Apa Kata Bumi ?

Semua yang diciptakan Allah sebenarnya bisa berkata-kata, tumbuhan, binatang, gunung-gunung dan bahkan bumi tempat kita berpijak.  Ada kitab yang menjelaskan bahwa bumi sebenarnya berkata :

1. Hai manusia, berhati-hatilah kamu berjalan di punggungku ! karena jika kamu melangkah tidak benar, suatu saat kamu akan mendapat siksaan di perutku

2. Hai manusia, janganlah kamu terlalu bersenang-senang di punggungku ! karena suatu saat kamu akan susah di dalam perutku

3. Hai manusia, janganlah kamu tertawa terbahak-bahak ! karena suatu saat kamu akan menangis di dalam perutku.

Sebenarnya manusia hanya mampir untuk mengabdi dan hanya mendapat titipan dari Allah SWT segala sesuatu yang sekarang dia miliki. Pada saatnya jika maut sudah datang ke kita semua yang ada pada kita akan ada yang mengambil :

— Nyawa, akan di ambil Malaikat Izro’il

—Daging, akan dimakan ulat di dalam kubur

—Tulang, akan hancur menjadi tanah asal kita

—Harta, akan diambil oleh ahli waris kita

—Pahala, akan diambil oleh orang-orang yang kita dzolimi dan kita sakiti selama di dunia

Jadi sebenarnya kita kembali ke Allah SWT, tidak akan membawa apa-apa kecuali kita mendapat RAHMAT dan AMPUNAN dari Allah SWT. Semoga kita termasuk golongan manusia yang selalu mendapat rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Amiiin.

Hidup sehat ala Rosul

Jaman modern diikuti pula pola hidup yang modern. Tak kalah ikut modernnya jenis penyakit, yang tidak dijumpai di jaman dulu. Nenek-nenek kita jaman dahulu hidup apa adanya dengan makanan sehari-hari dari hasil panen yang alami. mulai dari padi, jagung, sayuransampai lauk yang serba alami. Tetapi jaman sekarang sudah tak dihindari mulai bahan pokok makanan yang pengolahannya serba menggunakan obat. makanan fast food, termasuk makanan dalam kaleng dan kemasan yang siap saji sangat mengenakkan konsumen dari sisi proses dan cara penyajiannya. Rupanya tanpa kita sadari, dalam makanan yang kita makan sehari-hari mengandung bahan yang merusak tubuh kita seperti bahan pengawet, zat pewarna, dan lain-lain. Hal inilah penyebab terjadinya berbagai penyakit antara lain penyakit kencing manis, lumpuh, sakit jantung, keracunan makanan dan lain2 penyakit. Apabila anda telah mengetahui ilmu ini, tolonglah ajarkan kepada yg lainnya.

Ini pun adalah Diet Rasullulah SAW kita juga. Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau kita mengikuti  diet Rasullullah ini, takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.

* Jangan makan SUSU bersama DAGING
* Jangan makan DAGING bersama IKAN
* Jangan makan IKAN bersama SUSU
* Jangan makan AYAM bersama SUSU
* Jangan makan IKAN bersama TELUR
* Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD
* Jangan makan SUSU bersama CUKA
* Jangan makan BUAH bersama SUSU CTH :- KOKTEL

Cara Makan :

1. JANGAN MAKAN BUAH SETELAH MAKAN NASI, SEBALIKNYA MAKANLAH BUAH TERLEBIH DAHULU, BARU MAKAN NASI.
2. TIDUR 1 JAM SETELAH MAKAN TENGAH HARI. Dengan syarat agar kita bisa bangun untuk sholat malam.
3. JANGAN SESEKALI TINGGAL MAKAN MALAM . BARANG SIAPA YG TINGGAL MAKAN MALAM DIA AKAN DIMAKAN USIA DAN KOLESTEROL DALAM BADAN AKAN BERGANDA.

Nampak memang sulit.. tapi, kalau tak percaya… cobalah… Pengaruhnya tidak dalam jangka pendek…. Akan berpengaruh bila kita sudah tua nanti. Dalam kitab juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama ayam. karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.

Di bawah ini adalah tips hidup sehat ala Rasulullah :

1. SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH

Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum subuh, melaksanakan sholat sunah dan sholat Fardhu,sholat subuh berjamaah.

Hal ini memberi hikmah yg mendalam antara lain :
– Berlimpah pahala dari Allah
– Kesegaran udara subuh yg bagus utk kesehatan/ terapi penyakit TB
– Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan

2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN
Rasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamis atau Jum’at beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi. “Mandi pada hari Jumaat adalah wajib bagi setiap orang-orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai harum-haruman” (HR Muslim)

3.TIDAK PERNAH BANYAK MAKAN

Sabda Rasul :
“Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan) “(Muttafaq Alaih)
Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda :
Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan.

