SISTEM PEMBAYARAN (BAG. 1)

SISTEM PEMBAYARAN TUNAI

Kemajuan sistem pembayaran berkembang sejalan dengan kemajuan budaya dan peradaban manusia.  Sistem pembayaran tidak terlepas dari perkembangan uang yang beredar di masyarakat. Bermula dari sistem barter yang paling tua, di mana pertukaran terjadi antara barang satu ditukar dengan barang yang lain yang masing-masing dibutuhkan oleh kelompok masyarakat.
Semakain maju peradaban manusia dan interaksi antar kelompok masyarakat semakin luas, maka akan membawa kesulitan tersendiri pada penggunaan sistem barter. Kemudian sistem barter ditinggalkan dan beralih ke uang barang (commodity money) sebagai instrumen pembayaran, yang berupa kulit kerang, kulit buaya, kulit harimau, atau barang apa saja yang pada saat itu oleh kelompok masyarakat diterima dan dianggap memiliki kekuatan magis,

Dalam perkembangannya logam sebagai mata uang dan dikenal dengan metallic money, yang dalam aplikasinya menggunakan emas dan perak sebagai mata uang. Pada standar emas, mata uang yang beredar berupa emas atau emas disimpan di bank sentral sebagai jaminan. Sedangkan uang yang beredar berupa uang kertas tetapi dijamin dengan emas.
Dalam perkembangannya penggunaan uang emas membawa tingkat kesulitan tersendiri, terutama dalam transaksi yang bervolume besar penggunaan uang emas menjadi terlalu berat dan perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya memerlukan biaya yang besar.

Pada tahun 1930-an banyak Negara meninggalkan standar emas dan beralih ke penggunaan kertas sebagai mata uang. Mata uang kertas  diterima masyarakat luas walaupun tanpa jaminan yang memadai. Uang kertas dipercaya masyarakat karena dikeluarkan oleh Pemerintah yang syah (cq. Bank Sentral). Oleh sebab itu, uang kertas disebut uang kepercayaan (fiat money).
Penggunaan uang kertas terus berkembang karena mempunyai fleksibilitas dan efisiensi yang tinggi, baik dalam hal produksinya maupun dalam melakukan relokasi. Pembayaran uang tunai yang umumnya menggunakan uang kertas dan uang logam terus berlanjut sampai saat ini. Tetapi dalam perkembangannya, pembayaran uang kertas dengan jumlah yang besar, sudah dianggap kurang efisien dan tidak fleksibel karena memerlukan pengangkutan dan pengamanan ekstra dengan biaya yang besar.

Untuk mengatasi kelemahan/kekurangan pembayaran dengan uang tunai, muncullah kebutuhan akan pembayaran yang lebih praktis lagi. Solusi untuk mengatasi kelemahan tersebut terbitlah sistem pembayaran nontunai.

Instrumen Sistem Pembayaran
Dalam prakteknya, sistem pembayaran memerlukan instrumen-instrumen yang mendukung pelaksanaannya. Instumen sistem pembayaran meliputi:
1.    Pembayaran tunai (cash), yang menggunakan uang barang (commodity money) dan uang kepercayaan (fiat money).
2.    Pembayaran nontunai (non cash), instrumen yang digunakan berbasis warkat (paper based), berbasis kartu dan elektronik (card and eleltronic based).

Ilustrasi sistem pembayaran dapat dilihat pada gambar 1.

Pembayaran Tunai
Pembayaran tunai umumnya digunakan masyarakat untuk transaksi yang bernilai kecil baik dilakukan antarindividu maupun ritel. Instrumen pembayaran tunai berupa uang kertas dan uang logam yang dikeluarkan Bank Indonesia. Oleh karena jaminan yang disediakan Bank Indonesia atas dikeluarkannya uang kertas tersebut relatif kecil, maka disebut uang kepercayaan (fiat money). Masyarakat hanya percaya bahwa uang tersebut memiliki daya beli, dan diterima dalam transaksi pembayaran karena dikeluarkan Bank Indonesia, walaupun back up jaminannya kecil.

Berdasarkan UU. BI No. 23 tahun 1999 pasal 15, dalam rangka mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran Bank Indonesia berwenang:
a.    melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas penyelenggaraan jasa sistem pembayaran;
b.    Mewajibkan penyelenggaraan jasa pembayaran untuk menyampaikan laporan tentang kegiatannya;
c.    menetapkan penggunaan alat pembayaran.

Pada pasal 19 dan pasal 20 UU. BI menjelaskan bahwa:
1.    Bank Indonesia berwenang menetapkan macam, harga, ciri uang yang akan dikeluarkan, bahan yang digunakan dan tanggal mulai berlakunya sebagai alat pembayaran yang sah.
2.    Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah serta mencabut, menarik dan memusnahkan uang dimaksud dari peredaran.

Instumen pembayaran tunai yang disediakan Bank Indonesia untuk kelancaran sistem pembayaran berupa uang kertas rupiah dengan denominasi 100, 500, 1000, 2.000, 5.000, 10.000, 20.000, 50.000, dan 100.000. Sedangkan pecahan uang logam rupiah yang masih beredar dan diterima masyarakat terdiri dari denominasi 50, 100, 200, 500, dan 1.000.

Gambar uang kertas pecahan 50.000 dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2: Uang Kertas Pecahan Rp. 50.000
Tampak Depan

Sumber: Bank Indonesia