Perempuan dan Teknologi Informasi
Kata perempuan memang sangat indah untuk dibicarakan, seperti dalamnya samudra yang seakan-akan tidak ada batasnya. Pada tulisan ini saya mencoba menuangkan tentang perempuan dalam kaitannya pada teknologi informasi (untuk selanjutnya disingkat TI).
Perkembangan TI yang begitu cepat, telah merubah cara hidup seluruh manusia di muka bumi. Dari mulai belajar, bekerja, hiburan sampai bisnis. Dari fenomena ini, saya coba mengambil 2 peran penting dalam TI yaitu: pengembang TI dan pengguna TI.
Belajar e-Commerce lewat eBay
Beberapa waktu lalu, saya dan istri sempet mengunjungi beberapa kampus di Australia. Sebagai kebiasaan, kami selalu mampir ke book-store di sana untuk mencari souvenir kampus seperti kaos, gelas atau sejenisnya. Selain itu, saya suka iseng mampir ke sudut toko khusus area buku-buku yang membahas sistem informasi. Kali aja, ada yang bisa dibeli dengan harga khusus.
Nah kebetulan mata saya tertuju pada buku-buku teks yang membahas tentang eBay (eBay adalah salah satu situs e-Commerce terbesar di dunia). Yang aneh lagi, banyak sekali mahasiswa di sana yang membeli buku tentang eBay tersebut. Hal yang sama terjadi di semua kampus yang sempat saya kunjungi waktu itu.
Open Source: Faham dan Mitos
Kalau kita bicara tentang open source, maka sebagian besar orang langsung berpikir tentang “gratis dan Linux”. Memang tidak salah, namun banyak salah informasi dan misteri dengan istilah open source software (OSS). Banyak orang berpikir bahwa open OSS hanya sebagai alternatif software dari software yang bermerk dan komersial.
Sampai akhir tahun 2010, telah dideteksi 2.724 SMA di negara bagian Indiana, US, telah beralih ke open source untuk menggantikan beberapa software utama dalam operasional mereka. Mereka mengganti sebagian besar sistem operasi Ms. Windows menjadi Linux, dan menggunakan OpenOffice untuk menggantikan Ms. Office.
Penerapan ERP di Perguruan Tinggi: Sukses atau Gagal?
Seperti pada cerita-cerita sebelumnya, bahwa konsep ERP telah diidam-idamkan oleh banyak perusahaan dan sebagian dari mereka sudah mencoba untuk mengimplementasikan dengan dukungan teknologi informasi.
Pada kenyataannya, ERP tidak hanya diidamkan oleh perusahaan berjenis manufaktur, namun banyak institusi pendidikan perguruan tinggi (universitas) juga sudah mencoba untuk mengimplementasikannya.
E-Commerce: B2B vs B2C
Teknologi informasi dan komunikasi memang telah mengacaukan sistem, salah satunya adalah menyebabkan kacaunya sistem pasar yang telah ada. Karena kacau, akhirnya perlahan demi perlahan struktur industri, struktur pasar dan model bisnis berubah.
Sistem perdagangan berbasis elektronik, yang biasa disebut dengan e-commerce setidaknya bisa memotong jalur distribusi pemasaran tradisional yang telah ada. Yang tadinya consumer baru bisa mendapatkan barang lewat toko eceran, sekarang bahkan mereka bisa memesan langsung ke pabriknya.
Magic “e”, Hi! my name is e-ddy
Sadarkah kita, bahwa secara perlahan huruf “e” telah merubah cara hidup kita? Sehingga saya harus menulis ini, “the Magic e” (si e yang gaib dan sakti). Ini bukan bicara tentang ilmu sihir atau sejenisnya, tapi bicara tentang embel huruf “e” yang melengkapi hidup kita seperti e-mail, e-commerce, e-banking, dan sebagainya.
Embel huruf “e”, pertama kali digunakan pada term e-mail yang mulai diperkenalkan disekitar tahun 1972 untuk membedakannya dengan surat biasa (berbentuk kertas dan amplop). “E” sendiri yang sebenarnya kependekan dari kata “Elektronik”, sehingga e-Mail bisa berarti electronic mail (surat elektronik). Berbentuk elektronik (format berbasis komputer) sehingga bisa dikirim lewat jaringan Internet.
Gaya SDLC: “Cut Off” vs Parallel
Setelah semua persiapan ready, tahapan yang paling ditunggu-tunggu adalah tahap Implementasi. Karena pada tahap ini, aktifitas akan melibatkan para pengguna baik itu internal maupun eksternal.
Clifton, dalam bukunya “Business Information Systems” menjelaskan bahwa tahap implementasi adalah suatu tahap yang paling mendebarkan dan mengerikan, karena ini berhubungan dengan orang lain khususnya pelanggan. Implementasi yang gagal karena kurang persiapan, akan menimbulkan presepsi buruk pada banyak orang.
Dua faktor penentu Etika
Meneruskan diskusi Socrates tentang “Etika” terkait dengan sistem informasi, sebenarnya: Bagaimana kita mengumpulkan, menyimpan, mengakses dan menggunakan informasi akan tergantung pada etika yang kita miliki (apa yang kita anggap benar dan salah).
Ada dua faktor yang mempengaruhi bagaimana kita membuat keputusan ketika dihadapkan pada dilema etis. Yang pertama, adalah struktur dasar etika kita, yang telah berkembang selama kita hidup dan tumbuh. Yang kedua, adalah serangkaian keadaan praktikal yang terlibat ketika kita mencoba membuat keputusan dalam area abu-abu. Nah kedua faktor ini, kita sebut: (1) struktur etika, dan (2) tantangan etika.
Socrates dan Etika Informasi
Masyarakat yang ber-etika pasti memiliki integritas. Maka dari itu, salah satu tata nilai yang ditanamkan di masyarakat kampus ini adalah Integritas. Mereka yang ber-etika, sangat berhati-hati dalam hal tanggung jawab karena mereka mempertimbangkan akan dampak terhadap orang lain. Mereka akan melakukan apa yang adil dan baik dan tidak hanya melihat apa yang tampaknya adil dan baik. Paling tidak, menjadi orang ber-etika berarti bahwa seseorang menganggap serius hak orang lain serta berusaha membuat hidup menjadi lebih soleh.
MIS vs DSS vs EIS
Ketika saya kemarin membahas tentang Sistem Informasi, salah satu mahasiswa saya bertanya, “apa sebenarnya yang membedakan MIS, DSS dan EIS ?”.
Sebelum membahas lebih detail tentang mereka, sebenarnya sama saja pertanyaan ini “apa bedanya sedan, jip dan bis”. Mereka adalah mobil, dimana dibuat untuk keperluan yang berbeda. Dengan begitu, muncul-lah berbagai jenis mobil yang semakin banyak dan beraneka ragam. Mereka semua tidak bisa dibandingkan karena memang beda keperluan. Misal saja, “bagus mana sedan vs jip ?”.



