PRODUK-PRODUK PENYALURAN DANA BANK SYARIAH

PRODUK-PRODUK PENYALURAN DANA BANK SYARIAH YANG POPULER (BAG. 4)

by Amir Kusnanto

Produk Penyaluran Dana

Dalam menyalurkan dana yang telah berhasil dihimpun bank syariah dapat berupa Pembiayaan/Kredit Al-Mudharabah, Kredit Al-Musyarakah, Bai’al Murabahah, Bai’ Bithamal Ajil, Bai’as Salam, Bai’ al Istishna’, dan Ijarah.

1. Pembiayaan Al-Mudharabah

Dalam Pembiayaan Al-Mudharabah, bank syariah dapat menyediakan pembiayaan modal investasi atau modal kerja sampai 100%, sedangkan nasabah menyediakan usaha dan manajemennya. Profit sharing melalui perjanjian yang sesuai dengan proporsinya. Misalnya 70% : 30%, artinya 70% dari keuntungan akan diambil pengelola (nasabah) dan 30% untuk penyedia dana (bank).

2. Pembiayaan Al-Musyarakah

Pada Pembiayaan Al-musyarakah, bank dapat memberikan pembiayaan sebagian dari modal nasabah (mitra), dan pihak bank akan dilibatkan dalam manajemennya. Profit-loss sharing berdasarkan perjanjian yang telah disepakati, misalnya 50% : 50%.

3. Pembiayaan Al-Murabahah (Penjualan dengan Tambahan Untung)

Pembiayaan Al-Murabahah adalah hubungan akad menjual barang dengan harga pokok ditambah dengan keuntungan (margin) sebagaimana disepakati bersama. Pembiayaan Al-Murabahah ditujukan untuk kepemilikan barang konsumtif dan barang produktif.

4. Pembiayaan Al-Bai’u Bithaman Ajil (Penjualan Dengan Pembayaran Tangguh)

Pembiayaan Al-Bai’u Bithaman Ajil pada prinsipnya sama dengan Pembiayaan Al-Murabahah. Bedanya hanya pada cara pelunasan hutang. Pada Pembiayaan Bai’u Bithaman Ajil, pelunasan hutang oleh nasabah dibayar secara tangguh (diangsur).

5. Bai’as Salam

Bai’as Salam adalah kontrak jual-beli di mana harga barang yang diperjual-belikan dibayar di muka, sedangkan penyerahan barang dilakukan kemudian. Bai’as Salam umumnya diaplikasikan pada pembiayaan di sektor pertanian yang jangka waktunya relatif pendek 2 – 6 bulan, dan pembiayaan barang industri seperti produk garmen.

6. Bai’al Istishna’

Bai’al Istishna’ adalah kontrak jual-beli di mana harga barang yang dipesan dibayar lebih dahulu, tetapi dapat juga diangsur sesuai kesepakatan. Sedangkan barang yang dibeli atau diproduksi diserahkan kemudian. Bai’al istishna’ merupakan suatu jenis khusus dari akad bai’as salam. Bai’al istishna’ umumnya diaplikasikan pada manufaktur dan pembiayaan konstruksi bangunan. Landasan syariah dan ketentuan jual-beli bai’al istishna’ sama dengan bai’as salam.

7. Ijarah (Sewa/Leasing)

Ijarah adalah pemindahan hak atas manfaat dari penggunaan suatu aset sebagai kompensasi dari pembayaran, tanpa adanya pemindahan hak kepemilikan (operating lease). Jika kepada penyewa diberikan option untuk membeli aset pada akhir kontrak disebut ijarah wal iktima’/ijarah muntahia bittamliik (finance lease).

8. Al-Qardul Hasan

Al-Qardul Hasan adalah menyediakan fasilitas pembiayaan kepada pihak-pihak yang patut mendapatkan sesuai dengan syariah. Secara syariah nasabah hanya berkewajiban membayar kembali pokok pinjamannya. Bank syariah tidak berhak mendapat tambahan apapun melebihi pokok pinjaman, meskipun secara syariah membolehkan nasabah untuk memberikannya atas dasar keikhlasan.

Fasilitas tersebut di atas diberikan bank syariah dalam rangka ikut mewujudkan tanggung jawab sosial, seperti untuk pendidikan. Jadi bank syariah tidak hanya berorientasi pada aktivitas komersial yang profit oriented saja, tetapi juga peduli akan lingkungan sosial.

PRODUK-PRODUK BANK SYARIAH YANG POPULER

PRODUK-PRODUK BANK SYARIAH YANG POPULER (BAG. 3)

by Amir Kusnanto

Produk Penghimpunan Dana

Bank syariah dalam upaya menghimpun dana masyarakat dapat berupa giro, tabungan, dan deposito. Prinsip yang umum melandasinya adalah prinsip wadi’ah dan mudharabah.

  1. Giro Wadi’ah (Giro Titipan)

Giro Wadi’ah adalah sarana penyimpanan dana yang disediakan bagi nasabah dengan pengelolaan berdasarkan prinsip wadi’ah yad dhamanah. Dengan prinsip wadi’ah, dana giro diperlakukan oleh bank sebagai titipan yang akan dijaga keamanannya dan ketersediaannya setiap saat guna membantu kelancaran transaksi nasabah.

Ketentuan Umum Giro Berdasarkan Wadi’ah

  1. Bersifat titipan.
  2. Titipan bisa diambil kapan saja (on call).
  3. Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.

Manfaat Giro Wadi’ah Bagi Nasabah

  • Memudahkan melakukan transaksi nasabah dengan menggunakan cek atau bilyet giro.
  • Aman dan terjamin ketersediaannya (liquid.)
  • Memperoleh bonus sesuai kebijakan bank.
  • Dana yang berhasil dihimpun akan memberikan manfaat bagi pengembangan ekonomi nasional.

Fasilitas

  • Memperoleh buku cek atau bilyet giro.
  • Pemindahbukuan antar cabang dapat dilakukan secara otomatis dan online (bagi bank yang sudah online).
  • Mendapatkan kartu ATM sebagai sarana penarikan uang tunai.
  1. Tabungan Mudharabah (Tabungan Bagi Hasil)

Tabungan Mudharabah adalah sarana penyimpanan yang disediakan bagi nasabah yang pengelolaannya berdasarkan prinsip mudharabah al-mutlaqoh, yang pengambilannya dapat dilakukan dengan menggunakan buku tabungan atau melalui ATM. Dengan prinsip mudharabah pihak bank tidak terikat oleh syarat-syarat tertentu dalam mengelola (menginvestasikan) dananya. Bagi hasil akan diberikan kepada nasabah berdasarkan kesepakatan.

Manfaat Bagi Nasabah

  • Mengamankan dana dan tetap liquid.
  • Memudahkan menarik uang tunai baik melalui buku tabungan maupun ATM.
  • Mendapatkan bagi hasil sesuai kesepakatan.

Fasilitas

  • Mendapatkan buku tabungan dan kartu ATM.
  • Transfer antar cabang dapat dilakukan secara otomatis dan online.
  1. Tabungan Haji

Tabungan Haji adalah tabungan bagi umat Islam yang berencana menunaikan ibadah haji dan umrah, yang dikelola berdasarkan prinsip mudharabah al-mutlaqoh.

Manfaat Bagi Nasabah

  • Dana Talangan. Bagi nasabah dengan jumlah tabungan tertentu mengalami kesulitan keuangan untuk memenuhi setoran Sistem Kuota Haji Terpadu (SISKOHAT) atau untuk pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH), dimungkinkan atas dasar penilaian bank bisa mendapatkan dana talangan agar dapat diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji.
  • Online dengan SISKOHAT. Nasabah akan terdaftar pada SISKOHAT sebagai kepastian keberangkatan ke tanah suci.
  • Kemudahan Administrasi. Nasabah yang siap berangkat dibantu dalam pengurusan administrasi dokumen perjalanan haji ke Kantor Departemen Agama.

Fasilitas

  • Setoran awal ringan, begitu pula setoran berikutnya.
  • Online antar cabang, sehingga setoran tunai dapat dilakukan di semua kantor cabang.
  • Ada beberapa bank yang memberikan asuransi jiwa dan kecelakaan secara gratis, sejak nasabah terdaftar di SISKOHAT sampai pelunasan BPIH.
  1. Deposito Mudharabah

Deposito Mudharabah adalah simpanan pihak ketiga kepada bank yang pengambilannya berdasarkan tanggal jatuh tempo yang disepakati. Deposito dikelola berdasarkan prisip mudharabah al-mutlaqoh. Dengan prinsip mudharabah, deposito diperlakukan sebagai investasi yakni dana deposito dimanfaatkan secara produktif dalam bentuk pembiayaan kepada masyarakat pengusaha dan perorangan secara profesional dan memenuhi aspek syariah. Keuntungan dari pembiayaan akan dibagi antara bank syariah dengan nasabah sesuai nisbah (ratio) yang disepakati.

Manfaat Bagi Nasabah

  • Aman dan terjamin
  • Bagi-hasil yang kompetitif diberikan setiap bulan secara tunai atau dibukukan secara otomatis ke rekening tabungan.
  • Membantu perencanaan program investasi.
  • Membantu mengembangkan ekonomi nasional, khususnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Fasilitas

  • Perpanjangan jangka waktu dapat dilakukan secara otomatis, dan nisbah bagi-hasil antara bank dan nasabah disesuaikan atas dasar kesepakatan pada saat perpanjangan.
  • Pemindahbukuan bagi-hasil dapat dilakukan secara online ke dalam rekening tabungan/giro nasabah di seluruh kantor cabang.

PRINSIP-PRINSIP SYARIAH

PRINSIP-PRINSIP SYARIAH (BAG. 2)

by Amir Kusnanto

Bank syariah dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga perantara keuangan, mempunyai produk-produk menghimpunan dana dan produk penyaluran dana serta produk layanan jasa. Produk-produk tersebut dalam penerapannya harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah yang melandasinya, antara lain:

  • Al-Wadi’ah (titipan)
  • Al-Mudharabah (bagi hasil)
  • Al-Musyarakah (kemitraan)
  • Al-Murabahah (jual-beli)

1. Prinsip Al-Wadi’ah (Titipan)

Al-Wadi’ah adalah titipan dari satu pihak kepada pihak lain yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat bilamana orang yang titip mengambilnya. Prinsip al-wadi’ah pada bank syariah diaplikasikan pada produk Giro Wadi’ah dan Tabungan Wadi’ah.

2. Prinsip Al-Mudharabah/Bagi Hasil/Profit-Loss Sharing

Al-Mudharabah adalah akad (perjanjian) kerjasama antara dua orang atau lebih di mana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan 100% modal, dan pihak lainnya sebagai pengelola. Keuntungan dibagi sesuai perjanjian, dan kerugian ditanggung pemilik modal selama bukan kelalaian pengelola. Jika kerugian disebabkan kelalaian pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab. Pada perbankan syariah prinsip mudharabah di aplikasikan pada produk Tabungan Mudharabah dan Pembiayaan Mudharabah.

Jenis-Jenis Mudharabah

  • Mudharabah Muthlaqoh/Tidak Terbatas/Unrestricted

Mudharabah Muthlaqoh adalah kerjasama antara memilik modal (shahibul maal) dengan pengelola (mudharib), di mana memilik modal memberi otoritas penuh kepada pengelola untuk mengelola uangnya yang tidak terbatas dengan spesifikasi usaha, waktu, dan daerah bisnis. Prinsip mudharabah mutlaqoh pada bank syariah diaplikasikan pada produk Tabungan Mudharabah dan Deposito Mudharabah.

  • Mudharabah Muqoyyadah/Terbatas/Restrected

Mudharabah Muqoyyadah adalah kerjasama antara memilik modal dengan pengelola, di mana pemilik modal memberikan syarat-syarat tertentu (seperti jenis investasi, tempat melakukan investasi, pihak-pihak yang terlibat dalam investasi) kepada pengelola dalam mengelola dananya. Dalam dunia perbankan syariah prinsip mudharabah muqoyyadah diaplikasikan pada jenis penyaluran dana yang lazin disebut special investment.

3. Prinsip Al-Musyarakah/Persekutuan/Joint Profit Sharing

Al-Musyarakah (Syirkah) adalah persekutuan (bersyarikat) antara dua pihak atau lebih dalam suatu proyek, di mana masing-masing pihak berhak atas keuntungan yang diperoleh secara proporsional dengan kontribusi modal. Bilamana proyek mengalami kerugian, maka kerugian akan dibebankan secara proporsional pada masing-masing pihak pemberi modal. Pada perbankan syariah prinsip musyarakah diaplikasikan pada Pembiayaan Al-Musyarakah.

