Premi, Klaim, Investasi, dan Permodalan Asuransi Syariah Oleh : Amir Kusnanto

Premi Asuransi Syariah

Premi adalah kewajiban peserta asuransi untuk memberikan sejumlah dana kepada perusahaan asuransi seuai dengan kesepakatan dalam akad. Premi yang harus dibayar peserta asuransi syariah langsung dipisah ke dalam 2 rekening yang terdiri dari:

  • Dana Tabungan, adalah dana titipan dari peserta asuransi syariah (life insurance) dan akan mendapatkan bagi hasil setiap tahun. Dana dan bagi hasil akan dikembaikan kepada peserta apabila yang bersangkutan mengajukan klaim, baik klaim nilai tunai maupun klaim manfaat asuransi.

 

  • Tabarru adalah derma atau dana sosial yang diberikan dan diikhlaskan oleh peserta asuransi syariah, jika sewaktu-waktu akan dipergunakan untuk membayar klaim atau manfaat asuransi (life & general insurance)

Disini perusahaan asuransi syariah bertindak hanya sebagai “pengelolah dana”, premi tetap milik peserta (kecuali tabbarru) yang telah diikhlaskan untuk dana sosial.

Klaim Asuransi Syariah

Klaim adalah hak peserta asuransi syariah yang wajib diberikan oleh perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad. Klaim oleh peserta dapat dilakukan bilamana peserta mengalami musibah (kecelakaan, kebakaran, kecurian) untuk asuransi kerugian atau peserta meninggal dunia (telah jatuh tempo) untuk asuransi jiwa. Klaim harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Klaim dibayarkan berdasarkan akad yang disepakati pada awal perjanjian.
  2. Klaim dapat berbeda dalam jumlah, sesuai dengan premi yang dibayarkan.
  3. Klaim atas akad tijarah sepenuhnya merupakan hak peserta, dan merupakan kewajiban perusahaan untuk memenuhinya.
  4. Klaim atas akad tabarru merupakan hak peserta dan merupakan kewajiban perusahaan, sebatas yang disepakati dalam akad.

 

Investasi Asuransi Syariah

Dana yang telah terkumpul dari premi para peserta kemudian diinvestasikan pihak asuransi syariah  pada surat-surat berharga yang bidang usahanya sesuai dengan syariah Islam, yang mengharamkan perjudian, minuman beralkohol dan makanan yang haram, serta bukan termasuk lembaga keuangan konvensional. Investasi dari asuransi syariah umumnya ditanamkan dalam surat berharga seperti obligasi syariah, reksa dana syariah, saham syariah yang di Bursa Efek Indonesia masuk ke dalam Jakarta Islamic Index (JII). Saat ini perusahaan yang sahamnya masuk ke dalam indeks syariah ada 30 saham yang bisa dibeli asuransi syariah.

 

Permodalan Asuransi Syariah

Dalam rangka memperkuat dan menyehatkan perasuransian di Indonesia, maka Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian. Berdasarkan PP. No. 39 Tahun 2008,  Pasal 6 ayat 2 ditetapkan modal disetor minimum bagi perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi yang menyelenggarakan seluruh kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah adalah  sebagai berikut:

a. Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah), bagi perusahaan asuransi;
b.  Rp 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah), bagi perusahaan reasuransi.

Sedangkan pada Pasal 6D ditetapkan modal kerja minimum unit syariah dari perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi adalah sebagai berikut:

  1. Rp. 25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah) bagi unit syariah dari perusahaan asuransi;
  2. Rp. 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) bagi unit syariah dari perusahaan reasuransi.

 

 

Referensi

  1. Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian.
  3. Kusnanto, Amir, 2011. Bank Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah, Badan Penerbit STIE Malangkuçeçwara, Malang.
  4. Siamat, Dahlan. 2001. Manajemen Lembaga Keuangan, Edisi Ketiga Lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta.