Dua faktor penentu Etika
Meneruskan diskusi Socrates tentang “Etika” terkait dengan sistem informasi, sebenarnya: Bagaimana kita mengumpulkan, menyimpan, mengakses dan menggunakan informasi akan tergantung pada etika yang kita miliki (apa yang kita anggap benar dan salah).
Ada dua faktor yang mempengaruhi bagaimana kita membuat keputusan ketika dihadapkan pada dilema etis. Yang pertama, adalah struktur dasar etika kita, yang telah berkembang selama kita hidup dan tumbuh. Yang kedua, adalah serangkaian keadaan praktikal yang terlibat ketika kita mencoba membuat keputusan dalam area abu-abu. Nah kedua faktor ini, kita sebut: (1) struktur etika, dan (2) tantangan etika.
Kedua faktor ini, seringkali kita hadapi pada beberapa tingkatan. Tingkatan paling luar dimana kebanyakan orang tidak berpendapat bahwa ini adalah salah. Sebagai contoh dimana kita membawa pulang bolpen kantor, atau menggunakan facebook pada saat waktu kerja.
Pada tingkat menengah tantangan etika lebih signifikan, sebagai contoh adalah mengakses “personal records” untuk alasan personal. Membaca email orang lain juga merupakan contoh untuk tingkatan ini. Apa yang menjadi alasan pribadi yang sangat menarik sehingga mereka tidak merasa tidak nyaman ketika melakukan ini?
Pada tingkat terdalam, adalah “pelanggaran etika” dimana sebagian besar orang pasti akan mempertimbangkan dengan serius bahwa ini adalah salah, seperti menggelapkan dana atau menjual catatan perusahaan untuk pesaing. Namun, dari waktu ke waktu, struktur etika akan dapat mengubah sehingga tindakan seperti ini bisa jadi ‘lebih atau kurang’ dapat diterima.
Salah satu pelajaran dasar etika yang terlalu sering dilupakan, adalah bahwa sesuatu yang jelek secara moral akan dapat diterima hanya karena kebanyakan orang melakukannya. Contohnya saja, kebanyakan dari kita secara tidak sadar akan berupaya untuk memberi tips kepada petugas agar urusan kita bisa lebih didahulukan. Karena semua melakukannya, akhirnya sesuatu yang salah ini menjadi biasa.
Berikut adalah beberapa pertimbangan ketika digunakan dalam membuat keputusan terkait dengan dilema etika:
- Konsekwensi, seberapa banyak, sedikit atau bahaya akan datang dari suatu keputusan tertentu? Jika manfaat tersebut sedikit, seberapa kuat kita dapat menanggung konsekwensinya?.
- Opini Masyarakat, apa yang akan masyarakat pikirkan jika kita benar-benar melakukan tindakan tersebut?
- Efek Kemungkinan, jika ini benar-benar diputuskan, dampak negatif apa yang akan terjadi?
- Waktu Konsekwensi, seberapa lama kita dapat menanggung konsekwensinya. Jika dirasa tidak cukup lama, go ahead!
- Keterkaitan. Siapa saja orang-orang yang terkait yang akan menerima manfaat atau menderita membahayakan?
- Mencapai Hasil, seberapa banyak orang-orang yang terpengaruh pada tindakan tersebut?
Tidak peduli seberapa kuat rasa etika, aspek-aspek praktis dari situasi dapat mempengaruhi kita dalam membuat keputusan. Jadi, dilema etika biasanya muncul tidak keluar dari situasi yang sederhana tetapi dari bentrokan antara tujuan bersaing, tanggung jawab, dan loyalitas.
Beberapa waktu lalu, saya mengurus paspor di imigrasi. Ketika masuk ke dalam antrian, seorang mendekati saya dan menawari jasa, “pak, bisa saya bantu? lewat saya cukup 1 jam, paspor anda siap”. Bagaimana menurut Anda terkait pembicaraan Etika, pertimbangkan jika Anda yang mengurus paspor dalam kasus ini?




secara moralitas, tindakan seseorang tadi juga termasuk “pelanggaran etika”. Jika saya dihadapkan dg masalah di atas, jujur saja saya akan mempertimbangkan tawaran tadi… karena saya pernah mengantar kaka saya ke kantor imigrasi, antreannya sungguh luar biasa, ruang tunggu yang tidak nyaman, kehabisan tempat duduk, dan pelayanan yang lambat. Walaupun secara moralitas ini salah, namun tawaran ini efisien waktu.
selain itu menurut saya, pelanggaran etika yang sejenis demikian ini disebabkan oleh faktor2 klain juga, misalnua membuat ktp. tidak munafik memang, di negeri kita, jika membayar lebih mahal, maka urusan akan cepat selesai. Ini tentu melanggar etika. Namun “api” dari semua ini adalah karena birokrasi yang dipersulit untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Jadi, bisa sedikit dimaklumi kenapa pelanggaran etika di lingkungan kita sudah merupakan hal yang biasa….
