Open Source: Faham dan Mitos

Kalau kita bicara tentang open source, maka sebagian besar orang langsung berpikir tentang “gratis dan Linux”. Memang tidak salah, namun banyak salah informasi dan misteri dengan istilah open source software (OSS). Banyak orang berpikir bahwa open OSS hanya sebagai alternatif software dari software yang bermerk dan komersial.

Sampai akhir tahun 2010, telah dideteksi 2.724 SMA di negara bagian Indiana, US, telah beralih ke open source untuk menggantikan beberapa software utama dalam operasional mereka. Mereka mengganti sebagian besar sistem operasi Ms. Windows menjadi Linux, dan menggunakan OpenOffice untuk menggantikan Ms. Office.

OSS menunjukkan cara baru dalam menghadapi hak cipta. Software bukan seperti barang nyata yang dapat disimpan dalam lemari. Bukan software yang harus dibeli, tapi HAK untuk menggunakan software tersebut dengan perjanjian lisensi. Nah ini yang sering salah dalam pemahaman bagi sebagian besar pengguna.

Isi perjanjian itu yang sering terlewatkan. Bukan berarti ketika kita membeli sebuah software (dalam keping DVD) lalu kita bisa mengkopi ke seluruh komputer di kantor. Ada sebuah lisensi yang hanya mengijinkan sebuah software dapat dikopi ke 4 komputer. Lalu, bagaimana kalau di-sharing? Ada sebuah lisensi yang lebih detail, hanya mengijinkan di-share oleh maksimal 10 pengguna, dan sebagainya. Ini hanya sebagai contoh, dimana kita harus lebih mengerti apa itu lisensi.

Tidak hanya istilah GRATIS pada OSS, ada hal lain yang lebih penting dalam jiwa OSS. Sebuah software dapat dilabeli OSS dengan beberapa hal berikut:

  • Distribusi bebas. Banyak software gratis yang kita bisa dapatkan di Internet, namun tidak semua software gratis itu adalah open source. Tidak ada kata TAPI dalam OSS. Sebagai contoh ada sebuah software gratis yang bisa digunakan, TAPI hanya 3 bulan. TAPI tidak semua fitur diberikan, dan masih banyak TAPI lainnya.
  • Kode sumber program. Namanya saja open source (sumber terbuka). Jadi sebuah OSS selain menyediakan software yang siap pakai, mereka juga harus menyediakan kode programnya. Tidak ada yang disembunyikan dalam OSS. Tujuannya, agar semua orang dapat membuka, mempelajari dan bahkan meneruskan pengembangannya.
  • Distribusi lisensi. Lisensi harus tidak khusus pada sebuah produk. Lisensi juga tidak harus membatasi pada software lain. Lisensi juga harus netral teknologi. Misalnya, tidak mungkin Mozilla Firefox bebas digunakan di Linux, tapi tidak bebas di Ms. Windows. Mozilla Firefox bebas di mana saja, tidak seperti produk Microsoft yang membedakan platform dan teknologi.

Beberapa mitos keliru tentang OSS yang beredar di masyarakat. Ini mencerminkan adanya ketidakpahaman yang cukup tentang istilah open source itu sendiri, sebagai contoh:

  • Free/Open Source adalah GRATIS dan bukan berarti tidak ada bisnis.
  • Free/Open Source bukan berarti tidak ada SUPPORT.
  • Free/Open Source bukan berarti SULIT untuk dikembangkan.
  • Free/Open Source bukan berarti tidak AMAN.

Istilah Open Source Software (OSS) pun ber-evolusi. Untuk menekankan bahwa software ini adalah benar-benar GRATIS, maka OSS kemudian dikenal dengan Free/Open Source (FOSS). Lalu, di awal tahun 2007, untuk menekankan kembali bahwa software ini benar-benar bebas total, maka FOSS kemudian disebut dengan Free Libre Open Source (FLOSS). Libre yang artinya bebas tanpa kendali pihak-pihak tertentu.

Pertanyaan yang sering dilontarkan berikutnya adalah “Dari mana OSS mendapatkan dana?”. Sebelum pertanyaan ini dibahas, sebaiknya mempertimbangkan adanya hukum Tuhan yang jika kita ikhlas memberi tanpa pamrih, maka rejeki akan selalu datang. Linux dan OSS lainnya terus berkembang, terus baru, walaupun terus GRATIS.

Share
Trackbacks Comments
  • Aulya

    Kata Mario Teguh beberapa hari yang lalu “memberilah setelah anda sudah berkecukupan”. So, gimana dong Pak, karyawan mereka kan juga punya keluarga? hehehe… just wanna share

  • Nah itu dia, sudah sebaiknya para pengguna open source memberi donasi kepada mereka. Supaya mereka selalu sehat, kreatif, dan terus mengembangkan…

  • Aulya

    mmmmm… sepertinya kalau mengharapkan user untuk memberi donasi itu kok kayanya sedikit imposible deh pak. Kebanyakan user itu kan cari gratisnya, boro2 bayar. mending cari bajakan kalau ada hehehe… Mungkin culture kita yang masih harus dibenahi. What do you think about this?

  • Untungnya masih sangat banyak orang baik walaupun bukan di Indonesia. Beberapa waktu lalu, sempat lihat di situs Wikipedia, dimana sang founder menulis surat kecil yang diletakkan di banner atas situs Wiki. Yang isinya kira-kira menjelaskan bahwa wiki menjadi rujukan tertinggi bagi para pelajar di dunia, dan bagi yang ingin donasi, silahkan klik link donasi. Tujuan donasi untuk pemeliharaan server, bandwidth Internet dan para karyawan IT nya. Pada kenyataannya, ada laporan yang pernah saya baca, bahwa tahun 2011 jumlah donasi jauh melebihi angka yang dibutuhkan (termasuk saya walau cuma US$10).

  • dana bagi para pengembang FOSS rata-rata berasal dari donasi,

    jangan dikira nggak ada yang memberikan donasi loh, distro UBUNTU (salah satu distro linux terbesar/terpopuler) pengembangannya didukung penuh oleh salah satu milyuner bernama Mark Shuttleworth

    selain donasi mereka mendapatkan tambahan dana dari biaya layanan support/training/konsultasi seperti ini http://shop.canonical.com/index.php?cPath=21

    atau layanan tambahan lainnya, seperti contoh di UBUNTU, mereka menawarkan layanan cloud dengan biaya $ 9.000 http://www.ubuntu.com/cloud/jumpstart

    itu salah satu contoh aja, masih banyak aplikasi FOSS lainnya yang terus berkembang berkat donasi (seperti Wikipedia), memang tingkat kepedulian masyarakat indonesia masih rendah, jadi agak pesimis banyak yang ber-donasi, tapi para pengembang FOSS inikan sifatnya global, mungkin sedikit orang indonesia yg nyumbang, tapi buanyaaak di luar negeri sana yang bersedia ber-sodaqoh :)

    selain itu, nggak sedikit para pengembang FOSS memang pada dasarnya ikhlas meluangkan waktu, pikiran dan tenaga untuk mengembangkaan aplikasi FOSS tanpa ada bayaran, biasanya mereka mengerjakan aplikasi tsb di waktu senggang :)

  • mungkin masalah kesadaran masyarakat tentang pembiayaan gratis rebutan dlsb secara hakiki bangsa kita sakit jadi sebaiknya diingat politik devide at impera (politik pecah belah ) telah berlangsung maka wajib kita sadar untuk tidak mengusik persatuan dengan kesadaran saling berbagi termasuk tak perlu mengubris omongan para pengadu domba, kiranya kiamat tidak akan tiba sementara masih ada orang yang beriman dan beramal

  • Iskandar

    open source atau software gratis berbeda tapi intinya sama yaitu free and non license. kalau open source software, siapa saja bisa mengembangkan softwarenya…bila menggunakan sistem pembayaran by donasi dengan pola kesadaran sendiri memang agak relatif susah, sedangkan software gratis seperti smadav dan antav menggunakan sistem pembayaran by donasi cukup berhasil, karena perancang programnya (smadav wong jogja, antav wong bojong jabar)selalu membuat batasan tertentu untuk fungsinya bila hanya menggunakan versi gratis, lain bila kita tekah mendonasi (smadav bebas antav minimal donasi Rp.50.000)kita akan mendapatkan feature lengkap dan hasilnya memang memuaskan,dan bila sudah memuaskan maka besaran Rp. 50.000 itu rasanya masih terlalu kecil dibandingkan dengan tingkat keamanan penggunaan jaringan pada komputer kita…so sebaiknya semua jenis software di gratiskan aja dengan sistem pembayaran by donasi…kalau toh gak di donasi juga semoga saja Allah SWT menggantikan rejeki perancangnya dalam bentuk yang lain, sehingga para perancang sofware gratis dan open source itu selalu mendapatkan rejeki yang melimpah dari sumber yang “tak terduga”, INSYA ALLAH.

  • ikutan koment, saya barusan mencoba OSS salah satunya Linux. kalau dulu kepikiran bahwa linux itu sulit karena yang ada tulisan saja ternyata setelah dicoba tidak sesulit yang diduga. banyak tutorial yang mendukung dan tidak terlalu banyak coding(sesuai yang saya tahu) dan juga ada GUI/tampilan berbasis gambar. dan sekarang saya selalu menggunakannya.
    maju terus OSS.
    :)

  • Pak, mestinya kata “gratis” itu diganti dengan “bebas” yang memiliki arti lebih enak daripada gratis. Karena menurut saya, bagi orang indonesia gratis itu identik dengan sesuatu yang tidak perlu dibayar.
    Jadi kalau menggunakan kata bebas, yang berarti bebas untuk di distribusikan ulang, bebas di modifikasi bila membutuhkan modifikasi dan mampu, bebas untuk memberikan donasi dalam nominal berapapun termasuk tidak memberikan donasi…
    Mungkin mind set dari kata gratis ini yang membuat pemakaian OSS kurang maksimal..

Leave a Comment