Jenis-Jenis Al-Musyarakah

Jenis pembiayaan al-musyarakah ada 2, yaitu:

  • Musyarakah Kepemilikan

Tercipta karena warisan, wasiat atau kondisi lainnya yang menyebabkan pemilikan satu aset oleh dua orang atau lebih.

  • Musyarakah Akad

Tercipta karena adanya kesepakatan dua orang atau lebih baik dalam hal modal maupun pembagian keuntungan atau kerugian.

4. Prinsip Al-Murabahah

Al-Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Pihak penjual harus memberitahu harga asal produk yang dibeli dan menentukan tambahan (margin) keuntungan yang dikehendaki. Prinsip al-murabahah pada bank syariah diaplikasikan pada Pembiayaan Al-Murabahah.

BANK SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH

BANK SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH (BAG. 1)

by Amir Kusnanto

A. Difinisi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah

Menurut UU. No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, mendifinisikan Bank Umum Syariah adalah bank syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Difinisi Unit Usaha Syariah adalah unit kerja dari kantor pusat bank umum konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau unit kerja di kantor cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah dan/atau unit syariah.

B. Azas, Tujuan, dan Fungsi Bank Syariah

Berdasarkan Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, Bab III Pasal 2, Pasal 3, dan Pasal 4 menjelaskan asas, tujuan, dan fungsi bank syariah, sebagai berikut:

Asas Perbankan Syariah

Perbankan syariah dalam melakukan kegiatan usahanya berasaskan prinsip syariah, demokrasi ekonomi, dan prinsip kehati-hatian.

Tujuan Perbankan Syariah

Perbankan syariah bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan keadilan, kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat.

Fungsi Perbankan Syariah

1) Bank syariah dan UUS wajib menjalankan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat.

2) Bank syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi pengelola zakat.

3) Bank syariah dan UUS dapat menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (wakif).

4) Pelaksanaan fungsi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dan ayat 3 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

C. Permodalan

Bank Umum Syariah

Pendirian bank umum syariah baru wajib memenuhi persyaratan permodalan sebagai berikut:

  1. Jumlah modal disetor minimal sebesar Rp. 1 trilyun. Bagi bank asing yang membuka kantor cabang syariah dana disetor minimal Rp. 1 trilyun, yang dapat berupa rupiah atau valuta asing.
  2. Sumber dana modal disetor untuk pendirian bank umum baru tidak boleh berasal dari dana pinjaman atau fasilitas pembiayaan dalam bentuk apapun dari bank atau pihak lain di Indonesia.
  3. Sumber dana modal disetor untuk bank baru tersebut tidak boleh berasal dari sumber yang diharamkan menurut ketentuan syariah termasuk dari dan tujuan pencucian uang (money laundering).

Unit Usaha Syariah

Bank umum konvensional yang melakukan kegiaan usaha berdasarkan prinsip syariah wajib membuka UUS. Pembukaan UUS hanya dapat dilakukan dengan izin Bank Indonesia. Modal kerja UUS merupakan modal yang disisihkan dalam suatu rekening tersendiri yang dapat digunakan untuk membiayai kegiatan operasional dan non operasional kantor cabang syariah. Besarnya modal kerja minimal sebesar Rp 100.000.000.000,- (seratus miliar rupiah). Penyisihan modal kerja UUS dari kantor induknya, dimaksudkan agar pengelolaannya tidak tercampur dengan dana kantor induknya yang beroperasional secara konvensional.

D. Dasar-Dasar Operasional Bank Syariah

Secara umum tujuan utama bank syariah adalah mendorong dan mempercepat kemajuan ekonomi suatu masyarakat dengan melakukan kegiatan komersial, investasi, keuangan, dan perbankan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Prinsip-prinsip Dasar Transaksi Syariah

  1. Tidak boleh ada gharar ((keraguan yang merugikan).
  2. Tidak boleh ada maysir (spekulasi).
  3. Tidak boleh ada unsur riba (tambahan/bunga).
  4. Tidak boleh memperdagangkan uang (sebagai komoditas).
  5. Bersifat universal.

Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut di atas, maka bank syariah yang paling sesuai karena mengganti mekanisme bunga dengan prinsip bagi hasil.