MENGENAL THE BANK FOR INTERNATIONAL SETTLEMENT (BIS)

Mengenal The Bank for International Settlement

By AMIR KUSNANTO

The Bank for International Settlement (BIS) adalah lembaga keuangan internasional tertua di dunia yang mulai beroperasi sejak 1930.  Rekening BIS berasal dari Bank Federal New York yang menyoroti fungsi penting bank. BIS adalah “Bank” untuk Bank Sentral.

Hampir semua bank-bank Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Australia, dan Afrika Selatan, berpartisipasi di dalam atau berhubungan erat dengan aktivitas BIS.

Kantor Pusat BIS berlokasi di Basle, Switzerland. Aktivitas BIS yaitu:

  • membantu bank-bank sentral dalam investasi cadangan moneter;
  • menyediakan forum kerjamasama moneter internasional;
  • bertindak sebagai agen atau yang dipercaya dalam menyelesaikan perjanjian internasional;
  • mengadakan penelitian ekonomi secara luas.

Dalam mengelola dana bank sentral, BIS menggunakan jenis investasi tradisional. Dana tidak harus dipinjamkan kepada bank sentral lain yang berada dalam pasar keuangan internasional. Bentuk investasi utama meliputi simpanan di bank-bank komersial, pembelian surat berharga jangka pendek termasuk surat berharga Pemerintah Amerika Serikat.

Dalam memainkan peran untuk kerjasama internasional, BIS menyediakan forum bagi Gubernur bank-bank sentral termasuk Bank Federal. Perwakilan lembaga internasional bertemu 10 kali setahun di BIS untuk mendiskusikan tentang kebijakan moneter.

BIS dalam menjalankan operasional perbankan diharuskan oleh anggaran dasarnya untuk memotivasi kecocokannya dengan kebijakan moneter yang dititikberatkan oleh bank sentral.

BIS memiliki bentuk perusahaan resmi seperti yang ditetapkan oleh piagamnya sebagai organisasi internasional yang berpangkal dari perjanjian Hague 1930. BIS memiliki Dewan Direksi yang bertanggung jawab atas operasional bank. Dewan Direksi terdiri dari Gubernur bank sentral Belgia, Jerman, Perancis, Italia, Inggris, dan 5 wakil keuangan, industri atau perdagangan yang ditunjuk oleh gubernur kelima bank sentral tersebut.

Sebagai organisasi internasional, BIS memainkan beberapa fungsi pengawasan dan tempat penyimpanan bagi kelompok resmi. Misalnya BIS menyediakan sekretariat bagi komite Gubernur bank sentral masyarakat Eropa dan bagi Dewan Gubernur dana kerjasama moneter Eropa, juga bagi sub-komite dan kelompok ahli yang menyiapkan dokumen bagi Gubernur bank sentral.

Tahun 1988 BIS membuat kesepakatan bersama tentang ketentuan permodalan bank dengan menetapkan Capital Adequacy Ratio (CAR), yaitu rasio minimum antara modal berisiko dengan aktiva yang mengandung resiko. Ketentuan CAR tersebut harus diikuti oleh bank-bank di seluruh dunia, sebagai suatu level permainan dengan kompetisi yang fair pada pasar keuangan global. Formula yang ditetapkan BIS adalah rasio minimum 8 persen permodalan terhadap aktiva yang mengandung resiko.

 

Ketentuan CAR 8% sebagai kewajiban penyediaan modal minimum bank dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:

  1. 4% modal inti (tier 1) yang terdiri dari shareholders equity, prefered stocks, dan freereserves.
  2. 4% modal sekunder (tier 2) yang terdiri dari subordinate debt, loan loss provissoins, hybrid securities, dan revaluation reserves.

 

Dalam rangka memenuhi ketentuan CAR yang telah ditetapkan BIS, Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas moneter mengeluarkan ketentuan mengenai kewajiban bagi bank-bank umum di Indonesia untuk penyediaan modal minimum bank sebesar 8%, dengan surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 23/67/Kep/Dir tanggal 28 Pebruari 1991.

Pemberlakuan ketentuan CAR = 8% bagi perbankan Indonesia, Bank Indonesia memberikan kesempatan untuk menyesuaikan permodalannya secara bertahap, yaitu sekurang-kurangnya:

  1. 5% sejak akhir Maret 1992,
  2. 7% sejak akhir Maret 1993,
  3. 8% sejak akhir Desember 1993.

 

Tetapi setelah terjadinya krisis moneter tahun 1998 ketentuan CAR diturunkan menjadi 4%, hal ini disebabkan banyaknya perbankan nasional yang mengalami penurunan secara drastis (CAR-nya minus). Bank-bank yang sakit tersebut harus masuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Untuk menyelamatkan perbankan nasional BPPN terpaksa harus dilikuidasi, atau melakukan merger. Setelah berangsur-angsur perbankan  mulai sehat, maka ketentuan CAR=8% diberlakukan kembali.

Pada tahun 2010 semua perbankan di Indonesia memiliki CAR di atas 8%, melebih ketentuan minimal yang ditetapkan Bank Indonesia. Ketentuan CAR minimal 8% harus betul-betul diperhatikan oleh Perbankan, karena merupakan ukuran kesehatan bank. Perbankan yang sehat akan berpengauh terhadap pertumbuhan perekonomian suatu Negara. Terganggunya peran intermediasi perbankan akan dapat menyebabkan terjadi krisis ekonomi.