4. GEMAR BERJALAN KAKI
Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, Pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainya. Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir,pori- pori terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung

5. TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah : “Jangan Marah”diulangi sampai 3 kali. Ini menunujukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa.
Ada terapi yang tepat untuk menahan marah :
– Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila duduk maka berbaring
– Membaca Ta ‘awwudz, karena marah itu dari Syaithon
– Segeralah berwudhu
– Sholat 2 Rokaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati

6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA
Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqomah dan bekerja keras, serta tawakal kepada Allah SWT

7. TAK PERNAH IRI HATI
Untuk menjaga stabilitas hati & kesehatan jiwa, mentalitas maka menjauhi
iri hati merupakan tindakan preventif yang sangat tepat. ::Ya Allah,bersihkanlah hatiku dari sifat sifat mazmumah dan hiasilah diriku dengan sifat sifat mahmudah…:

sumber: oleh dNa di 21:37

Mulianya Ibu Rumah Tangga

Ada yang beranggapan pekerjaan ibu rumah tangga lebih ringan dibanding wanita kirir, sebenarnya pekerjaan yang wajib dipenuhi terlebih dahulu sebagai seorang istri adalah mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengurus anak-anak. Mencari nafkah harus diniati ibadah membantu suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ibu rumah tangga yang benar-benar amanah akan mulia disisi Allah SWT. Sampai-sampai ada hadis yang bunyinya:

“Siapa saja di antara kalian berdiam diri di rumahnya (melayani suaminya, mendidik anak-anaknya dan mengurus rumahtangganya), sesungguh-nya ia telah menyamai amal para mujahidin di jalan Allah.” (HR al-Bazzar).

Jadi sebenarnya jihadnya seorang istri adalah mngurus rumah tangga dengan sebaik-baiknya sampai suami dan anak menilai bahwa seorang istri ini baik di keluarganya.

Sedangkan jihadnya seorang suami adalah berjuang mencari nafkah yang halal untuk keluarganya, sampai istri dan anak menilai bahwa  seorang suami ini baik di keluarganya.

Contoh Kisah

Usai menunaikan shalat magrib berjamaah dan berzikir di mushala samping rumahnya, ustad muda yang aktivis itu tampak merenung cukup lama. Ia tampak kelelahan setelah seharian bekerja di rumahnya karena ’ditinggal’ istrinya yang hari itu harus mengikuti kegiatan dakwah dari pagi sampai sore. Sebagai ustad, tentu ia bukannya tidak paham betapa beratnya beban seorang istri sekaligus ibu rumah tangga. Namun, dengan menjalani sendiri seluruh pekerjaan rumah tangga hari itu—mulai dari memasak air, menyapu rumah dan halaman, mencuci piring/gelas dan pakaian, memasak dan menyediakan makan bagi anak-anaknya, memandikan mereka, mengantar mereka ke sekolah sekaligus mendampinginya (karena ada yang duduk di TK), mengasuh mereka sekaligus menenangkan mereka jika sesekali menangis dan rewel, menceboki mereka saat mereka BAK/BAB sekaligus mengganti pakaiannya, melerai mereka saat mereka bertengkar, dll—benar-benar pekerjaan yang amat menguras energi. Apalagi itu dilakukan sejak pagi hingga sore. Itu baru satu hari. Bagaimana kalau harus tiap hari? Bisa-bisa stres! Karena itu, ustad muda itu makin menyadari betapa tanpa kehadiran istri, mengurus rumah tangga dengan keempat anaknya yang masih kecil-kecil itu ternyata tak seenteng yang ia bayangkan.

Sejak itu ia pun mulai menyadari, betapa ia kadang egois. Sebagai suami dan kepala rumah tangga ia merasa yang paling capek karena mencari nafkah, berdakwah, mengurus jamaah, dll. Ia merasa, dirinyalah yang paling sibuk sehingga sedikit saja istri kurang dalam hal pelayanan kepadanya, entah karena dianggap lamban, atau rumahnya sedikit berantakan, atau masakannya sedikit kurang enak, dll, ia gampang mengeluh, bahkan mencela.
Kini, di tengah-tengah perenungannya, ia pun amat menyesal. Tak terasa, air matanya menetes membasahi pipinya. Usai salat magrib itu, ia menyadari betapa ia sering berbuat tidak adil terhadap istrinya. Sejak itu, ia mulai bersikap sabar dan tak mengeluh lagi jika dalam pandangannya istrinya kurang dalam melayani dirinya atau mengurus rumah tangganya.
Seorang suami memang pantas untuk menghargai, menghormati, memuliakan dan menyayangi istrinya betapapun dalam pandangannya, istrinya itu banyak kekurangannya. Sebab, jika pun ukurannya dikembalikan pada standar materi, pekerjaan menjadi seorang istri/ibu rumah tangga sesungguhnya amat mahal. Bagaimana tidak?!

Dari sisi waktu, jika seorang suami/ayah bekerja secara umum dari pagi sampai sore, atau paling banter sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, maka seorang istri/ibu rumah tangga—meminjam ungkapan seorang ustadzah—bekerja kadang jauh sebelum terbit fajar dan baru berhenti setelah ‘terpejam mata suami’. Karena itu, bisa dikatakan, seorang ibu rumah tangga jauh lebih tangguh dan super ketimbang suaminya.

Dari sisi materi, di situs www.reuters.com disebutkan bahwa setelah dilakukan survei kepada 18.000 ibu rumah tangga di Toronto, Kanada, mengenai daftar pekerjaan rumah tangga mereka sehari-hari (seperti memasak, membersihkan rumah, merawat anak, mengurus keluarga, dan sebagainya), sebuah perusahaan standar penggajian mendeskripsikan nilai, harga dan gaji yang pantas atas “pekerjaan” para ibu rumah tangga ini bila mereka digaji. Di Kanada, dari sekian banyak tugas dan pekerjaan domestik, seorang ibu rumah tangga—jika digaji secara layak—pendapatan perbulannya bisa mencapai $124.000. Jumlah itu setara dengan Rp 1.116.000.000,- (baca: satu miliar seratus enam belas juta rupiah). Ini bila kurs $1= Rp 9.000,- saja.

Jika sebesar itu yang harus diperoleh oleh seorang ibu rumah tangga, tentu hanya seorang suami yang berkedudukan sebagai CEO sebuah perusahaan besar atau minimal seorang pemilik multiusaha sukses yang bisa menggaji istrinya setiap bulan. Tentu nominal tersebut terbilang sangat besar dilihat dari standar negara manapun, hatta negara paling modern dan maju sekalipun.

Karena itu, “Sebuah kesalahpahaman yang sangat jamak jika pilihan seorang wanita untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dianggap lebih mudah dan lebih ringan daripada menjadi seorang wanita karir…,” kata Lena Boltos, seorang surveyor yang melakukan survey dan kalkulasi tersebut (Hidayatullah.com, 30/3/2010).

Jika sebesar itu nilai “profesi” sebagai seorang ibu rumah tangga, maka secara berseloroh kita bisa mengatakan, betapa tidak cerdasnya seorang istri/ibu sampai rela mengorbankan urusan keluarga/rumah tangganya hanya karena sibuk bekerja dengan gaji yang tentu tidak seberapa dibandingkan dengan nominal di atas. Lebih tidak cerdas lagi jika seorang suami menganggap rendah istrinya, tidak mau menghargai dan memuliakan istrinya, hanya karena ia banyak di rumah sekadar menjalani “profesi”-nya sebagai ibu rumah tangga.itu dari sisi materi. Bagaimana jika dilihat dari kacamata Islam? Dalam pandangan Islam, seorang ibu rumah tangga bertanggung jawab penuh atas seluruh urusan keluarga/rumahtangganya karena posisinya sebagai umm[un] wa trabbah al-bayt (ibu sekaligus manajer rumah tangga). Ia jugalah yang bertanggung jawab atas perawatan dan pendidikan anak-anaknya. Seorang penyair Arab mengatakan, ”Al-Ummu Madrasah al-Ula, Idza A’dadtaha A’dadta Sya’ban Khayr al-‘Irq” (Seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika engkau mempersiapkan ia dengan baik maka sama halnya dengan engkau mempersiapkan bangsa berakar kebaikan). Lebih dari itu, betapa mulia dan terhormatnya kedudukan seorang istri/ibu rumah tangga tergambar dalam hadis penuturan Anas ra. berikut: Kaum wanita pernah datang menghadap Rasulullah saw. Mereka bertanya, ”Ya Rasulullah, kaum pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Allah. Adakah amal perbuatan untuk kami yang dapat menyamai amal para mujahidin di jalan Allah?” Rasulullah saw. menjawab, “Siapa saja di antara kalian berdiam diri di rumahnya (melayani suaminya, mendidik anak-anaknya dan mengurus rumahtangganya), sesungguh-nya ia telah menyamai amal para mujahidin di jalan Allah.” (HR al-Bazzar). Subhanallah! Karena itu, tak ada alasan bagi para suami, apalagi para aktivis dakwah, untuk tidak memuliakan dan menyayangi istrinya, setulus hati. Kalau mungkin, berterima kasihlah kepadanya, setiap hari! Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb. []~~~ arief B.Iskandar- Al-Wa’ie ———————

Sayang Istri

Mari kita renungkan tulisan seseorang di internet

Seorang suami memang pantas untuk menghargai, menghormati, memuliakan dan menyayangi istrinya betapapun dalam pandangannya, istrinya itu banyak kekurangannya. Sebab, jika pun ukurannya dikembalikan pada standar materi, pekerjaan menjadi seorang istri/ibu rumah tangga sesungguhnya amat mahal. Bagaimana tidak?!

Dari sisi waktu, jika seorang suami/ayah bekerja secara umum dari pagi sampai sore, atau paling banter sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, maka seorang istri/ibu rumah tangga—meminjam ungkapan seorang ustadzah—bekerja kadang jauh sebelum terbit fajar dan baru berhenti setelah ‘terpejam mata suami’. Karena itu, bisa dikatakan, seorang ibu rumah tangga jauh lebih tangguh dan super ketimbang suaminya.

“CONTOH KISAH “

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

“Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

“Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

“Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.

Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

.::.
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

“Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?”

Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

“Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…

.::.

Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku.
“Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku.
“Lho, kok bilang gitu…?” selaku.
“Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi.

“Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan.

.::.

Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin.

Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

“Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku.

“Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”

Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

“Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

“Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.
“Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.

.::.

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,” ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.

Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

(Oleh : Yulia Abdullah)

Keterangan
(*) mujahidah : wanita yang sedang berjihad
(**) zuhud : membatasi kebutuhan hidup secukupnya walau mampu lebih dari itu
(***) ‘iffah : mampu menahan diri dari rasa malu

Ibrah : ” setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, namun kesemuanya akan menjadi sinergy jika kita bisa saling memahami dan ikhlas menerima segala kelebihan dan kekurangan itu. Akan menjadi mudah jika kita selalu menghitung kelebihan pasangan kita lebih banyak daripada kekurangannya, maka insya Allah yang tergambar pada hati kita bahwa suami atau istri kita adalah anugerah yang terindah yang sudah Allah pilihkan untuk kita untuk menyempurnakan separuh agama, wallahualam…”

SEMOGA BERMANFAAT

Belajar dari Kisah Nabi Ayub

Nabi Ayub tersohor dengan kesabarannya menerima ujian dari Allah SWT. Sampai Allah menyebutkan dalam Q.S Shad : 44 ” Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).

Dikisahkan Nabi Ayub diuji Allah dengan hartanya, keluarganya dan badannya. Beliau termasuk orang yang kaya raya dan mendapat ujian hartanya hilang sehingga beliau menjadi orang yang fakir. Beliau ditinggal istri dan keluarganya, sehingga beliau merasakan kesunyian dan kesendirian. Ujian yang ke tiga beliau ditimpa penyakit seluruh tubuhnya. Dikisahkan sakit yang diderita beliau sangat mengerikan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sakit yang dideritanya cukup lama, sehingga beliau merasakan penderitaan dan menghabiskan waktu dan hari-hari nya sendirian .

Meski diuji sangat berat beliau tetap sabar, bersyukur dan beribadah kepada Allah SWT. Sampai suatu saat beliau mendapat perintah dari Allah untuk mandi dan minum air di salah satu mata air di gunung. Pada saat tegukan terakhir beliau merasakan badannya sehat dan sembuh atas ijin Allah SWT. Dikisahkan setelah itu Allah mengembalikan keluarganya sehingga Nabi Ayub tidak sendirian lagi. Allah juga memberikan kekayaan yang berlipat-lipat sehingga tidak menjadi fakir lagi.

Allah pasti akan memberikan imbalan dari kesabaran dan ketaqwaan seseorang, meski tidak langsung kelihatan di dunia, di akhirat pasti ada balasannya. Hikmah dari kisah seorang Nabi Ayub yang diuji dengan segitiga ujian berat membawa kesabaran dan ketaatan pada Allah SWT.

Asas ‘Adalah dalam Syariah

Transaksi syariah berasaskan juga pada prinsip keadilan (‘adalah). Kata adil dapat diarti menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan sesuatu hanya pada yang berhak. Penerapan keadilan berupa aturan muamalah yang melarang adanya unsur :

1. Riba, yaitu setiap tambahan pada jumlah tagihan yang dipersyaratkan dalam transaksi pinjam-meminjam uang serta derivasinya dan transaksi tidak tunai lainnya.

2. Kezaliman, yaitu menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya; memberikan sesuatu tidak sesuai ukuran, kualitas dan waktunya; mengambil sesuatu yang bukan haknya dan memperlakukan sesuatu tidak sesuai posisinya.

3. Maysir, yaitu setiap transaksi yang bersifat spekulatif dan tidak berkaitan dengan produktivitas serta ada unsur perjudian (gambling).

4. Gharar, yaitu setiap transaksi yang berpotensi merugikan salah satu pihak karena mengandung unsur ketidakjelasan, manipulasi dan eksploitasi informasi serta tidak adanya kepastian pelaksanaan akad.

Contoh bentuk-bentuk gharar :

– tidak adanya kepastian penjual saat transaksi akad

– barang masih belum menjadi hak si penjual

– tidak jelas kriteria dan kualitas barang

– tidak ada kepastian harga yang dibayarkan

– salah satu pihak eksploitasi informasi

Mengenal Prinsip Ukhuwah dalam Transaksi Syariah

Prinsip Ukhuwah (persaudaraan) merupakan prinsip yang mempunyai nilai universal yang mengatur interaksi sosial dan keharmonisan pihak-pihak yang bertransaksi untuk memberikan manfaat dan semangat saling tolong menolong.

Dalam transaksi harus menjunjung tinggi nilai kebersamaan dalam memperoleh manfaat secara bersama-sama, sehingga tidak diperbolehkan seseorang mendapat keuntungan di atas kerugian orang lain.

Ukhuwah dalam bertransaksi berdasarkan :

1. Ta’aruf ; saling mengenal. Dengan saling mengenal dapat saling memahami latar belakang pihak-pihak yang bertransaksi

2. Tafahum; saling memahami. Dengan saling memahami pihak-pihak yang bertransaksi dapat meminimalkan perselisihan

3. Ta’awun; saling menolong. Hal mendasar dalam bertransaksi adalah sifat dari pihak yang bertransaksi harus menjiwai sikap tolong menolong

4. Takaful; saling menjamin. Supaya pihak-pihak yang bertransaksi merasa aman dari kecurangan, maka harus ada akad saling menjamin. Dapat berupa fisik alat jaminan (surat-surat berharga, aset dll)

5. Tahaluf; saling bersinergi dan beraliansi. Hal ini berhubungan dengan dasar-dasar sebelumnya, yaitu supaya dapat bersinergi harus didasari saling kenal, saling memahami, saling menolong dan saling menjamin.

Kunci Bagi Kita

Kita ……..

Semua manusia pasti menginginkan sukses. Sekolah setinggi mungkin, dapat pekerjaan yang layak, dengan penghasilan yang mencukupi, berumah tangga yang bahagia, dengan kelengkapan rumah, mobil dan anak-anak yang berhasil.

Setiap hari kita disibukkan dengan urusan rumah tangga, suami/istri, anak, pekerjaan dan urusan lain yang sangat menyita waktu. Pagi hari tidak terasa langsung siang hari. Siang hari tidak terasa jadi malam hari. Satu minggu tidak terasa sudah berlalu, bulan terus berganti cepat………tanpa terasa tahun sudah berganti. Sisa Umur tanpa terasa semakin berkurang.

Kita……………

Tidak tahu sisa umur kita tinggal berapa. Untuk itu kita perlu kunci-kunci supaya kita nanti tidak kesulitan membuka pintu rumah abadi kita. Kesibukan yang menghabiskan waktu jangan disia-siakan hanya untuk urusan dunia. Rumah tangga, suami/istri, anak, pekerjaan dan urusan dunia lainnya hanyalah sarana niat hidup kita untuk beribadah.

Tiga kunci yang minimal harus kita miliki

Satu : iman yang kuat, yang akan mengantarkan kita ke pintu rahmatNya. Iman akan meluruskan jalan hidup menuju keabadian yang benar-benar dijanjikan

Dua : baik pada siapa saja, yang akan mengantarkan ke pintu kemudahan segala urusan dariNya. Kebaikan yang kita lakukan tidak perlu diingat-ingat di waktu mendatang. Supaya kita terus melakukan kebaikan tanpa menghitung-hitung.

Tiga : dermawan, yang mengantarkan ke pintu limpahan rizki dariNya. Tabungan di akhirat akan menumpuk meski tabungan di dunia tidak ada tumpukan. Kita akan panen di akhirat kelak dengan tabungan kedermawanan kita.

Kita ……………….

Menunggu hari-hari yang menyenangkan, yang kekal selamanya. Amiiiiiin

Semoga bermanfaat bagi kita semua