Menurut saya sah-sah saja bila kita menerima tawaran tersebut,terutama kalau kita sedang terburu-buru.Tetapi secara etika,itu merupakan hal yang salah.Dasar dari permasalahan ini adalah karena bangsa kita sudah terbiasa dengan “budaya” seperti ini.Kita hanya bisa menghilangkan “budaya”tersebut bila dari dalam diri setiap orang ada kesadaran bahwa hal seperti itu adalah salah.Bila kita semua mempunyai kesadaran maka “budaya” yang salah ini pasti bisa hilang.
Dari kasus tersebut,jika saya berada di posisi tersebut,saya akan mengambil kesempatan tersebut karena tidak dapat dipungkiri setiap orang pasti ingin dirinya didahulukan dan dilayani sebaik dan secepat mungkin.Tetapi kalau di lihat dari sudut pandang etika,itu merupakan suatu pelanggaran.Hal ini jelas melanggar hak orang lain yang telah datang lebih dahulu di banding kita tetapi kita juga tidak membudayakan antri.Pada kenyataannya,tidak hanya saya tetapi kebanyakan orang ingin didahulukan dan kadang memilih “jalan pintas” yang salah karena kebiasaan ini sudah menjadi seperti budaya baru di dalam masyarakat Indonesia.Demikian pendapat yang saya ungkapkan sesuai dengan kenyataan yang ada dan tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangi.Terima kasih
tidak dipungkiri hal tersebut memang merupakan pelanggaran etika yang bisa dibilang membias. karena kita memang tau hal tersebut pelanggaran, tetapi tidak ada sangsi yang diberikan, meskipun itu sangsi yang hanya sekedar “dikucilkan”. lambat laun, benar yang dibilang felicia bahwa hal ini sudah membudaya di Indonesia seperti halnya korupsi. sungguh banyak pelanggaran etika yang terjadi di negara kita tetapi sekarang sudah menjadi hal yang biasa saja.
Menurut saya jika terkait dengan tantangan terhadap etika saat ini semakin meningkat dan jika terjadi penyalahgunaan terhadap etika, hal ini akan sulit untuk diminimalisasi, karena klaim atas etika tidak bisa secara langsung dan butuh proses untuk menormalkan kembali etika yang telah biasa disalahgunakan terutama oleh personal. Untuk landasan etika memang ada yaitu berupa “kode etik” seperti kode etik profesi atau juga kode etik perusahaan, tetapi tetap saja kembali pada individu masing-masing jika masing -masing individu bisa lebih “mawas diri” maka masih bisa diminimalisasi untuk tindakan penyalahgunaan etika, sementara kode etik itu sendiri merupakan batasan yang lebih bersifat tertulis dibanding lisan, jadi juga rentan untuk diabaikan atau tidak dipatuhi, oleh karena itu penegakan tindakan beretika yang baik dan sunggub – sungguh harus dimulai dari diri sendiri.
Hmmmmmm….
Kasus yang Bapak alami mungkin merupakan salah satu contoh kecil etika yang sudah menyebar dan bnyak ditemui di Indonesia.
Udah banyak Orang lebih mentingin UANG dibanding Etika mrka sndri,
Cz sulit bgt bwat masy indonesia nerapin etika yang baik kalo lawanya sama uang.
hehehehe
Mrka lbh milih ngehalalin smua cara bwt dapetin uang dripda ngurus etika yang baik bwt dirinya.
Mungkin Nih Kalo Ada Hukum2 yang teges mengenai smua pelanggaran yang ada, dan sanksinya bnr brat,
Etika Masyarakat Indonesia bakalan bisa membaik dan berubah.
kalau dilihat dari kasus yang bapak alami mungkin ini menunjukkan bahwa kesadaran pihak petugas imigrasi atas pelayanannya kepada masyarakat tidak memuasakan. sehingga membuat masyarakat memilih jalan pintas, nah ngomong-ngomong jalan pintas disini yang saya tau sih memang sengaja di buat untuk keuntungan pribadi dari petugas tersebut.
sedangkan petugas ini sudah tau betul bahwa sifat orang indonesia yang tidak sabaran ini dimanfaatkan dengan baik untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Secara pribadi ini sebuah pelanggaran etika yang berkaitan dengan hukum, maka saya memilih tidak menerima. Karena, memang pada saat tersebut, saya terbantu dengan cepat terproses paspor saya. Namun, saya tidak tahu sistim di dalamnya benar atau tidak, apakah paspor saya asli, dan sebagainya. Apabila suatu saat saat saya akan menggunakan paspor saya, dan ternyata paspor saya tidak sesuai sistim paspor yang benar dan tidak dapat dipertanggung jawabkan, tentu saya akan berurusan dengan hukum. Jadi saya memilih tidak.
memang saat ini semakin banyak pelanggaran eetika yang dilakukan..
oleh siapa saja, asal menguntungkan diri sendiri, meskipun itu hanya menguntungkan satu pihak saja, dan merugikan pihak lain.
banyak contoh lainnya, selain pembuatan paspor, juga seperti pembuatan SIM, dimana banyak calo2 yang menawarkan “jalan belakang” yang telah melakukan penyimpangan terhadap prosedur yang sebenarnya. dan ini pun telah membudaya dan menjadi hal yang biasa di masyarakat sekarang.