Reasuransi Syariah (Retafakul) Oleh: Amir Kusnanto

Semakin berkembangnya asuransi syariah di Indonesia, memerlukan adanya reasuransi yang beroperasional sesuai syariah Islam untuk bekerjasama yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Reasuransi syariah diperlukan oleh  asuransi syariah untuk saling membantu bilamana terjadi klaim dari peserta pada waktu yang tidak dapat diperkiraan sebelumnya. Di mana besarnya klaim tersebut di luar batas kemampuan membayar asuransi syariah. Kemampuan perusahaan asuransi syariah untuk menanggung risiko dari suatu pertanggungan disebut “retensi”, yang merupakan batas maksimum dari total klaim yang harus dibayar perusahaan asuransi syariah. Bilamana total klaim yang harus dibayar melebihi retensi yang telah ditentukan perusahaan asuransi, maka perlu adanya keterlibatan reasuransi syariah untuk ikut menanggung beban sebagian dari klaim tersebut. Jika hal ini tidak dilakukan, maka perusahaan asuransi syariah akan mengalami gagal bayar (default) yang berpotensi merugikan peserta karena klaimnya tidak dapat dibayar.

Kerjasama antara reasuransi syariah dengan asuransi syariah, berdasarkan fatwa DSN No. 53/DSN-MUI/III/2006 aktivitas ini menggunakan akad tabarru.  Hal ini sesuai dengan tujuan kerjasama tersebut untuk saling tolong-menolong, dan bukan semata-mata untuk tujuan komersial. Hubungan asuransi syariah dengan reasuransi syariah, hampir sama dengan hubungan asuransi syariah dengan peserta. Dalam hubungan asuransi syariah dengan peserta, di mana pihak asuransi syariah sebagai penanggung kerugian (insuer) yang mungkin menimpa  peserta sebagai pihak tertanggung (insured). Sedangkan dalam reasuransi syariah sebagai pihak penanggung (insuer), dan sebagai pihak tertanggung asuransi syariah (insured) tanpa adanya keterlibatan langsung antara reasuransi syariah dengan peserta sebagai pemegang polis dari suatu perusahaan asuransi syariah.

Dengan mengasuransikan kembali sebagian premi yang dikelola perusahaan asuransi syariah, berarti perusahaan asuransi syariah  menyebarkan sebagian risiko kepada reasuransi syariah. Hal ini untuk menghindari kerugian yang lebih besar karena adanya klaim peserta dan menghindari gagal bayar dari perusahaan asuransi syariah.

Keuntungan Ikut Program  Reasuransi

Perusahan asuransi syariah yang mengasuransikan kembali sebagian preminya pada reasuransi syariah akan mendapat keuntungan sebagai berikut:

  1. Penyebaran risiko.
  2. Memperbesar kapasitas perusahaan asuransi syariah dalam menerima risiko.
  3. Meningkatkan daya saing.
  4. Meningkatkan kepercayaan peserta.

Jenis Reasuransi

Ditinjau dari ruang lingkup pada dasarnya ada 2 jenis reasuransi, yaitu:

  1. Specific/Facultative Reinsurance, yaitu aktivitas penempatan reasuransi yang didasarkan pada kepentingan masing-masing pihak. Perusahaan asuransi boleh menawarkan atau tidak menawarkan risiko yang di luar batas kemampuan membayar kepada reasuransi,  sebaliknya reasuransi boleh menerima atau menolak apabila ditawari risiko tersebut.
  2. Automatic/Treaty Reinsurance, yaitu perjanjian reasuransi di mana perusahaan asuransi setuju atas penempatan kelebihan risiko kepada reasuransi dan reasuransi secara otomatis menyetujui atas penempatan kelebihan risiko tersebut dari perusahaan asuransi sampai batas jumlah tertentu yang telah disetujui bersama.
  3. Facultative Obligatory Reinsurance, yaitu gabungan antara facultative insurance dengan treaty insurance. Perusahaan asuransi boleh menempatkan atau tidak menempatkan kelebihan risiko kepada reasuransi. Akan tetapi apabila perusahaan asuransi berkehendak menempatkan kelebihan risiko, maka reasuransi harus menerimanya sampai batas jumlah yang disetujui bersama.

Reasuransi  Syariah yang Beroperasi di Indonesia

Jumlah perusahaan reasuransi syariah yang beroperasi di Indonesia ada 7 perusahaan, yang terdiri dari 4 perusahaan reasuransi syariah dalam negeri dan 3 perusahaan reasuransi syariah dari luar negeri. Pangsa pasar reasuransi di Indonesia masih terbuka lebar, karena reasuransi dalam negeri masih menguasai 20% dari total premi yang diasuransikan ulang. Sisanya 80% dikuasai oleh reasuransi luar negeri. Berikut daftar  reasuransi syariah yang beroperasi di Indonesia.

  1. PT. Reasuransi Internasional Indonesia (Reindo Syariah Unit)
  2. PT. Reasuransi Nasional Indonesia (Nasre Syariah)
  3. PT Maskapai Reasuransi Indonesia, Tbk (Marein)
  4. PT. Tugu Reasuransi Indonesia (Tugu-Re)
  5. ASEAN  Retakaful Labuhan-Malaysia
  6. Takaful-re Bahrain
  7. Milea Retakaful Singapore

Referensi

  1. Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian.
  3. Kusnanto, Amir, 2011. Bank Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah, Badan Penerbit STIE Malangkuçeçwara, Malang.
  4. Siamat, Dahlan. 2001. Manajemen Lembaga Keuangan, Edisi Ketiga Lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta.