jelas ini tidak bisa berlangsung lama, karena sebagai wanita pasti ada sejumlah hari dimana saya tidak bisa melakukan sholat dan puasa.
Hari-hari ramadlan saya jalani dengan rasa bangga sdh bisa membuang lemak sedikit demi sedikit, tetapi karena saya memang tergolong overweight , sehingga belum bisa memakai lagi baju-baju yang saya simpan di lemari karena kekecilan.

Di ramadlan ke 27…..saya harus mempersiapkan mudik ke kampung halaman suami dan puasa hanya tersisa 2 hari lagi, serta mempersiapkan kue-kue lebaran untuk tamu di rumah….ada rasa yang berbeda……
Bukan bahagia karena menang perang dengan lemak….
Bukan pula rasa senang karena akan bertemu dengan sanak saudara suami di kampung halaman yang pasti heboh……
Bukan juga rasa deg-deg-an akan bertemu dengan saudara-saudara papa+mama yang akan datang….
Tetapi rasa itu adalah rasa akan melepas ramadlan……bbbbeeeeerrrraaaaattttt sekali…..baru kali ini saya merasaknnya……
Ada rasa kaget….tersentak….sehingga saya terbangun dan sadar….mengapa baru kali ini saya berat melepas ramadlan…????? Mengapa baru kali ini saya sadar….????? Mengapa pula baru kali ini saya sedih dan menangis di akhir ramadlan….????
Tetapi buru-buru saya mengucap PUJI SYUKUR ALHAMDULILLAH….
Allah-lah yang telah membangunkan dan memperbaiki saya….tidak ada satupun kekuatan selain-NYA.
Allah-lah yang telah membolak-balik hati saya, sehingga saya masih diberi rasa berat melepas ramadlan……
Alhamdulillah ya Allah…..
Dalam hati saya ber-azam ….ada sebelas bulan lagi dimana saya bisa melakukan ibadah seperti di bulan ramadlan,meskipun nilainya tidak sama, tetapi at least saya bisa lebih siap lagi untuk menyongsong ramadlan tahun depan……
Semoga Allah memberi kesempatan saya untuk bertemu dengan ramadlan tahun depan tentunya dengan kualitas dan kuantitas ibadah yang jauh lebih baik…guna mempersiapkan diri bertemu dengan Allah……Amin……

….miris hati…(bagian 2)

qta ketemu di bagian ini……

meneruskan bagian 1 yang sdh saya tulis 6 bulan syusyah banget…idenya udah amburadul…. pergi gak tau kemana…..

Alhamdulillah ide itu kemudian muncul lg untuk meneruskan episode 1 di sepertiga sisa malam. Kembali ke cara-cara instan yang seringkali  dilakukan baik orang tua, remaja maupun anak-anak.

Mari qta renungkan kembali …. apa hasil yang akan diperoleh dengan cara instan ???  Popularitas sesaat…???  kekayaan sesaat ..??? kepandaian sesaat..??? Apa hal-hal yang bersifat sesaat seperti  itu yang qta kejar…????  Saya sgt yakin  bukan hasil sesaat yg qta harapkan…tp yang permanen, yang berkelanjutan..yang  bermanfaat untuk diri sendiri dan memberi manfaat yang luar biasa pula bagi orang-orang yg qta cintai

Come on guys…think it deeply…

Seandainya memang dengan cara instan (misalnya lewat contekan saat ujian) qta memiliki IP yang aduhai dan teman-teman  menganggap qta unggul…memang itu bisa membuat qta tegak berdiri …tapi sampai kapan…???? Pasti suatu saat teman qta akan mengetahui bahwa kemampuan qta jauh di bawah IP yang aduhai….Suatu saat pasti bekal IP dipake untuk melamar kerja juga cuma pepesan kosong…..nggak riil….

Apa kata orang yang merekrut pegawai pada saat menguji kemampuan riil calon pegawai dengan IP yang hampir 4 (misalnya). Ternyata kemampuan jauh dari IP yang diperoleh.

Lho….ini  salah yang memberi nilai atau sang calon pegawai memang memperoleh IP tinggi dengan cara-cara  instan????

Melalui tulisan ini saya mengajak teman-teman pembaca terutama adik-adikku mahasiswa, bahwa SUKSES dan keberhasilan  tidak mungkin diraih dalam waktu semalam…..SUKSES tidak mungkin dicapai dengan cara-cara instan, tetapi SUKSES harus melalui proses perjuangan dan pengorbanan yang tidak pernah henti, memerlukan waktu yang tidak sebentar dan semangat serta motivasi yang harus tetap menyala…….

Come On…..Keep Spirit…!!!!!