MENGENAL ASURANSI SYARIAH Oleh: Amir Kusnanto

Pengertian Asuransi Syariah (Takaful)

Istilah lain asuransi syariah adalah takaful, yang berasal dari kata “takafala- yatafakalu”, yang berarti menjamin atau saling menanggung. Takaful dalam pengertian muamalah berarti saling menanggung risiko diantara sesama orang, sehingga antar satu orang menjadi penanggung atas risiko yang lain. Saling menanggung risiko tersebut atas dasar saling tolong-menolong yang diwujudkan dengan mengeluarkan dana tabarru (dana sosial) untuk kepentingan bersama.

DSN-MUI mendifinisikan Asuransi Syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru yang memberi pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah.

Landasan Hukum

Berdirinya asuransi syariah di Indonesia harus memenuhi ketentuan-ketentuan tertentu, sehingga tidak melanggar syariah Islam. Untuk itu, Dewan Syariah Nasional merumuskan landasan hukum, akad transaksi, dan ketentuan lainnya sebagai petunjuk operasional, produk-produk dan investasi asuransi syariah. Ketentuan tersebut tertuang dalam Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 21/DSN-MUI/X/2001, tentang  Pedoman Umum Asuransi Syariah.

Al-Qur’an:

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (masa depan) dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang engkau kerjakan”   (Surat Al-Hasyr: 18)

Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”   (Surat Al-Maidah: 2)

Al-Hadits :

“Perumpamaan orang beriman dalam kasih sayang, saling mengasihi dan mencintai bagaikan tubuh (yang satu); jikalau satu bagian menderita sakit maka bagian lain akan turut menderita” (HR. Muslim dari Nu’man bin Basyir)

“Seorang mu’min dengan mu’min yang lain ibarat sebuah bangunan, satu bagian menguatkan bagian yang lain”  (HR. Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari).

 

Prinsip Dasar Asuransi Syariah

Perusahaan yang menyelenggarakan usaha asuransi syariah dan reasuransi syariah wajib menerapkan prinsip dasar sebagai berikut:

  1. adanya kesepakatan tolong-menolong (ta’awun) dan saling menanggung (takaful) diantara para peserta;
  2. adanya kontribusi peserta ke dalam dana tabarru;
  3. perusahaan bertindak sebagai pengelola dana tabarru;
  4. dipenuhinya prinsip keadilan (‘adl), dapat dipercaya (amanah), keseimbangan (tawazun), kemaslahatan (maslahat), dan keuniversalan (syumul); dan
  5. tidak mengandung hal-hal yang diharamkan, seperti ketidakpastian/ketidakjelasan (gharar), perjudian (maysir), bunga (riba), penganiayaan (zhulm), suap (risywah) maksiat, dan objek haram.

 

Akad (Perjanjian)

Akad dalam asuransi syariah harus sesuai dengan syariah Islam yakni akad yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat. Ketentuan-ketentuan akad asuransi syariah telah diatur oleh Dewan Syariah Nasional.

 

 

Akad Asuransi Syariah

  1. Akad Tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial. Akad tijarah dapat berupa akad wakalah bil ujrah (perwakilan), akad mudharabah (bagi hasil), dan akad mudharabah musytarakah.
    1. Akad Wakalah bil Ujrah yaitu akad tijarah yang memberi kuasa kepada perusahaan asuransi syariah sebagai wakil peserta untuk mengelola dana tabarru dan dana investasi dengan imbalan berupa ujrah (fee).
    2. Akah Mudharabah yaitu akad tijarah yang memberika kuasa kepada perusahaan asuransi syariah untuk mengelola dana tabarru dan dana investasi peserta dengan imbalan berupa bagi hasil (nisbah) yang besarnya disepakati sebelumnya.
    3. Akad Mudharabah Musytarakah yaitu akad tijarah yang memberika kuasa kepada perusahaan asuransi syariah untuk mengelola dana tabarru dan dana investasi peserta, yang digabungkan dengan kekayaan perusahaan asuransi syariah, dengan mendapatkan imbalan berupa bagi hasil (nisbah) yang besarnya ditentukan berdasarkan komposisi kekayaan yang digabungkan dan telah disepakati sebelumnya.

 

  1. Akad Tabarru adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial. Dalam akad tabarru harus disebutkan:
    1. Kesepakatan para peserta untuk saling tolong-menolong (ta’awun)
    2. Hak dan kewajiban peserta (baik individu maupun kelompok) dan perusahaan;
    3. Cara dan waktu pembayaran premi dan klaim;
    4. Ketentuan mengenai boleh atau tidaknya kontribusi ditarik kembali oleh peserta dalam hal terjadi pembatalan oleh peserta.
    5. Ketentuan mengenai alternatif dan persentase pembagian Surplus Underwriting

 

Kedudukan Para Pihak dalam Akad Tijarah dan Tabarru

  1. Dalam akad tijarah (mudharabah) perusahaan bertindak sebagai mudharib (pengelola) dan peserta bertindak sebagai shahibul mal (pemegang polis).
  2. Dalam akad tabarru (hibah), peserta memberikan hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta lain yang terkena musibah. Sedangkan perusahaan bertindak sebagai pengelola dana hibah.

 

Penggunaan Dana Tabarru

Perusahaan asuransi syariah dalam menggunakan dana tabarru hanya untuk keperluan yang berkaitan dengan:

  1. pembayaran santunan kepada peserta yang mengalami musibah atau pihak lain yang berhak;
  2. pembayaran reasuransi;
  3. pembayaran kembali dana pinjaman dari perusahaan lainnya (Qardh); atau
  4. pengembalian kembali Dana Tabarru sebagai akibat pembatalan polis oleh peserta dalam periode yang diperkenankan.

 

Referensi

  1. Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian.
  3. Kusnanto, Amir, 2011. Bank Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah, Badan Penerbit STIE Malangkuçeçwara, Malang.
  4. Siamat, Dahlan. 2001. Manajemen Lembaga Keuangan, Edisi Ketiga Lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta.