Di Akhir Ramadlan

Tanggal 1 Ramadlan 1432 H kali ini jatuh persis tanggal 1 Agustus 2011, jadi mudah sekali untuk menghitung sudah berapa hari qta menjalani puasa….
Inti tausiyah puasa seperti pada umumnya adalah kesempatan qta untuk memperbaiki amal ibadah dengan training selama kurang lebih sebulan penuh yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi yang lebih utama adalah mengendalikan hawa nafsu. Nafsu amarah, su’udzon, dan ini yang paling sulit untuk kaum wanita adalah nafsu ber-ghibah.
Di awal ramadlan saya ber-azam “harus ada yang berbeda dengan ramadlan kali ini”
Perbedaan disini saya niatkan untuk mengurangi berat badan, dimana saya sudah masuk dalam kategori overweight.
Itung-itung….lumayanlah…mengurangi jatah makan siang selama satu bulan, harus ada beberapa kilogram yang hilang dari tubuh saya….dengan harapan baju-baju saya yang kekecilan bisa saya pake lg tanpa perlu beli yang baru.

Program ini saya mulai dengan setelah makan sahur dan sholat shubuh, saya lanjutkan membaca Al-Qur’an dan membersihkan rumah, tanpa tidur lagi (ini yang jarang sekali saya lakukan kalau boleh dikatakan tidak pernah di ramadlan-ramadlan sebelumnya,).
Lumayan…..lemak-lemak yang saya timbun mulai berkurang.
Setelah sholat maghrib, saya kembali tadarus lanjut ke tarawih di rumah.
Jelas ini tidak bisa berlangsung lama, karena sebagai wanita pasti ada sejumlah hari dimana saya tidak bisa melakukan sholat dan puasa.
Hari-hari ramadlan saya jalani dengan rasa bangga sdh bisa membuang lemak sedikit demi sedikit, tetapi karena saya memang tergolong overweight , sehingga belum bisa memakai lagi baju-baju yang saya simpan di lemari karena kekecilan.

Di ramadlan ke 27…..saya harus mempersiapkan mudik ke kampung halaman suami dan puasa hanya tersisa 2 hari lagi, serta mempersiapkan kue-kue lebaran untuk tamu di rumah….ada rasa yang berbeda……
Bukan bahagia karena menang perang dengan lemak….
Bukan pula rasa senang karena akan bertemu dengan sanak saudara suami di kampung halaman yang pasti heboh……
Bukan juga rasa deg-deg-an akan bertemu dengan saudara-saudara papa+mama yang akan datang….
Tetapi rasa itu adalah rasa akan melepas ramadlan……bbbbeeeeerrrraaaaattttt sekali…..baru kali ini saya merasaknnya……
Ada rasa kaget….tersentak….sehingga saya terbangun dan sadar….mengapa baru kali ini saya berat melepas ramadlan…????? Mengapa baru kali ini saya sadar….????? Mengapa pula baru kali ini saya sedih dan menangis di akhir ramadlan….????
Tetapi buru-buru saya mengucap PUJI SYUKUR ALHAMDULILLAH….
Allah-lah yang telah membangunkan dan memperbaiki saya….tidak ada satupun kekuatan selain-NYA.
Allah-lah yang telah membolak-balik hati saya, sehingga saya masih diberi rasa berat melepas ramadlan……
Alhamdulillah ya Allah…..
Dalam hati saya ber-azam ….ada sebelas bulan lagi dimana saya bisa melakukan ibadah seperti di bulan ramadlan,meskipun nilainya tidak sama, tetapi at least saya bisa lebih siap lagi untuk menyongsong ramadlan tahun depan……
Semoga Allah memberi kesempatan saya untuk bertemu dengan ramadlan tahun depan tentunya dengan kualitas dan kuantitas ibadah yang jauh lebih baik…guna mempersiapkan diri bertemu dengan Allah……Amin……

2 thoughts on “Di Akhir Ramadlan”

  1. sangat menyentuh sekali kisahnya. smoga kita dapat tetap mempertahankan keimanan kita, dan masih diberi waktu berjumpa dengan bulan ramadhan tahun depan.
    btw, cerita perang lemak juga sama kayak aku. cuman kok ga-tot ya… alias, bukan tambah turun ee.. malah tambah naik.. hihi.. gak tau dimana salahnya.. sudahlah, BB aku EGp aja deh, yang penting sehattt….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *